Masuk“1.000.000 Dolar cukup, kan?” Airina Lyon terkejut dengan tawaran kontrak pernikahan dari Tuan Muda Pinault yang tak sengaja disiramnya beberapa jam lalu. Ahli waris dari konglomerat itu bahkan bersedia memberikan 1 juta dolar pada Airina sebagai bayaran untuk membatalkan pernikahan bisnis yang diatur keluarganya. Airina ingin menolak, tapi ia tak sanggup kalau pria itu malah meminta ganti rugi atas jas mahal yang dirusaknya. Lantas, bagaimana nasib Airina? Dan mengapa ... dirinya yang dipilih sang Tuan Muda? Find me on Instagram @Yl_Wanodya***
Lihat lebih banyak"Ruyan, kau harus pergi ke Kekaisaran Tianlong." Itu adalah kalimat yang selalu dinantikan oleh Ruyan selama ini. Ruyan sudah menantikan hari di mana dia bisa terbebas dari istana yang kejam ini.
“Apakah saya boleh tahu apa alasannya, Ayah?” tanya Ruyan pada ayahnya sekaligus raja dari Kerajaan Yunxi.
“Aku akan memberikan dirimu pada Kaisar Tianlong sebagai sandera untuk menghindari konflik dengan mereka,” kata Xi Yuefeng, sang raja.
Ruyan sudah menduga hal ini akan terjadi. Dia sudah tahu bahwa dia pasti akan dibuang oleh ayahnya sendiri suatu hari nanti. Tapi, Ruyan sama sekali tidak merasa sedih akan hal tersebut. Ruyan justru merasa sangat bahagia saat dia tahu bahwa dia akhirnya terbebas dari orang tuanya.
“Sandera? Apakah Anda menjual saya?” tanya Ruyan sambil menyembunyikan senyuman di wajahnya.
“Kau tidak memiliki hak untuk protes. Setidaknya buat dirimu berguna untuk kami. Kerjaanmu hanya mengurung diri di kamar selama ini. Dasar putri tidak berguna. Besok, kau akan mengenakan gaun pengantin dan Kaisar Tianlong akan menjemputmu,” kata Yuefeng.
“Gaun pengantin? Apa saya akan menjadi selir Kaisar?” tanya Ruyan.
“Aku tidak peduli apa yang akan Kaisar itu lakukan padamu. Yang terpenting kau besok harus memakai gaun pengantin saat kau dijemput,” kata Yefeng.
“Baiklah, Ayah,” kata Ruyan.
“Bagus, setidaknya kau menurut kali ini. Jangan sampai kau membuat masalah. Kalau kau membuat masalah, aku akan menyingkirkan pengasuh kesayanganmu itu,” kata Yuefeng.
Ruyan biasanya kesal jika ayahnya mengancamnya dengan pengasuhnya yang sudah pensiun itu. Tapi kali ini dia sama sekali tidak kesal karena dia akhirnya bisa pergi dari tempat ini walaupun dia harus menjadi selir kaisar. Ruyan tidak peduli apakah kaisar itu sudah tua atau belum. Yang ada di pikirannya saat ini adalah terbebas dari jeratan orang tuanya.
“Saya tidak akan membuat masalah, Ayah,” kata Ruyan.
“Tidak biasanya kau menurut seperti ini. Apakah ada sesuatu yang merasukimu?” tanya Yuefeng.
“Saya hanya ingin menjadi anak yang berbakti, Ayah,” kata Ruyan.
“Baguslah kalau kau sudah bertobat. Jangan sampai kau membuat kami malu atau melakukan sesuatu yang dapat membuat Kaisar berubah pikiran,” kata Yuefeng.
“Baiklah, ayah,” kata Ruyan.
“Kalau kau melakukan sesuatu yang bodoh yang bisa merusak perjanjian ini, bukan hanya pengasuhmu yang akan aku habisi tapi kau juga,” ancam Yuefeng lagi.
“Tenang saja, Ayah. Saya tidak akan mengecewakan Anda kali ini,” kata Ruyan.
“Kembalilah ke kamarmu,” kata Yuefeng.
“Semoga Yang Mulia diberkahi ketenangan jiwa,” kata Ruyan sambil membungkuk pada ayahnya.
Ruyan berbalik lalu berjalan kembali ke kamarnya. Sampailah dia di dalam kamarnya, kamar yang sangat sempit dan tua. Di sinilah Ruyan tinggal. Dinding kamar ini sudah lapuk, dan bahkan jendela dan pintunya sudah mulai tidak berfungsi.
Ruyan adalah seorang putri kerajaan. Namun, bagaimana dia bisa berakhir di tempat seperti ini? Tentu saja karena ulah sang ratu.
Dulu, Yuefeng sangat menyayangi Ruyan saat ibu kandungnya masih hidup. Namun, saat ibu Ruyan meninggal akibat ulah salah satu selir ayahnya, ayahnya jadi terpengaruh oleh selir tersebut. Ayahnya kini terus menganggap bahwa Ruyan adalah anak yang tidak berguna.
Bahkan ayahnya juga menutup matanya saat melihat Ruyan ditindas oleh selir itu, yang kini sudah naik takhta menjadi ratu. Terkadang ayahnya juga ikut menindasnya padahal dia sama sekali tidak melakukan suatu kesalahan.
Ruyan menyimpan dendam pada ayahnya dan wanita yang disebut ratu itu. Bagaimana tidak? Wanita itu jelas-jelas menghilangkan nyawa ibu kandungnya dan ayahnya seolah menutup mata akan kematian ibu Ruyan. Ayahnya tidak mengusut tuntas kasus kematian ibunya dan malah langsung mengangkat wanita itu menjadi ratu.
Karena merasa tidak dianggap, Ruyan sangat jarang menampakkan diri pada mereka. Sekalinya Ruyan menampakkan diri pada mereka, mereka pasti tidak segan untuk menampar atau memukul Ruyan walaupun dia tidak melakukan apa-apa.
Ruyan sering kabur dari istana karena dia tidak tahan untuk terus berada di istana. Dia memerlukan suasana yang lebih baik di luar sana. Namun, Ruyan tidak bisa benar-benar pergi dari istana selamanya. Dia harus menunjukkan wajahnya setiap akhir pekan untuk kumpul keluarga. Kalau sampai dia tidak menunjukkan wajahnya, ayahnya pasti akan melakukan sesuatu pada pengasuhnya yang sudah pensiun itu. Ruyan tidak bisa benar-benar bebas karena ayahnya menyandera pengasuhnya.
Ruyan mengganti pakaiannya dan menyamar sebagai gadis biasa untuk keluar dari istana ini. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini selama bertahun-tahun dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Bahkan para pelayan yang selalu mengantarkan makanan padanya juga tidak curiga bahwa dia menghilang dari istana. Yang orang-orang tahu, Ruyan hanya mengurung dirinya di kamar.
Ruyan keluar dari area istana melalui jalan rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Dia berjalan ke arah kota untuk pergi menuju ke kedai yang sering dia kunjungi akhir-akhir ini.
“Mao, aku sudah menunggumu dari tadi,” kata Lihan, pemilik kedai ini.
Mao adalah nama samaran Ruyan. Ruyan tidak bisa menggunakan nama aslinya ketika dia sedang menyamar sebagai gadis biasa di luar istana.
Ruyan menatap wajah si pemilik kedai dengan berbinar-binar. Ruyan sudah menyukai pria itu sejak pertemuan pertama mereka. Sayangnya, Ruyan adalah seorang putri yang pastinya akan dijual pada pemimpin negara lain. Jadi, Ruyan hanya bisa memendam perasaannya saja. Namun, Ruyan sama sekali tidak tahu bahwa Lihan sebenarnya adalah kaisar yang akan menjemputnya besok.
Lihan sebenarnya sudah tahu bahwa Mao yang dia kenal adalah Putri Xi Ruyan. Lihan sudah memata-matainya selama beberapa bulan ini jadi dia tahu seluk beluk Ruyan.
“Kau terlihat sangat senang hari ini,” kata Lihan.
