مشاركة

168|

مؤلف: Shanum Belle
last update تاريخ النشر: 2026-06-14 19:00:38

“Yang Mulia!”

“Yang Mulia!”

Gendhis berlari dari pintu masuk kediaman Muniratri. Sikapnya yang tergesa-gesa membuat wanita itu nyaris terjatuh.

“Pelan-pelan saja. Kediamanku tidak pindah tempat.” Prameswari Widuri menertawai Gendhis saat langkahnya terbelit kakinya sendiri.

“Ada apa?” tanya Widuri saat dayangnya tersebut berada di hadapannya.

Napas Gendhis tersengal-sengal. Ia menarik napas panjang supaya lebih

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   212|

    “Masalah ini sangat serius. Kalian sudah memastikannya?” Damarteja menutup laporan yang baru saja dia baca.Ningsih yang berdiri di hadapan Pangeran Adipati Agung mengangguk sekali. Menegaskan bahwa laporan yang ia tulis sudah diverifikasi dan terbukti kebenarannya.“Bagaimana menurutmu?” Damarteja memberikan laporan yang baru selesai ia baca kepada Muniratri.Lelaki itu setia menunggu sampai istrinya membaca laporan tersebut dan memberi tanggapan. Ia sama sekali tak mendesaknya untuk berbicara.“Saat Nyai Sujan memegang perutku, memang aroma tubuhnya sangat familier. Kalau dipikir-pikir memang mirip seperti miliki Ibu Suri.” Muniratri meletakkan laporan di atas meja.“Jika memang benar beliau adalah Nyai Sujan yang ada di rumah Griya Panita, lantas Nyai Sujan yang asli ada di mana?” Muniratri menatap mata sang Pangeran.Mereka berdua berpandangan cukup lama. Membuat Ningsih yang masih berada d

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   211

    “Nyai Sujan ini hebat sekali ya. Tiap main selalu kalah tapi hartanya tak habis-habis.”“Iya kok bisa ya dia begitu? Padahal gaji demang kan enggak seberapa tapi kalau main taruhannya selalu banyak.”“Apa jangan-jangan dia jadi simpanan tuan tanah?”“Halah! Siapa yang mau sih sama wanita tua begitu?”Muniratri dan Damarteja terus-menerus menempel kepada orang-orang yang sedang bergosip tentang Nyai Sujan. Keduanya tak mau jauh-jauh dari para penjudi itu, hingga mereka ketahuan?“Kalian siapa? Kenapa menguping pembicaraan kami?” Salah seorang penjudi mengacungkan belati.Damarteja segera pasang badan saat istrinya diintimidasi oleh mereka. Orang-orang itu beraninya dengan perempuan yang terlihat lemah.“Maaf Kisanak, istriku sedang hamil. Tolong jangan menakut-nakutinya.” Damarteja merentangkan kedua tangan.Orang-orang yang sedang berkerumun itu tertawa ter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   210|

    “Datanya cocok semua!” Muniratri menutup buku besar milik Raden Yajnayodha.“Benarkah?”Damarteja memeriksa daftar pejabat Agratampa yang melakukan korupsi. Ia membandingkan laporan tersebut dengan buku besar yang diberikan oleh Raden Yajnayodha sebelum serah terima tahanan dengan Raden Apta.“Baguslah. Dengan ini, kita bisa menangkap mereka dan mengambil kembali uang rakyat yang dicuri.” Damarteja menatap lurus ke depan. Ia mengepalkan tangan.Setahun lebih, Pangeran Adipati Agung mencari bukti kejahatan mereka namun tak pernah menemui titik temu. Kini dia bisa menjaring mereka dalam satu waktu.“Putri, kamu sudah bekerja keras. Padahal ini bukan tugasmu.” Damarteja membelai wajah Muniratri yang lelah.“Tidak masalah, Paduka. Saya senang bisa membantu.” Muniratri memejamkan mata, menikmati belaian suaminya.Kasus korupsi pejabat Agratampa telah mengakar hingga ke sendi

