Masuk"Dok, aku udah basah, cepat periksa!" Nayla Raharja, seorang gadis 25 divonis mengalami penyakit tak biasa di area paling intimnya. Namun, dia terkejut karena yang menanganinya kali ini bukanlah Dokter Lusi, melainkan dokter laki-laki bernama Naufal Mahendra. Nayla awalnya menolak berganti dokter, lagipula dia malu jika ada laki-laki selain suaminya yang melihat 'miliknya'. Ia pun berniat untuk membatalkan pemeriksaan, tetapi rasa sakit di tubuhnya sudah tak tertahan. Apalgi setiap dia teringat suaminya, yang bahkan enggan menyentuhnya selama 6 bulan mereka menikah. Sungguh, sungguh menyakitkan menjadi istri yang tak pernah diberi nafkah, hanya karena alasan jijik! Karena sakit itulah, Nayla akhirnya mau diperiksa, sampai akhirnya dia terjebak dalam hasrat yang dia ciptakan sendiri.
Lihat lebih banyak"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!"
Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa belum datang juga?" Ia menunggu Dokter Lusi yang biasanya menangani dia di ruangan ini. Sudah sekitar 15 menit Nayla menunggu. Ia sudah dalam posisi mengangkang. Kedua kakinya terbuka lebar, karena dia sudah tak tahan lagi dengan penyakitnya. Tubuhnya terasa semakin tidak nyaman, perih dan nyeri yang ia tahan sejak tadi mulai tak tertahankan. Ketika gadis itu sedang gelisah dan hendak bangkit, tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka. Nayla menoleh cepat, dan refleks menutup kedua kakinya. Ia kembali berbaring dengan gugup. Suara langkah sepatu mendekat melalui ambang pintu. Siluet seseorang terlihat masuk, membuat Nayla menunggu dengan harap-harap cemas. "Sudah lama menunggu?” Suara itu membuat Nayla memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah pintu. Matanya membulat, ketika melihat seseorang masuk dan mendekat ke arahnya. Bukan Dokter Lusi atau dokter wanita lainnya, tetapi seorang pria yang masih sangat muda. Usianya mungkin baru sekitar 33 tahun. Nayla pun spontan menegakkan tubuhnya. Tangannya refleks menarik kain penutup hingga menutup pangkal pahanya rapat-rapat. Ketika ia tahu bahwa sang dokter menatap bagian bawahnya, seketika wajah Nayla memanas dan napasnya tak lagi teratur. “Maaf. Tapi Dokter Lusi ke mana? Biasanya beliau yang periksa saya," kata Nayla dengan suara lirih dan nyaris berbisik. Pria itu berhenti di sisi ranjang dan menjaga jarak satu langkah penuh. Ia menatap singkat pada Nayla. Tatapannya datar dan dingin seperti kutub utara. “Dokter Lusi sedang cuti melahirkan,” jawabnya singkat. “Jadi hari ini jadwal pemeriksaan dialihkan ke saya. Saya Dokter Naufal Mahendra. Dan mulai sekarang, saya yang akan menangani kondisi kamu." “Apa?" Kata-kata Dokter Naufal meluncur begitu saja tanpa basa-basi. Namun, justru itu yang membuat Nayla semakin canggung. “A-aku … kalau begitu, saya mau batal pemeriksaan saja,” ucapnya cepat. Nayla hendak turun dari ranjang, meski kedua kakinya terasa gemetar. Namun, tiba-tiba rasa perih itu kembali menyerang, bahkan kali ini lebih sakit daripada sebelumnya. “Akhh!" Sensasi panas menjalar, membuat tubuhnya refleks menegang. Nayla sontak terhenti. Ia menahan napas, berusaha menahan rasa sakit yang membuat sudut matanya kini terasa basah. Dokter Naufal memperhatikan tingkah gadis itu dari jarak aman. Sikapnya tetap profesional, meski ekspresi di wajahnya sedikit menegang. “Kondisimu sedang tidak baik. Menunda pemeriksaan justru bisa memperparah keadaanmu," kata sang Dokter, datar. Lalu, dokter menunjuk ke arah pintu dengan isyarat singkat. “Ruangan ini steril dan privat. Tidak ada orang lain yang akan masuk.” Kalimat itu semakin tidak menenangkan. Justru membuat Nayla semakin sadar, bahwa kini ia hanya berdua dengan seorang