MasukLampu kristal di ruang tengah mansion Atmajaya berpendar redup, kontras dengan gejolak di dada Elara. Kepergian Adrian ke Singapura pagi buta tadi terasa seperti oksigen segar yang dipompakan ke dalam paru-parunya yang sesak. Seminggu. Ia memiliki waktu tujuh hari penuh tanpa harus bersandiwara menjadi istri yang patuh di meja makan yang dingin.
Tepat pukul sembilan, suara deru motor besar terdengar dari gerbang depan. Elara berdiri di balkon lantai dua, memerhatikan Julian yang memarkirkan kendaraannya dengan gestur yang begitu maskulin. Pria itu mendongak, seolah tahu Elara sedang mengintainya dari balik tirai tipis.
"Masuklah, Julian. Pintu studio tidak dikunci," ucap Elara melalui interkom dengan suara yang sengaja ia buat sedatar mungkin, meski jemarinya gemetar.
Elara sudah menunggu di tengah studio. Kali ini ia mengenakan pakaian olahraga yang lebih berani—celana pendek ketat dan atasan tanpa lengan yang memamerkan lekuk bahunya yang putih porselen. Ia ingin melihat sejauh mana Julian akan memegang kendali atas dirinya hari ini.
"Anda tampak lebih... siap, Nyonya Atmajaya," ujar Julian saat melangkah masuk. Ia tidak membawa tas, hanya sebotol air mineral dan handuk kecil yang tersampir di lehernya.
"Suamiku pergi ke luar kota. Kita punya waktu lebih banyak untuk latihan hari ini," jawab Elara sambil mencoba menatap langsung ke bola mata Julian yang gelap.
Julian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata namun sanggup menggetarkan naluri terdalam Elara. Ia berjalan mendekat, perlahan namun pasti, hingga ujung sepatu mereka bersentuhan.
"Waktu tanpa gangguan adalah kemewahan. Tapi ingat, tanpa pengawasan suami, Anda cenderung akan lebih liar, dan tugas saya adalah menjinakkan keliaran itu agar menjadi energi yang terarah."
Julian mengitari Elara, tangannya menyentuh udara di sekitar tubuh wanita itu tanpa benar-benar bersentuhan. Elara bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Julian, membuat bulu kuduknya berdiri tegak.
"Sekarang, duduklah di tengah matras. Posisi Baddha Konasana. Kita akan mulai dengan membuka kunci di panggul Anda," perintah Julian dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Elara menurut, ia duduk dengan melipat kedua kakinya hingga telapak kaki saling bersentuhan. Ia merasa sangat rentan dalam posisi terbuka seperti itu, terutama dengan Julian yang kini berdiri tepat di belakangnya.
"Teknik Kamasutra bukan dimulai dari ranjang, Elara. Ia dimulai dari bagaimana Anda mengizinkan seseorang masuk ke dalam ruang privasi Anda tanpa rasa takut."
Julian berlutut di belakang Elara. Ia meletakkan kedua tangannya di atas paha dalam Elara, memberikan tekanan yang mantap dan berat. Elara memekik kecil, sebuah desahan tertahan yang lolos dari bibirnya.
"Sakit?" bisik Julian tepat di telinga Elara. "Atau ini adalah rasa yang sudah lama Anda rindukan? Rasa ditekan dan dikuasai?"
"Jangan... jangan banyak bicara, Julian. Lakukan saja tugasmu," jawab Elara dengan napas yang mulai tersengal.
Julian justru menambah tekanannya. Ia menarik tubuh Elara agar bersandar sepenuhnya pada dadanya yang bidang. Elara bisa merasakan detak jantung Julian yang tenang dan teratur, sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu seperti kuda lepas kendali.
"Anda terlalu terbiasa memerintah orang lain, Elara. Di sini, Anda belajar untuk diperintah. Pejamkan mata Anda."
Elara memejamkan mata. Dalam kegelapan itu, indra perasanya menjadi sepuluh kali lebih tajam. Ia merasakan tangan Julian berpindah, menelusuri perutnya yang rata hingga berhenti tepat di bawah tulang rusuknya.
"Napas Anda pendek-pendek. Itu tandanya Anda sedang melawan gairah Anda sendiri. Biarkan ia mengalir, Elara. Jangan ditahan."