“Ya, tentu saja. Akhirnya aku bisa terbebas dari orang tuaku,” kata Ruyan.
“Bagaimana bisa?” tanya Lihan.
“Aku akan dijual,” jawab Ruyan.
“Dijual?”
“Aku akan diberikan pada pria asing,” kata Ruyan.
“Apa maksudmu menjadi budak?” tanya Lihan dengan nada bercanda.
“Tidak. Bukan budak. Aku disuruh untuk memakai gaun pengantin besok lalu pria asing itu akan menjemputku. Lalu akhirnya aku bebas,” kata Ruyan.
“Bilang saja kau akan dinikahkan. Kalau kau bilang kau akan dijual, itu memiliki kesan kau akan dijual sebagai budak,” kata Lihan.
“Sama saja,” kata Ruyan tidak peduli.
“Sepertinya kau sangat senang ya? Bagaimana kalau pria asing yang akan menjemputmu itu ternyata pria tua mesum yang suka menggoda gadis muda?” tanya Lihan.
“Itu bisa dipikir nanti. Yang terpenting aku bisa terbebas dari neraka itu,” kata Ruyan sambil tertawa.
“Astaga, kau ini memang perempuan yang aneh. Biasanya perempuan lain tidak mau dinikahkan seperti itu,” kata Lihan.
“Kalau bisa keluar dari neraka itu, kenapa tidak?” kata Ruyan.
“Ya, kau benar juga,” kata Lihan.
***
"Tera Fillmoore Pinault!" seru seorang pria dengan tubuh tinggi dengan jas yang melekat pada tubuhnya. "Om Yoshi!" seru Tera. "Happy wedding ya, Om, Aunty!" ucap Tera dengan senyum ramah. Pagi itu, Tera dan Tora diminta menjadi Bridesmaids dan Groomsmen di acara pernikahan Aily dan Yoshi. Di tepi pantai Medoza, ke duanya resmi menikah. Airina dan Arsen hanya mengulas senyum tipis, tatkala sepasang pengantin itu terlihat bahagia di atas pelaminan. "Cie, udah nggak jomblo nih!" ledek Airina. "Diam!" seru Yoshi. Gelak tawa terdengar nyaring, acara pernikahan yang diadakan dengan sederhana. Membuat suasana intimade wedding itu kian kental terasa. "Curang sekali kamu, Yosh. Bisa-bisanya menikahi adikku sendiri," ucap Airina. Ia yang sedari tadi menahan air mata, kini ia benar-benar menumpahkannya di dada Arsen. Usapan pelan pada pundak Airina, membuat ia air matanya semakin pecah. "Aku hanya ingin melindungi adik sekaligus istriku ini, Airin. Lagi pula, kamu sudah mengenal aku c
Aily dan Yoshi saling melempar senyuman tipis. "Aku ingin melamar adikmu, Airin," ucap Yoshi lembut. DegJantung Airina seperti berhenti berdetak sepersekian detik, kaget dan campur aduk. Di hadapan keluarga Arsen, Yoshi dengan entengnya mengatakan kalimat itu tanpa ragu. "Yosh ...? Kamu serius?" tanya Arsen lirih. Yoshi menganggukkan kepalanya membenarkan ucapannya. Membuat Airina dan Arsen semakin terdiam kaku. "Entah restu seperti apa yang harus aku berikan padamu, Yosh. Tapi ... Aku tidak bisa memaksa adikku untuk mengikuti jejakku, aku membiarkan adikku memilih jalannya sendiri. Jadi, apa pun yang diinginkan Aily, aku setuju," tutur Airina lembut. Aily berseru dengan bahagia, setelah selesai pendidikannya. Ia berniat melanjutkan kuliah terlebih dahulu. "Terima kasih, Kak!" Aily memeluk erat tubuh Airina. Malam tahun baru itu membawa rona bahagia pada semuanya. Airina dan Arsen yang cintanya semakin kuat, dalam dekapannya Tora dan Tera tersenyum menggelitik. **** 5 tahu
