Short
Hubungan Gelap Bersama Ayah Mertua

Hubungan Gelap Bersama Ayah Mertua

بواسطة:  Pelan-pelan Sajaمكتمل
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
7فصول
6وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

“Ayah… jangan begini… hm….” Belum sempat memuaskan menantuku, putraku malah sudah tertidur pulas. Menantu yang sexy menggoda itu langsung mengalungkan kedua lengan mulusnya ke leherku, sengaja menggesek-gesek dadanya yang montok ke tubuhku. Seketika itu juga darahku terasa mendidih dan seluruh tubuhku menegang. Aku reflek menariknya untuk duduk di pangkuanku. “Dasar genit, anakku yang payah itu nggak bisa memuaskanmu?”

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1

Namaku Anton, usiaku baru menginjak empat puluhan awal.

Jangan lihat usiaku yang sudah segini, kalau urusan ranjang seleraku masih sangat tinggi.

Setelah istriku meninggal, orang-orang banyak mengenalkanku dengan berbagai wanita.

Ada yang lemah lembut, perhatian, baik hati, tapi sayangnya tak ada satupun dari mereka yang sanggup menerima nafsuku yang tiada habisnya siang dan malam.

Beberapa hari yang lalu, aku berkunjung ke rumah putraku, si Ken.

Malam itu, menantuku baru pulang kerja. Tanpa menyalakan lampu, dia langsung masuk ke dalam kamar.

“Sayang… aku lagi masa subur… lagi mau….”

Dia meraba dan memelukku dari belakang seperti seekor ular air yang gesit.

Seketika, seluruh tubuhku menegang, sama sekali tak menyangka dia bakal seburu-buru ini.

Dia bahkan melingkarkan lengannya di pinggangku yang ramping dan kekar, lalu perlahan mulai meraba ke bawah.

“Hm….”

Aku tak bisa menahan erangan tertahan. Baru saja hendak menarik tangan halusnya, tiba-tiba terdengar teriakan kaget dari menantuku,

“Wah… sayang, kamu minum jamu kuat? Kok… besar sekali hari ini….”

Sambil mengatakannya, jarinya yang lentik dan mulus itu malah meremas semakin kuat.

Aku merasa tersiksa, napasku mulai memburu dan terengah-engah. Setelah beberapa waktu berlalu, barulah aku memaksakan diri berkata,

“Delia… jangan diraba lagi, ini aku….”

Begitu mendengar suaraku, menantuku yang berada di belakang langsung terkejut.

Begitu tersadar, tangan mungilnya langsung ditarik kembali dengan cepat.

Dia panik setengah mati, bahkan bicaranya sampai terbata-bata, “Ayah, kok… kok malah kamu….”

Aku merasa cukup canggung dan berdeham pelan dua kali.

“Sore tadi aku dan Ken minum sedikit alkohol… aku mabuk, jadi salah masuk dan tidur di kamar kalian.”

Wajah cantik Delia langsung memerah. Dia menundukkan kepala dan tak berani menatapku.

Untungnya di saat seperti itu, Ken pulang.

Delia langsung menarik bajunya yang agak tersingkap ke bawah, lalu berlari keluar dengan wajah yang masih memerah.

Melihat punggungnya yang menjauh, hatiku benar-benar gelisah. Bagaimanapun juga, remasannya tadi rasanya benar-benar luar biasa nikmat….

Karena insiden itu, Delia sama sekali tak berani mengajakku bicara selama makan malam.

Usai makan, aku berinisiatif untuk mencuci piring.

Siapa sangka, baru mencuci setengah, tiba-tiba terdengar suara desahan pelan dari dalam kamar anakku.

“Ah… sayang, jangan gigit bagian sana….”

“Dasar nakal… sakit, lho….”

Suara Ken terdengar sangat mendesak dan penuh gairah, dia memohon sekaligus merayu,

“Sayang, aku sudah nggak tahan lagi… biarkan aku masuk, ya?”

“Hm….” Desahan menantuku yang sangat menggoda langsung terdengar merdu, lalu dengan suara serak menjawab,

“Nggak boleh, ayahmu masih ada di luar… sore tadi, aku… aku bahkan sampai salah mengenalinya.”

Mendengar hal itu, Ken malah semakin bersemangat dan terus menggoda dengan nada bercanda,

“Oh iya? Kamu sudah ditiduri?”

“Asal bicara apa, sih?!” Menantuku merasa sangat malu, butuh waktu agak lama, barulah dia berkata, “Tapi, punya ayahmu… sangat besar….”

“Dasar genit!”

Ken mengumpat pelan, kata-katanya terdengar semakin vulgar, “Dengan gayamu yang genit ini, memang sudah seharusnya kami berdua melayanimu bersama-sama!”

“Ayo jawab, kamu mau ayahku juga ikut menidurimu? Hm?”

Aku yang berdiri di luar pintu mendengar semua ucapan itu, mana mungkin bisa menahan diri lagi.

Otot-otot di bagian bawah perutku menegang, sementara urat-urat di sana semakin menonjol.

Aku tak tahan lagi dan menyandarkan satu tangan pada kusen pintu mereka, lalu mengintip pergerakan di dalam melalui celah pintu yang sempit.

Terlihat punggung Ken yang telanjang, bokongnya menegang dan ada dua kaki jenjang yang putih mulus di lengannya.

Dari sudut pandangku, kebetulan aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas.

“Putih sekali… mulus sekali….”

Aku reflek menjilat sudut bibirku dan menelan ludah.

Pada awalnya, kedua orang di dalam tak menyadari keberadaanku. Mereka asik mengobrolkan hal-hal vulgar sambil berciuman dan saling meraba.

Napasku menjadi semakin memburu. Perlahan, aku melonggarkan gesper logam di pinggangku.

Pikiranku melayang membayangkan sensasi saat menantuku memelukku dari belakang sore tadi.

“Sialan! Genit sekali!”

Aku mengumpat pelan, tapi gerakan telapak tanganku yang kasar malah semakin cepat.

Hanya saja, bagaimanapun juga cara ini tak sebanding dengan berhubungan intim yang sesungguhnya. Rasanya hambar dan kurang memuaskan.

Pada saat itulah, Delia yang tadinya mendongak sambil menggigit bibir bawahnya, tiba-tiba melirik ke arah pintu.

Saat melihat satu tanganku bertumpu pada kusen pintu, sementara tanganku yang lain sedang sibuk sendiri, matanya langsung terbelalak lebar.

Aku sengaja memajukan pinggangku sedikit agar dia bisa melihatnya dengan lebih jelas.

Aku memperlihatkan senyuman mesum dan membentuk gerakan bibir tanpa suara ke arahnya, yang bermaksud ‘kuhabiskan kamu!’.

Membaca gerakan bibirku, Delia tiba-tiba gemetar hebat. Jarinya yang lentik mencengkeram lengan Ken dengan sangat kuat.

Ken langsung menegangkan pinggangnya. Setelah mengerang tertahan beberapa kali, dia benar-benar kehabisan tenaga dan langsung terkapar berbaring di atas ranjang untuk beristirahat.

Delia merasa agak kesal dan mendorongnya.

“Dasar kamu… aku bahkan belum selesai….”

Ken menjawab asal, “Lain kali… aku pasti akan memuaskanmu lain kali. Kalau nggak… cari ayahku saja….”

Meskipun aku tahu dia hanya bercanda, begitu mendengar ucapan itu, darahku rasanya langsung mendidih dan bergejolak hebat.

Delia sepertinya menganggap serius ucapan itu. Tiba-tiba, dia merapikan baju tidurnya dan benar-benar berjalan keluar kamar.

Diriku sendiri sudah menahannya setengah mati, jadi tentu saja tak akan membiarkan kesempatan emas yang sudah di depan mata ini hilang begitu saja.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
7 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status