Share

86|

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2026-01-04 19:00:42

Muniratri tak dapat menahan gejolak di dada untuk waktu yang lama. Demi menghindari kecurigaan Ningsih, Muniratri bersikap tenang. Ia bahkan tak membahas tentang Pangeran Adipati sekali pun.

Di balik tindak-tanduk yang tampak tenang di permukaan itu, Muniratri menggenggam bara panas yang bisa dia lempar ke dedaunan kering kapan saja, sehingga menimbulkan keributan besar.

“Ningsih, aku ingin mandi di sendang,” ucap Muniratri.

Masih segar di ingatan Ningsih baga

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   212|

    “Masalah ini sangat serius. Kalian sudah memastikannya?” Damarteja menutup laporan yang baru saja dia baca.Ningsih yang berdiri di hadapan Pangeran Adipati Agung mengangguk sekali. Menegaskan bahwa laporan yang ia tulis sudah diverifikasi dan terbukti kebenarannya.“Bagaimana menurutmu?” Damarteja memberikan laporan yang baru selesai ia baca kepada Muniratri.Lelaki itu setia menunggu sampai istrinya membaca laporan tersebut dan memberi tanggapan. Ia sama sekali tak mendesaknya untuk berbicara.“Saat Nyai Sujan memegang perutku, memang aroma tubuhnya sangat familier. Kalau dipikir-pikir memang mirip seperti miliki Ibu Suri.” Muniratri meletakkan laporan di atas meja.“Jika memang benar beliau adalah Nyai Sujan yang ada di rumah Griya Panita, lantas Nyai Sujan yang asli ada di mana?” Muniratri menatap mata sang Pangeran.Mereka berdua berpandangan cukup lama. Membuat Ningsih yang masih berada d

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   211

    “Nyai Sujan ini hebat sekali ya. Tiap main selalu kalah tapi hartanya tak habis-habis.”“Iya kok bisa ya dia begitu? Padahal gaji demang kan enggak seberapa tapi kalau main taruhannya selalu banyak.”“Apa jangan-jangan dia jadi simpanan tuan tanah?”“Halah! Siapa yang mau sih sama wanita tua begitu?”Muniratri dan Damarteja terus-menerus menempel kepada orang-orang yang sedang bergosip tentang Nyai Sujan. Keduanya tak mau jauh-jauh dari para penjudi itu, hingga mereka ketahuan?“Kalian siapa? Kenapa menguping pembicaraan kami?” Salah seorang penjudi mengacungkan belati.Damarteja segera pasang badan saat istrinya diintimidasi oleh mereka. Orang-orang itu beraninya dengan perempuan yang terlihat lemah.“Maaf Kisanak, istriku sedang hamil. Tolong jangan menakut-nakutinya.” Damarteja merentangkan kedua tangan.Orang-orang yang sedang berkerumun itu tertawa ter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   210|

    “Datanya cocok semua!” Muniratri menutup buku besar milik Raden Yajnayodha.“Benarkah?”Damarteja memeriksa daftar pejabat Agratampa yang melakukan korupsi. Ia membandingkan laporan tersebut dengan buku besar yang diberikan oleh Raden Yajnayodha sebelum serah terima tahanan dengan Raden Apta.“Baguslah. Dengan ini, kita bisa menangkap mereka dan mengambil kembali uang rakyat yang dicuri.” Damarteja menatap lurus ke depan. Ia mengepalkan tangan.Setahun lebih, Pangeran Adipati Agung mencari bukti kejahatan mereka namun tak pernah menemui titik temu. Kini dia bisa menjaring mereka dalam satu waktu.“Putri, kamu sudah bekerja keras. Padahal ini bukan tugasmu.” Damarteja membelai wajah Muniratri yang lelah.“Tidak masalah, Paduka. Saya senang bisa membantu.” Muniratri memejamkan mata, menikmati belaian suaminya.Kasus korupsi pejabat Agratampa telah mengakar hingga ke sendi

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   209|

    “Kenapa Wakil Perdana Menteri hanya membawa ini? Di mana tahanannya?” Prabu Bahuwirya mengangkat salah satu alisnya.Lelaki itu melipat tangan di dada saat berdiri di depan sepuluh peti kayu yang dibawa Raden Apta dari Agratampa. Lima peti berisi emas sedangkan sisanya perak.“Hamba pantas mati, Baginda!” Raden Apta berlutut di hadapan sang Prabu.Prabu Bahuwirya balik badan menuju kursinya. Ia tak ingin menyaksikan dari dekat penyesalan formalitas yang dilakukan oleh Raden Apta.“Jelaskan apa yang terjadi!” seru Bahuwirya.“Saat kamu kembali ke Ibu Kota, kami bertemu dengan sekelompok harimau di tengah hutan. Mereka sangat ganas, Baginda,” ucap Raden Apta.Prabu Bahuwirya mengetuk-ngetuk meja menggunakan laporan yang dibungkus dengan kulit kayu tebal. Cukup kuat untuk menjaga supaya kertas yang terbuat dari daun lontar tetap rapi.‘Kenapa Baginda tidak mengucapkan sepatah kata pun

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   208|

    “Semoga sidang berjalan dengan lancar dan yang bersalah mendapat hukuman setimpal,” ucap Damarteja sebelum melepas kepergian Raden Apta dari tanah Agratampa.“Saya juga berhadap demikian, Kanjeng Pangeran.” Raden Apta menundukkan badan.Sang Wakil Perdana Menteri meninggalkan Agratampa bersama dengan sepuluh pengawal. Jumlah pengamanan yang terlalu sedikit untuk ukuran pejabat tinggi.Saat datang ke Agratampa mereka membawa tangan kosong. Namun ketika kembali ke Ibu Kota mereka membawa Raden Tumenggung Yajnayodha dan sepuluh peti berisi emas hasil sitaan dari rumah lelaki itu.“Apa kita perlu mengirim pasukan khusus untuk mengawal orang itu, Paduka?” Senapati Birawa memberikan teropong jarak jauh kepada Damarteja.“Kita lihat dulu situasinya.” Sang Pangeran menggunakan teropong sambil tersenyum tipis.Ketika rombongan Raden Apta memasuki hutan, burung-burung beterbangan secara tak wajar.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   207|

    “Ningsih, ambilkan dua baju hangat di lemariku. Pilih yang terbaik,” perintah sang Putri Hadiwangsa.Dayang itu mengangguk. Ia meninggalkan ruang makan beberapa saat dan saat kembali, ia membawa sepasang mantel yang terbuat dari rubah putih.“Dek Ayu, pakailah ini.” Muniratri mengambil satu mantel dari tangan Ningsih.Kasmirah mengulum bibirnya saat Muniratri memakaikan kain penghangat badan tersebut untuknya.“Kenapa Dek Ayu melihatku seperti melihat hantu?” tanya Muniratri saat Kasmirah menelan ludah hingga suaranya terdengar orang lain.“Tidak apa-apa, Kanjeng Putri.” Kasmirah menggeleng pasrah. Pandangannya kosong.Muniratri tersenyum saja saat Kasmirah bertindak tak sesuai dengan tata krama. Karena sesaat kemudian, wanita itu segera menyadari kesalahannya.“Maafkan saya, Kanjeng Putri. Saya tidak bermaksud membuat Anda tak nyaman,” selir yang mengenakan baju berlapis-lap

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   33| Garam Memainkan Peran

    Damarteja mengetuk-ngetuk meja menggunakan ujung jari. Bibirnya mengerucut dan sorot matanya lurus ke depan dengan tatapan hampa, setelah membaca surat rahasia dari Ningsih.Dalam surat tersebut, Ningsih memberi tahu Pangeran Adipati tentang apa yang dilakukan oleh Muniratri setelah ia pergi dari ba

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   32| Gelora Putra Mahkota

    Putra Mahkota Badra tiba di Agratampa tanpa pemberitahuan resmi dan hanya membawa sedikit pengawal. Karena itu, Muniratri membawanya ke Puri Kacayagra demi keamanan.“Silakan duduk, Yang Mulia,” tutur Muniratri dengan takzim saat mengantar Putra Mahkota ke ruang tamu.“Terima kasih, Raden Ayu.” Lela

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   31| Menyiram Bara dengan Minyak

    Apa yang terjadi di balai adipati membuat dunia Muniratri diselimuti awan hitam yang membuat dadanya sesak. Ia pun segera pergi dari sana untuk menghirup udara segar.“Kanjeng Putri mau ke mana?” tanya pak kusir.Tidak ada tempat yang ingin ia tuju. Dia hanya ingin berada sejauh mungkin dari mereka

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   30| Mencabut Duri Hingga ke Akar

    Untung saja Damarteja buru-buru keluar dari kamar Muniratri, hingga tak sadar meninggalkan dokumen penting. Kini, dokumen itu berada di tangan Muniratri dan siap ia gunakan sebagai alat tukar.Jemari Muniratri menari di wajah sang Pangeran. “Aku ingin merantai para pejabat busuk itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status