MasukKiandra harus menelan kenyataan pahit saat rencana pernikahannya gagal karena perselingkuhan calon suami dan sahabatnya sendiri. Terpuruk karena fakta menyakitkan, Kiandra bertemu dengan Arthur, pria misterius yang ditolongnya karena sebuah kecelakaan. Saat Kiandra terpojok karena desakan keluarga, Arthur keluar dengan tatapan dinginnya, lalu dia mengatakan, "Aku Arthur, calon suami Kian."
Lihat lebih banyak“Kian, buka pintunya atau kami dobrak!”
“Anak kurang ajar, kamu benar-benar tak tahu diuntung!”
Di dalam rumah. Kiandra Shaylin, wanita berusia 27 tahun ini terkejut dari mimpinya mendengar suara gedoran pintu begitu keras dari luar.
Kian duduk di atas ranjang, matanya yang berat menatap ke arah pintu kamar.
“Kian! Buka pintunya!”
Suara melengking itu kembali Kian dengar.
Ini suara sang bibi–Linda.
Masih dengan wajah bantalnya, Kian mendengar suara sang paman dan bibi kembali berteriak-teriak dari luar kamar.
“Masih sepagi ini, kenapa mereka sudah membuat keributan di rumah ini?” gerutu Kian.
Kian bergegas keluar dari kamar. Dia berjalan menuju depan, sebelum akhirnya sampai di pintu utama rumah sederhana peninggalan kedua orang tuanya ini.
Kian mendengar lagi suara ancaman sang bibi dari luar.
Membuka pintu sedikit kasar untuk menghentikan gedoran yang diciptakan paman dan bibinya, Kian kini menatap malas pada kedua orang tua ini.
“Ini masih sangat pagi, Paman, Bibi. Kenapa kalian menggedor pintu sekencang itu?” tanya Kian sambil menatap bergantian ke paman dan bibinya.
“Tidak peduli mau pagi atau siang. Kami tidak sabar lagi!” bentak sang bibi.
Kian mengerutkan kening, dia tetap tenang karena sudah biasa menghadapi kakak dari ibunya ini sering sekali mengamuk.
“Ada apa?” tanya Kian santai.
“Masih tanya ada apa? Kamu ini sadar tidak? Kamu gagal nikah dengan Julian, tapi kamu masih bisa bersantai-santai seperti ini?!” bentak sang paman.
Kian tersentak. Dia sampai menegakkan tubuhnya dengan bola mata membola lebar.
Benar, kemarin Kian baru saja membatalkan rencana pertunangannya dengan Julian–pria yang sudah dia pacari bertahun-tahun ini.
Sayangnya, semua rencana yang akan terlaksana minggu ini, harus batal karena kelakuan Julian.
Kian memergoki Julian berselingkuh dengan Kanaya–sahabat baiknya sendiri, sampai akhirnya membuat amarah Kian mencapai puncak dan mengambil keputusan yang tak pernah Kian bayangkan sebelumnya.
Dan, Kian tidak menyangka.
Pagi ini, sang bibi dan paman sudah tahu masalah pembatalan pernikahannya, lalu membuat keributan sepagi ini.
Kian kini kembali menatap pada paman dan bibinya yang seperti ingin menelannya.
Sambil menunjukkan buku berisi catatan utang yang ditulis oleh Linda, wanita tua itu memperlihatkan ke Kian sambil berkata, “Kami ke sini mau menagih utang. Utang pengobatan ibumu saja belum kamu lunasi, lalu sekarang utang buat persiapan pernikahanmu yang gagal masa harus hilang gitu saja? Tidak bisa, kami tidak mau kehilangan sepeser pun, jadi sekarang, bayar!”
Kian menatap kesal. Dia baru saja patah hati, tapi saudara satu-satunya dari keluarga ibunya ini, malah tidak punya hati menagih utang sepagi ini.
“Aku pasti akan membayarnya, tapi sabar.” Kian bicara dengan nada tinggi karena kesal.
“Bayar? Kapan? Utang ibumu saja sudah berapa tahun belum kamu bayar, hah? Lihat ‘kan? Jadi wanita itu jangan bodoh, kerja siang malam buat kasih uang ke Julian, sekarang apa? Kamu dibuang ‘kan? Makanya, cari pria yang kaya sekalian biar bisa menghidupimu, bukan kamu yang menghidupinya!” ejek sang bibi sambil menunjuk-nunjuk kening Kian.
Kian benar-benar emosi, baru saja mulutnya ingin terbuka untuk membalas perkataan bibinya, terdengar suara pintu terbuka yang membuat Kian juga paman dan bibinya memandang ke arah dalam.
Kian terkejut melihat Arthur keluar dari kamar.
Arthur, pria malang yang kemarin dia selamatkan.
Ketika berniat kembali ke rumah setelah bertengkar dengan Julian dan Kanaya, Kian melihat sebuah mobil jatuh ke dalam sungai.
Kian nekat terjun, mengeluarkan seorang pria muda dari dalam mobil yang tenggelam.
Sampai akhirnya Kian terpaksa membawa pria ini ke rumahnya, dalam kondisi terluka.
Mungkin kemarin Kian gila, tapi dia tidak bisa mengabaikan pria ini begitu saja.
“Kenapa kamu keluar?” Kian menatap panik.
Sedangkan paman dan bibinya gelagapan melihat seorang pria berada di kamar Kian.
“Kian, si-siapa dia, hah? Gagal nikah sama Julian, kamu malah membawa pria lain masuk kamarmu? Dasar memalukan!” Linda tiba-tiba melayangkan tangan bertubi-tubi ke lengan Kian dengan sangat keras.
“Hentikan!”
Suara tegas dan dalam Arthur, membuat Linda berhenti memukuli gadis itu.
Kian menatap Arthur yang melangkah pelan ke arahnya, saat tiba di sampingnya, Arthur tiba-tiba merangkul pundak Kian, membuat gadis itu syok dengan apa yang dilakukannya.
“Aku Arthur, calon suami Kian.”
Satu bulan berlalu begitu saja. Sore hari yang sejuk membawa ketenangan yang luar biasa di halaman belakang kediaman Hadwin. Angin sepoi-sepoi menggoyang dedaunan hijau di taman, melaraskan irama alam dengan kedamaian yang tercipta di teras rumah yang megah.Kian duduk di kursi rotan yang nyaman, dengan perlahan mengayunkan tubuhnya sambil memangku Aria yang sedang tertidur lelap setelah menyusu. Bayi berumur satu bulan itu tampak begitu menggemaskan dengan pipi gembulnya yang kemerahan. Di samping Kian, Arthur duduk di lengan kursi, satu tangan kokohnya melingkar protektif di bahu Kian, sementara jemarinya yang lain mengusap lembut pipi mulus putri kecil mereka.Dari posisi duduk mereka, sepasang mata kedua orang tua itu menatap lurus ke arah tengah taman luas berumput hijau di hadapan mereka. Di sana, Kaylan sedang berlari-lari riang sambil mengejar bola plastik besar bersama Sienna. Tawa melengking Kaylan bersahut-sahutan dengan tawa renyah Sienna yang bergerak aktif menjaga a
Tujuh bulan berlalu dengan cepat.Perut Kian kini sudah membesar, usia kandungannya sudah 35 minggu. Satu minggu lagi dia akan menjalani operasi cecar untuk melahirkan anak keduanya. Hingga di malam yang dingin, keheningan di dalam kamar Kian pecah oleh rintihan tertahan yang lolos dari bibir Kian."Arthur ... akh! Arthur, bangun ...." Kian meremas lengan suaminya yang tertidur di sampingnya dengan sangat kuat. Peluh dingin mulai membasahi keningnya, dan sprei di bawah tubuhnya terasa basah karena air ketuban yang baru saja pecah. "Arthur ... sepertinya aku ... mau melahirkan sekarang."Mendengar kata 'melahirkan', Arthur yang biasanya selalu siaga dan memiliki kalkulasi matang dalam segala situasi darurat di dunia bisnis, seketika mengalami kegagalan sistem di otaknya. Pria itu melompat dari ranjang dengan mata membelalak panik."Melahirkan?! Sekarang?!" pekik Arthur dengan suara yang meninggi, sesuatu yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Pria bertubuh tegap itu
“Ap-apa?” Mata Arthur membola lebar.Kian juga terdiam dengan tatapan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.“Anda tidak salah memeriksa ‘kan, Dok? Anda yakin istri saya hamil?” Arthur memastikan.Dokter itu terkekeh pelan. Dia mengangguk-angguk. "Hasilnya memang benar positif hamil. Dokter spesialis kandungan sudah saya hubungi dan akan segera datang kemari untuk memastikan kondisi istri Anda.”Baru saja dokter selesai bicara, pintu ruangan kembali terbuka.Dokter spesialis kandungan masuk dan menyapa Kian juga Arthur lebih dulu.Hasil laboratorium diserahkan ke dokter kandungan, lalu wanita itu mulai memastikan kondisi Kian.“Apa kondisi saya benar-benar tidak apa-apa, Dok. Sepertinya saat hamil pertama dulu, saya tidak seperti ini.” Kian bertanya untuk memastikan.“Anda tenang saja, Bu Kian. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu keenam. Kemungkinan kondisi Anda ini disebabkan oleh kelelahan fisik, apalagi dulu Anda memiliki riwayat Abortus Imminens yang mempengaruhi k
Enam bulan kemudian.Pagi itu. Kian baru saja bangun dan langsung berlari ke kamar mandi karena perutnya mual.Begitu berjongkok di depan closet, Kian langsung muntah-muntah. Wajahnya berubah pucat dan tubuhnya terasa lemas.“Kian, kamu baik-baik saja?”Terdengar suara Arthur dari luar.Kian belum bisa menjawab. Dia masih terus mual tapi tak bisa memuntahkan apa pun karena perutnya kosong.“Kian, aku masuk.”Suara Arthur kembali terdengar diiringi suara pintu kamar mandi terbuka.Kian menoleh pada suaminya. Dia benar-benar lemas, lalu berusaha bangkit dari posisinya.Ketika baru saja berdiri, kedua kaki Kian lemas sampai tubuhnya limbung dan hampir membentur dinding.Untungnya Arthur dengan sigap memegang kedua lengan Kian.“Kamu kenapa? Wajahmu sangat pucat.” Arthur menatap panik.Kian menggeleng, matanya sedikit terpejam.“Kita ke rumah sakit.” Arthur langsung meraup tubuh Kian.Arthur menggendong Kian keluar dari kamar dengan terburu-buru. Saat berpapasan dengan Arron dan Sienna y
Arron baru saja sadar.Dia menatap langit-langit kamar, sebelum menoleh ke samping ketika mendengar suara Malvin.“Bagaimana perasaan Anda, Tuan? Saya akan panggilkan Dokter untuk memeriksa Anda lebih dulu.” Malvin siap berbalik, tapi terhenti karena panggilan lirih dari Arron.“Bagaimana kondisi K
Arthur keluar dari ruang dokter.Tulang-tulang di kedua kakinya seperti dilepas paksa.Tak ada tenaga untuk hanya sekadar melangkah.Bahkan, Arthur sampai limbung. Tubuhnya menabrak dinding di sisi kirinya.“Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Kian.” Kepala Arthur tertunduk dalam.Perlahan cair
Keesokan harinya.Arthur duduk di tepian ranjang. Dia dengan telaten menyuapi Kian.“Padahal aku bisa makan sendiri, kenapa kamu repot-repot menyuapi?” Kian menatap Arthur yang sejak tadi menolak menyerahkan sendok padanya.“Selama ada aku. Jika kamu sakit, kamu tidak perlu susah-payah menggerakkan
Sore hari.Arthur berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang dokter kandungan yang merawat Kian.Dia meninggalkan perusahaan lebih awal setelah Arron memberitahukan apa yang dokter sampaikan siang tadi.Mengetuk pintu lebih dahulu, Arthur masuk ke dalam ruang dokter setelah dipersilakan.“Pak Art


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak