INICIAR SESIÓNDania berdiri di depan pintu ruang gawat darurat yang masih tertutup rapat, lampu merah di atasnya seolah mengejek kecemasannya yang memuncak. Ia mondar-mandir tak keruan, langkah kakinya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi kini terasa sangat menyiksa.
Sesekali, Dania berhenti untuk menggigiti ujung kukunya. Sebuah kebiasaan buruk yang selalu muncul setiap kali ia merasa gelisah. Namun, di antara semua kengerian itu, ada satu bayangan yang terus mengusik benaknya. Gathan. Laki-laki itu duduk di kursi tunggu, masih memeluk helm hitamnya dengan erat. Jaket motornya yang terkena noda darah ayahnya sudah ia lepas, menyisakan kaos hitam yang mempertegas bahu lebarnya. Gathan tidak banyak bicara sejak mereka tiba di sini. Dania merasa sangat tidak nyaman. Di mata Gathan, ia seharusnya hanyalah "anak dari pemilik rumah". Namun, jantung Dania berpacu setiap kali mata mereka bertemu. Ia takut Gathan bisa melihat menembus penyamarannya hanya dari sorot mata. Tak lama kemudian, pintu ruang gawat darurat terbuka. Seorang dokter dengan wajah lelah keluar sambil melepas maskernya. Dania segera menghambur maju, bahkan hampir tersandung kakinya sendiri. "Dokter! Bagaimana keadaan orang tua saya?" tanya Dania dengan suara bergetar. Dokter itu tersenyum tipis, sebuah isyarat yang membuat beban di dada Dania sedikit terangkat. "Keduanya sudah melewati masa kritis. Ayah Anda beruntung karena lukanya tidak mengenai organ vital, meskipun kehilangan banyak darah. Ibu Anda hanya mengalami syok dan benturan ringan. Mereka perlu istirahat total untuk beberapa jam ke depan." Dania mengembuskan napas lega yang sangat panjang, hingga bahunya merosot lemas. "Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak." Setelah dokter itu berpamitan, suasana koridor kembali sunyi. Dania membalikkan badan, mendapati Gathan masih di sana, berdiri perlahan dari kursi tunggunya. Dania mengernyitkan dahi. "Kenapa pria ini belum pergi?" pikirnya bingung. Padahal, urusannya menyelamatkan mereka tadi sudah selesai. Gathan bahkan yang memboncengnya dengan kecepatan gila menuju rumah sakit ini. Apa pria itu menunggu imbalan? Gathan melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa sangat dominan, membuat koridor rumah sakit yang luas itu mendadak terasa sesak bagi Dania. Pria itu berhenti tepat di depan Dania, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatap matanya. "Jadi, kamu yang Dania?" tanya Gathan. Suaranya rendah, berbeda dengan nada membentak yang biasa ia gunakan pada "Danie" di asrama. Ada semacam rasa ingin tahu yang tertahan di sana. Dania mengangguk kaku, berusaha mengatur detak jantungnya. "I-iya. Saya Dania. Terima kasih atas bantuan kamu tadi. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu tidak datang tepat waktu." Dania berusaha menjaga jarak. Ia tidak ingin Gathan mencium aroma sabun yang sama dengan yang dipakai Danie di asrama. "Kalau boleh saya tahu, bagaimana bisa kamu muncul di rumah saya tepat saat kejadian itu? Dan dari mana kamu tahu alamat rumah orang tua saya?" Gathan menatapnya lurus-lurus, seolah sedang mencari sesuatu di wajah Dania. "Om dan Tante yang menghubungiku lewat pesan singkat sebelum kejadian. Mereka bilang ada orang asing yang mengintai di depan rumah, dan mereka memintaku segera datang jika mereka tidak bisa dihubungi lagi." Dania ternganga. Matanya mengerjap tidak percaya. "Mama dan Papa yang menghubungi kamu? Sejak kapan Gat ..., maksud saya, sejak kapan kamu seakrab itu dengan orang tua saya?" Pikiran Dania berputar. Orang tuanya adalah orang-orang yang sangat tertutup. Bagaimana mungkin mereka punya kontak seorang mahasiswa seperti Gathan. Bahkan menjadikannya orang pertama yang dimintai tolong dalam keadaan darurat? Gathan menarik napas panjang, seolah sedang mempersiapkan diri untuk menjatuhkan bom yang lebih besar. Ia mengulurkan tangannya ke arah Dania. Tangan yang tadi menghajar tiga penjahat tanpa ampun. "Kalau begitu, izinkan saya memperkenalkan diri secara resmi," ucap Gathan dengan nada yang sangat formal. "Nama saya Gathan Zevanno. Calon suami kamu. Orang tua kita sudah menjodohkan kita sejak masih kecil. Saya rasa, kejadian tadi adalah bukti kalau saya memang harus menjagamu." DEG. Dania mematung. Suara bising rumah sakit mendadak hilang, digantikan oleh denging panjang di telinganya. Kalimat itu seperti menghantam harga dirinya. "C-calon apa?" Dania terbata, tenggorokannya mendadak kering kerontang. "Calon suami," ulang Gathan dengan penekanan yang sangat jelas. "Keluarga kita punya ikatan lama. Itulah alasan kenapa saya kuliah di kota ini dan ... yah, itulah alasan kenapa saya harus selalu memastikan kamu baik-baik saja." Dania menatap tangan Gathan yang masih terulur di depannya. Ia merasa seolah petir baru saja menyambar tepat di atas kepalanya. Calon suami? Teman sekamarnya yang menyebalkan, yang selalu memanggilnya "Cupu", yang sering memojokkannya ke tembok, adalah pria yang dijodohkan dengannya? Kenapa orang tuanya tidak pernah membicarakan hal ini? Yang lebih gila lagi, bagaimana nasib penyamarannya sebagai Danie, kalau calon suaminya sendiri tinggal satu kamar dengannya? Dania mundur selangkah, napasnya mulai tidak teratur. "Ini ... ini pasti salah paham. Tidak mungkin. Saya tidak pernah dengar soal perjodohan ini!" Gathan menurunkan tangannya, memasukkannya ke dalam saku celana sambil tersenyum miring. Senyuman itu membuat Dania ingin menghilang dari muka bumi. "Tanya saja pada ayahmu saat dia bangun nanti. Untuk sekarang, lebih baik kamu istirahat. Kamu terlihat sangat berantakan, Dania. Lalu suaramu, entah enapa terdengar sangat akrab di telingaku?" Dania tersentak, segera menutup mulutnya dengan tangan. Ia lupa menjaga nada bicaranya karena terlalu kaget. Tanpa membalas ucapan Gathan, Dania berbalik dan lari menuju toilet rumah sakit, meninggalkan Gathan yang berdiri menatap punggungnya. Di dalam toilet, Dania mengunci pintu dan bersandar di sana. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang kusam. "Gila. Ini benar-benar gila," bisiknya histeris. "Gimana caranya aku balik ke asrama Senin depan, kalau dia adalah calon suamiku?"Pria itu berdiri di sana, masih mengenakan jaket olahraga tim basketnya dengan tudung yang sengaja ditarik untuk menutupi rambutnya yang acak-akan. Napas Gathan tampak sedikit memburu, seolah-olah ia baru saja berlari cepat melintasi kompleks kampus yang luas dari gedung olahraga menuju fakultas bahasa hanya untuk mencari Dania.Wajahnya terlihat luar biasa tegang, dan matanya yang tajam langsung memindai tubuh Dania dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan bahwa juniornya itu tidak kurang satu apa pun."Gathan? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Dania setengah berbisik, matanya melirik cemas ke arah mahasiswa lain yang berjalan melewati mereka di koridor. "Bukannya kamu masih ada jadwal rapat evaluasi tim dengan Pelatih?"Gathan tidak langsung menjawab. Ia melepaskan cengkeramannya di lengan Dania, tapi matanya tetap menatap tajam. Mengunci pergerakan gadis di hadapannya."Aku sudah bilang padamu semalam, Danie. Jangan pergi ke mana-mana sendirian.""Aku kan cuma pergi ke kelas k
Sebelum Dania sempat memikirkan jawaban untuk menyelamatkan diri dari jebakan pertanyaan Revan, sebuah hantaman keras terdengar dari arah lapangan tengah.Brakkk!Bola basket melesat dengan kecepatan tinggi, menghantam papan pembatas di dekat meja dengan suara dentuman nyaring. Bola itu mamantul liar ke lantai, memotong pembicaraan antara Revan dan Dania secara paksa.Beberapa mahasiswa di tepi lapangan bahkan sampai tersentak kaget. Gathan berjalan mendekat dengan langkah tegap dan mengintimidasi. Napasnya memburu berat, dengan keringat yang membanjiri seluruh jersi hitam tanpa lengannya.Otot-otot tubuhnya tampak berkilat di bawah lampu aula olahraga. Sorot mata elangnya berkilat penuh permusuhan dan kemarahan yang tertahan saat melihat posisi Revan terlalu dekat, condong ke arah Dania."Revan, waktu istirahatmu sudah habis lima menit yang lalu," desis Gathan. Suaranya terdengar seperti geraman rendah seorang alfa yang wilayah kekuasaannya sedang diusik secara terang-terangan. "Kemb
Gathan yang baru saja hendak melangkah menuju tempat tidurnya seketika menghentikan pergerakannya. Kalimat pendek dari Danie seolah-olah menjadi pukulan telak yang menyinkronkan rasa takut di dalam kepalanya dengan realitas di depan mata.Pria itu membalikkan tubuh dengan cepat. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Danie yang kini terduduk lesu di pinggiran ranjang bawah. Ia memperhatikan detail penampilan juniornya itu. Napas yang masih tersengal, keringat dingin membasahi pelipis, dan kedua tangan meremas lututnya sendiri dengan erat."Diikuti?" Gathan mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan berbahaya.Ia berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tegapnya menenggelamkan sosok Danie yang rapuh. "Siapa? Sejak kapan?"Dania mendongak, sedikit terkejut dengan reaksi Gathan yang terkesan sangat intens, jauh lebih agresif daripada biasanya."A-aku tidak tahu pastinya. Sejak aku naik bus kota
Di kamar 302, Gathan sedang sendirian. Buku teks kuliahnya terbuka di atas meja, tapi fokusnya sama sekali tidak berada di sana.Biasanya, jam segini Danie sudah kembali dari kegiatannya, entah itu mengeluh panjang lebar karena ototnya yang pegal akibat latihan fisik, atau ribut sendiri mondar-mandir mencari catatan kuliah yang hilang di kolong ranjang. Namun, sore hari ini kamar terasa terlalu sunyi dan hampa.Tanpa sadar, Gathan melirik ke arah ranjang bawah yang kosong melompong. Meja belajar Danie di sudut ruangan juga tampak terlalu rapi. Tidak ada tumpukan buku yang berserakan, tidak ada botol minum yang tertinggal setengah penuh, atau barang-barang kecil yang biasa membuat matanya sakit.Pria itu mendecakkan lidahnya dengan gusar, menutup buku tebal di depannya dengan sentakan kasar."Berisik sekali kalau ada di kamar, tapi ternyata jauh lebih mengganggu kalau tidak ada," bisik Gathan dengan nada kesal yang tidak ia mengerti dari mana asalnya.Gathan mencoba mengabaikan perasaa
Dania berhasil berganti menjadi Danie dengan aman. Ia bahkan sempat merasa lega karena pertemuannya dengan Revan tadi hanyalah kebetulan yang menyebalkan. Untung saja ia bergerak cepat untuk menghindar sebelum pria bertanya macam-macam atau mencurigai sesuatu yang lebih jauh.Di dalam bilik toilet umum pom bensin yang letaknya beberapa blok dari rumahnya, seluruh atribut feminin itu kembali disimpan rapat ke dalam tas ransel abu-abunya. Wig panjangnya dilepas, digantikan topi hitam dan kacamata yang menjadi tameng andalannya selama ini. Bebat kain kasa kembali melilit dadanya dengan ketat, mengembalikan sosok Danie yang kikuk dan tampak ringkih.Karena ingin menghemat uang jajannya yang semakin menipis untuk ongkos taksi, ia memutuskan untuk naik bus kota menuju kampus. Sudah lama sekali ia tidak menaiki transportasi umum di jam-jam nanggung seperti ini. Suasana di dalam bus tidak terlalu padat, menyisakan deretan kursi kosong di bagian tengah dan belakang.Dania memilih duduk di deka
Perjalanan dari supermarket menuju rumah terasa begitu panjang karena pikiran Dania yang berkecamuk. Namun, begitu taksi berhenti di depan pagar rumahnya yang sederhana, seluruh rasa cemas itu perlahan luruh, digantikan oleh rasa hangat yang ia rindukan.Dania melangkah masuk ke halaman rumah. Suasana sepi yang sempat menyelimuti rumah ini selama orang tuanya dirawat di rumah sakit kini telah berganti. Pintu depan terbuka lebar, dan samar-samar aroma harum bumbu dapur yang ditumis tercium hingga ke teras. Aroma masakan rumahan yang sangat ia kenali."Mama? Papa?" panggil Dania setengah berlari memasuki ruang tengah.Seorang wanita paruh baya dengan celemek kain yang masih terikat di pinggangnya keluar dari arah dapur. Wajahnya kini terlihat jauh lebih segar dan bertenaga. Begitu melihat anak perempuan satu-satunya berdiri di sana dengan rambut panjangnya, senyum sang ibu langsung merekah."Dania! Jagoan Mama sudah pulang!" seru Bu Femmy, langsung menyambut Dania ke dalam pelukan hanga
Mesin motor meraung begitu Gathan memutar gasnya dalam-dalam. Lampu-lampu jalan kota melesat di sisi pandangannya menjadi garis-garis cahaya yang buram. Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di jalan raya malam ini.Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah untaian kata dari isi surat yang ba
Saat hendak berbalik untuk menutup pintu kamar tamu yang telah kosong itu, gerakan tangan Gathan mendadak terhenti. Sudut matanya menangkap sesuatu yang ganjil di atas meja rias berbingkai emas yang terletak di sudut ruangan.Sebuah lembaran kertas putih bersih tampak mencolok. Diletakkan tep
Pesan singkat di layar ponsel itu terasa seperti menyiramkan air es ke punggung Dania. Tangannya bergetar sedikit saat menggenggam benda persegi tersebut. Siapa yang mengirim pesan ini? Apa maksudnya Revan sedang mencari sesuatu tentang dirinya?Dania mencoba menenangkan detak jantungnya yang
Sesampainya di Kamar 302, Dania langsung mengunci pintu rapat-rapat. Ia bersandar di balik pintu kayu yang tebal, membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai yang dingin. Udara di dalam kamar terasa sunyi, sangat berbeda dari atmosfer panas GOR tadi.Dengan tangan yang gemetar akiba







