LOGINOn their second anniversary, billionaire Cassian Hale handed his wife a pen and a manila envelope. No explanations. No warnings. Just five cold words: "This isn’t working anymore, Elara." She signed the papers without a single tear and vanished into thin air. Elara swore she would never look back. But a month later, she stared down at two pink lines—she was carrying her ex-husband's child. Hiding across the ocean, she is determined to raise her baby alone. But what happens when Cassian tracks her down? The ruthless man who threw her away is suddenly on his knees, begging for a second chance. Can Elara ever trust the ex-husband who broke her?
View MoreAroma tanah basah menguap ke udara, bercampur dengan wangi musk mahal yang menyengat dari leher jenjang Riana.
Pukul lima sore. Matahari Jakarta sedang merangkak turun dengan malas, menyisakan bias oranye yang memantul di dinding kaca "Kos Executive Riana". Di halaman depan yang luasnya bisa menampung lima mobil, Riana berdiri memegang selang air.
Ia tidak sedang menyiram tanaman. Ia sedang memamerkan diri.
Wanita tiga puluh tahun itu mengenakan dress rumahan berbahan satin merah marun. Tipis. Jatuh di tubuhnya seperti aliran air, mencetak lekuk pinggul dan bukit dadanya setiap kali angin sore berhembus. Rambut hitamnya digelung asal-asalan, menyisakan anak rambut yang menempel di tengkuknya yang berkeringat.
Dua orang bapak-bapak yang sedang lari sore di depan pagar melambatkan langkah. Mata mereka melebar, leher mereka memutar otomatis seperti engsel pintu yang baru diminyaki.
Riana melihat reaksi itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum bahagia, melainkan seringai kepuasan yang kosong.
Lihat semau kalian. Cuma itu yang bisa kalian dapatkan.
Ia memutar kran air, memutus aliran dari selang. Validasi murahan itu sudah cukup untuk hari ini. Setidaknya, tatapan lapar mereka membuktikan satu hal: Riana Wijaya belum "kedaluwarsa". Meskipun surat cerai di laci meja riasnya mengatakan sebaliknya—bahwa ia adalah wanita mandul yang membosankan di ranjang—fakta di lapangan menunjukkan ia masih punya daya tarik.
Ponsel di saku daster bergetar. Riana merogohnya. Layar menyala menampilkan nama "Mas Yudha - Kontraktor".
“Ri, nanti malam dinner yuk? Aku jemput pakai Alphard.”
Jempol Riana melayang di atas layar. Ia mendengus, lalu menekan tombol hapus. Ia tidak butuh pria kaya yang perutnya membuncit dan obrolannya hanya seputar proyek tol atau istri muda. Ia butuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang... murni.
Suara pagar besi digeser memecah lamunannya.
Sesosok laki-laki masuk dengan langkah terseret. Tas ransel hitam yang terlihat berat menggantung di satu bahu, membuat postur tubuhnya sedikit miring. Kemeja flanel kotak-kotak yang warnanya sudah memudar membungkus tubuh kurusnya, dipadu dengan celana jins yang bagian bawahnya terinjak tumit sepatu.
Galih Prasetyo. Penghuni kamar 101.
Riana menegakkan punggung, postur tubuhnya berubah otomatis dari santai menjadi pose.
"Eh, Anak Ganteng baru pulang?" sapa Riana. Suaranya ia buat sedikit serak, satu oktaf lebih rendah dari biasanya.
Langkah Galih terhenti. Cowok itu mendongak, lalu dengan cepat menunduk lagi saat matanya tak sengaja menabrak belahan dada Riana yang terekspos. Tangannya bergerak canggung membetulkan letak kacamata bingkai kotaknya yang melorot karena keringat.
"Iya, Mbak Riana," jawab Galih pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara motor yang lewat. Ia tidak berhenti, terus berjalan menuju koridor lantai satu dengan kepala tertunduk, seolah lantai keramik itu jauh lebih menarik daripada wanita seksi di depannya.
"Bururu-buru banget sih? Nggak mau nemenin Tante ngopi dulu di teras? Ada pisang goreng lho." Riana sengaja menekan kata 'Tante'. Itu adalah lelucon favoritnya; menyebut dirinya tua untuk memancing penyangkalan.
Tapi Galih bukan pria pada umumnya.
"Masih ada kerjaan remote, Mbak. Permisi." Tanpa menoleh lagi, Galih mempercepat langkahnya, setengah berlari menuju kamarnya di pojok koridor. Pintu kamar 101 terbuka, lalu tertutup dengan bunyi klik yang tegas.
Riana mendengus geli.
"Dasar kelinci," gumamnya pelan, menggelengkan kepala.
Galih adalah antitesis dari semua pria yang Riana kenal. Pendiam, kaku, dan terlihat tidak punya nyali. Di mata Riana, Galih adalah zona aman. Menggoda Galih itu seperti menggelitik anak kucing; tidak ada risiko digigit. Paling-paling cowok itu hanya akan merona merah sampai ke telinga, lalu gagap. Lucu.
Langit berubah gelap sepenuhnya. Riana masuk ke dalam rumah induknya yang mewah namun terasa terlalu besar untuk satu orang. Ia mengunci pintu ganda dari kayu jati itu, lalu menyandarkan punggungnya di sana.
Hening.
Inilah bagian yang paling ia benci. Saat pertunjukan selesai, saat penonton pulang, dan ia kembali menjadi Ratu di istana hantu. Ia berjalan melewati ruang tamu yang dihiasi lukisan abstrak mahal, menuju kamarnya di lantai dua.
Jam dinding berdetak. Tik. Tok. Tik. Tok.
Riana mencoba menyibukkan diri. Ia luluran. Ia menonton dua episode drama Korea. Ia membuka aplikasi belanja online dan membeli tas yang tidak ia butuhkan. Namun, jarum jam seolah mengejeknya, bergerak lambat menuju tengah malam.
Pukul 02.15 dini hari.
Mata Riana masih terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang dilukis motif awan. Insomnia sialan ini lagi. Tubuhnya lelah, tapi otaknya berisik. Rasa sepi itu bukan lagi sebuah emosi, melainkan sensasi fisik—seperti ada lubang menganga di ulu hatinya yang ditiup angin dingin.
Ia butuh air dingin. Kerongkongannya terasa kering kerontang.
Riana turun ke dapur di lantai satu dengan langkah telanjang kaki agar tidak menimbulkan suara. Daster satinnya bergesekan lembut dengan kulit pahanya. Ia mengambil botol air dari kulkas, meneguknya langsung dari botol seperti preman. Air dingin itu membasuh tenggorokannya, tapi tidak memadamkan panas aneh yang menjalar di tubuhnya.
Saat hendak kembali ke tangga, matanya menangkap sesuatu.
Dari ujung koridor yang gelap, ada seberkas cahaya tipis yang lolos dari celah bawah pintu kamar 101.
Kamar Galih.
Anak itu belum tidur? batin Riana. Biasanya anak-anak kos lain sudah bermimpi indah jam segini. Apakah dia sakit? Atau lembur kerjaannya yang aneh itu?
Rasa penasaran menggelitik Riana. Bukan, bukan sekadar penasaran. Ada dorongan iseng yang muncul. Mungkin ia bisa mengetuk pintu, berpura-pura mengecek sesuatu, lalu melihat wajah bantal si perjaka kacamata itu.
Riana melangkah pelan mendekati kamar 101. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, memberikan adrenalin kecil yang menyenangkan di tengah malam yang mati ini.
Tiga langkah lagi dari pintu.
Dua langkah.
Riana mengangkat tangan, bersiap mengetuk. Namun, tangannya berhenti di udara.
Telinganya menangkap suara.
Bukan suara ketikan keyboard. Bukan suara orang mengobrol di telepon.
Itu suara napas. Berat. Teratur. Disusul suara desahan wanita yang tertahan, lirih namun jelas, seolah berasal dari speaker kualitas tinggi yang bass-nya diredam.
“Ahhh... yes... deeper...”
Suara itu datang dari dalam kamar Galih.
Alis Riana terangkat. Oalah, ternyata si Kelinci lagi nonton 'film biologi', pikirnya geli. Ia hampir tertawa. Wajar, pikirnya. Namanya juga laki-laki muda, bujangan, sendirian.
Riana berniat berbalik, membiarkan anak itu dengan privasinya. Namun, suara berikutnya membuat kakinya terpaku di lantai.
Brak.
Suara benda jatuh. Seperti buku tebal atau laptop yang digeser kasar. Lalu terdengar suara Galih. Bukan suara canggung yang biasa ia dengar. Suara ini... berbeda. Rendah. Serak. Menggeram dalam bahasa Inggris yang fasih dan penuh tekanan, seolah ia sedang mendiktekan sesuatu.
"Look at the angle. Thirty degrees. Locking the wrist. Effective control."
Riana menahan napas. Itu bukan suara orang yang sedang menikmati tontonan pasif. Nada bicaranya analitis, dingin, namun diakhiri dengan geraman frustrasi yang membuat bulu kuduk Riana meremang.
“Teorinya sampah. Praktiknya harus lebih kasar.”
Suara Galih terdengar lagi, kali ini dalam bahasa Indonesia, disusul bunyi gedebuk tumpul—seperti tinju yang menghantam bantal atau kasur dengan kekuatan penuh.
Jantung Riana berhenti berdetak sesaat. Imajinasi liarnya bekerja cepat. Apa yang sedang dilakukan anak pendiam itu di dalam sana?
Riana sadar ia harus pergi, tapi tubuhnya mengkhianati logikanya. Ia justru mencondongkan tubuh, menempelkan telinganya ke daun pintu kayu itu, mencoba mendengar lebih jelas.
Tiba-tiba, cahaya lampu di celah bawah pintu mati. Gelap total.
Lalu, gagang pintu di depan wajah Riana bergerak turun perlahan.
Klik.
Pintu itu tidak dikunci. Dan seseorang di dalam sana baru saja memutarnya.
Cassian’s POVThe boardroom screamed wealth, as they talked about various things that covered, the numbers on mergers, expansion and projected acquisitions, but I had heard only a few or three words of what they were saying. My mind was elsewhere.“Mr. Hale?” the CFO’s voice called to me, snapping me out of my reverie. I blinked back and straightened. “Proceed.”I reclined slightly in my chair, with my hand slunged casually around my mouth. In here, I looked like a man that was cold, calculated and in control. But deep within me, I was detached.Beneath my flawlessly tailored suit and unwitherable facade … I could sense her presence, I could feel it. Elara.It had been weeks since she had placed the pen on the divorce papers. Weeks since she had walked out of my office with that same composure she wore like a second skin. Weeks since she walked out without screaming, and no tears other than silence. I should have felt relieved.Instead, I had not slept well since that very day.
Elara’s POVAnd here it was again, that feeling that comes, just after sunrise. At first, I figured it was due to the remnants of the leftover croissant that I had eaten only a little of the day before. But then again, I thought of it as it wasn’t the first time this was happening. It began three days ago, and it came only in the mornings and just after I would wake up, and it didn’t linger. And yet I could not overlook the pattern.I sat on the edge of the guest bed in the small Parisian apartment I’d rented, with my hand on my stomach. The room was gloomy, and the curtains were still drawn. My skin felt funny and I felt a sour taste in my mouth.Needing some calm, I stood, went to the bathroom, and splashed cold water on my face. Once I had finished, I stared at my face in the mirror. I looked pale and had a bit of sleepy eyes. But it was difficult to tell if I was actually sick. My phone buzzed and Adrian's name flashed on the screen.“Are you still up for that coffee? I was a
Elara’s POVI didn’t cry. I couldn’t afford to, especially not where anyone could see. Instead, I walked. I didn’t know where I was going, though my feet moved with purpose. The truth of my reality did not hit me until I reached the curb. It was over.Not just the marriage, every single thing had just ended. The life I had built around someone who was never meant to have me. The me I’d known was gone, I’d been Cassian Hale’s wife, the face of every gala room, the name on every goddamn polished smile. I took out my phone and dialed the rideshare app. As I waited for the ride, I called my housekeeper. “Maria,” I said, my voice calm, “I want you to pack the brown luggage. Just the essentials. I’ll be home in an hour.”She hesitated before replying. “You’re leaving, ma’am?”I paused as I inhaled a deep breath. “Yes.” She didn’t ask why. She must have known because she had seen too much in that house to expect explanations.When I arrived at the penthouse, I went straight to bed. I di
Cassian’s POVThe very second she opened the door to get out, I thought that was it. But then the door creaked open a little wider, and she collided with someone.“Sorry again, Mrs. Hale” my lawyer, Davis, apologized and just had to change the topic. “Elara. Do you have a moment?” I almost rolled my eyes. He had a fancy for always having the wrong timing.Elara paused for a moment and then nodded once and as she moved out of the way, stepping back into the office with him. She didn’t even glance back at me.Davis entered with the folders I’d told him to get ready a week ago. The folder contained every asset broken down, the complete settlement offer and the goddamn penthouse I hated anyway but still bought it for her, because she said it was the right kind of light or some shit she could breathe in. She had no idea about the private account. It was an account I had created and hid away from her, years ago in her own name.Just in case.“Here’s the full agreement,” Davis said, sett






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.