dokter pria. Rasa malu dan trauma yang selama ini ia tahan, kini rasanya benar-benar akan meledak. Pandangan Nayla perlahan berkabut. Ia menelan saliva yang terasa kering di tenggorokan. Kedua tangannya meremas tepian sprei dengan kuat. “Keputihan kamu ini sudah masuk kategori abnormal.” Ucapan Dokter Lusi dulu kembali terngiang jelas di kepalanya. Wanita itu duduk di hadapannya sambil menatap hasil pemeriksaan dengan wajah serius. “Bukan cuma karena hormon,” lanjut dokter perempuan itu. “Tapi ada peradangan di area dalam. Makanya sering perih, panas, dan sensitif. Kalau dibiarkan, nanti bisa makin parah.” Saat itu Nayla hanya bisa mengangguk pasrah, menahan rasa malu yang membakar dadanya. “Kamu terlalu sering berhubungan intim dengan suamimu?” Suara datar Dokter Naufal membuyarkan lamunannya. Nayla tersentak, dan refleks menggeleng pelan. “Tidak." Pertanyaan itu seperti menampar sesuatu yang sudah lama ia pendam. Enam bulan pernikahan, tapi sentuhan dari suaminya tak pernah ia dapatkan. Bahkan tatapan darinya pun sering dihindari. Ia teringat bagaimana suaminya selalu menjaga jarak. Seolah tubuhnya adalah sesuatu yang kotor dan harus dijauhi. Penyakit ini jelas bukan karena terlalu sering disentuh. Karena justru ia tak pernah disentuh sama sekali. Namun, penyakit inilah yang perlahan merusak kepercayaan dirinya dan menghancurkan rumah tangganya. “Baiklah,” ucap Dokter Naufal singkat, seolah mencatat sesuatu dalam pikirannya. Ia lalu menjelaskan dengan nada tenang dan profesional, tanpa emosi berlebih di wajahnya. “Keputihan abnormal seperti yang kamu alami tidak selalu sederhana. Kadang hanya infeksi ringan. Tapi ada juga kasus di mana itu merupakan tanda peradangan yang sudah berlangsung lama.” Tubuh Nayla semakin menegang. Jarinya mencengkeram tepian ranjang dengan kuat. “Kalau dibiarkan tanpa pemeriksaan lanjutan, maka infeksi bisa menyebar ke bagian dalam. Itu bisa mempengaruhi rahim dan saluran reproduksi.” Ia berhenti sejenak, memastikan kalau Nayla masih mendengarkan. “Dalam kondisi tertentu, risiko jangka panjangnya adalah gangguan kesuburan. Kamu bisa kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu.” "Apa?” Kata-kata itu menghantam Nayla, membuat dadanya terasa sesak. “Dan meskipun jarang, tapi kami juga perlu menyingkirkan kemungkinan infeksi bakteri tertentu yang gejalanya mirip. Termasuk beberapa penyakit yang sering tidak disadari oleh penderitanya.” “Karena itu, saya tidak bisa menyimpulkan hanya dari keluhan luar. Pemeriksaan ini penting supaya mendapat penanganan yang tepat.” Dokter Naufal menatap Nayla, tetap dengan jarak yang sama seperti tadi. "Lalu … apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya masih ingin bisa jadi seorang ibu.” Nayla menggeleng nyaris frustasi, matanya mendadak mulai basah. “Keputusan ada di kamu,” kata Dokter Naufal dengan nada dinginnya. “Tapi kalau kamu mau lanjut, maka …." Ia memberi instruksi singkat. “Kamu harus buka kakimu.”Begitu pintu ruang perawatan tertutup rapat, Nayla hanya mampu mematung di balik kaca. Tangis Marina memenuhi lorong rumah sakit, sementara Wiratmadja memeluk istrinya yang nyaris kehilangan kekuatan untuk berdiri. Dari balik pintu terdengar suara Naufal yang lantang memberi instruksi."Mulai CPR!""Siapkan defibrillator!""Cas tiga ratus joule!"Alarm monitor berbunyi semakin nyaring.Biiip... Biiip... Biiip...Nayla menutup mulut dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Air mata terus mengalir saat mengingat senyum Arunika beberapa menit lalu."Kak Arunika..." isaknya lirih.Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak. Rasa nyeri yang tadi hanya berdenyut di kepalanya kini menjalar hingga ke dada, seolah ada tangan tak terlihat yang sedang meremas jantungnya."Akh..." Nayla meringis sambil memegangi dadanya.Di dalam ruang perawatan, Naufal masih sempat melirik ke arah istrinya melalui kaca. Tatapannya dipenuhi kekhawatiran, tetapi sebagai dokter ia tak memiliki pilihan sel
Air mata masih membasahi pipi Marina. Tangannya yang gemetar perlahan terulur ke arah Nayla, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat."Nayla," suaranya bergetar lirih, dipenuhi harapan yang selama puluhan tahun terkubur. "Boleh ... boleh Mama memelukmu?"Di sampingnya, Wiratmadja ikut melangkah mendekat. Mata pria paruh baya itu memerah, tetapi tatapannya tak pernah lepas dari wajah Nayla."Nak," gumamnya serak seraya memandang lekat pada Nayla. "Kalau semua ini benar, kalau kamu memang adalah Naura, maka kembalilah pada papa dan mama. Selama ini papa memang belum yakin kalau Naura sudah meninggal. Karena itu selama bertahun-tahun, papa terus saja mencari kamu," lanjut pria paruh baya itu.Ia memohon di hadapan Nayla kini, seolah sudah tak peduli dengan nama besarnya yang selama ini sangat disegani oleh banyak tokoh penting.Namun melihat itu, Nayla justru mundur selangkah. Kepalanya terus menggeleng, sementara air mata mengalir tanpa henti."Tidak, jang
Ruangan perawatan mendadak sunyi.Semua orang mengikuti arah tatapan nenek renta yang berdiri di samping Wiratmadja. Tubuhnya memang sudah membungkuk dimakan usia, tetapi sorot matanya masih tajam ketika memandang Nayla tanpa berkedip. Bibirnya bergetar pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya."Ya Tuhan ... itu anaknya Ina dan Raharja."Ucapan itu membuat seluruh isi ruangan terdiam.Nayla yang masih memegangi pelipisnya perlahan mengangkat wajah. Rasa nyeri di kepalanya memang belum hilang, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar."Mbah ... Mbah kenal saya?" tanyanya lirih, dengan raut wajah yang kebingungan.Mbah Sati mengangguk. Dengan langkah perlahan, ia menghampiri Nayla lalu mengusap pipinya penuh kasih."Tentu saja kenal. Aku sering menggendongmu waktu kamu masih kecil. Mana mungkin aku lupa."Wiratmadja yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka langsung maju beberapa langkah. Napasnya memburu, sementara kedua matanya terus menatap wajah wanita tua i
Dimas masih berdiri di balik jeruji besi dengan rahang mengeras. Tatapannya kosong mengarah ke lorong penjara, tetapi pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada siapa pun yang berada di sana.Tak lama kemudian, langkah kaki kembali terdengar.Seorang sipir menghampiri selnya sambil melirik ke kanan dan kiri memastikan tak ada petugas lain yang memperhatikan."Sudah kubilang, Dokter Naufal mulai mencium jejakmu," gumam sipir itu pelan.Dimas menyunggingkan senyum tipis."Biar saja."Sipir membuka pintu sel tanpa banyak bicara. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya lalu menyerahkannya."Lima menit."Dimas menerimanya tanpa ragu."Kamu tenang saja. Uangnya sudah masuk ke rekening istrimu pagi tadi."Sipir itu tersenyum puas."Kerja sama kita memang selalu menguntungkan."Dimas langsung membuka aplikasi pesan. Beberapa notifikasi bermunculan dari orang-orang yang selama ini menjadi mata dan telinganya di luar penjara.Bukan hanya Revan. Tapi masih ada beberapa orang lain.Sa
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
“Kamu ngapain di sini?” Suara Nayla mulai meninggi.Tak menjawab, tetapi Dini malah melangkah masuk lebih jauh ke dalam toko tanpa permisi. Tatapannya menyapu sekeliling, dari rak bunga hingga meja kerja, lalu berhenti tepat pada Nayla. Senyumnya tipis dan sinis, sangat serasi jika dengan Agung.“K


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak