LOGINSetelah masuk ke kamar dan menutup pintu, Tasya melirik sekeliling. Dia sedang mencari di mana keberadaan lubang tikus?Lecy bersandar di jendela sembari berkata dengan tersenyum, “Meskipun nggak ada lubang, juga bakal ada tikus. Tikus akan menyusup saat nggak kelihatan orang, bisa jadi tikus masuknya dari jendela.”Tasya merasa agak putus asa. “Aku paling takut sama tikus. Kamar sewaanku juga pernah muncul tikus sekali. Entah dari mana asalnya?”Tatapan Lecy berkilauan. “Maksudmu, kamu tinggal di kos ketika di Kota Jembara?”Tasya mengangguk. “Iya!”Lecy mencoba untuk bertanya, “Kalau begitu, setelah kamu menikah dengan Bos Yandi, kamu juga nggak perlu sewa rumah lagi. Kulihat-lihat, sepertinya Bos Yandi cukup kaya.”“Dia?” Tasya menghela napas. “Sejak kapan dia punya uang? Cuma mobilnya saja yang sedikit bernilai. Meskipun dia menjual mobilnya, dia juga nggak sanggup untuk beli rumah. Rumah di Kota Jembara mahal sekali.”Lecy tersenyum. “Pokoknya, aku nggak akan menikah sebelum punya
Menjelang siang hari, kedua orang tua sedang pergi mempersiapkan makan siang. Lecy menarik Tora ke kamar untuk mengobati lukanya.Tasya memberi isyarat mata kepada Yandi. Mereka berdua pun keluar untuk mengobrol.Saat berada di halaman, Tasya berpikir sejenak, lalu berkata, “Aku merasa ada masalah dengan anggota Keluarga Torna.”Yandi mengangkat pandangannya untuk menatap Tasya. “Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?”Tasya merendahkan nada bicaranya. “Semalam, sebelum kita meninggalkan rumah ini, Tora sempat bertanya kapan kita akan berangkat? Kamu bilang kita akan kembali ke Kota Jembara sekarang.”Hanya saja, saat perjalanan pulang, terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan pegunungan. Jalanan sangat macet. Mereka pun terjebak macet selama satu jam. Setelah kembali ke kota, langit sudah gelap, dan mereka tidak kembali ke Kota Jembara.Hanya saja, di mata Keluarga Torna, mereka sudah pergi.Yandi menyipitkan matanya, “Ada yang mengira kita sudah pergi, jadi ingin mengambil kesempatan u
Suara Tora terdengar buru-buru. “Kak Yandi, pihak hotel yang melakukan pembongkaran datang lagi. Mereka bahkan datang dengan alat berat, katanya mereka ingin menghancurkan rumah kami! Apa yang terjadi? Bukannya sudah sepakat untuk tidak membongkar rumah kami? Kami belum tanda tangan surat perjanjian dan juga tidak setuju dengan apa pun, kenapa mereka tiba-tiba mau membongkar rumah kami?”Raut wajah Yandi menjadi dingin, begitu pula dengan tatapannya. “Aku akan segera ke sana. Kamu halangi orang-orang yang ingin melakukan pembongkaran dulu. Jaga dirimu dan juga anggota keluargamu!”“Oke!” balas Tora dengan panik, “Aku akan diskusikan dengan mereka lagi. Semoga saja aku bisa menghalangi mereka!”“Kamu mesti perhatikan keselamatan!”Setelah Yandi mengakhiri panggilan, Tasya baru bertanya dengan kaget, “Apa yang terjadi?”Yandi menceritakan kembali apa yang terjadi.Tasya juga merasa sangat aneh. “Bukannya semua sudah selesai semalam? Apa pihak lapangan belum menerima kabar?”Yandi mengend
Tasya melirik kemari. Dia menyadari pose tidur pria itu membuat hatinya bergetar, bahkan berdetak semakin kencang. Pria itu memang terlihat menawan di mata orang yang menyukainya!Tasya naik ke atas ranjang. Dia memejamkan matanya, kemudian melebarkan matanya lagi, lalu memalingkan kepalanya menatap orang yang dia sukai. “Bos Yandi, aku ingin dengar cerita!”Yandi mengangkat kelopak matanya, lalu memiringkan kepalanya untuk menatap Tasya. “Dengar cerita 229 mantan kekasihku?”Tasya memelototinya. “Kalau kamu berani menceritakannya, aku juga berani untuk mendengarnya!”“Oke!” Yandi duduk bersandar di atas ranjang. Dia terlihat sedang mengenang kembali. “Wanita pertama, aku dan dia ….”Tasya langsung menyusup ke dalam selimutnya dan menutupi kepalanya.Yandi pun tersenyum ketika menatap sosok Tasya yang menyembunyikan kepalanya seperti burung unta. Dia mengangkat tangannya untuk mematikan lampu.Hari kedua, Yandi membawa Tasya untuk menikmati pemandangan di Kota Owara. Tasya pun bermain
