Share

KSP - 5

Author: Azitung
last update publish date: 2026-07-21 20:31:53

Cahaya pagi menerobos masuk melalui jendela ruang makan, menyinari meja kayu panjang yang sudah dipenuhi hidangan sarapan.

Abim duduk tenang di kursinya sambil menikmati roti panggang, sementara Rehan sibuk membolak-balik koran bisnis dengan gundah.

Langkah kaki dengan ketukan tegas terdengar mendekat. Begitu Isyana muncul, Rehan seketika menurunkan korannya. Tatapannya melebar, menatap penampilan sang istri dari ujung rambut hingga ujung kaki. Isyana tidak mengenakan daster atau piyama seperti biasanya.

Pagi ini, wanita itu sudah tampil sangat rapi, mengenakan setelan blazer kerja sewarna marun yang elegan dan rambut yang tersanggul modern.

"Kau jadi ke kantor hari ini?" tanya Rehan, suaranya terdengar tidak suka, menyiratkan kecemasan yang tertahan.

Isyana menarik kursi di ujung meja, lalu duduk dengan keanggunan yang mutlak. Dia mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Tidak pernah sesiap ini, Mas."

Rehan meletakkan korannya kasar ke atas meja. Dia menatap Isyana lurus-lurus, mencoba mencari tanda-tanda kecurigaan di wajah istrinya sejak kejadian semalam.

"Kau tidak bertanya kemana aku pergi semalam?" pancing Rehan, nadanya sengaja dibuat seolah dia tidak menyembunyikan apa pun.

Isyana menghentikan gerakannya yang hendak menuangkan susu ke gelas Abim. Dia menatap Rehan sekilas, lalu menghela napas pelan dengan raut wajah yang sangat tenang. "Kupikir urusanmu semalam pastilah jauh lebih penting daripada urusan perusahaan."

Rehan berdeham pelan, jakunnya naik turun. Dia buru-buru menyusun kebohongannya yang sudah disiapkan sejak subuh tadi. "Ibu ingin makan di restoran langganannya. Beliau meneleponku mendadak semalam karena merasa kesepian, jadi aku terpaksa pergi ke sana dan pulang larut malam."

Isyana diam. Dia mengambil sendoknya dan mulai mengaduk teh hangat tanpa bersuara. Di dalam hatinya, sebuah tawa dingin menggema. 'Restoran langganan Ibu? Menginap karena kesepian? Kebohonganmu sangat menjijikkan, Rehan. Di saat kau sibuk memikirkan anak harammu yang demam di rumah sakit bersama Sinta, kau masih bisa membawa-bawa nama ibumu yang tidak tahu apa-apa.'

"Oh, begitu?" sahut Isyana singkat, nadanya begitu lempeng tanpa riak emosi.

"Ya. Jadi kau tidak perlu berpikiran yang aneh-aneh," tambah Rehan, mencoba memperkuat alibinya. Dia lalu beralih menatap Abim yang sedang mengunyah makanan. "Abim, hari ini kamu di antar sopir, ya? Ibumu ada urusan di luar."

Abim mendongak, menatap ibunya dengan mata bulatnya. "Ibu mau pergi lama?"

Isyana tersenyum manis, mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. "Ibu hanya pergi sebentar untuk menjemput masa depan kita, Sayang."

Rehan mengernyitkan dahi mendengarnya. "Menjemput masa depan apa maksudmu, Isyana? Jangan berlebihan di depan anak. Dan ingat, kau tidak perlu datang ke pertemuan dengan Arkana Group siang nanti. Biar aku yang menghandle dokumen finalnya."

Isyana menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu berdiri dari kursinya. Dia menatap Rehan dengan sorot mata sedingin es yang menyembunyikan badai besar.

"Karena aku yang men-dealkannya maka aku yang harus menandatanganinya, Mas. Pihak Arkana bahkan meminta jadwalnya dimajukan sepuluh menit lagi dari sekarang karena mereka sangat tidak sabar," ucap Isyana sambil menyambar tas branding-nya di sandaran kursi.

"Apa?! Kau mau menandatanganinya tanpa persetujuanku?!" Rehan ikut berdiri, wajahnya seketika memucat.

"Pilar Corporation adalah milikku, Rehan. Aku tidak butuh izin dari seorang pekerja untuk menyelamatkan asetku sendiri," bisik Isyana tepat di samping telinga Rehan, memberikan penekanan yang membuat bulu kuduk suaminya berdiri. "Nikmati sarapanmu. Aku pergi dulu."

Isyana melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Rehan yang mematung dengan rasa waswas yang mulai mencengkeram dadanya.

Rehan segera menyambar kunci mobilnya dan melangkah terburu-buru keluar rumah setelah berpura-pura menerima telepon dari ibunya. Isyana hanya menatap kepergian suaminya dengan senyuman tipis yang sarat akan cemoohan.

Pria itu begitu tergesa-gesa menemui selingkuhannya di rumah sakit sampai harus mengarang drama murahan.

Isyana kemudian berbalik menatap putra semata wayangnya yang baru saja menyelesaikan sarapannya. "Abim, habiskan susumu, Nak. Mama yang akan mengantarmu ke sekolah hari ini."

Abim mendongak, matanya yang bulat berbinar kaget sekaligus lega. "Lho, Mama tetap antar Abim? Abim pikir, karena Mama mulai kerja ke kantor lagi, Mama tidak akan sempat mengantar Abim seperti biasanya."

Isyana tersenyum lembut, merapikan kerah seragam Abim. "Sesibuk apa pun Mama, mengantar Abim ke sekolah adalah prioritas utama Mama. Ayo, kita berangkat sekarang."

Beberapa menit kemudian, sedan mewah Isyana sudah membelah jalanan kota yang mulai padat. Di dalam mobil, suasana sempat hening sebelum Abim yang duduk di samping kemudi memutar tubuhnya menghadap Isyana.

"Mama," panggil Abim pelan.

"Ya, Sayang? Ada apa?" tanya Isyana lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

"Semalam... Abim belum benar-benar tidur saat Papa pulang." Abim menunduk, memainkan ujung ritsleting tas sekolahnya dengan ragu. "Abim dengar Papa marah-marah sangat keras pada Mama di ruang tamu."

Isyana sedikit terkejut, namun dia dengan cepat menguasai dirinya kembali. "Oh ya? Abim mendengar suara Papa semalam?"

"Iya, Ma. Kamar Abim kan dekat tangga. Abim mendengar Papa berteriak menanyakan kenapa Mama pergi ke kantor dan menemui orang-orang kantor. Papa kedengaran sangat menyeramkan, padahal Mama hanya duduk tenang di sofa," ucap Abim dengan nada khawatir yang begitu polos. "Kenapa Papa harus semarah itu pada Mama? Padahal Mama kan hebat bisa membantu perusahaan."

Hati Isyana berdenyut nyeri mendengar penuturan tulus putranya. Di usia yang baru sepuluh tahun, Abim harus menyaksikan keegoisan ayahnya yang mencoba menekan ibunya sendiri. Isyana mengulurkan tangan kirinya, mengusap lembut puncak kepala Abim untuk menenangkannya.

"Tidak apa-apa, Sayang. Papa hanya sedang lelah dan stres karena pekerjaannya di kantor. Jangan dipikirkan, ya?"

"Tapi Abim tidak suka kalau Papa membentak Mama," sela Abim cepat, matanya mulai berkaca-kaca saat menatap Isyana. "Papa sekarang juga jarang sekali di rumah. Setiap kali di rumah, Papa selalu sibuk dengan ponselnya atau pergi lagi karena urusan pekerjaan. Abim sering mendengar Papa menyebut nama Tante Sinta saat menelepon di ruang kerja."

Mendengar nama wanita itu keluar dari mulut putranya, cengkeraman Isyana pada kemudi seketika mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Kebencian di dadanya semakin membara, namun dia tetap menjaga suaranya agar terdengar selembut mungkin di depan sang anak.

"Papa sering menyebut nama Tante Sinta, Nak?"

"Iya, Ma. Papa bilang Tante Sinta sedang butuh bantuan ini-itu. Abim kesal karena Papa lebih sering mengurus pekerjaan dan orang lain daripada menemani Abim bermain bola. Abim... Abim takut kalau Papa tidak sayang lagi pada kita," gumam bocah itu dengan suara yang mulai bergetar.

Isyana segera menepikan mobilnya di bahu jalan yang aman, tidak jauh dari gerbang sekolah Abim. Dia melepas sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya untuk merengkuh tubuh mungil Abim ke dalam pelukannya. Dia mendekap putranya dengan erat, menyalurkan seluruh kekuatan yang dia miliki.

"Dengar Mama, Abim," bisik Isyana di dekat telinga anaknya, menahan air matanya agar tidak tumpah. "Apa pun yang terjadi nanti, siapa pun yang pergi atau tinggal, Mama berjanji tidak akan pernah meninggalkan Abim. Mama akan selalu ada di sampingmu, melindungi Abim, dan memastikan masa depanmu tetap aman. Abim percaya sama Mama, kan?"

Abim melepaskan pelukan ibunya perlahan, lalu mengangguk mantap sambil menghapus setitik air mata di sudut matanya. "Abim percaya sama Mama. Mama adalah mama paling hebat di dunia. Abim berjanji akan belajar yang rajin agar bisa menjaga Mama nanti."

Isyana tersenyum manis, mencium kening putranya dengan penuh kasih sayang. "Pintar sekali anak Mama. Sekarang, masuklah ke kelas. Belajar yang giat, ya."

"Siap, Kapten! Abim masuk sekolah dulu, Mama!" pamit Abim kembali ceria, mencium punggung tangan Isyana sebelum turun dari mobil dan berlari menuju gerbang sekolah.

Menatap punggung kecil putranya yang mulai menjauh di antara kerumunan siswa lainnya, senyum hangat di wajah Isyana perlahan memudar.

Ekspresinya berubah drastis menjadi sedingin es, memancarkan aura ketangguhan seorang wanita yang siap menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

"Kau bahkan berani membuat anakmu sendiri merasa tidak diinginkan demi anak harammu itu, Rehan," desis Isyana dengan suara yang sangat tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Kau tidak hanya mengkhianati pernikahan kita, tapi kau juga sudah melukai hati putraku. Aku pastikan, setelah ini kau tidak akan punya sisa apa pun untuk disombongkan di depan selingkuhanmu."

Isyana kembali mengenakan sabuk pengamannya, menginjak pedal gas, dan melajukan sedan mewahnya menuju kantor Arkana Group untuk memulai babak pertama dari kehancuran suaminya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 12

    Amara menggeleng-gelengkan kepalanya, perlahan rasa syoknya berubah menjadi kekaguman yang luar biasa pada sahabatnya. "Jadi karena itu kamu bergerak secepat kilat pagi ini? Luar biasa. Lalu, apa Rehan sudah tahu kalau kamu tahu soal anak itu?""Tidak," Isyana menyesap jus jeruknya perlahan, lalu menatap Amara dengan kilat mata yang mematikan. "Tadi dia datang kelabakan ke ruanganku, mengamuk karena rekeningnya dibekukan. Dia mengira aku hanya tahu soal kelakuan ibunya dan masalah anggaran kantor. Aku sengaja menyembunyikan kartu as soal Sinta dan Rosy agar dia merasa di atas angin dalam ketidaktahuannya. Biarkan dia panik dengan urusan keuangan dan pemecatan adiknya dulu."Amara mengepalkan tangannya di atas meja, ikut merasakan kepedihan sekaligus amarah sahabatnya. "Lalu, apa langkah kita selanjutnya, Isyana? Sebagai pengacaramu, aku sudah merapikan semua dokumen kepemilikan saham dan aset pribadimu sejak beberapa bulan lalu. Kapan kita layangkan gugatan cerai?"Isyana menatap Amar

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 11

    "Kantor ini berdiri di atas tanah keluargaku, dibangun dengan modal penuh dari asetku, dan 70 persen sahamnya adalah milikku mutlak," Isyana menegakkan punggungnya, menatap Tio dengan sorot mata yang membuat pemuda itu mendadak ciut. "Dua tahun kamu menikmati posisi manajer tanpa kualifikasi yang jelas, hanya mengandalkan nepotisme kakakmu, dan berani memotong anggaran staf bawah untuk gaya hidupmu. Hari ini, semuanya berakhir."Isyana menggeser sebuah dokumen bermaterai ke ujung meja."Ini surat pemecatanmu secara tidak hormat. Dan Bagito sudah menyiapkan rincian pengembalian dana 1,2 miliar yang kamu selewengkan. Jika dalam waktu tiga hari uang itu tidak kembali ke kas perusahaan, Hendy akan langsung menyerahkan berkas ini ke kepolisian atas tuduhan penggelapan dalam jabatan.""Mbak Isyana!! Kau keterlaluan!! Aku ini adik suamimu!!" teriak Tio frustrasi, wajahnya memerah padam karena terkejut dan malu."Di dalam perusahaan ini, kamu hanya seorang karyawan yang tertangkap tangan menc

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 10

    Kau pikir aku bodoh, Mas?" Isyana bangkit dari kursinya, membuat tinggi mereka kini sejajar. Aura dominan Isyana seketika mengintimidasi Rehan, menekan pria itu hingga mundur setengah langkah. "Sepuluh tahun aku di rumah, bukan berarti otakku tumpul. Aku tahu setiap sen uang yang keluar dari perusahaan ini. Aku tahu kau menggunakan uangku untuk membiayai semua keluargamu bahkan sepupu-sepupumu, memanjakan mereka, dan memberi ibumu yang tidak pernah merasa cukup itu."Rehan membelalakkan matanya, rasa muak dan benci mendadak memenuhi dadanya melihat wajah Isyana yang begitu tenang tanpa cela.Dadanya sedikit lega karena Isyana tidak mengetahui tentang Sinta."Kau memata-mataiku?! Menjijikkan sekali kelakuanmu, Isyana! Kau wanita berhati batu! Ibu sedang sakit di rumah sakit, dan kau dengan teganya memotong biaya pengobatannya hanya karena egomu yang terluka?!"Isyana tidak marah mendengar makian itu. Di dalam hatinya, dia justru sedang bersorak sorai merayakan kemenangan babak pertama.

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 9

    Rehan menutup panggilan telepon dari Bagito, dengan tangan yang bergetar hebat.Ponsel di genggamannya hampir saja lolos dari jemari yang mendadak mati rasa. Wajahnya yang semula kemerahan penuh keangkuhan kini berubah pucat pasi, bagai mayat hidup."Rehan, kamu kenapa? Siapa yang menelepon? Kenapa wajahmu jadi seperti itu?" Ibu Rehan bangkit dari sofa, melangkah mendekati putranya dengan raut cemas.Sisil yang baru saja kembali setelah membayar kurir makanan langsung meletakkan kantong plastik di meja. "Iya, Rehan. Uangku sudah terpakai dua juta. Mana transferannya? Kok belum masuk ke rekeningku?"Rehan menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap ibunya, Sisil, dan Sinta bergantian dengan pandangan kosong."Semua rekeningku... dibekukan.""Apa?!" Sisil berteriak histeris. "Dibekukan bagaimana? Jangan bercanda, Rehan! Kamu kan bos di Pilar Corporation!""Ini pasti ulah Isyana," desis Rehan, suaranya parau penuh amarah yang mulai membakar dadanya. "Manager keuangan baru saja bilang,

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 8

    Ibu Rehan langsung menggenggam tangan Sinta dengan erat. "Jangan bicara begitu, Sinta. Kamu itu menantu idaman Ibu yang sebenarnya. Ramah, tahu cara menyenangkan suami, dan sudah memberi Rehan anak perempuan yang cantik. Ibu pasti akan membantumu mendapatkan posisi yang seharusnya. Biarkan saja Isyana mendekam di rumah besarnya itu sampai Rehan berhasil mengalihkan semua saham perusahaan atas namanya. Setelah itu, kita tendang dia keluar."Rehan tersenyum puas mendengar dukungan keluarganya. Dia merasa langkahnya sudah sangat tepat. Dia mendekati ranjang, mengecup kening Rosy yang mulai terlelap."Kalian tenang saja. Taktik pengalihan aset sudah berjalan. Sinta juga rutin menerima suntikan dana operasional bulanan lewat kontrak fiktif yang kubuat. Isyana yang bodoh itu tidak akan pernah menyadarinya.""Baguslah kalau begitu," Sisil menimpali sambil meregangkan tubuhnya. "Oh ya, Rehan. Perutku sudah keroncongan dari tadi. Ibu juga belum makan siang, kan? Sinta pasti lapar karena menjag

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 7

    Rani ikut melirik ke arah Tio, lalu menghela napas pendek dengan wajah serba salah, seolah takut salah bicara. "Oh, itu... itu Pak Tio, Ibu. Beliau menjabat sebagai Manajer Operasional di divisi ini.""Manajer Operasional?" Isyana menaikkan sebelah alisnya, nadanya terdengar datar namun menuntut penjelasan. "Setahu saya, posisi itu membutuhkan kualifikasi tinggi dan pengalaman minimal lima tahun. Kapan dia mulai bergabung?""Beliau sudah bekerja di sini sekitar dua tahun, Ibu," jawab Rani dengan suara yang sengaja diperkecil. "Tepat setelah lulus kuliah, Pak Rehan langsung membawa beliau masuk dan menempatkannya di posisi manajer. Seluruh keputusan operasional tingkat bawah harus melalui persetujuan beliau."Isyana membatin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang sangat tipis. 'Luar biasa. Dua tahun lalu, saat aku sibuk merawat Abim yang sedang sakit sakitan, Rehan diam-diam memasukkan adiknya sendiri dan memberinya jabatan empuk. Pantas saja laporan efisiensi operasi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status