INICIAR SESIÓNWaktu berlalu tanpa suara, tak terasa tiga tahun pun telah berlalu.Malam itu kembali sunyi.Shane menyelesaikan dokumen terakhirnya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.Anak-anak sudah tidur dan Inah pun sudah beristirahat. Vila yang begitu besar ini terasa kosong, begitu sunyi hingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Dia berjalan ke arah lemari pajangan botol minuman, lalu menuangkan segelas wiski tanpa tambahan es batu, dan meneguknya hingga habis dalam sekali tenggak.Cairan pekat yang menyengat itu melewati tenggorokannya, tetapi sama sekali tidak mampu menghangatkan rongga dadanya yang sedingin es.Dia menyalakan televisi, mengganti saluran dengan tak tentu, hanya demi mengusir kesunyian yang terasa begitu menggerogoti jiwanya ini.Salah satu saluran internasional kebetulan sedang menyiarkan secara langsung sebuah upacara penghargaan.Para pria dan wanita berpakaian formal mewah, lampu kristal yang berkilauan, serta gemuruh tepuk tangan yang meriah. Shane meras
Dia menangis hingga sekujur tubuhnya terguncang hebat. Beberapa kali dia jatuh pingsan akibat sesak napas dan rasa sakit yang teramat sangat, tetapi tim medis yang ikut serta selalu memaksanya sadar kembali.Setiap kali tersadar, dia akan kembali mendekap jasad itu dan menggumamkan namanya berulang kali. Sorot matanya kosong, seolah jiwanya telah direnggut pergi, menyisakan seonggok raga yang hanya tahu cara menangis.Pada akhirnya, di bawah tekanan ganda dari tim penyelamat dan situasi keamanan yang kian memburuk, dia disuntik obat penenang secara paksa oleh para pengawal dan dokter. Tubuhnya diseret menjauh dari jasad wanita itu, lalu dibawa pergi meninggalkan tepian sungai.Sebelum beranjak, dia menggenggam erat-erat kartu pers yang sudah hancur itu, seolah sedang mencengkeram secuil angan semu terakhir yang tersisa.Di dalam pesawat perjalanan pulang ke tanah air, dia diam layaknya patung kayu. Tangannya menggenggam erat kantong barang bukti transparan yang berisi kartu pers terseb
Pesawat pribadi itu kembali lepas landas, menembus lapisan awan menuju tempat yang telah menelan seluruh harapannya.Kali ini, dia membawa tim medis terbaik dan tim penyelamat paling profesional tanpa memedulikan berapa pun biayanya.Begitu kembali menginjakkan kaki di tanah Ivia, situasi perang di sana tampaknya terasa jauh lebih sengit daripada sebelumnya.Shane sama sekali tidak mendengarkan bujukan apa pun. Tanpa memedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, dia memimpin sendiri timnya menuju lokasi kejadian.Medan yang mereka lalui adalah jalanan gunung yang terjal, dengan jurang curam di salah satu sisinya. Bekas kendaraan yang jatuh ke jurang terlihat sangat jelas. Mulai dari tanaman yang hangus terbakar, bagian mobil yang berserakan, hingga bekas seretan yang mengerikan di tepi jurang serta genangan darah berwarna cokelat tua yang telah mengering.Shane berdiri di tepi jurang, menatap dasar lembah sungai di bawah sana yang begitu dalam dan diselimuti kabut tebal. Dia seke
Hari-hari berikutnya, Shane membagi fokusnya. Di satu sisi dia menenangkan anak-anaknya yang trauma, di sisi lain dia menggunakan tindakan tegas tanpa ampun untuk mengurus Helen.Dia tidak hanya menyerahkan bukti penganiayaan anak yang dilakukan Helen, tetapi juga menggunakan relasinya untuk membongkar habis seluruh kelicikannya di masa lalu. Termasuk bagaimana dulu Helen mengatur sandiwara untuk menjebak Geisha, serta bagaimana dia menyuap akun-akun gosip. Semua bukti itu dikorek tuntas dan dikirimkan ke pihak yang berwenang.Helen akhirnya dijebloskan ke penjara atas berbagai dakwaan. Reputasinya hancur total dan hari-hari yang akan dilewatinya di penjara dipastikan tidak akan pernah mudah.Akan tetapi, setelah menuntaskan semua itu, hati Shane tidak merasa lega sedikit pun.Setiap hari, dia selalu mencoba menghubungi nomor telepon satelit Geisha yang diberikan oleh kantor berita tempatnya bekerja, meski yang terdengar di seberang sana hanya nada sibuk yang tak pernah tersambung.Sha
Begitu Shane melihat video tersebut, seluruh darahnya serasa langsung naik ke ubun-ubun. Tubuhnya bergetar hebat akibat amarah yang mencapai puncak, tinjunya terkepal kuat hingga berbunyi gemeretak, dan urat-urat biru menonjol tegas di punggung tangannya."Helen!" Dia mendesiskan nama itu dari sela-sela giginya, dengan pancaran niat membunuh yang mengerikan di matanya."Di mana dia?" Suaranya terdengar sedingin es."Di atas ... di kamar Anda. Dia bilang mulai sekarang itu akan jadi kamarnya," ucap Inah sambil menangis.Shane tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbalik, melangkah lebar menaiki tangga, lalu mendobrak kasar pintu kamar utama.Helen tengah mengenakan jubah tidur sutra milik Geisha, berbaring di atas ranjang besar yang dulu sering mereka tempati bersama sambil asyik memakai masker wajah dan membalik-balik halaman majalah mode di tangannya.Begitu melihat Shane, dia sempat terkejut, tetapi sedetik kemudian raut wajahnya langsung berganti menjadi penuh kegembiraan. Dia m
"Jangan, Geisha. Jangan pergi. Aku mohon .... Kembalilah."Shane mengulurkan tangannya dengan sia-sia ke arah pintu yang kini telah kosong, sementara tenggorokannya terus mengeluarkan rintihan pilu yang terputus-putus.Rasa sakit yang luar biasa di dadanya mendadak datang menerjang bak ombak yang menggulung dahsyat. Itu bukan lagi sekadar rasa sakit akibat luka tembak, tetapi lebih seperti jantungnya yang direnggut paksa hidup-hidup, menyisakan lubang kosong yang menganga dan berdarah.Dia tidak mampu lagi bertahan. Shane menyemburkan seteguk darah segar, lalu pandangan matanya benar-benar gelap total.Alat monitor medis mengeluarkan suara alarm peringatan yang jauh lebih melengking dan memekakkan telinga.Dokter dan perawat langsung masuk ke dalam ruangan."Emosi pasien terlalu nggak stabil hingga luka jahitnya kembali terbuka dan berdarah! Cepat! Siapkan penanganan darurat!"Di tengah kekacauan itu, kesadaran terakhir yang tersisa di benak Shane adalah sepasang mata dingin wanita itu
Bunuh diri?Geisha mengangkat kepalanya perlahan, menatap pria yang sedang mengamuk di hadapannya. Dia hanya merasa semua ini sangatlah tidak masuk akal dan begitu menggelikan.Sudut bibir Geisha sedikit terangkat, suaranya terdengar begitu tenang tanpa riak emosi sedikit pun. "Pertama, aku nggak me
Dua orang pengawal masuk setelah mendengar perintah, lalu melangkah ke arah Geisha dengan wajah tanpa ekspresi.Geisha meronta sekuat tenaga, tetapi perlawanannya sia-sia. Dia hanya bisa pasrah membiarkan kedua pengawal itu menyeretnya keluar dari kamar.Ruang isolasi itu terletak di ruang bawah tan
Begitu melihat wajah Geisha yang segera berubah menjadi biru keunguan disertai napas yang terengah-engah, kedua anak itu tampak ketakutan. Mereka mendadak melepaskan cengkeraman tangan mereka, membuang saputangan itu, lalu berlari keluar kamar dengan panik."Uhuk, uhuk!" Geisha terbatuk hebat. Dia m
Di seberang telepon, pria itu jelas langsung tertegun sejenak. "Wartawan perang? Geisha, kenapa tiba-tiba .... Di sana itu bahaya sekali! Banyak baku tembak, kondisinya juga serba terbatas, apalagi kamu seorang perempuan.""Itu impianku waktu kuliah dulu," sahut Geisha lirih. "Hanya saja setelah itu