"Arsen ...," Julie mengoyak tubuh anak laki-lakinya, teriakannya cukup keras. Membuat ia yang duduk di ruang tunggu mampu mendengar suaranya. Lama Arsen hanya mengubah posisi tidurnya, entah apa yang ia rasakan di alam mimpi. "Arsen!" gertak Julie. "Arghhh!" Matanya menyipit sebelum benar-benar sadar dari tidur singkatnya. Matanya mengerjap perlahan. "Ibu ... bagaimana bisa ibu ada di sini?" tanya Arsen dengan tergagap. "Kamu mimpi apa? Sangat berisik, ibu takut Airina terganggu," tanya Julie. "Rasanya aku tidak bermimpi, namun ada sesuatu yang mengganjal dalam tubuhku. Maaf ibu," Arsen mengacak rambutnya kasar. "Sudah tidak apa-apa, tenangkan dirimu sebelum kembali tidur. Kasihan Airina jika terganggu," peringat Julie. Arsen akhirnya melangkahkan kakinya ke luar ruang inap, sekilas ia melihat anak kembarnya di ruang bayi. Ia hampir lengah dengan penjagaan di sana. "Aron, panggilkan beberapa orang untuk menjaga ruang bayi!" titahnya. Setelahnya, Arsen hanya duduk di kursi
Mata itu perlahan mengerjap hingga sepenuhnya ia mampu menatap sekeliling ruangan. Dengan nuansa biru lautnya, ruangan yang terlihat luas hanya menyisakan dirinya dan Arsen. Dengan perlahan matanya terbuka dengan lebar, ia mengerjapkan matanya berulang. Pukul 10 malam, setelah pagi hari ia berjuang untuk nyawa dua bayi. Kini, ia kembali siuman setelah tertidur entah berapa lama. "A-Arsen," lirih suaranya samar memanggil nama Arsen di sampingnya. Pria itu menundukkan kepalanya dalam, seolah tidak memiliki harapan besar atas istrinya. Setelah mendengar suara tangisan ke dua kalinya, ia tidak lagi ingat apa yang terjadi padanya. "Airin, kamu sudah siuman? A-aku akan memanggil dokter segera!" ucapnya terbata. Arsen berusaha berlari menuju pintu, namun tangannya tercekal. Airina menahan pergelangan tangan Arsen dengan kuat. "Jangan pergi dulu, bagaimana kabar anak kita?" tanya Airina lirih. "Anak kita sehat, Airina. Dia ada di ruang bayi, kalau kamu sudah sepenuhnya pulih. Kita ak
Arsen terperanjat, ia dengan sigap menopang tubuh Airina agar tidak terjatuh. Sayup-sayup Anne berlari dari lawan arah. Membantu Arsen menopang tubuh Airina, tanpa sadar itu adalah salah Anne. Akhirnya, dengan degup jantung yang tidak beraturan, Airina masih selamat. "Terima kasih, Arsen, Anne," lir
Arsen dengan segera memeluk erat tubuh Airina, meredakan setiap kepanikan dan ketakutan dalam dirinya. Tidak ingin membiarkan istrinya begitu kalut dalam rasa takutnya. "Hust, sudah, itu tidak akan terjadi, Airina. Aku ada di sini menemanimu," ucap Arsen. Ia mengecup beberapa kali kening Airina tanp
Dokter terlihat kalut dengan keadaan pasiennya, Arsen sudah pasrah. Mulutnya hanya bisa merapal doa agar istrinya baik-baik saja. "Dokter, katakan bagaiaman keadaan menantu saya?" tanya Julie dengan tatapan tajam. Dengan berat hati dokter membuka suara, dengan bergetar suara itu terdengar. Setiap ka
"Tahu apa, sayang?" Arsen hanya menanggapi Airina tanpa banyak basa-basi, ia membiarkan istrinya menikmati setiap pijitannya. Selama hidup, ia tidak memanfaatkan asisten rumah tangga. "Kita butuh asisten rumah tangga, kalau di rumah baru aku mau ada itu. Bukan karena apa-apa, Arsen. Tapi kamu sadar


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak