MasukKemiskinan dan hinaan-hinaan para tetangga dan warganya membuat Atika menjadi gelap mata. Bukan hanya itu, ia juga memberi makan anak nya berlaukan gulai ari-ari.
Lihat lebih banyakPada periode pemerintahan Raja Askar di Grahana, pembunuhan terhadap sekelompok orang yang bertalian erat dengan keluarga kerajaan sebelumnya dilakukan secara besar-besaran untuk melindungi tahta raja. Semua bawahan dan pelayan sebelumnya juga ditangkap dan disiksa tanpa ampun.
Setelah berlangsung dua puluh empat tahun penuh ketakutan, akhirnya Raja Askar melepas semua kecurigaannya dan menarik perintah pemusnahan sisa anggota keluarga kerajaan sebelumnya. Bukan karena Raja Askar merasa tindakannya tidak diperlukan, melainkan karena orang-orang yang dianggap mengancam tahtanya sudah habis dibunuh.
Saat itu adalah malam hari di awal bulan kesembilan, angin bertiup dengan lembut dan masuk dari jendela yang terbuka. Durga baru saja menyiapkan dua cangkir kosong di atas meja. Dia mengenakan pakaian yang sangat tipis, jadi dia pergi menutup jendela kamarnya.
Ketika pintu kamar tiba-tiba dibuka, dia menemukan suami yang baru dinikahinya pagi tadi di sana. Dia baru saja mandi. Rambutnya yang gelap agak basah dan pakaiannya tidak terkancing sempurna membuat tubuhnya sedikit terekspos.
Dari penglihatan gadis normal manapun, Rajendra luar biasa tampan. Durga adalah gadis yang normal. Dia merasa agak gugup.
“Rajendra,” panggilnya lembut.
Mata gelap Rajendra memandangnya dengan lembut dan dia berkata, “Maaf menunggu terlalu lama,” Rajendra meraih tubuh Durga, “Mari tidur.”
Durga merasa gugup. Apa yang dimaksud suaminya bukan tidur dalam artian yang sebenarnya, Durga mengerti.
Mereka baru saja menikah dan seharusnya malam ini adalah malam pertama mereka.
Durga mencengkeram tangan Rajendra dengan lembut, “Apakah kamu tidak ingin minum teh? Kamu baru saja kembali dan langsung mandi. Kamu bahkan belum makan atau minum.”
Rajendra memandang Durga agak lama sebelum dia berkata, “Baiklah. Mari minum teh dulu.”
Durga segera menuang teh ke dalam cangkir kosong. Pertama untuknya, lalu untuk suaminya. Durga segera menghabiskan tehnya dalam sekali minum. Tetapi ketika dia selesai, Rajendra belum menyentuh tehnya dan hanya memandang dirinya.
“Ada apa? Kenapa kamu belum minum? Apakah kamu tidak suka teh?”
“Tidak. Aku suka.”
Durga merasa heran. Jika dia suka, kenapa dia tidak minum tehnya?
Rajendra menarik sudut bibirnya, “Hanya saja…”
Durga memandangnya lamat-lamat. Dia menunggu jawaban pria itu dengan penasaran.
“Hanya saja apa?” Dia tidak sabar.
Tetapi yang diperolehnya bukan jawaban. Rajendra mencondongkan tubuhnya melewati meja dengan tubuhnya yang tinggi. Dalam satu gerakan, dia sudah memeluk Durga.
“Aku ingin meminumnya dengan cara yang berbeda.” Rajendra berbisik di telinganya.
Durga terkejut. Dia menahan pekikan ketika merasakan sapuan lembut di lehernya. Tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Durga menahan dirinya untuk menarik kepala pria itu dari sana. Tetapi keinginan itu langsung hilang ketika dia merasakan kepala Rajendra jatuh ke bahunya bersamaan dengan bunyi ‘prang’ dari cangkir tanah liat yang pecah.
Durga menepuk punggung Rajendra berkali-kali, tetapi Rajendra bahkan tidak bergeming. Kemudian dia melirik cangkir yang pecah. Tidak basah. Rajendra telah menghabiskan tehnya.
Apakah berarti racunnya sudah mulai bekerja?
Durga menarik kepala Rajendra dan menyandarkannya di atas meja. Rajendra terpejam dan terlihat damai. Tetapi dari sudut bibirnya ada aliran darah pekat yang perlahan menetes ke bajunya.
Durga mengecek napasnya. Tidak ada. Seharusnya benar bahwa Rajendra sudah mati. Tetapi Durga selalu berhati-hati.
Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh dada Rajendra. Tepat ketika dia hampir menempelkan tangannya, di luar seseorang berteriak dengan tidak sabar.
“Jenderal! Jenderal! Ada penyusup!”
Durga menarik tangannya dan buru-buru melarikan diri.
Sekarang ketika mengingat kembali kejadian lima tahun lalu, Durga jadi mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia tidak menusuk Rajendra dan hanya memercayakan niat jahatnya pada satu racun yang dioles ke gelas?
“Lama tidak bertemu.”
Seseorang bersandar di pintu dengan seringai tipis di wajahnya. Dia mengejek, “Lima tahun berlalu, kemana perginya pemimpin bayangan yang percaya diri?”
Orang ini mendecakkan lidah, “Pembunuh, tidakkah kamu tahu betapa menyedihkannya kamu saat ini?”
Durga gemetar.
Suami yang dibunuhnya pada malam pernikahan sekarang berdiri di depannya yang sedang duduk dengan tangan dirantai besi.
"Aku kecewa sama Mama!" Pekik Yuni. Airmatanya menetes begitu derasnya."Maafkan Mama Kak. Mama terpaksa melakukan ini, karna nggak da jalan lain. Papamu pergi meninggalkan kita, mama nggak rela hidup tanpa harta Kak." Lirih Dela. Ia ingin sekali meyakinkan Yuni, agar Yuni bisa mengerti kondisinya."Sekarang aku tau, siapa dibalik pembongkaran makam Dini!" Yuni menepis tangan Dela."Maafkan Mama, Mama hanya ingin memperdaya Atika. Kamu tau, kan kalau Papamu itu lebih memilih mereka dibanding kita.""Tapi nggak harus mengorbankan Dini juga Ma!" Pekik Yuni. Ia tidak terima adiknya disakiti oleh siapapun, ia sangat menyayangi Dini adiknya."Mama tau Mama salah. Tapi Maam menyesal." Kalau Atika tidak mencari tumbal untuk Mama, maka Mama, dan kamu yang akan celaka Kak.""Maksut Mama apa sih? Yuni nggak ngerti Ma. Yuni nggak abis fikir dengan jalan pikiran Mama."Dela menunduk. Sejak awal memang ia tidak menyukai Diwan, karna Diwan itu orang yang tidak punya, dan apa adanya. "Mama nggak beg
"Sayang, sadar." Diwan mencoba membuka jemari tangan Atika yang terkepal sangat kuat. "Lepasin! lepasin saya, hahahahaa." Atika malah tertawa terpingkal-pingkal. Dan itu sangat membuat Diwan merinding, seluruh bulukuduknya naik."Siapa kamu? kenapa kamu mengusil istri saya?" Tanya Diwan lagi."Kamu tidak perlu tau siapa saya! hanya istrimulah yang tau siapa saya!" "Astaghfirullah, kamu mau saya, kasih hadiah?" Mulut Diwan mulai membacakan ayat suci Al-Quran, dan tanganya tetap memijit jari-jari Atika yang terkepal."Hahahaha," Seluruh tubuh Atika bergetar hebat, dan mengambang diatas Awang. Diwan sangat merasa panik, karna takut Atika akan terjatuh."Brukkkk," Benar saja Iblis itu menjatuhkan tubuh Atika, tepat dimeja kaca."Katakan siapa kamu? kamu jangan main-main dengan saya!" Bentak Diwan. Dilihatnya kepala Atika sedikit terluka akibat terkena sudut meja."Kasih saya tumbal yang saya mau! baru saya, akan menjawab siapa saya!" Diwan mencerna suara itu, sepertinya ia mengenali sua
"Mas, aku heran deh, siapa yang bawa Mail kesana?" Ucap Atika."Mas, juga heran. Setau kita Mail nggak pernah tau jalan kerumah Daut." Jawab Diwan."Apa sih maksut Daut? ngapain dia ambil Mail?" Ucap Atika kesal."Mungkin bukan dia yang ngambil sayang. Mungkin memang Mail kesana sendiri, atau mungkin dia selama ini tau alamat Daut.""Nggak Mas. Mail nggak akan tau itu, karna memang dia nggak pernah nanyak soal bapaknya!""Lalu apa tujuan kamu sayang? setelah ini?""Biarkan saja dulu Mas. Aku yakin Daut pasti ada maksut sesuatu, dan kita nggak boleh gegabah. "Tok, tok, tok," Suara kentongan mulai berbunyi lagi dari luar. Para warga beramai-ramai membawa obor."Mereka pasti mau cari anak Ijah Mas." "Iya. Mas, tau dari pas ngelayat tadi. Tapi masa iya mereka bilang anak Ijah diculik setan kepala." Ujar Diwan. "Mereka salah faham kayaknya Mas, soalnya mereka nggak liat langsung kok. Hanya dugaan mereka saja.""Mas masih penasaran sayang." "Penasaran apa?""Penasaran sama keberadaan Mb
"Pak kalau boleh tau siapa yang meninggal?" Tanya Atika, saat ia keluar dari rumah pagi itu."Ijah Ti. katanya komplikasi." Ucap lelaki itu."Ijah? Ijah Istrinya Anto?" Tanya Atika kaget."Iya tadi malam, selesai lahiran ninggalnya.""Gimana dengan anaknya pak?" "Anaknya baik-baik saja. Tapi," Lelaki itu menghentikan ucapanya."Tapi kenapa pak?" Atika semakin penasara."Anaknya dicuri sama setan yang hanya kepala Ti!" Ucap Lelaki itu lagi."Setan kepala? maksutnya gimana pak?" "Tadi malam kami ribut-ribut memukul kentongan itu mencari keberadaan anak Ijah, yang dicuri setan kepala, tapi Sampai pagi ini nggak ada titik terangnya."Atika semakin heran, dan sedikit bertanya-tanya. Ia menelan ludahnya dengan sangat susah. "Terimakasih Pak." Atika langsung kembali kerumahnya."Apa ini kerjaan Mbah Rondo? aku memang sudah waktunya memberikan tumbal. Tapi kenapa Mbah Rondo melakukan ini? bukan cuma ari-ari saja yang diambilnya tapi bayinya juga. Keterlaluan Mbah Rondo!" Pekik Atika kesal.
Gulai Ari-Ari Untuk anakku#53Atika tampak terus menatap kearah Diwan. Sudah setengah jam didalam kamar, bukanya tidur Diwan malah tampak gelisah. "Mas, kamu kenapa?" Tanya Atika. Saat melihat Diwan merasa gelisah."Mas, cuma kedinginan." Lirih Diwan. "Ya dipakai selimutnya.""Kan selimut Mas, kamu." "
3 Hari Kemudian"Kamu harus hati-hati. Karna saat ini ada yang sedang memata-mataimu."Ucap Mbah Rondo. Atika, dan Mbah Rondo sedang berada dikamar rahasia Atika."Siapa Mbah?" Tanya Atika. Ia begitu ingin tau, dan penasaran."Nanti kamu akan tau sendiri. Saya cuma ngingatkan. Jangan sampai kamu mau ber
"Tolong, jangan hakimi dia." Saya sudah ikhlas. Yang terpenting sudah tau orangnya," Ucap Agus. Ia tampak kasihan kepada Bunga."Kamu ini tolo* sekali. Sudah jelas-jelas dia melakukan, hal yang tidak manusiawi. Kalau cuma anakmu yang jadi korban nggak masalah. Gimana kalau anak kami nanti juga ikut d
"Mulai hari ini kamu saya pecat," Ucap Atika kepada Dara, yang masih terbaring diruang persalinan. Atika sengaja datang lagi, dan mengatakan hal mengejutkan itu, kepada Dara."Tapi buk! kenapa saya dipecat?" Seketika mata Dara membulat. Ia tidak habis fikir kenapa sampai dipecat, oleh Atika. Padahal






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan