LOGINTrois jours avant les fiançailles, Lucien Thomas m'a appelée : « Reportons notre cérémonie de fiançailles d'un mois. Ce jour-là, ce sera le premier concert de Lily Moreau après son retour en France, je ne peux pas ne pas y aller. » « Ce n'est qu'un report de fiançailles, rien de grave. » C'était la troisième fois qu'il a repoussé notre cérémonie de fiançailles cette année. La première fois, c'était parce que Lily avait eu une appendicite à l'étranger et avait été hospitalisée. Il avait dit qu'il devait aller s'occuper d'elle et il s'était précipité là-bas sans attendre. La deuxième fois, c'était parce que Lily avait dit qu'elle n'allait pas bien. Craignant qu'elle ne sombre dans la dépression, il avait immédiatement réservé un billet d'avion pour l'étranger. Et c'était la troisième fois. J'ai simplement répondu d'accord, j'ai raccroché puis je me suis tournée vers l'homme élégant et fier à mes côtés : « As-tu envie de m'épouser ? » Plus tard, lors du concert de Lily, Lucien l'a pourtant laissée sans hésiter et, les yeux rougis, il s'est précipité à ma cérémonie de fiançailles. « Léa Bernard, veux-tu vraiment te fiancer avec cet homme ? »
View MoreBab 1: Insiden
Ciiitt..!
Braakk..!
Hekal terjatuh bersama dengan motornya. Tubuh driver ojek online ini berguling dua kali di aspal sebelum kemudian berhenti dengan posisi terlentang. Ia melihat ke atas, gelap, malam hari menghadirkan gerimis, dan beberapa tetesnya membasahi wajah Hekal.
Sadar, Hekal tetap sadar. Maka cepat ia bangkit, berjalan ke arah motornya dan mendirikan motor itu untuk ia dorong ke tepi jalan.
“Sial!” Umpat Hekal dalam hati.
Apes sekali memang driver ojek ini. Sebuah mobil sedan yang keluar mendadak dari sebuah persimpangan telah menabrak dirinya.
Mobil sedan masih berhenti di tengah persimpangan, lampu hazardnya menyala, kuning berkedip-kedip kanan dan kiri. Disusul kemudian dengan keluarnya sang pengemudi, yang rupanya seorang wanita cantik berambut pendek dan berpostur proporsional.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya si wanita pengemudi dengan raut yang cemas.
“Tidak, Kak,” jawab Hekal dengan wajah yang memerah karena menahan amarah.
Ketika jatuh tadi Hekal merasakan sebuah benturan di bahu dan kepalanya. Namun syukurlah, ia memakai helm dan helmnya itu dalam keadaan terkunci. Lain dari itu, ia merasakan sedikit sakit di bagian engkel kaki sebelah kiri. Tidak apa-apa. Ia baik-baik saja.
“Syukurlah kalau tidak apa-apa,” sahut si wanita sembari melepaskan nafas yang lega.
Kemudian, tanpa diduga sama sekali oleh Hekal, wanita pengemudi itu malah membentak dirinya.
“Kamu ini bagaimana sih naik motor?? Main selonong saja!”
Hekal yang sudah sampai di tepi jalan serentak menoleh. Matanya mendelik, amarahnya terlepas dan mulutnya balas menyembur.
“Kamu yang seharusnya bagaimana! Nyetir mobil tidak pakai mata!”
“Hei..!” Wanita pengemudi memekik. “Kamu yang salah, kamu pula yang marah!”
Pertama tadi Hekal menyebut dengan panggilan ‘kakak’. Sekarang, ia merasa tidak perlu ‘kakak-kakakan’ lagi. Kamu!
“Kamuu..!” Tuding Hekal persis ke arah bola mata sang wanita. “Kamu yang salah!”
“Bagaimana pula aku yang salah?? Hahh?? Jelas-jelas kamu yang..,”
“Tunggu! Tunggu dulu!” Hekal mengangkat jari telunjuknya lagi di depan wajah sang wanita.
“Kalau kamu mau ribut sama saya tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, kamu parkirkan dulu mobil kamu, supaya tidak menghambat kendaraan yang lain!”
********
Mimpi apa Olive tadi malam sampai harus mengalami kejadian apes seperti ini? Belum lama ia memergoki pacarnya yang selingkuh, sekarang ia menabrak seorang pengendara motor yang tak tahu aturan. Driver ojek pula!
Ia menatap Hekal dengan sangat tajam, dibarengi juga dengan nafasnya yang memburu. Teringat pada pertengkarannya yang belum lama dengan Barry, mantan pacarnya itu, juga teringat pada egoisnya kebanyakan lelaki, ingin sekali Olive menampar mulut Hekal. Akan tetapi..,
Tiiiinn..! Suara klakson terdengar dari arah jalan. Cepat Olive menoleh. Ternyata ada beberapa mobil lain yang lajunya sedang terhambat oleh mobil Olive yang berhenti tepat di tengah persimpangan itu.
“Jangan kabur kamu ya!” Ancam Olive pada Hekal.
Sembari mendengus ia kembali menuju mobil dan mengendarainya menuju halaman sebuah ruko yang kosong. Hekal sudah berada di situ lebih dulu dan tampak sedang memeriksa motornya, tepat di teras toko. Rinai gerimis yang tipis tetap saja turun dari langit, dan terus ikut mewarnai pertengkaran mereka.
“Kamu ganti kerusakan mobilku!” Bentak Olive sekeluarnya dari mobil.
“Woi! Enak saja kamu ngomong!” Hekal bangkit dari jongkoknya. “Kamu yang seharusnya mengganti kerusakan motorku! Dan kamu sendiri yang harus mengganti kerusakan mobil kamu!”
“Hei..! Kamu tahu aturan tidak, sih??” Olive berkacak pinggang. “Kamu punya SIM tidak, sih??”
“Aku tahu aturan, dan aku punya SIM!” Hekal juga berkacak pinggang. “Maka sekarang jelas kan, kamu yang tidak tahu aturan, dan pasti kamu yang tidak punya SIM..!”
Dengan sedikit kasar Olive mendorong dada Hekal.
“Hei, Bro! Jangan sembarangan kamu bicara!”
“Hei, Sis!” Hekal ingin balas mendorong. Namun, sepersekian detik kemudian tangannya berhenti tepat di depan buah dada Olive. Hampir saja!
“Mulut kamu itu jangan sembarangan kalau ngomong!” Balas Hekal tak kalah sengit.
Olive semakin kesal saja. Emosinya sudah menyundul langit barangkali. Tangannya pun kini terangkat untuk menuding-nuding wajah Hekal.
“Egois sekali kamu di jalan umum, Bro! Kamu lihat tadi kan, dari jauh aku sudah memberi kode! Aku sudah menyalakan lampu dim beberapa kali! Kamu lihat itu, kan??”
Hekal pun semakin kesal saja. Amarahnya mungkin sudah menyundul langit yang kedua, lebih tinggi dari Olive tadi.
“Kamu yang egois, Sis! Kamuuu..! Kamu berada di jalan kecil, dan mau berbelok masuk ke jalan utama. Sementara aku yang berada di jalan utama dan lurus tidak berbelok. Maka prioritas jalan ada padaku, Sis..! Aku yang seharusnya duluan lewat!”
“Enak sekali kamu jadi laki-laki minta duluan! Aku yang duluan!”
“Enak sekali kamu jadi perempuan minta duluan! Aku yang duluan!”
“Tapi secara jarak aku yang lebih dekat dengan titik persimpangan!”
“Tapi secara hukum aku yang lebih dulu mendapat prioritas jalan!”
Hukum? Secara hukum?? Umpat Olive dalam hatinya. Tahu apa driver ojek ini tentang hukum?! Dirinya-lah yang paling tahu hukum! Karena dirinya-lah yang bekerja di bidang penegakan hukum! Hukum lalu lintas!
Olive semakin naik pitam ketika kemudian Hekal malah berkata-kata macam pengkhotbah.
“Kalau di Amerika sana, di setiap persimpangan semua orang wajib berhenti selama lima detik! Wajib! Ada ataupun tidak ada lampu merah, ada rambu ataupun tidak ada rambu, sekali lagi, waaaajib! Nah, kamu.., asal main tabrak saja, asal nyelonong saja!”
“Ini bukan di Amerika!” Bentak Olive.
“Iya! Bukan di Amerika! Tapi juga bukan di Wakanda!” Bentak Hekal pula.
“Lagi pula,” Hekal menyambung lagi dengan sinis. “Tadi aku tidak melihat ada nyala lampu tembak dari mobil kamu! Kamu tidak meng-kode! Kamu tidak menyalakan lampu dim! Kamu bahkan tidak menyalakan lampu sein!”
Menyusul pertengkaran yang terus saja sengit, ada beberapa orang dari warga sekitar yang mendekati Hekal dan Olive di teras toko. Dua atau tiga orang dari mereka hanya berkata-kata pelan, bertanya ini-itu dan berkomentar yang tidak perlu.
Sementara satu orang lainnya, yang tampak paling tua di antara mereka, menyarankan agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja.
“Aku tidak mau menjadi keluargamu!” Tuding Olive ke wajah Hekal.
“Aku juga tidak sudi jadi keluargamu!” Balas Hekal dengan tudingan pula.
“Sudah, sudah! Jangan ribut di sini kalian.” Potong lelaki tua. “Telepon polisi saja!”
“Cocok! Aku setuju!” Pekik Hekal merasa menang. Maka segera saja driver ojek online ini mengambil ponselnya dari saku celana, bermaksud menelepon polisi.
Ada pun Olive, aneh, sikapnya malah berubah menjadi kalem.
“Kalau kamu mau menelepon polisi, silahkan!” Kata Olive seraya melipat tangannya di depan dada, bersedekap dengan gesture-nya yang anteng dan jumawa.
“Akulah polisi itu!”
********
Les larmes ont coulé sur le visage de Lily, et elle m'a regardée avec haine, « C'est ta faute, Léa, entièrement ta faute ! »« Si ce n'était pas toi, Lucien m'aurait-il abandonnée ? Pourquoi t'es-tu interposée entre lui et moi ? Pourquoi ? »J'étais complètement impuissante, « Quoi ? Qui veut te le voler ? »« Un type comme Lucien, seule toi peux l'apprécier. Je t'en prie, pars avec lui et quitte ma vie, d'accord ? »Mais à ce moment, Lucien est apparu.Il avait probablement entendu que j'avais déménagé, alors il est venu ici.« Léa, Léa ! » Il a tenté de se précipiter vers moi, « Écoute-moi, d'accord ? Je n'ai plus aucune relation avec cette femme ! »Lily a crié entre ses dents, en pleurant : « Lucien, pourquoi fais-tu ça ? Je suis enceinte de ton enfant ! »« C'est ton enfant, veux-tu vraiment l'abandonner ? »Tout le monde est resté figé, et je n'ai pas pu m'empêcher de sourire froidement. « N'avais-tu pas dit que vous n'aviez aucune relation ? Comment peut-elle être enc
Mais je n'ai eu aucune envie de ménager ses sentiments, « Si tu ne lui avais pas donné sans cesse des occasions, est-ce qu'elle aurait osé venir m'humilier ouvertement ? »« Tu veux juste profiter du plaisir d'avoir deux femmes à la fois. À mes yeux, c'est toi le plus dégoûtant. »Lily a éclaté en sanglots, implorant : « Je suis désolée, désolée ! C'est ma faute, je n'aurais pas dû être là entre toi et Lucien, je pars tout de suite. »J'ai froncé les sourcils, agacée : « Si tu veux partir, pars vite, ça m'est complètement égal où tu vas. »« La famille des Moreau a décliné pendant trois générations, et avec toi, c'est la chute définitive. »« Tu ferais mieux de t'accrocher à Lucien, car personne d'autre ne voudra jamais t'épouser. »Elle est sortie en courant, rouge de honte et de colère.Lucien a essayé de s'accrocher à moi, mais Alex a ordonné à ses hommes de le mettre dehors après l'avoir frappé.Après la cérémonie de fiançailles, mes amies sont venues me féliciter et, dès q
Lorsqu'il est entré dans la salle de la cérémonie de fiançailles, j'étais en train d'échanger les bagues avec Alex.Lucien, les yeux rouges, s'est précipité devant moi et a saisi fermement ma main, « Léa, arrête de faire des histoires et rentre avec moi. »Alex a froncé les sourcils et l'a repoussé, « M. Thomas, je crois que je ne t'ai pas invité. »« Si tu veux semer le trouble, ne te plains pas si je ne suis pas gentil avec toi. »Les parents de Lucien ont été surpris, et sous tous ces regards, ne voulant pas perdre la face, ils l'ont tiré vers la sortie.« Qu'est-ce que tu fais ! Il y a tant de gens ici aujourd'hui, tu veux vraiment gâcher la cérémonie ? »Mais Lucien n'a pas écouté, il a obstinément voulu m'emmener avec lui.« Léa va se fiancer avec un autre homme, je ne suis pas d'accord ! »« Elle est ma fiancée, nous n'avons pas rompu, comment Alex peut-il être le fiancé de Léa ! »« Léa, avant que je me mette en colère, rentre vite avec moi ! »Lily, d'un air innocent
Alex, si jeune, a déjà pris la tête de la famille des Laurent.Son influence à Paris était immense, et sa cérémonie de fiançailles était d'une magnificence sans pareille.La cérémonie de fiançailles serait organisée dans le plus grand hôtel de Paris, et des personnes seraient engagées pour la retransmission en direct.Mes parents n'ont eu aucune objection, ils voulaient seulement attendre joyeusement que je me marie.Je savais qu'ils ont toujours eu des griefs envers Lucien, mais comme je m'étais entièrement consacrée à lui, ils ne l'avaient jamais réprimandé.Maintenant que j'ai rompu avec lui, ils n'ont plus rien eu à retenir.Ma mère a souri et a dit : « Tu t'en souviens ? Quand tu étais petite, tu suivais Alex en l'appelant grand frère. »« Cependant, depuis ton adolescence, tu es tombée amoureuse de ce garçon de la famille des Thomas. »« À l'époque, ton père et moi t'avions dit que ce garçon n'était pas honnête, mais tu n'as pas écouté. »« Mais maintenant, tout va bien,
Quelques jours plus tard, j'ai reçu un appel de Lucien, « Tu es encore en déplacement ? »« Dépêche-toi de rentrer, Lily a enfin retrouvé le pays. Elle veut voir tout le monde et elle a même dit qu'elle tenait à te rencontrer. »J'ai froncé les sourcils, « Mon travail n'est pas terminé. Allez-y sa
« Tu es sérieuse ? » L'homme à mes côtés a levé les yeux vers moi, « Après tout, vous êtes ensemble depuis tant d'années. »J'ai haussé les sourcils, « Je lui ai donné trois occasions, il n'en a saisi aucune. Peut-être qu'il ne m'aime pas tant que ça. »« Puisqu'il ne m'aime pas, pourquoi m'accroc
« Tss, M. Thomas a vraiment des moyens », ai-je souri doucement, « Cette couronne a été faite avec un saphir brut acheté il y a dix ans aux enchères par un aîné de la famille des Thomas. »« Cette couronne devrait être portée par la future belle-fille des Thomas. On dirait que Lucien t'aime vraimen
En un instant, tous les regards se sont tournés vers nous. Alex s'est tenu à mes côtés, sa haute silhouette d'un mètre quatre-vingt-dix dominant la salle, et il a imposé une pression écrasante.« Tu vas bien ? » m'a-t-il doucement demandé en m'attirant dans ses bras, « Il t'a blessée ? »« Non »,






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
reviews