LOGIN~I was a good looking prince when I was reborn, and because I could do indecent things as much as I like, I decided to make a harem while travelling with a beautiful female elf~ Formerly a gamer, the hero who was just reincarnated became a handsome elf prince of another world. In his previous life, he was just a plain-faced man, so in this world, he uses his high position as a prince to his advantage and keeps holding beautiful women in his arms, every day in his life. With his status as a prince and handsome face, together with the high abilities of the elves……he will thoroughly enjoy life unlike in his previous world! Main Characters:- Alan vi Alling: The main character of the Novel. An otaku who died as the Virgin in his previous world but was reborn as the Elven Prince. Because of his previous life he set himself up and determines himself to taste every woman he came across. Now in this life he is the dirty playboy. Cecil Mir: An Elven Woman and Main character attendant also his childhood friend and harbour feelings for him, despite being him the playboy.
View More“Delapan bulan dan rasanya seperti delapan tahun,” gumam Isabella pelan, sambil menatap jam di dinding.
Dia tidak pernah menyangka bahwa delapan bulan pernikahan bisa terasa selama ini. Rumah besar milik keluarga De Luca ini seharusnya terasa mewah, hangat, dan hidup. Tapi baginya, tempat ini lebih mirip ruang kosong yang terlalu luas. Setiap langkah kakinya memantul pelan di lantai marmer, seolah mengingatkanku bahwa aku sendirian.
Sebastian sepertinya tidak akan pulang lagi malam ini.
Isabella sudah terbiasa. Awalnya dia menunggu di ruang tamu dengan penuh harap, lalu beralih menunggu di kamar. Sekarang? Dia hanya memastikan pintu tidak terkunci dan lampu tetap menyala.
“Kenapa aku masih menunggu?” bisiknya pada diri sendiri dengan perasaan yang getir.
Padahal dia tahu jawabannya. Meskipun ini hanya pernikahan kontrak, hatinya tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai sesuatu yang sementara.
Isabella menghela napas panjang, lalu berjalan menuju dapur untuk menuang segelas air. Jam sudah hampir tengah malam dan suasana begitu sunyi hingga suara detak jam terasa nyaring, lalu suara pintu depan terbuka.
Isabella langsung berhenti. “Akhirnya pulang juga…” bisiknya lirih.
Langkah kaki terdengar berat dan tidak teratur.
Dia menutup mata sejenak. “Mabuk lagi…” desahnya pelan.
Isabella berjalan ke ruang tamu dan di sanalah dia melihat Sebastian.
Jasnya sedikit berantakan, dasinya longgar, dan langkahnya tidak stabil. Wajahnya tetap tampan seperti biasa, tapi matanya kosong dan bau alkohol begitu kuat.
“Kamu baru pulang?” tanyanya, mencoba terdengar tenang.
Ia mengangkat kepalanya sedikit. “Ini rumahku,” jawabnya dingin. “Aku bisa pulang kapan pun aku mau.”
Dadanya mengencang.
“Aku gak melarang kamu pulang,” kataku, menahan emosi. “Aku cuma bertanya.”
Sebastian tertawa kecil tanpa kehangatan. “Jangan bertingkah seperti istri sungguhan.”
Kalimat itu menusuk.
Aku menatapnya. “Aku memang istrimu,” jawabku pelan tapi tegas.
Ia mendengus. “Kamu hanya istri kontrak,” koreksinya. “Jangan lupa itu.”
Isabella terdiam sejenak.
“Kontrak bukan berarti kamu bisa menghilang begitu saja,” kataku. “Aku bahkan gak tahu kamu masih menganggap pernikahan ini ada atau tidak.”
Sebastian berjalan mendekat, langkahnya goyah tapi tatapannya tajam. “Dari awal sudah aku katakan,” katanya rendah, “jangan pernah berharap lebih.”
Isabella menelan ludah.
“Dan kamu setuju,” lanjutnya.
Dia tersenyum pahit. “Iya, aku setuju. Tapi aku gak mau diperlakukan seperti bayangan.”
Ia berhenti tepat di depanku.
“Kalau kamu merasa seperti bayangan,” katanya dingin, “itu bukan urusanku.”
Isabella menatapnya tidak percaya. “Kenapa kata-katamu sejahat itu?”
Ia diam sejenak, lalu berkata, “Karena sejak awal aku tidak pernah mencintaimu.”
Jawaban itu menghantamku.
“Kalau begitu kenapa kamu menikah denganku?” tanyaku.
Sebastian tersenyum tipis. “Kamu sudah tahu jawabannya.”
Isabella tertawa pelan, pahit. “Iya, demi kesepakatan.”
Suasana kembali hening.
Sebastian mencoba berjalan melewatiku, tapi tubuhnya goyah. Refleks, Isabella menahan lengannya.
“Pelan-pelan,” katanya.
Sebastian berhenti. Tatapannya turun ke tangan Isabella, lalu naik ke wajahnya. Ada sesuatu yang berubah.
“Jangan sentuh aku kalau kamu gak siap menerima akibatnya,” katanya pelan.
Isabella mengernyit. “Maksudmu apa….”
Belum selesai dia bicara, tiba-tiba Sebastian menariknya mendekat. “Sebastian….!”
Tangannya melingkar di pinggang Isabella, menahan tubuhnya agar tidak menjauh.
Napasnya hangat dan terlalu dekat. “Apa ini yang kamu mau?” bisiknya rendah.
Jantung Isabella berdetak kencang. “Lepaskan aku…”
Namun ia tidak langsung melepas. Sebaliknya, wajahnya mendekat ke leher Isabella dan tanpa peringatan, bibirnya menyentuh ceruk leher Isabella. Lembut dan hangat, sangat berbeda dari sikap dinginnya selama ini.
Tubuhku menegang, lalu tanpa sadar melemas. Isabella terdiam, sesaat terbuai. Detik itu terasa begitu lama. Napasnya menyentuh kulit Isabella dan sesuatu di dalam dirinya runtuh.
“Sebastian…” bisiknya lirih.
Namun kemudian kesadaran itu menghantamnya. Ini bukan cinta. Ini bukan perasaan. Ini hanya kesalahan.
Isabella langsung mendorongnya menjauh. “Cukup!” katanya tegas.
Sebastian sedikit terhuyung, tapi akhirnya dia melepaskan Isabella.
Isabella mundur satu langkah, napasnya tidak teratur. “Jangan pernah lakukan itu lagi,” katanya dingin.
Sebastian menatapnya, sedikit berbeda sekarang. “Aku…” ia terdiam sejenak. “Gak bermaksud…”
Isabella menggeleng. “Aku gak butuh penjelasan.”
Dia memeluk dirinya sendiri. “Seperti kata-katamu tadi. Ini cuma kontrak, Sebastian,” katanya pelan. “Jangan bersikap seolah lebih dari itu.”
Sebastian terdiam dan untuk pertama kalinya, ia tidak membantah.
“Sebaiknya kamu pergi ke kamarmu,” lanjut Isabella.
Sebastian menatapnya beberapa detik, lalu berbalik dan pergi tanpa kata. Langkahnya menjauh, meninggalkannya sendirian dan ruangan kembali sunyi.
Isabella berdiri mematung, menyentuh lehernya tanpa sadar. Jejak hangat itu masih terasa.
“Kenapa…” bisiknya.
Air matanya jatuh.
“Ini hanya kontrak…” ulangnya pelan.
Isabella mengulangnya lagi dan lagi, seolah itu bisa menghapus apa yang baru saja terjadi.
Dia menutup mata dan kali ini dia tahu, masalahnya bukan pada kontrak. Masalahnya, hatinya sudah terlalu jauh.
Isabella tersenyum pahit. “Empat bulan lagi…” bisiknya.
Isabella berjalan ke kamarnya, membuka pintu, lalu menguncinya kembali.
“Kenapa aku membiarkannya?” bisiknya lirih, suaranya hampir tidak terdengar di dalam kamar yang sunyi.
Isabella masih bersandar di pintu, mencoba menenangkan napas yang belum stabil. Bayangan tadi terus terulang, terlalu dekat, terlalu nyata, dan terlalu berbahaya untuk sesuatu yang seharusnya tidak berarti.
“Kenapa aku bodoh sekali…” gumamnya pelan.
Dia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk perlahan. Tangannya tanpa sadar menyentuh leher.
“Ini cuma karena dia mabuk,” katanya, mencoba meyakinkan diri sendiri. “Besok juga dia gak akan ingat.”
Namun justru itu yang membuat hatinya terasa semakin kosong.
“Dan aku juga harusnya lupa…” bisiknya.
Tapi Isabella tahu, dia tidak akan bisa melupakannya.
Dia berbaring, menatap langit-langit kamar. Malam terasa panjang, pikirannya tidak mau diam. Perasaan yang selama ini berusaha ditahan, perlahan mulai muncul ke permukaan. Tentang Sebastian, tentang jarak di antara mereka, dan tentang sesuatu yang seharusnya tidak pernah tumbuh sejak awal.
Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja, dia langsung menoleh. Layar menyala. Papa.
Jantungnya sedikit menghangat. Dia segera meraih ponsel itu dan menjawab. “Halo… Pa,” katanya pelan.
Suara di seberang sana terdengar lemah, tapi hangat seperti biasa. “Bella, kamu sibuk?”
Isabella tersenyum kecil, “gak Pa. Aku lagi di kamar.”
“Gimana keadaan kamu di sana?” tanyanya.
Isabella terdiam sejenak. “Baik,” jawabnya akhirnya, meskipun kata itu terasa berat di lidah.
Papanya menghela napas pelan. “Suamimu memperlakukan kamu dengan baik, kan?”
Pertanyaan itu membuatnya menatap kosong ke depan.
Bayangan Sebastian kembali muncul di kepalanya, dingin, jauh, dan tadi malam, terlalu dekat.
“Dia…” Isabella berhenti. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
“Dia baik,” katanya akhirnya, memilih jawaban paling aman.
Hening sejenak di seberang sana.
Lalu papanya berkata pelan, “Bella, apa kamu bahagia?”
Dadanya langsung terasa sesak.
Dia hendak membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Kalau kamu tidak bahagia, kamu tidak perlu bertahan,” lanjutnya. “Papa tidak ingin kamu mengorbankan dirimu hanya demi Papa.”
Matanya mulai terasa panas.
“Papa sudah baik-baik saja sekarang,” tambahnya pelan. “Kamu tidak punya alasan untuk menyakiti dirimu sendiri lagi.”
Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat.
“Aku gak menyakiti diriku sendiri,” bisikku.
Namun bahkan dia sendiri tidak yakin.
Hening kembali menyelimuti percakapan mereka.
Lalu, dengan suara yang lebih dalam, papanya bertanya. “Bella, sebenarnya apa alasan kamu bersedia menikah dengan Sebastian?”
Jantungnya seperti berhenti dan dia membeku. Pertanyaan itu sederhana, tetapi untuk pertama kalinya dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ngu, leroo, nchuuu...""Haahaaa...chyubu, jyurururu"It seems that the deep kiss being performed in front of my eyes is finally over. Both of them are fully turned on, while covered with semen all over their chest and faces."I didn't expect, being kissed by a woman to feel so..."Cecil seem to be stunned, with her breath still rough. On the other hand, Fran seems to have some to spare still."The prince's seed is delicious. I want more of it"She scooped up the semen that went to her face with her finger and licked it up. Then, she put her hand on her abdomen and stared at me."I want more...this time in my belly"It seems that after putting out all of that, it was still not enough. Rather, she has become even hornier."Before that, wipe your face first. I can't even kiss you"Even I could not bring myself to drink the thing I have given to them. I don't mind the lips after a blowjob, but with this visible...no
That night, we received a big welcome. Things like luxurious meals and magic were presented before us. Especially the magic part, which seeing it for the first time left me amazed.Creating fire and water from nothing like exactly in fantasy, puts those flashy animations in those entertainment productions in my previous life to shame.Even Cecil, who told me we didn't come here to play around frequently, was also ecstatic. Fran too, since it's her first time watching, seemed to enjoy the show.After that, the night descended, and we went to the bedroom.Of course, the prince's room is separated from his subjects, so we have each of our own, but I still dared to invite Cecil and Fran to my bedroom."Say, could you two both come to my bedroom?"Their reaction was alike."Even though it's temporary, we are still in the castle of an allied country, so doing such a thing is...""If it is as the prince's desire, I will do it anywhere
After deciding to make Fran our companion, I took her back to the village." I have returned, Cecil."As soon as I knocked on the door of the room, it was opened immediately."welcome home, Allan-sama. Also, I deeply apologize for not being able to attend you today"But, as she lowered her head to me, I waved my hand."Don't worry about it, if-else, I should be the one to apologize for not holding back. Is your body alright now?""Yes, thanks to Allan-sama"While hearing such a story, I was poked at the back by Fran. I think it would mean "hey, don't leave me out here". For that, I switched the mood to change the story."Oh, Uhm, Cecil, there is something I would like to introduce to you""Introduce...to me?"Before Cecil went puzzled, I brought Fran in.I asked for her to wear a hooded robe before we came here, but now I took it off."...I'm Fran Mason. As you can see, I'm a half-elf"Fran in
Licking her lips, Fran whose switch had turned on completely opened her legs in an M-shape."This way it will be easier to swing your hips …""In high spirits, I see""Because the prince taught me something good after all"Good grief, for her to say such heart-fluttering lines that easily. As a man, there is no greatest moment when being praised by someone cute and beautiful. As she opened her legs, Fran's intimate place was revealed right before my eyes.My horny rod erected into a pink longitudinal stripe. And because I have just ejaculated, her vaginal secretions and my sperm mixed, forming bubbles.She raised her ass and began shaking her hips."this...pulling out movement...feels good...!"Just don't get the head stuck""Yyeah!...!"Because the flesh inside her vagina is clinging tight, as soon as she raised her butt, the pleats of her pussy still held on, turning it inside out.And becaus
"You mean like this?"I lie on my back and lay on the floor of the bathroom.It wasn't cold, as Fran poured hot water before lying down. To be this attentive, this just added to how great this girl is."Even when lying down, it's still facing up..."Fran said in admira
Fran's naked body is beautiful.Delicate hands feet, white smooth skin. Chest well-endowed and pointing up. No traces of hair on private parts. Fair and white skin again.Seeing such a body, my hard cock is towered still."Fufu... my, prince sure has gotten so big.""W
"Oh?… you're finally here at last"When I opened the door to the throne room, father blurted those words out in amusement.My father seems to have been acting in a very serious demeanour which is quite the opposite of me. He didn’t indulge himself much in depravity like me,
Reincarnation.Although it is a familiar word in Novels and various other Media. I did not think that I would actually experience it in my life.I was an ordinary Otaku who you can find everywhere, and with a Plain face either. And because I was Plain-looking, I have never been able
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews