LOGINDespite using my cornea, my husband, Felix Halward, forced me to kneel on glass shards. Despite using my heart, my daughter declared that I was not fit to be her mother. Before my artificial heart stopped beating, I called Felix, only to have him snap at me, “Liana, could you stop kicking up a fuss? If you want to die that badly, do it somewhere far away! I’m not collecting your corpse!” I shut my remaining left eye as I lay on the snow. Later on, Felix, who had stopped loving me, plucked out his own eyeball. My daughter, who had denounced me, tried taking her life multiple times just so that she could see me again. However, I no longer longed for their love.
View MoreAkhir tahun merupakan momen yang ditunggu banyak seniman ataupun idol dalam negeri. Banyak acara penghargaan yang digelar tahun ini. Salah satunya adalah pagelaran di panggung megah Jakarta, memberikan penghargaan Artist of the Year kepada grup idol yang sedang naik daun, Motion13.
Sebagai seorang leader, Samudera Adikara Wicaksana, seharusnya berada di pesta perayaan bersama kedua belas membernya di asrama mewah mereka. Namun, sebuah pesan singkat dari ajudan Papanya, membawa Samudera ke ruangan kantor yang dingin di lantai paling atas gedung World Entertainment.
Saat membuka pintu, Ardhaka Wicaksana—Papa Samudera sekaligus pemilik saham utama World Entertainment—agensi yang menaungi Motion13, sudah duduk di balik meja maoninya. Ardhaka tidak menatap layar saham, di depannya hanya terdapat map berwarna cokelat yang menunggu kedatangan Samudera.
Samudera menghela napas. Pria dengan mata tajam dan aura alpha leader itu menutup pintu pelan. “Papa manggil Sam kesini bukan buat ngucapin selama atas kemenangan daesang tadi, kan?” tanya Samudera. Dia masih mengenakan pakaian panggungnya, jaket kulit custom dengan kristal yang berat.
Ardhaka mendongak. Matanya tajam, lebih tajam dari milik Samudera. Dia tersenyum tipis, mempersilakan putra tunggalnya untuk duduk. “Selamat, Sam. Kamu membuktikan kalau investasi Papa tidak sia-sia. Tapi kita berdua sama-sama tahu, Motion13 cuma satu fase dalam hidup kamu. Sekarang, waktunya membayar janji.”
Samudera tertawa hambar, menyisir rambutnya yang dicat cokelat dengan jemarinya. “Janji? Janji apa, Pa? Janji membawa agensi ini ke pasar internasional? Sudah ku lakukan. Motion13 konser hingga ke Amerika sejak tiga tahun yang lalu,” ujar Samudera menyebutkan kebanggannya. “Atau janji untuk tidak terlibat skandal? Aku bersih. Tidak ada skandal apapun dalam grupku.”
“Bukan itu,” Ardhaka menggeser map cokelat tersebut ke tengah meja. “Jani sepuluh tahun yang lalu. Saat kamu bersujud memohon ke Papa dan Mama untuk mengizinkanmu menjadi trainee ketimbang masuk sekolah bisnis di London. Kamu waktu itu bilang, ‘Beri Sam waktu sampai usiaku 30 tahun untuk menguasai panggung dan membawa Motion13 ke puncak tertinggi, setelah itu Samudera janji akan mengikuti rencana yang Papa tentuin.’”
Ardhaka menyebutkan ucapan Samudera dengan mantap, seolah masih mengingat malam dimana Samudera memohon sambil menangis di depan orang tuanya.
Dan Samudera juga masih mengingat jelas momen itu. Wajahnya mengeras. “Itu janji anak remaja yang sedang putus asa, Pa! Aku baru dua puluh tahun waktu itu!”
Ardhaka menyeringai. “Dua puluh atau lima puluh tahun, keturunan Wicaksana tidak pernah menjilat ludahnya sendiri, Samudera,” suara Ardhaka tidak meninggi, namun semakin berat. “Tahun ini kamu memasuki usia tiga puluh tahun. Kontrakmu dengan kebebasan yang kamu setujui, sudah habis. Kamu akan menikah dengan perempuan dari rekan bisnis kita.”
Samudera meradang, dia menggebrak meja. “MENIKAH?! Fans mencintaiku karena aku milik mereka! Papa gila minta aku menikah sekarang? Disaat Motion13 bulan depan mau world tour? Papa mau ngehancurin saham perusahaan sendiri?”
Ardhaka berdiri, postur tubuhnya masih tegak meski usianya tidak lagi muda. “Saham bisa naik turun kapan saja, Sam. Tapi integritas keluarga adalah prioritas. Kamu pikir kenapa Papa membiarkanmu menjadi idola di atas panggung selama sepuluh tahun? Supaya kamu punya modal sosial, dikenal banyak orang.”
Ardhaka menghela napas, mengusap pelan pundak Samudera. “Sekarang, gunakan modal itu untuk memperkuat dinasti kita. Menikahlah, atau Papa akan membekukan seluruh promosi Motion13, membatalkan world tour kalian.”
Samudera tertegun. Darahnya berdesir hebat, tangannya sedikit bergetar dan berkeringat. Dia sangat mengenal Papanya. Ardhaka adalah orang paling penting di industri ini, ancamannya tidak pernah main-main. Samudera tahu bahwa Papanya akan dengan mudah menghancurkan orang-orang yang tidak mau menuruti kendalinya, semudah membalikkan telapak tangan.
“Papa egois,” bisik Samudera, suaranya bergetar menahan amarah. “Papa menggunakan impianku sebagai perjanjian dan sandera. Papa gak pernah sekalipun menyempatkan waktu untuk sekadar bertanya, apa aku bahagia?”
Ardhaka tersenyum. “Kebahagiaan adalah harapan bagi orang biasa, Sam. Tapi kita adalah penguasa. Penguasa tidak mencari kebahagiaan, mereka mencari stabilitas,” jawab Ardhaka dingin.
“Papa udah gila! Aku tetap gak mau menikah,” Samudera berbalik menuju pintu. “Batalkan saja tur dunianya. Hancurkan saja karirku. Aku tidak peduli.”
“Samudera!” suara Ardhaka menggelegar, menghentikan langkah anaknya di ambang pintu. “Jika kamu pergi sekarang, besok pagi akan ada berita bubarnya Motion13. Papa akan menghancurkan juga karir kedua belas membermu dengan memastikan tidak ada lagi agensi yang mau menerima kalian di negeri ini. Kamu mau membermu berhenti dari mimpi-mimpinya?”
Samudera membeku. Tangannya mengepal di gagang pintu hingga buku jarinya memutih. Ini bukan lagi sekadar perdebatan tentang pernikahan, ini adalah perang antara martabat seorang artis dan realitas seorang ahli waris.
Samudera masih mematung di ambang pintu. Ruangan itu mendadak terasa kekurangan oksigen. “Siapa?” suara Samudera terdengar serak.
Langkahnya berbalik menuju meja sang Papa. “Siapa wanita malang yang Papa pilih untuk masuk ke dalam neraka kontrak ini?”
Ardhaka Wicaksana tidak langsung menjawab. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya, menyesap sisa kopi hitam yang sudah mendingin. Ia menikmati momen ini, momen dimana sang anak kembali dan dia memegang kendali sepenuhnya.
Ardhaka mendongak. “Dia bukan wanita malang, Sam. Dia adalah satu-satunya orang yang levelnya layak untuk bersanding denganmu tanpa terlihat seperti pajangan yang numpang tenar pada nama besarmu sebagai idola,” Ardhaka meletakkan cangkirnya. “Kamu sudah pernah bertemu dengannya. Papa yakin kamu tahu siapa dia. Bahkan, grup kalian pernah menjadi brand ambassador untuk produknya tahun lalu.”
Samudera mengerutkan kening. Pikirannya berlari cepat, memindai puluhan brand yang pernah bekerja sama dengan Motion13 tahun lalu. Namun, hanya ada satu nama yang muncul cepat di otaknya, membuat jantungnya memberikan reaksi tidak terduga.
“Jangan bilang…”
“Seraphine Swarna Kirana,” Ardhaka menyebutkan nama itu dengan nada bicara yang tenang dan artikulasi yang sempurna. “Pemilik Seraphine Aesthetic Group. Papanya, Handoko Kirana adalah teman lama Papa. Papa sudah bertemu dengannya.”
“Seraphine?” Samudera mengulang nama itu, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil. “Dia tidak mungkin setuju dengan kegilaan ini. Dia wanita pekerja keras dan punya segalanya. Kenapa dia mau terikat dengan kehidupan seorang idol yang penuh dengan sorotan dan hidupnya diatur oleh agensi?”
Ardhaka tersenyum tipis. Ia menangkap keraguan di mata anaknya. “Seraphine adalah wanita cerdas dan visioner, Sam. Dia tahu keuntungan dari menggabungkan pengaruh lifestyle brand-nya dengan fans Motion13 adalah strategi bisnis yang jenius. Dia juga menghormati pekerjaanmu. Dia bilang padaku bahwa kamu dan Motion13 adalah sedikit dari idol yang punya ‘isi kepala’ dan prinsip teguh di industri ini.”
Samudera memalingkan wajah, tak ingin Papanya melihat kilat aneh di matanya. Menghormatiku? batinnya. Selama kerja sama tahun lalu, mereka hampir tidak pernah bicara secara pribadi. Hanya pertukaran sapaan formal dan diskusi professional.
“Kenapa kamu diam saja, Sam?” tanya Ardhaka membuat Samudera mendongak. “Dengan sifat keras kepalamu, Papa tahu kamu mungkin akan memaki nama lain yang Papa sebutkan jika itu artis ataupun idol dari industri yang sama. Tapi Seraphine tidak.”
Ardhaka menatap tepat kedua mata Samudera. “Apa karena dia Seraphine? Apa karena kamu sadar bahwa dia adalah satu-satunya wanita yang tidak bisa kamu tolak dengan alasan ‘dia tidak selevel denganku’?”
Samuder terdiam. Bayangan Seraphine yang sedang memeriksa foto di lokasi pemotretan di pinggiran kota Paris untuk kampanye parfum terbaru Seraphine kembali terlintas.
“Dia udah setuju?” tanya Samudera lagi, memastikan.
“Kamu bisa memastikannya sendiri. Temui dia besok malam,” Ardhaka memberikan kartu nama Seraphine, ia tersenyum simpul dan menepuk bahu Samudera dengan keras. “Jangan mempermalukan nama Wicaksana. Bersikaplah seperti ‘pria’ saat bertemu dengannya, bukan sebagai idol papan atas.”
Samudera menepis tangan ayahnya. "Papa menang kali ini. Bukan karena Papa mengancamku dengan kontrak sepuluh tahun itu."
Ardhaka menaikkan alisnya. "Oh ya? Terus karena apa?"
Samudera menatap ayahnya dengan keberanian yang baru muncul, sebuah jenis keberanian yang dicampur dengan keputusasaan. "Karena aku ingin mendengar langsung dari Seraphine. Aku ingin tahu alasan apa yang membuat wanita sepertinya sudi masuk ke dalam permainan kotor Papa. Jika dia memang setuju hanya karena bisnis, maka aku akan menikahinya, menjadi boneka Papa, dan memastikan Papa mendapatkan semua keuntungan saham yang Papa mau."
"Tapi?" Ardhaka memancing.
"Tapi jika dia dipaksa, seperti aku..." Samudera menjeda, suaranya bergetar oleh emosi yang sulit didefinisikan. "Aku akan melakukan segala cara untuk menghancurkan rencana ini, bahkan jika aku harus membakar gedung World Entertainment ini bersamaku."
Ardhaka tidak marah. Ia justru tertawa kecil. "Itu baru anakku. Ambisi, kemarahan, dan sedikit drama. Pergilah. Temui dia.”
***
On the day that my body was cremated, Mandy stood beside Felix in a daze. It had just been a few days since the truth was revealed. Yet, her chubby cheeks had sunken in. She stared at my tombstone and whispered, “Daddy, am I never going to see Mommy again?”Felix patted her head and could not bring himself to tell her that the dead could not return. Mandy then puffed out her cheeks as if she was throwing a tantrum. “She can’t not want me!“She’s the one who ran away! Ruby said that she doesn’t love me.”Felix became choked up, and tears rolled down his cheeks. He squatted down and pinched her cheek, just like I would when I tried to comfort her. “It’s not that Mommy doesn’t want you anymore. She left so that she could give you her heart. She only had one eye left because she made sure that I could still see. “Mandy, Mommy loves you the most.”However, Mandy frowned. “But Ruby said—”Unable to bear the pain in his heart any longer, a cold expression settled on Felix’s fac
“She had a tibia fracture, and there was a three-inch cut at the back of her calf. It was made by the blade of an ice skate. She also suffered from bleeding below her ribcage. It was caused by pressure from a sharp object. Her artificial heart also stopped working due to prolonged exposure to the cold.” The police officer looked up from the report and stared at Felix, who appeared lost. “Your wife was murdered in Switzerland,” he said sympathetically.Felix scowled, and his chest heaved. “Her lover must’ve killed her! Did you find out whom she last contacted?!”The officer sighed. “You keep saying she has a lover, but do you have proof?“When your wife ran out of the villa, she brought nothing. Didn’t you notice this when you packed up her luggage?“Ruby Jones followed her. She wasn’t dressed in ski wear, but she was wearing a pair of ice skates. Your wife’s wounds were left by ice skates.”Felix whipped his head up in disbelief. “What do you mean? Are you saying that Ruby kille
Felix hung up and smiled at a rather pale Ruby. “Liana must be thinking about coming back. She probably paid an actor to figure out how I feel about this entire thing. “Don’t worry, Ruby. Once she’s back, the first thing I’ll do is divorce her!“I feel disgusted whenever I remember her face; she’s blind in one eye, and she still can’t stop herself from cheating. Someone like her should leave the family as soon as possible.”Ruby just hummed in a distracted fashion. Right then, Mandy ran over with a children’s book and asked Ruby to read her a bedtime story. However, Ruby pulled a long face. When she read the story of the Little Mermaid, she snapped. “Ariel should have killed the princess. The prince doesn’t love her at all!“Only those who love each other should be together. The princess only got together with the prince in the end because of her family background.”Her ruthless expression terrified Mandy so much that she shrank into her covers. Felix was not all talk. He a
When Felix returned to the villa, the door was open. I was supposed to be resting in bed, but I was nowhere to be found. For some reason, he started to panic. He searched for me a few times upstairs and downstairs. He even called out to me, but no one replied. Mandy pouted. “Daddy, why don’t you call Mo… Why don’t you call her?”She teared up and seemed to be shocked by my abrupt disappearance.However, my phone had turned off due to the cold. Seeing Felix put down his phone with a frown, Ruby smiled faintly. “Don’t worry, you guys. I saw Liana getting really chummy with a ski instructor yesterday. I think they agreed to go out today.”Felix was furious, and he threw his phone on the floor. “Me? Worried about her?! She’s just a shameless woman! Her leg’s broken, and she’s still out on a date with a man?! I knew it. She was just pretending!“If I ever care about her safety again, I’d be a fool!”Mandy sniffled and huffed. “She must’ve left us behind again!”Since I was
Before my broken fingers could heal, Felix dragged me onto a plane, and we went to Switzerland. It was all because Ruby said that she wanted to go skiing. She pretended to be sad and said, “Don’t leave Liana at home alone. Let’s bring her along.”Felix seemed to have forgotten that I had told h
When Felix noticed the bandages on my knees, his eyes flickered with an emotion I could not decipher. “Ruby has an art exhibition today. She’s always wanted you to see it, so you’re coming with us,” he said.He sounded so high and mighty about it, as though he was being nice and giving me this oppo
Before I fell asleep, I heard Felix trying to calm Mandy down from a temper tantrum. “Daddy, I don’t want that woman to go with us.”“Mandy, go to sleep. No matter what, she’s your mother.” Mandy flung Felix’s hand away. “I don’t like her! She’s a bad woman! Ruby should be my mommy instead!”I
Felix threw his phone at my head. “Liana, are you crazy?! Why are you bothering us while I’m making a mannequin in Ruby’s likeness? You should really look at just how many times you’ve called me!”Blood flowed from my temple. Even so, I could still see the lipstick stain on his collar. It was a l






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.