Tasya menatap Yandi dengan mata berkilauan. Beberapa saat kemudian, dia jadi terlihat kesal. “Justru karena aku bodoh, nggak mengerti apa-apa, makanya aku ingin tinggal di sini untuk menambah wawasanku dan belajar lebih banyak. Aku jamin aku nggak akan sembarangan petik barang lagi, oke?”Yandi menatap sosok malang Tasya. Pada akhirnya, dia pun luluh. “Gimana dengan pekerjaanmu?”“Minta cuti saja. Kebetulan aku baru menyelesaikan sebuah proyek. Oscar memang pernah bilang mau liburkan aku selama beberapa hari,” kata Tasya, “Tenang saja. Aku bukan tipe orang nggak bertanggung jawab. Pekerjaanku nggak akan terbengkalai.”Yandi juga tidak tenang untuk membiarkan Tasya pulang sendiri. “Dua hari ini kamu ikut aku saja. Jangan sendirian.”Akhirnya Tasya tersenyum. “Tenang saja. Aku malah ingin sekali bersamamu selama 24 jam.”Yandi hanya bisa terdiam. Dia tiba-tiba merasa curiga. Jangan-jangan Tasya sengaja ingin menggodanya? Dia bisa menggombal dengan mudah sekali!Namun, ketika melihat tata
Yandi langsung tersenyum sinis. Dia tentu saja tidak percaya. Dia mengambil pakaian dari lemari, lalu berkata dengan datar, “Kamu keluar!”Tasya tidak bersedia untuk berdiri. Dia bergumam, “Aku juga nggak akan ngintip. Sejak kapan aku begitu nggak tahu batasan? Kalau aku mau lihat, aku juga akan lihat secara terang-terangan!”Tasya berbicara sembari membuka pintu, berjalan ke sisi halaman.Yandi melihat bayangan punggung Tasya dengan sedikit emosi. Dia mandi dengan sangat cepat, hanya dalam hitungan beberapa menit. Setelah keluar dari kamar mandi, dia melihat ke sisi halaman, tetapi dia tidak bisa menemukan sosok Tasya.Kening Yandi sedikit berkerut. Dia berjalan ke sisi halaman dan menjerit, “Tasya!”Di luar sana ada sebuah kolam renang besar. Di tepi kolam berjajar payung matahari dan kursi santai untuk beristirahat. Di sekelilingnya hanya ada beberapa pohon hias, tidak ada apa pun lagi selain itu. Sebuah pagar besi hitam memisahkan area tersebut dari halaman kamar tamu di seberangny
Tiffany tidak bergerak. Pada akhirnya, bibirnya dibuka paksa oleh Bondan. Dalam ciuman panas si pria, Tiffany tidak sanggup merasakan apa pun, melainkan hanya teknik yang terampil saja. Sementara itu, ada juga suasana ambigu yang diam-diam menyebar di antara bibir dan lidah, membuat Tiffany spontan
Entah Theresia sanggup untuk menahan Morgan untuk tetap tinggal di sini atau tidak?Sonia melihat Jemmy sedang berjalan keluar ruang baca. Dia pun segera keluar dari pelukan Reza. “Kita kembali dulu!”Setelah kembali ke ruang tamu, semua orang kembali bersama-sama menyaksikan program acara televisi.
Jemmy menepuk-nepuk tangan Sonia. “Liburan Hari Raya sudah berlalu. Resepsi pernikahanmu dan Reza juga sudah seharusnya dipersiapkan. Jangan selalu memikirkanku. Kamu cukup lewati harimu bersama Reza dengan baik saja!”Sonia memiringkan kepalanya untuk bersandar di atas pundak Jemmy. “Kamu nggak usa
Di Kota Jembara.Pada siang hari menjelang malam Hari Raya, jalanan dihiasi dengan lampu dan dekorasi meriah. Setiap sudut kota dipenuhi keramaian dan suara tawa. Suasana Hari Raya terasa begitu hangat dan penuh suka cita.Sesuai tradisi keluarga yang biasa makan onde-onde saat malam Hari Raya, Devi







