MasukMalam itu, kemewahan yang tak masuk akal tersaji di depan mata. Hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja bagi seorang Lucas untuk membalikkan dunia; sebuah pesta pernikahan yang teramat megah dan berkelas berhasil digelar tanpa cela. Semua dekorasi, hidangan, hingga para tamu undangan kelas atas telah siap memenuhi aula besar.
Namun, malam ini bukan sekadar tentang peresmian kembalinya cinta lama kedua orang tuaku. Malam ini, Papa juga memanfaatkan momentum untuk memperkenalkan dirJujur saja, aku dan Samuel memang sama sekali tidak menunda untuk memberikan adik bagi Gabriel. Sejak kondisi psikologis dan fisikku pulih total, kami justru sangat mengharapkan kehadiran buah hati kedua untuk meramaikan mansion ini.Namun, garis takdir belum berpihak pada kami selama beberapa bulan terakhir. Aku masih belum kunjung berbadan dua. Bahkan setiap kali aku mengalami telat datang bulan, aku buru-buru mengetesnya dengan alat tes kehamilan, hasil testpack yang tertera selalu saja menunjukkan garis satu alias negatif. Kekecewaan yang berulang itu perlahan membuatku bersikap lebih santai dan pasrah.Jadi, jika sekarang tanda-tanda mual ini dikaitkan dengan kehamilan, aku benar-benar tidak yakin. Logikaku menolak keras. Aku bahkan merasa baru kemarin selesai melewati siklus datang bulan. Masa iya aku bisa hamil secepat ini? Tidak mungkin, pikirku. Ini pasti murni karena aroma parfum Samuel saja yang mendadak tidak cocok dengan indra penciumanku. Rasanya benar-benar busuk, memua
Keesokan harinya, perasaan bahagia yang melonjak dua kali lipat di kediamaku. Suasana di dalam mansion kami terasa begitu hidup dan hangat karena semua orang berkumpul di sini. Akhir-akhir ini, para orang tua—baik orang tuaku maupun papa Arturo—memang jauh lebih sering menghabiskan waktu luang mereka di rumah kami alih-alih di kediaman mereka sendiri. Mansion yang dulunya terasa sunyi kini selalu dipenuhi riuh tawa.“Kalau bisa, cepat buatkan adik baru lagi untuk Gabriel, Emelia. Papa masih ingin punya cucu yang banyak agar rumah ini semakin ramai,” ujar papa Arturo tiba-tiba, saat kamu berkumpul di ruang tengah. Raut wajahnya tampak cemberut, mengingat sejak tadi belum kebagian menggendong cucunya.“Lah? Daripada menuntut istriku, kenapa Papa saja tidak menikah lagi?” Bukan aku yang menyahut, melainkan Samuel yang langsung memotong dengan nada santai.Pria itu kemudian bergeser mendekat, merangkul
POV EmeliaAku tidak pernah bisa menolak sentuhan lembut tangan Samuel. Jemari kokoh yang selalu berhasil mengalirkan rasa nyaman, sekaligus benteng pertahanan terkuat yang membuatku merasa terlindungi sepenuhnya semenjak aku menyandang status sebagai istrinya. Beban trauma, ketakutan akan kehilangan, dan bayang-bayang masa lalu seketika menguap setiap kali tubuhku merapat dalam dekapannya.Setelah memastikan Gabriel benar-benar terlelap nyenyak di dalam boks bayinya yang terletak di sudut ruangan, Samuel kembali menghampiriku di atas ranjang. Ia mulai memanjakanku dengan rangkaian kecupan-kecupan kecil yang hangat. Yang membuat tubuhku semakin terbakar akan gairah.Awalnya ia mengecup keningku dengan khidmat, lalu turun ke kedua belah pipi, sebelum akhirnya mengunci bibirku dengan lumatan lembut yang penuh tuntutan manis. Kecupannya perlahan bergeser turun ke ceruk leher, menyesap kulitku di sana dan membuatku refleks mendongak pasrah. Sensa
“Samuel...!”Aku segera menyambut tubuh Emelia ke dalam pelukanku, mendekapnya erat-erat begitu aku melangkah masuk ke dalam ruang keluarga mansion utama. Kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang familier, menyalurkan rasa rindu yang teramat membuncah meski kami sebenarnya hanya berpisah selama beberapa hari saja.“Bahagia sekali istriku ini, hmm?” ujarku lembut sembari mengelus rambut panjangnya yang halus.Emelia mengangguk mantap. Ia mendongak, menatapku dengan sepasang netra yang berbinar penuh kebahagiaan. “Hm! Aku sudah diceritakan oleh Papa Lucas semuanya, Samuel. Aku sangat bahagia karena orang-orang jahat yang menculik dan merencanakan kehancuran bagi keluarga kita sekarang sudah hancur total!”“Benar, Sayang. Sekarang kamu tidak perlu merasa takut lagi. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan ada satu pun bajingan yang berani menyentuhmu dan anak kita lagi,” balasku meyakinkan.Emelia kemb
“Rencana apa yang akan kamu ambil selanjutnya, Samuel?” tanya Papa Lucas memecah keheningan malam di ruang kerjanya. Pria paruh baya itu menatapku dengan sorot mata yang sarat akan ketegasan.Aku menyesap cairan alkohol di dalam gelasku perlahan, membiarkan rasa hangatnya membakar tenggorokan sejenak sebelum meletakkannya kembali ke atas meja kaca dengan ketukan yang pelan namun pasti.“Seperti rencana awal kita, Papa,” jawabku dengan nada suara bariton yang teramat tenang namun dingin. “Kita hancurkan Jon Mateo beserta seluruh sekutunya. Kita ratakan semuanya dari akar yang paling dalam. Meskipun akan terasa sedikit berat mengingat dia memiliki jaringan bawah tanah yang cukup besar, tapi... kenapa tidak? Jika kita menggabungkan seluruh pasukan kita, jelas jauh lebih besar dan mengerikan dibandingkan mereka, bukan?” jelasku dengan tenang.Papa Lucas menganggukkan kepalanya pelan, seulas senyuman tipis penuh kebanggaan terukir di wajahnya yang mulai bergaris. “Papa setuju. Eksekusi mat
Aku sengaja membiarkan Bianca bergerak sesuka hatinya di dalam mansion ini. Kuperhatikan setiap detail pergerakannya melalui layar monitor tersembunyi, mengamati bagaimana perempuan sialan itu dengan percaya diri menyusun strategi busuk untuk merebut Gabriel kembali. Aku bahkan tahu persis saat jemari lentiknya menaruh kamera mata-mata berukuran kecil, serta menyebarkan alat penyadap suara di berbagai sudut strategis lantai bawah.Aku hanya tersenyum kecil, menganggap semua upayanya tak lebih dari lelucon murahan. Untungnya, aku sudah menyiapkan rencana lain yang jauh lebih rapi. Benar. Agar mansion ini masih memancarkan atmosfer yang meyakinkan—lengkap dengan sayup suara tangisan bayi yang direkam khusus—aku telah menempatkan seorang wanita dari tim khusus yang postur tubuhnya sangat mirip dengan Emelia. Aku juga meletakkan sebuah boneka yang canggih seberat bayi normal di dalam boks, agar Bianca sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun.Melalui earpiec
Pov Emelia “Menikahlah dengan Tuan Samuel, Emelia!”Aku terdiam mendengar Ayah memintaku menikah dengan pria yang sama sekali tidak kukenal. Kutatap wajahnya dengan tenang. Aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres, mengingat selama ini Ayah selalu memanjakan Bianca, adikku, melebihi diriku. Har
Kami baru saja menginjakkan kaki di rumah, bahkan baru beberapa menit memasuki kamar utama kami yang luas dan familier. Namun, saat aku berbalik untuk membantunya melepaskan jaket, aku menyadari sesuatu yang salah. Warna kulit di wajah Samuel tiba-tiba berubah drastis menjadi teramat pucat, nyari
Pov Emelia “Daniel, stop!!!”Aku menjerit histeris dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tenggorokanku. Air mataku luruh semakin deras, membasahi pipi yang terasa kaku karena ketakutan yang teramat masif. Menyaksikan Samuel—suamiku, pria yang selalu berdiri gagah melindungi
Hari-hari berikutnya kulalui dalam kesendirian yang sarat akan kesedihan. Aku terlanjur jatuh hati terlalu dalam pada pria asing yang telah kuselamatkan nyawanya malam itu. Namun, aku sadar diri bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa atau menuntut hak apa pun, karena di sisi lain, aku memang telah







