Short
His Fake Tears, My Real Crown

His Fake Tears, My Real Crown

By:  Crispy CocoCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

I was ready to leave the Vampire Academy's main campus with Liam, my childhood sweetheart. All because he told me he was being bullied. He was the unrecognized bastard of the Vance clan. Born with a fraction of the power we pure-bloods commanded. So I promised him. I would go with him to Duskfall Academy. A campus that didn't care about bloodlines or power. A place where he could finally belong. But the night before we were supposed to seal the transfer scrolls with our blood signets, he betrayed me. I heard his friend's sneering voice. "You drank beast blood and faked the whole abuse act just to dump Isabella Thorne? Damn, Liam. That's cold-blooded." Liam just shrugged. "I'm sick of her pure-blood, high-and-mighty attitude. And this is cleaner than having her clinging to me forever." My world shattered. I turned and walked away. On the ancient transfer scroll, I took my dagger and slashed through the name of Duskfall Academy. Then I wrote the name my family always intended for me: Crimson Fortress Academy, in the Evernight. It seemed everyone had forgotten. Even as fated blood-bond mates, I, Isabella Thorne, am the sole pure-blood heir to the Thorne clan. Once I sever our ties, he can crawl back to me on his knees, and I wouldn't let him have a single drop of my blood. He'll be nothing.

View More

Chapter 1

Chapter 1

Degup jantung berdetak kencang menemani dinginnya seorang gadis bernama Isma di dalam mobil yang sedang melesat cepat. Sesekali, sorot matanya yang gugup bertemu dengan ekor mata lelaki yang tengah mengemudi melalui kaca spion bagian depan.

Entah sudah berapa ribu kali Isma mengusap keringat dingin di telapak tangannya, dia benar-benar ketakutan.

"Jangan mengecewakan Isma, dia laki-laki pertama yang berani membayarmu dengan harga tinggi!"

Suara Mami Ratna penguasa rumah bordil tadi kembali terngiang di telinga Isma, semakin menguatkan gelisah yang menderanya.

Cittt!!! Mobil berhenti tepat di depan sebuah hotel bintang lima. Terang cahaya dari gedung pencakar langit tersebut nyatanya tidak mampu membuat Isma merasa tenang. Justru, di matanya semua nampak gelap seolah tidak ada siapa pun dalam dunianya yang mulai kelam.

"Turun!" Pria yang tadi menyetir turun dari mobil, membukakan pintu untuk Isma.

"Iya," sahut Isma mulai menurunkan kakinya menjejak di bumi. Dress di atas lutut yang melekat di tubuh sintalnya sedikit tertiup angin yang berhembus. Isma menarik napas panjang, mulai berjalan mengikuti si pria tinggi di depannya.

Pintu hotel yang terbuat dari kaca terbuka otomatis. Isma mengedarkan pandangannya, mencari-cari seseorang yang kata Mami Ratna sudah menyewanya untuk malam ini.

"Duduk di sini," titah lelaki tadi menunjuk sebuah sofa di sudut lobby hotel yang cukup ramai dilalui banyak orang.

Isma hanya menurut saja, dia duduk di sana dan menunduk. Matanya mulai berkaca meski sudah dia tahan untuk tidak menangis.

"Isma, ibu kamu sakit dan butuh biaya banyak. Uang hasil kerja kamu di warteg ya mana cukup untuk menghidupi kebutuhannya!"

Ah ... tuntutan dari keluarganya di kampung membuat Isma putus asa hingga memilih jalan yang tidak seharusnya. Dua bulan Isma bekerja di sebuah rumah makan dengan gaji tidak lebih dari dua juta, nyatanya tidak mampu memenuhi kebutuhan.

Sekarang Isma memilih jalan pintas. Menjadi wanita malam melalui Mami Ratna, langganannya di rumah makan yang berani memberikan uang dua juta yang ia dapat selama sebulan bekerja hanya dalam waktu semalam saja.

Akan tetapi Isma harus membayar mahal keputusannya. Uang yang dia dapat dengan mudah itu nyatanya harus membuat Isma rela kehilangan kehormatannya yang akan ia jual malam ini kepada seorang lelaki pilihan Mami Ratna.

"Ah!" pekik Isma terkejut sekaligus merasa sakit di bagian belakang kepalanya. Dia menoleh, mendapati dua orang lelaki sedang menatap kepadanya. Salah seorang lelaki terkekeh seraya mengatupkan kedua tangannya di dada.

"Maaf Mbak, saya tidak sengaja!"

"Hm!" kata Isma mengangguk pelan, mengusap kepalanya yang ngilu. Sepertinya tadi lelaki itu tidak sengaja menyikutnya.

"Kalau begitu permisi Mbak, maaf ya sekali lagi saya minta maaf!"

"Iya tidak apa-apa, Mas." Lalu Isma membiarkan dua orang lelaki itu pergi, lelaki yang berjalan paling depan tampak acuh dengan kejadian tersebut. Tidak ada senyum tipis di wajahnya malah terkesan dingin.

Tidak lama setelah insiden itu, pria yang tadi membawa Isma ke hotel kembali dengan seseorang lainnya. Isma berdiri, menyambut kedatangan mereka. Lelaki yang baru dia temui tersenyum menyeringai, menelisik penampilan Isma dari ujung kaki hingga ke ujung rambutnya dengan mata kelaparan.

"Ya ... lumayan cantik untuk ukuran koleksi Mami Ratna," gumam si lelaki bertubuh gempal dan berperut buncit itu.

"Maaf Pak—"

"Bawa langsung ke kamar, saya tidak sabar untuk segera mencicipinya!"

Deg! Jantung Isma berdenyut nyeri. Jadi ... lelaki ini yang akan tidur dengannya? Lelaki tua ini yang akan merenggut kehormatannya?

"Ayo!"

Seretan di tangan Isma menyadarkan lamunannya. Dia mulai bimbang, namun kakinya tetap mengayun mengikuti langkah dua pria di hadapannya.

"Ibu hanya berpesan, jaga diri kamu baik-baik. Jangan khawatirkan Ibu, yang penting kamu di kota itu hidup baik dan sehat Is." Suara ringkih ibunya sesaat sebelum Isma pergi merantau seperti berdengung di telinganya.

Isma menatap punggung lelaki tersebut. Hati kecilnya berteriak menolak, namun Isma membutuhkan uang dua juta yang Mami Ratna tawarkan. Tadi sore bahkan saudaranya sudah menelepon meminta kiriman uang, dan Isma berjanji akan mengirimnya esok pagi setelah Mami Ratna memberikannya.

"Kamu tidak usah jaga di sini, Gus. Malam ini saya mau senang-senang."

"Baik, Pak."

Ketiganya berhenti di depan pintu sebuah kamar. Salah seorang pergi setelah mendapatkan bayarannya. Saat lelaki bertubuh gempal itu pergi, Isma dipersilahkan masuk ke dalam kamar.

"Kenalkan, saya Hartono. Ayo masuk," ajaknya dengan senyum nakal menjijikkan yang terbit di wajahnya.

"Tapi Pak, sebentar—"

"Tidak ada tapi-tapian, ayo sekarang masuk!"

Didorongnya punggung Isma dengan paksa. Blam! Pintu segera dikunci, Hartono melepas jasnya yang sempit lalu melemparkannya ke sofa.

"Ayo Sayang, layani Om malam ini!"

"Pak sebentar—" Isma dibuat kaget saat tiba-tiba Hartono memeluknya dari belakang. Pria yang usianya berkisar 50 tahun lebih itu mulai melakukan aksinya. "Pak!"

Refleks Isma menepis tangan Hartono, melepaskan dirinya dari pelukan si lelaki tua. "Lepasin saya!"

"Loh, apa ini?" Hartono mulai menyadari ada yang tidak beres karena penolakan yang dilakukan oleh Isma. "Kamu nolak saya?" tanyanya kembali mendekat membuat Isma berjalan mundur menghindarinya.

Isma mulai berubah pikiran. Uang dua juta yang semula membuat tekadnya bulat mulai runtuh. Dia tidak mau melakukannya, menjual diri kepada lelaki tua di hadapannya.

"Saya berubah pikiran, tolong hubungi Mami dan biarkan saya pergi!" kata Isma dengan suara bergetar.

"Tidak bisa begitu, saya sudah membayar kamu dengan mahal dan tidak bisa dibatalkan. Kamu pikir saya pesan makanan di pinggir jalan yang bisa seenaknya saja ditinggalkan?!"

"Tolong Pak, saya tidak mau melakukannya. Saya mau pergi dari sini!" Isma berjalan menuju ke pintu, namun tangannya dicekal oleh Hartono yang menariknya hingga Isma pun kembali terseret ke belakang.

"Tidak semudah itu! Kamu tidak bisa pergi sebelum urusan kita selesai!" Suara Hartono mulai meninggi, kesabarannya tidak bisa diuji seperti ini.

"Pak, tolong lepaskan saya. Bapak tinggal ambil kembali uangnya dari Mami—"

Plak! Sebuah tamparan mendarat keras di pipi kiri Isma, meninggalkan bekas kemerahan di wajahnya yang sudah dipoles riasan oleh Mami Ratna.

"Beraninya kamu mempermainkan saya!" teriak Hartono dengan urat leher menegang, rahangnya mengeras dan matanya hampir melompat keluar menakuti Isma.

"Bukan begitu Pak, saya cuma benar-benar tidak bisa melakukannya!"

Bugh! Isma terjerembab, tubuhnya beradu dengan lantai keramik karena Hartono baru saja mendorongnya.

"Tidak semudah itu, malam ini kamu milik saya!"

"Tolong Pak—" Isma mengangkat wajahnya, mulutnya terbuka lebar saat melihat Hartono mulai melepaskan ikat pinggannya. Senyumnya lebar seperti iblis menampakkan deretan gigi. Hartono mendekat, mencengkeram dagu Isma lalu berbisik di telinganya, "kamu tidak akan bisa lolos dari Hartono Wijaya!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status