Jemari Julian mulai melakukan gerakan melingkar yang provokatif di atas kulit Elara. Setiap sentuhan itu seolah membakar lapisan demi lapisan harga diri Elara sebagai wanita sosialita, menyisakan seorang wanita yang hanya haus akan belaian.
"Kenapa kau melakukan ini padaku, Julian?" bisik Elara, kepalanya terkulai lemas di bahu Julian.
"Karena Anda yang memintanya. Anda ingin merasa hidup, bukan? Dan hidup berarti merasakan setiap jengkal saraf di tubuh Anda berteriak meminta lebih."
Julian membalikkan tubuh Elara dengan satu gerakan cepat hingga kini wanita itu terduduk di pangkuannya, saling berhadapan. Mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Elara bisa melihat pantulan dirinya yang penuh hasrat di mata Julian.
"Ini adalah pelajaran pertama tentang koneksi mata. Jangan berpaling, Elara. Lihat pria yang sedang memegang kendali atas hidupmu saat ini."
Julian memegang dagu Elara dengan tegas. Detik itu juga, Elara menyadari bahwa ia bukan lagi sedang berlatih yoga atau Kamasutra biasa. Ia sedang menyerahkan jiwanya pada seorang pria yang mungkin akan menghancurkannya, namun ia tidak peduli.
Saat wajah Julian mendekat dan bibir mereka hampir bersentuhan, bel pintu mansion berbunyi berkali-kali. Suara interkom di studio berbunyi, menampilkan wajah seorang wanita asing yang cantik namun tampak marah di layar monitor. "Keluarkan Julian dari sana! Aku tahu dia ada di dalam!" teriak wanita itu.
***
"Danu...!" desis Aris, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit akibat gelombang kejut listrik di lantai baja dek The Leviathan seolah sirna, digantikan oleh kengerian yang menjalar ke seluruh sirkuit sarafnya.Wanita bergaun putih dengan wajah ibu Elara itu tertawa lepas. Suara tawa yang keluar dari pita suara feminin itu terdengar begitu distorsif, pecah menjadi dua frekuensi yang tumpang tindih. "Ya, Aris! Kaget? Teknologi dewan direksi mampu mengunggah matriks kesadaran batiniahku sesaat sebelum raga tuaku hancur di langit ibu kota!""Kau menodai raga ibuku!" pekik Elara. Meskipun lehernya dicengkeram, ia memaksakan sirkuit energi di dadanya bergolak. "Keluar dari tubuh itu, iblis!""Menodai? Tidak, Elara. Aku melestarikannya!" tangan kloning Danu mencengkeram rahang Elara lebih kuat, jarum perak di bawah lidahnya berpendar keunguan. "Sentuhan murni dari garis darahmu adalah kunci sinkronisasi selular terakhirku. Serahkan energimu!""Jangan harap, Tua Bangka!" Aris menghantamk
"Ibu...?" Elara mencengkeram tepian kursi besi pesawat kargo, wajahnya seketika kehilangan rona darah. Suara dari pengeras suara kokpit itu begitu jernih, begitu mirip dengan rekaman pita suara kuno yang sering ia dengar di ruang kerja mendiang ayahnya.Aris langsung berdiri, merangkul pundak Elara yang mendadak dingin dan gemetar. "Elara, tenang. Ini jebakan saraf. Ibumu sudah tenang dua puluh tahun yang lalu. Ini pasti manipulasi audio dari dewan direksi!""Tidak, Aris... getaran frekuensinya..." Elara menggeleng histeris, air matanya merebak. "Itu bukan sekadar suara rekaman. Sirkuit batin di dadaku... bergetar selaras dengan suara itu. Hanya ibu yang memiliki frekuensi dasar Amrita-Siddhi yang persis seperti ini!"Dari speaker, suara wanita itu kembali terkekeh, suara dingin yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aris benar tentang satu hal, Elara. Raga lamaku memang sudah hancur. Tapi apa jadinya jika memori selular dan sirkuit batin dari otak ibumu in
"Apa... apa yang kamu katakan?" Elara mundur selangkah, napasnya tercekat melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap mereka dengan sorot mata yang terlalu dewasa.Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Jarum perak di tangannya sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seorang anak kecil. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Tiba-tiba saja ada suara kakek tua yang menggema di dalam kepalaku."Aris berlutut di depan anak itu, memegang kedua pundak kecilnya dengan lembut namun tegas. Ia mengalirkan getaran energi Amrita-Siddhi untuk memastikan tidak ada lagi sirkuit frekuensi radio yang tersisa di dalam tubuh si anak. "Siapa namamu, Jagoan?""Rian," jawab anak itu lirih."Rian, suara itu... apakah dia mengatakan tempat yang spesifik?" tanya Aris, matanya tajam menyelidiki."Dia bilang... pelabuhan tikus di pulau karang. Tempat ibunya dirawat," bisik Rian sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Elara menatap
"Aris! Pegangan!" teriak Elara saat aspal di bawah kakinya mulai retak dan amblas ke bawah.Bus sekolah nomor 04 condong ke kiri, roda-roda besarnya menjerit slip di atas beton yang miring. Di dalam kabin, suara tangisan anak-anak yang semula kaku kini pecah, menyuarakan ketakutan murni manusiawi."Elara, lompat ke kap jip sekarang!" balas Aris. Ia meluncur turun dari atap bus, menahan benturan pada lututnya dengan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang dipompa maksimal.Linda melepaskan anak panah mekanisnya di tengah guncangan. WUSH! Anak panah itu melesat, namun meleset beberapa sentimeter dari bahu Elara karena sedan hitamnya ikut merosot ke belakang. "Sialan! Mundur! Jalur ini mau roboh!" perintah Linda pada sopirnya."Kamu tidak akan bisa lari, Linda!" pekik Julian yang tiba-tiba muncul dari arah belakang jip, memegang kemudi jip tua pengawas kebun dengan tangan berdarah. "Aris, bawa anak-anak keluar! Aku tahan wanita ini!""Julian! Jangan gila, jembatan ini hancur!" teriak Aris samb
"Hentikan! Jangan gunakan anak-anak itu!" teriak Elara, suaranya melengking memecah keheningan jalur lingkar luar. Langkah kakinya seketika tertahan di atas aspal panas, matanya menatap nanar pada jarum-jarum perak organik yang menyembul dari balik kulit jemari anak-anak di dalam bus.Pria bertopeng gagak itu terkekeh rendah di balik jubah hitamnya. Bilah belati perak di tangannya mendesing pelan, memotong angin malam. "Kenapa begitu, Elara? Bukankah ini pemandangan yang indah? Ilmu biologi yang kau agungkan dan teknik saraf batin milik Silas kini menyatu dalam raga murni mereka.""Mereka bukan senjata, keparat!" bentak Aris, melangkah maju selangkah untuk memosisikan tubuh tegapnya di depan Elara. Otot-otot lengannya menegang, siap menyalurkan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang baru saja pulih."Mundur, Aris!" pria bertopeng gagak itu menaikkan intonasi suaranya. "Satu sentuhan gelombang dari tubuhmu, dan sinyal radio frekuensi rendah dari topengku ini akan memicu denyut kejut di sara
"Apa maksudmu?!" teriak Elara, suaranya serak menahan getaran energi yang mendadak terputus. Kedua telapak tangannya masih basah oleh air kolam hulu yang kini telah jernih.Wanita berseragam militer itu tertawa kecil, melangkah maju sambil tetap mengunci pandangannya pada Julian yang tak berkutik di bawah todongan senjata laras pendek di pinggangnya. "Kalian terlalu naif. Danu dan Kepala Yayasan hanyalah umpan pengalih perhatian. Laboratorium di bawah sekolah itu? Itu cuma tempat pembuangan produk gagal dan inkubator purwarupa."Aris bangkit berdiri, menopang tubuh Elara yang lemas. Saraf panggulnya berdenyut tegang, efek dari pengurasan energi batin yang dipaksa berhenti tiba-tiba. "Jadi anak-anak yang di dalam video itu...""Mereka sudah dievakuasi sejak alarm kebocoran gas pertama berbunyi," sela wanita itu dengan senyum dingin yang mengingatkan pada Madam Vera. "Sepuluh anak dengan replikasi saraf Siddhi-Sankrama sempurna. Mereka ada di dalam bus sekolah nomor 04, bergerak lewat j