Short
Heard His Thoughts, I Left Him at the Altar

Heard His Thoughts, I Left Him at the Altar

Par:  Bowl of RiceComplété
Langue: English
goodnovel4goodnovel
8Chapitres
10.7KVues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

I always had a unique kind of mind-reading ability—I could hear the thoughts of people who didn't truly love me. On the night before my wedding, I suddenly heard my fiance's thoughts. 'If she shows up unexpectedly to disrupt the wedding tomorrow, will wearing leather shoes make it harder to escape?' I didn't say a word. The next day, without a second thought, I boarded a plane and left Chilia. In the end, that wedding, regarding a runaway bride and groom who never showed up, became the city's most infamous joke.

Voir plus

Chapitre 1

Chapter 1 Uncovering Lies

Suara sirine ambulance meraung bersahutan, menciptakan keriuhan bercampur kepanikan. Para petugas medis berhamburan keluar, menyambut kedatangan para korban kecelakaan.

Rintihan memilukan, darah segar mengalir dengan luka menganga menampakkan daging dan tulang. Menjadi pemandangan ironi setiap retina yang menyaksikan

"Sipakan ruang operasi..!" Titah salah seorang dokter yang menangani pasien cidera dikepala dan kaki.

"Dalam hitungan ketiga...!"

"Siapkan ICD...!"

"Pasien ini butuh donor darah..!"

Suara para dokter saling bersahutan, mengomandoi perawat yang sigap memberikan dan melakukan yang diinginkan.

"Kau tangani pasien dibangsal tiga, aku akan melakukan operasi." Ucap Hana pada salah satu dokter lelaki.

"Kau mau melakukan operasi sendiri..?" Tanya dokter pria yang bernama Riu itu..

Hana mengangguk, mengalihkan perhatian pada seorang dokter magang yang sudah selesai melakukan perawatan pada salah satu korban.

"Pasien bangsal enam mengalami luka ringan dan patah tangan, kau tangani itu." kata Hana.

"Baik dokter...!"

Hana bersiap keruang operasi, meninggalkan keriuhan diInstalasi Gawat Darurat.

Ada lebih dari lima belas orang korban terluka dan dua orang meninggal dunia, akibat kecelakaan beruntun dijalan Shibuya Tokyo. Semua diakibatkan oleh salah satu pengendara mobil yang sedang mabuk.

Hampir dua jam kesibukan di Instalasi Gawat Darurat baru mereda, para pasien juga telah dipindahkan keruang rawat inap.

Sementara Hana Sato masih berada didalam ruang operasi, sedang berusaha untuk mengeluarkan pecahan kaca yang bersarang dikepala, serta patahan body mobil yang menancap didada korban.

"Apa operasi belum selesai..?" tanya Riu pada suster yang baru keluar dari ruang operasi.

"Belum dokter, pasien mengalami pendarahan." jawabnya lalu pamit guna mengambil kantung darah lagi.

Detik berganti menit, tak terasa sudah lima jam berlalu.

Akhirnya operasi melelahkan itu pun selesai, dengan hasil yang memuaskan karena nyawa korban dapat diselamatkan.

Hana melakukan perenggangan seraya menghela nafas berat, guna mengusir lelah dan pegal yang mendera. Melepas masker serta semua atribut yang melekat dibadan. Mencuci tangan dan wajah, kemudian meninggalkan ruangan.

Riu yang sudah menunggu didepan ruang operasi bersama sebotol air mineral, sigap menghampiri wanita pujaannya itu.

Hana tersenyum "terimakasih...!"

"Aku antar pulang ya..?" tawar Riu.

Hana menggeleng, meneguk minumannya hingga tandas.

"Sayang...!" seru Riu cemas, karena melihat wajah lelah sang kekasih.

"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir. Lagi pula jam jagamu belum selesai." ucap Hana lembut.

"Kalau tidak, biar Kaito yang mengantarmu." Usul Riu yang lagi-lagi ditolak oleh Hana.

Seorang suster menghampiri mereka, memberitahu Riu jika pasien yang lelaki itu tangani mengajukan keluhan.

"Hubungi aku jika sudah sampai dirumah, hati-hati." ucap Riu sebelum meninggalkan sang kekasih.

Hana menuju ruangannya, membereskan barang-barangnya untuk bersiap pulang. Segelas kopi menjadi pilihan gadis cantik itu, untuk menemaninya diperjalanan.

Sudah pukul sebelas malam, kala Hana meninggalkan rumah sakit. Dengan mobil kesayangannya, gadis itu membelah jalanan kota Tokyo yang masih nampak ramai.

Tring Tring Tring

Dering ponsel memecah keheningan didalam kabin kendaraan.

Hana merogoh tas yang ia letakkan dibangku penumpang sebelahnya. "Ck, mana sih...?" ucapnya.

Hana yang tak juga mendapatkan ponselnya, mengalihkan perhatian dari jalanan didepannya. Bahkan sampai handphone sudah ditangan, fokusnya tidak juga kembali perjalanan.

Alhasil, wanita itu tidak melihat lampu lalu lintas sudah berubah merah. Mobilnya melaju lurus dengan kecepatan sedang, mengabaikan dua mobil dari arah kanan yang menginjak full pedal gas.

Tiinnnn

Hana terkejut, dan malah reflek menginjak rem. Alhasil mobilnya langsung dihantam keras oleh dua kendaraan sekaligus.

Brak Brak Bum

Dua kali benturan, dua kali mobil Hana jungkir balik, sebelum akhirnya berhenti menabrak beton pembatas jalan.

Asap mengepul dari kap mesin, kaca remuk begitu juga badan kendaraan yang ringsek. Tubuh kurus Hana terjepit, dengan kepala bersimbah darah bertumpu pada setir.

Netra lentik yang tertutup cairan pekat berbau anyir itu berkedip lemah, pandangannya samar sebelum akhirnya menjadi gelap bersamaan nyawanya yang terlepas dari raga.

Suara sirine kembali meraung, polisi ramai memadati jalanan bersama team penyelamat dan dokter. Kabar kecelakaan itu langsung menyebar, dan sampai ketelinga keluarga Sato serta sang kekasih Riu dalam waktu singkat.

Tangis histeris pecah dari ibu, kakak, dan para sahabat yang amat mengenal bagaimana baiknya kepribadian Hana Sato.

Sang ibu dan nenek serta beberapa sahabat wanita, bahkan sampai pingsan.

Sedangkan ayah, kakak lelaki dan Riu, menangis dalam diam memandangi tubuh Hana Sato yang sudah dingin terbujur kaku diruang jenazah.

Setelah proses pemeriksaan selesai, jenazah langsung dibawa kerumah duka.

Ratusan karangan bunga memenuhi area bangunan sampai kejalan raya. Ribuan pelayat dari berbagai macam kalangan dan profesi datang silih berganti.

Riu diam membisu, duduk disisi peti sembari terus memandangi wajah pucat Hana yang tetap terlihat cantik. Matanya memanas, memancarkan luka kesedihan yang amat mendalam.

Aksi saling menyalahkan diri sendiri, menggaung lirih didalam nurani.

Andai Riu tetap memaksa mengantarkan, pasti kekasihnya itu masih ada bersamanya.

Andai sang aysh dan kakak lelaki, tidak menuruti kemauan Hana yang tak ingin ada supir serta bodyguard. Pasti kejadian tragis ini bisa dihindari.

Andai saja Hana patuh, tentu gadis itu masih hidup dan mengenakan gaun pengantin diakhir tahun nanti.

Tapi semua cuma berandai-andai, nyatanya takdir tak dapat ditolak, kemalangan tak dapat dihindari.

"Sayang..! kenapa kau meninggalkan aku..? kenapa kau tidak menepati janjimu..?" lirih Riu dengan segaris airmata menghiasi wajah rupawannya.

Dua hari jenazah Hana Sato berada dirumah duka, sebelum akhirnya dikebumikan dipemakaman elite khusus bagi kaum bangsawan dan konglomerat negeri Sakura itu.

Dari kalangan artis, pengusaha, pemerintah, sahabat dirumah sakit, para penggemar. Mengantarkan kepergian Hana Sato untuk selama-lamanya.

Tangis pilu mengiris hati, menggaung ironi merobek udara. Langir kelabu hari ini, menjadi saksi tanah merah menutupi peti kayu mahoni yang berizi jasad Hana Sato, sosok yang banyak dicintai seantero negeri.

"Hana kembali, jangan tinggalkan ibu. Putriku...!" Jerit nyonya Sato histeris, menyaksikan peti mati diturunkan keliang lahat.

"Hana....!" Pekik wanita paruhbaya itu sebelum kehilangan kesadaran untuk yang kesekian kalinya.

Riu terisak juga pada akhirnya, memeluk erat bingkai foto sang kekasih hati. Tubuh tinggi tegapnya terhuyung, kakinya lemas tak mampu berpijak kokoh. Dadanya bak diremas tangan-tangan tak kasat mata, teramat sakit dan nyeri.

Ayah dan ketiga kakak lelaki serta para keponakan, berpelukan satu sama lain, guna saling menopang tubuh tanpa daya tenaga itu.

Tak ada lagi Hana Sato, wanita cantik dengan segudang prestasi dan bakat didunia ini lagi. Semua tentangnya cuma tinggal cerita dan kenangan yang tak akan terlupakan diabad ini.

Hanya ada raga kaku terkurung dalam dinginnya gundukan tanah merah yang ditaburi bunga aneka warna. Jiwanya sudah berpindah alam, entah itu surga, neraka, atau bahkan tidak keduanya.

Biarlah itu menjadi rahasia Tuhan dan dewa kebajikan yang akan memberikan ganjaran baik buruknya selama hidup didunia.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

commentaires

شوشو
شوشو
Amazing ...
2024-11-22 17:25:38
0
0
Cris Land
Cris Land
............
2024-12-15 01:27:38
0
0
lisa lisa
lisa lisa
Nice! Strong woman!!!
2025-01-18 19:39:41
0
0
8
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status