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   209|

    “Kenapa Wakil Perdana Menteri hanya membawa ini? Di mana tahanannya?” Prabu Bahuwirya mengangkat salah satu alisnya.Lelaki itu melipat tangan di dada saat berdiri di depan sepuluh peti kayu yang dibawa Raden Apta dari Agratampa. Lima peti berisi emas sedangkan sisanya perak.“Hamba pantas mati, Baginda!” Raden Apta berlutut di hadapan sang Prabu.Prabu Bahuwirya balik badan menuju kursinya. Ia tak ingin menyaksikan dari dekat penyesalan formalitas yang dilakukan oleh Raden Apta.“Jelaskan apa yang terjadi!” seru Bahuwirya.“Saat kamu kembali ke Ibu Kota, kami bertemu dengan sekelompok harimau di tengah hutan. Mereka sangat ganas, Baginda,” ucap Raden Apta.Prabu Bahuwirya mengetuk-ngetuk meja menggunakan laporan yang dibungkus dengan kulit kayu tebal. Cukup kuat untuk menjaga supaya kertas yang terbuat dari daun lontar tetap rapi.‘Kenapa Baginda tidak mengucapkan sepatah kata pun

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   208|

    “Semoga sidang berjalan dengan lancar dan yang bersalah mendapat hukuman setimpal,” ucap Damarteja sebelum melepas kepergian Raden Apta dari tanah Agratampa.“Saya juga berhadap demikian, Kanjeng Pangeran.” Raden Apta menundukkan badan.Sang Wakil Perdana Menteri meninggalkan Agratampa bersama dengan sepuluh pengawal. Jumlah pengamanan yang terlalu sedikit untuk ukuran pejabat tinggi.Saat datang ke Agratampa mereka membawa tangan kosong. Namun ketika kembali ke Ibu Kota mereka membawa Raden Tumenggung Yajnayodha dan sepuluh peti berisi emas hasil sitaan dari rumah lelaki itu.“Apa kita perlu mengirim pasukan khusus untuk mengawal orang itu, Paduka?” Senapati Birawa memberikan teropong jarak jauh kepada Damarteja.“Kita lihat dulu situasinya.” Sang Pangeran menggunakan teropong sambil tersenyum tipis.Ketika rombongan Raden Apta memasuki hutan, burung-burung beterbangan secara tak wajar.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   207|

    “Ningsih, ambilkan dua baju hangat di lemariku. Pilih yang terbaik,” perintah sang Putri Hadiwangsa.Dayang itu mengangguk. Ia meninggalkan ruang makan beberapa saat dan saat kembali, ia membawa sepasang mantel yang terbuat dari rubah putih.“Dek Ayu, pakailah ini.” Muniratri mengambil satu mantel dari tangan Ningsih.Kasmirah mengulum bibirnya saat Muniratri memakaikan kain penghangat badan tersebut untuknya.“Kenapa Dek Ayu melihatku seperti melihat hantu?” tanya Muniratri saat Kasmirah menelan ludah hingga suaranya terdengar orang lain.“Tidak apa-apa, Kanjeng Putri.” Kasmirah menggeleng pasrah. Pandangannya kosong.Muniratri tersenyum saja saat Kasmirah bertindak tak sesuai dengan tata krama. Karena sesaat kemudian, wanita itu segera menyadari kesalahannya.“Maafkan saya, Kanjeng Putri. Saya tidak bermaksud membuat Anda tak nyaman,” selir yang mengenakan baju berlapis-lap

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   5| Cunduk Wijaya Kusuma

    Sentuhan tangan Muniratri membuat Damarteja meledak. Sedikit lagi, pertahanan sang Pangeran Adipati tumbang.Lelaki tersebut mengunci pinggang Muniratri dengan tangan kirinya, lalu mengangkat tubuh wanita tersebut hingga membuat kedua kakinya bertumpu pada kaki Damarteja.Tak lama kemudian, dia meng

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   4| Permainan Dimulai

    Damarteja membangun tembok tinggi tak kasat mata di antara dia dan Muniratri. Ia yakin seratus satu persen, wanita itu tidak akan mampu menghancurkannya.“Paduka!” seru Muniratri, kali ini wanita tersebut menggunakan gaya ala gadis manja. Suaranya bahkan dibuat sedikit mendesah.Tanpa aba-aba, Munir

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   3| Perangkap Muniratri

    “Wulan, bagaimana menurutmu?” tanya Widuri.Dayang tersebut berlutut di samping Muniratri. “Yang di katakan oleh Kanjeng Putri memang benar, Yang Mulia.”Bibir Muniratri tersungging. “Tentu wanita itu tidak menyangkal omonganku. Makanan yang aku berikan padanya semalam, sudah kuberi obat tidur dosis

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   2| Bertemu Naratama

    “Yang Mulia ... JANGAN!” Muniratri berteriak hingga terbangun dari tidur. Tubuhnya, dibanjiri keringat dingin.Ingatan tentang hari ketika keluarganya dieksekusi terus muncul dalam mimpi wanita itu, tiap malam. Meski sudah empat puluh dua hari berselang, kejadian pada saat itu masih tergambar jelas,

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status