Harem Tales of Reincarnated Elf Prince

Harem Tales of Reincarnated Elf Prince

last updateLast Updated : 2021-10-03
By:  Lovely PiratesOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
1
1 rating. 1 review
18Chapters
6.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

~I was a good looking prince when I was reborn, and because I could do indecent things as much as I like, I decided to make a harem while travelling with a beautiful female elf~ Formerly a gamer, the hero who was just reincarnated became a handsome elf prince of another world. In his previous life, he was just a plain-faced man, so in this world, he uses his high position as a prince to his advantage and keeps holding beautiful women in his arms, every day in his life. With his status as a prince and handsome face, together with the high abilities of the elves……he will thoroughly enjoy life unlike in his previous world! Main Characters:- Alan vi Alling: The main character of the Novel. An otaku who died as the Virgin in his previous world but was reborn as the Elven Prince. Because of his previous life he set himself up and determines himself to taste every woman he came across. Now in this life he is the dirty playboy. Cecil Mir: An Elven Woman and Main character attendant also his childhood friend and harbour feelings for him, despite being him the playboy.

View More

Chapter 1

Prologue (1/2)

“Delapan bulan dan rasanya seperti delapan tahun,” gumam Isabella pelan, sambil menatap jam di dinding.

Dia tidak pernah menyangka bahwa delapan bulan pernikahan bisa terasa selama ini. Rumah besar milik keluarga De Luca ini seharusnya terasa mewah, hangat, dan hidup. Tapi baginya, tempat ini lebih mirip ruang kosong yang terlalu luas. Setiap langkah kakinya memantul pelan di lantai marmer, seolah mengingatkanku bahwa aku sendirian.

Sebastian sepertinya tidak akan pulang lagi malam ini. 

Isabella sudah terbiasa. Awalnya dia menunggu di ruang tamu dengan penuh harap, lalu beralih menunggu di kamar. Sekarang? Dia hanya memastikan pintu tidak terkunci dan lampu tetap menyala.

“Kenapa aku masih menunggu?” bisiknya pada diri sendiri dengan perasaan yang getir.

Padahal dia tahu jawabannya. Meskipun ini hanya pernikahan kontrak, hatinya tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai sesuatu yang sementara.

Isabella menghela napas panjang, lalu berjalan menuju dapur untuk menuang segelas air. Jam sudah hampir tengah malam dan suasana begitu sunyi hingga suara detak jam terasa nyaring, lalu suara pintu depan terbuka.

Isabella langsung berhenti. “Akhirnya pulang juga…” bisiknya lirih.

Langkah kaki terdengar berat dan tidak teratur.

Dia menutup mata sejenak. “Mabuk lagi…” desahnya pelan.

Isabella berjalan ke ruang tamu dan di sanalah dia melihat Sebastian. 

Jasnya sedikit berantakan, dasinya longgar, dan langkahnya tidak stabil. Wajahnya tetap tampan seperti biasa, tapi matanya kosong dan bau alkohol begitu kuat.

“Kamu baru pulang?” tanyanya, mencoba terdengar tenang.

Ia mengangkat kepalanya sedikit. “Ini rumahku,” jawabnya dingin. “Aku bisa pulang kapan pun aku mau.”

Dadanya mengencang.

“Aku gak melarang kamu pulang,” kataku, menahan emosi. “Aku cuma bertanya.”

Sebastian tertawa kecil tanpa kehangatan. “Jangan bertingkah seperti istri sungguhan.”

Kalimat itu menusuk.

Aku menatapnya. “Aku memang istrimu,” jawabku pelan tapi tegas.

Ia mendengus. “Kamu hanya istri kontrak,” koreksinya. “Jangan lupa itu.”

Isabella terdiam sejenak.

“Kontrak bukan berarti kamu bisa menghilang begitu saja,” kataku. “Aku bahkan gak tahu kamu masih menganggap pernikahan ini ada atau tidak.”

Sebastian berjalan mendekat, langkahnya goyah tapi tatapannya tajam. “Dari awal sudah aku katakan,” katanya rendah, “jangan pernah berharap lebih.”

Isabella menelan ludah.

“Dan kamu setuju,” lanjutnya.

Dia tersenyum pahit. “Iya, aku setuju. Tapi aku gak mau diperlakukan seperti bayangan.”

Ia berhenti tepat di depanku.

“Kalau kamu merasa seperti bayangan,” katanya dingin, “itu bukan urusanku.”

Isabella menatapnya tidak percaya. “Kenapa kata-katamu sejahat itu?”

Ia diam sejenak, lalu berkata, “Karena sejak awal aku tidak pernah mencintaimu.”

Jawaban itu menghantamku.

“Kalau begitu kenapa kamu menikah denganku?” tanyaku.

Sebastian tersenyum tipis. “Kamu sudah tahu jawabannya.”

Isabella tertawa pelan, pahit. “Iya, demi kesepakatan.”

Suasana kembali hening.

Sebastian mencoba berjalan melewatiku, tapi tubuhnya goyah. Refleks, Isabella menahan lengannya.

“Pelan-pelan,” katanya.

Sebastian berhenti. Tatapannya turun ke tangan Isabella, lalu naik ke wajahnya. Ada sesuatu yang berubah.

“Jangan sentuh aku kalau kamu gak siap menerima akibatnya,” katanya pelan.

Isabella mengernyit. “Maksudmu apa….”

Belum selesai dia bicara, tiba-tiba Sebastian menariknya mendekat. “Sebastian….!”

Tangannya melingkar di pinggang Isabella, menahan tubuhnya agar tidak menjauh.

Napasnya hangat dan terlalu dekat. “Apa ini yang kamu mau?” bisiknya rendah.

Jantung Isabella berdetak kencang. “Lepaskan aku…”

Namun ia tidak langsung melepas. Sebaliknya, wajahnya mendekat ke leher Isabella dan tanpa peringatan, bibirnya menyentuh ceruk leher Isabella. Lembut dan hangat, sangat berbeda dari sikap dinginnya selama ini.

Tubuhku menegang, lalu tanpa sadar melemas. Isabella terdiam, sesaat terbuai. Detik itu terasa begitu lama. Napasnya menyentuh kulit Isabella dan sesuatu di dalam dirinya runtuh.

“Sebastian…” bisiknya lirih.

Namun kemudian kesadaran itu menghantamnya. Ini bukan cinta. Ini bukan perasaan. Ini hanya kesalahan.

Isabella langsung mendorongnya menjauh. “Cukup!” katanya tegas.

Sebastian sedikit terhuyung, tapi akhirnya dia melepaskan Isabella.

Isabella mundur satu langkah, napasnya tidak teratur. “Jangan pernah lakukan itu lagi,” katanya dingin.

Sebastian menatapnya, sedikit berbeda sekarang. “Aku…” ia terdiam sejenak. “Gak bermaksud…”

Isabella menggeleng. “Aku gak butuh penjelasan.”

Dia memeluk dirinya sendiri. “Seperti kata-katamu tadi. Ini cuma kontrak, Sebastian,” katanya pelan. “Jangan bersikap seolah lebih dari itu.”

Sebastian terdiam dan untuk pertama kalinya, ia tidak membantah.

“Sebaiknya kamu pergi ke kamarmu,” lanjut Isabella.

Sebastian menatapnya beberapa detik, lalu berbalik dan pergi tanpa kata. Langkahnya menjauh, meninggalkannya sendirian dan ruangan kembali sunyi.

Isabella berdiri mematung, menyentuh lehernya tanpa sadar. Jejak hangat itu masih terasa.

“Kenapa…” bisiknya.

Air matanya jatuh.

“Ini hanya kontrak…” ulangnya pelan.

Isabella mengulangnya lagi dan lagi, seolah itu bisa menghapus apa yang baru saja terjadi.

Dia menutup mata dan kali ini dia tahu, masalahnya bukan pada kontrak. Masalahnya, hatinya sudah terlalu jauh.

Isabella tersenyum pahit. “Empat bulan lagi…” bisiknya.

Isabella berjalan ke kamarnya, membuka pintu, lalu menguncinya kembali.

“Kenapa aku membiarkannya?” bisiknya lirih, suaranya hampir tidak terdengar di dalam kamar yang sunyi.

Isabella masih bersandar di pintu, mencoba menenangkan napas yang belum stabil. Bayangan tadi terus terulang, terlalu dekat, terlalu nyata, dan terlalu berbahaya untuk sesuatu yang seharusnya tidak berarti.

“Kenapa aku bodoh sekali…” gumamnya pelan.

Dia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk perlahan. Tangannya tanpa sadar menyentuh leher.

“Ini cuma karena dia mabuk,” katanya, mencoba meyakinkan diri sendiri. “Besok  juga dia gak akan ingat.”

Namun justru itu yang membuat hatinya terasa semakin kosong.

“Dan aku juga harusnya lupa…” bisiknya.

Tapi Isabella tahu, dia tidak akan bisa melupakannya.

Dia berbaring, menatap langit-langit kamar. Malam terasa panjang, pikirannya tidak mau diam. Perasaan yang selama ini berusaha ditahan, perlahan mulai muncul ke permukaan. Tentang Sebastian, tentang jarak di antara mereka, dan tentang sesuatu yang seharusnya tidak pernah tumbuh sejak awal.

Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja, dia langsung menoleh. Layar menyala. Papa.

Jantungnya sedikit menghangat. Dia segera meraih ponsel itu dan menjawab. “Halo… Pa,” katanya pelan.

Suara di seberang sana terdengar lemah, tapi hangat seperti biasa. “Bella, kamu sibuk?”

Isabella tersenyum kecil, “gak Pa. Aku lagi di kamar.”

“Gimana keadaan kamu di sana?” tanyanya.

Isabella terdiam sejenak. “Baik,” jawabnya akhirnya, meskipun kata itu terasa berat di lidah.

Papanya menghela napas pelan. “Suamimu memperlakukan kamu dengan baik, kan?”

Pertanyaan itu membuatnya menatap kosong ke depan.

Bayangan Sebastian kembali muncul di kepalanya, dingin, jauh, dan tadi malam, terlalu dekat.

“Dia…” Isabella berhenti. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

“Dia baik,” katanya akhirnya, memilih jawaban paling aman.

Hening sejenak di seberang sana.

Lalu papanya berkata pelan, “Bella, apa kamu bahagia?”

Dadanya langsung terasa sesak.

Dia hendak membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.

“Kalau kamu tidak bahagia, kamu tidak perlu bertahan,” lanjutnya. “Papa tidak ingin kamu mengorbankan dirimu hanya demi Papa.”

Matanya mulai terasa panas.

“Papa sudah baik-baik saja sekarang,” tambahnya pelan. “Kamu tidak punya alasan untuk menyakiti dirimu sendiri lagi.”

Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat.

“Aku gak menyakiti diriku sendiri,” bisikku.

Namun bahkan dia sendiri tidak yakin.

Hening kembali menyelimuti percakapan mereka.

Lalu, dengan suara yang lebih dalam, papanya bertanya. “Bella, sebenarnya apa alasan kamu bersedia menikah dengan Sebastian?”

Jantungnya seperti berhenti dan dia membeku. Pertanyaan itu sederhana, tetapi untuk pertama kalinya dia tidak tahu harus menjawab apa.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Soo Jin
Soo Jin
Author have not updated in over a month
2022-04-30 03:47:46
0
0
18 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status