Hey! I Want You Back

Hey! I Want You Back

last updateLast Updated : 2025-08-04
By:  Mercy Nosa Ongoing
Language: English
goodnovel12goodnovel
Not enough ratings
22Chapters
1.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Three years ago, Adrian Wolfe, a ruthless billionaire, and Elena Carter, a talented architect, had a whirlwind romance that ended in a bitter divorce. Adrian's obsession with work and his cold, detached nature pushed Elena away. Feeling unseen and unloved, she walked out of his mansion—and his life—determined to build her own success. Now, Elena has made a name for herself in the industry and is living her best life—until she lands a high-profile contract that puts her face-to-face with the man she swore to leave behind. Adrian, who never truly got over her, is her new client. At first, Elena is determined to keep things professional, but Adrian has other plans. He never wanted the divorce and now sees this as his second chance. He’s willing to chase, fight, and prove to her that he’s changed. But Elena isn’t convinced. She refuses to fall for the same man who once shattered her heart. As they work together, buried emotions resurface. Sparks fly, but so do old wounds. Adrian is used to winning in business, but can he win back the only woman he ever loved? And when a hidden truth about their past comes to light, will it break them apart forever—or finally bring them back together?

View More

Chapter 1

Signed, Sealed, Shattered

“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“

Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu.

Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut.

“Tahan, Bu Septa. Ini sudah licin banget kok. Nanti juga enak,” suara Toni, ayah Teja, terdengar menjawab.

Kamar Toni yang berada persis di sebelah kamar Teja membuat semua kalimat itu terdengar jelas di telinga Teja.

'Suara itu lagi?!' Teja memijat pelipisnya.

Sudah bertahun-tahun Teja sering mendengar suara-suara aneh dari kamar ayahnya setiap kali sang ayah menerima pasien pijat.

Rumor tentang ayahnya yang didengungkan teman-teman kampus Teja kembali melayang di dalam benaknya.

“Ayahmu itu gigolo, Jo!“

“Kabarnya kan punya ayahmu paling gede se-Indonesia, Jo. Punyamu juga segede itu nggak?“

“Tukang pijat mah cuma kedok doang. Ayah Teja itu sebenarnya membuka praktik pijat plus-plus pakai ukuran supernya.“

Satu persatu hinaan dari teman kuliah Teja berputar seperti slide di pikiran Teja.

Ia semakin muak tatkala teringat minggu lalu telah menerima warisan lilitan kain dari ayahnya yang berfungsi sebagai celana dalam itu.

“Lilitan kain ini adalah warisan turun temurun, Ja. Mau tak mau kamu harus siap menerimanya,” ucap ayah Teja saat meminta Teja mengenakannya minggu lalu.

Teja membenamkan wajah ke bantalnya, berusaha meminimalisir suara yang masih terdengar dari kamar ayahnya.

'Aku nggak mau dapet warisan benda mesum kayak gini!' pekik Teja tak terima.

“Oohhh, Pakk, sakittt. Ini kegedeannn!“

Suara itu kembali terdengar, menembus bantal yang nyatanya tak mampu mengurangi suara yang sangat tak ingin didengar oleh Teja.

“Tenaga saya memang gede, Bu Septa. Kalau lemah, gimana bisa mijat dengan baik?!“ suara Toni terdengar memberikan penjelasan.

Bu Septa masih terdengar merintih. “Uhhhh, shhh. Iya, Pak. Tapi jangan keras-keras mijatnya. Aku ini cewek lho, bukan kingkong!“

Lambat laun suara-suara mereka berangsur mereda seiring dengan rasa kantuk di mata Teja yang semakin memberat.

Tak lama kemudian Teja sudah terlelap, mengabaikan apa yang terjadi di kamar sebelah.

Sore harinya, saat Teja sedang mencuci motor matiknya, pasien lain datang lagi.

“Permisi, Pak Toni ada?“ ucap seorang gadis muda berusia sekitar 19 tahunan, seumuran dengan Teja.

Tubuh gadis berparas cantik itu sangat molek dibalut celana jeans ketat dan kaos yang juga sangat ketat.

Teja mengangkat wajahnya dan seketika terhenyak. “Nanaaa?!“

“Lho, Tejoo?!“ gadis yang dipanggil Nana oleh Teja itu ikut kaget.

Nana adalah teman seangkatan Teja di kampus. Ia sangat terkenal karena merupakan penyanyi tenar di kota itu.

Dan yang membuat Teja merasa heran adalah pamor ayahnya hingga bisa dikenal oleh penyanyi hebat sekelas Nana.

“Kamu kenapa cari ayahku, Na?“ tanya Teja saat telah bisa menguasai keterkejutannya.

“Mau pijat lah! Aku udah bikin janji tadi lewat pesan sama Pak Toni!“ jawab Nana cepat.

Teja akan menanggapinya lagi, namun sang ayah tiba-tiba muncul di teras. “Mbak Nana, silakan masuk. Aduh maaf saya nggak dengar tadi kalau mbak sudah dateng,” sapanya ramah.

Teja memandang wajah ayahnya dan Nana bergantian dengan tatapan penuh tanda tanya.

'Ngapain sih sampai nerima pasien dari kampusku segala?! Kalau kayak gini kan rumor itu makin santer nyebar di lingkungan kampus,' batin Teja tak senang.

“Pak Toni ternyata ayahnya Tejo, ya?!“ ujar Nana sambil mengikuti langkah Toni masuk ke kamar.

“Mbak Nana kenal sama Teja?“ tanya Toni balik.

Nana mengangguk. “Kenal, Pak. Kan kami satu kampus.“

Tatapan mata Teja mengiringi langkah keduanya sebelum kemudian pintu kamar ayahnya menutup kembali.

Tidak seperti biasanya yang tak pernah mau peduli pada pasien ayahnya, kali ini Teja cukup merasa penasaran pada pijat seperti apa yang akan dijalani Nana.

Ia pun berjingkat masuk ke kamarnya, berniat untuk menguping kegiatan tersebut.

Awalnya Teja hanya mendengar percakapan ringan dari keduanya.

Namun beberapa menit kemudian, lenguhan khas yang biasa ia dengar dari para pasien ayahnya mulai terdengar.

“Uhhh shhhh, Pak. Iya disitu, pas banget. Tapi gelii, Pakk,” erang Nana yang langsung membuat kening Teja berkerut.

“Kalau segini, kegedean nggak buat mbak Nana?“ suara Toni menyusul terdengar.

“Gede banget, Pak. Tapi saya kayaknya masih mampu nahan deh. Shhhh ohhh, tapi pelannn, Pak!“ jawab Nana yang terdengar seperti menahan sesuatu.

'Duh, ini sebenarnya pijat macam apa sih?! Nana juga gitu, ngapain pakai acara minta pijat ke ayahku segala?' Teja menjadi uring-uringan sendiri. Ada perasaan tak rela saat melihat teman kuliahnya meminta layanan pijat pada sang ayah.

Sejenak Teja menatap celananya sendiri dimana lilitan kain zaman kerajaan itu berada.

'Benda ini yang bikin ukuran ayah jadi segede kaki kingkong. Dan aku harus mewarisinya buat melayani para pasien pijat aneh itu?!'

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
22 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status