共有

Bab 6

作者: Darrel Gilvano
Berlutut? Laura memucat ketakutan melihat beling di lantai. Air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. Dia mengenakan rok pendek, pasti akan sakit sekali jika berlutut di atas beling.

Di tengah kepanikan Laura, Sabrina yang mendengar suara keributan membuka pintu dan masuk lagi. Dia tersenyum dan bertanya, "Felix, kenapa kamu marah-marah?"

Felix menunjuk orang-orang di ruangan, menggertakkan gigi sambil berucap marah, "Kak Sabrina, aku bersedia datang untuk menghormatimu. Tapi, Laura malah meminta maaf dengan anggur palsu!"

Anggur palsu? Sabrina mengernyit, lalu meraih gelas anggur terdekat dan menyesapnya. Dalam sekejap, ekspresinya juga berubah muram.

Laura yang ketakutan buru-buru melempar tatapan meminta tolong pada Sabrina. Namun, bos kelab itu malah berkata, "Masalah ini harus kalian selesaikan sendiri."

Sabrina menggeleng tanpa daya, lalu menepuk-nepuk bahu Felix dan berkata, "Kamu tahu aturan di sini. Kamu atur sendiri gimana baiknya!"

Usai berkata demikian, Sabrina langsung melangkah pergi. Dia sudah membantu Laura memanggil Felix, tetapi Laura malah mengacau lagi. Siapa yang bisa disalahkan di sini?

Sambil memandangi kepergian Sabrina, wajah Felix berkedut pelan. Dia ingin sekali bertindak kejam untuk memberi Laura pelajaran. Namun, dia tidak berani.

Perselisihan memang dibolehkan, tetapi tidak boleh ada pertumpahan darah, apalagi sampai ada korban nyawa! Itu adalah aturan di kelab Sabrina.

Sosok Sabrina tidak sesederhana yang ditunjukkannya. Ayahnya, Broto, bahkan berulang kali memperingatkannya supaya tidak memprovokasi wanita itu.

"Laura, aku tunggu kamu di luar. Jangan sampai kamu memaksaku menyuruh seseorang untuk menjemputmu!" ujar Felix sambil menatap tajam ke arah Laura. Usai melontarkan ancaman, dia berderap pergi meninggalkan ruangan.

Gugup dan panik, Laura langsung memohon dengan nada tercekat pada Rafael, "Rafael, cepat telepon ayahmu, minta dia membantuku ...."

Sekarang Sabrina tidak lagi bisa membantu. Satu-satunya harapan Laura adalah ayah Rafael.

Perut Rafael terasa melilit. Saat ini, dia saja takut akan terlibat masalah, bagaimana dia bisa melindungi Laura? Namun, dia benar-benar tidak ingin mengaku bahwa dia tadi hanya sedang cakap besar.

Perkara anggur palsu itu saja sudah membuat Rafael sangat malu. Jika yang lain sampai tahu bahwa kedekatan ayahnya dengan Broto hanyalah karangan semata, dia pasti akan menjadi bahan lelucon di lingkaran sosialnya.

"Aku coba dulu," ujar Rafael dengan terpaksa. Dia beringsut menjauh sambil membawa ponselnya, berpura-pura akan meminta bantuan padahal dia sama sekali tidak menelepon.

Sesaat kemudian, Rafael kembali dan berkata dengan ekspresi putus asa, "Ponsel ayahku mati ...."

Mendengar itu, Laura langsung jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Air mata mengalir deras di pipinya.

Rafael ragu-ragu sejenak, lalu berbisik pelan, "Laura, nggak ada pilihan lain. Untuk saat ini, turuti saja permintaan Felix. Nanti aku akan mengantarmu ke rumah sakit."

"Rafael, gimana kamu bisa berkata seperti itu!" bentak Melisa.

"Kita punya pilihan apa lagi sekarang? Kamu kira aku nggak kasihan pada Laura?" Rafael memelototi Melisa dan melanjutkan, "Kalian lihat sendiri, Felix lagi marah besar. Kalau kita membuatnya menunggu lebih lama, amarahnya akan bertambah besar. Saat itu, Laura hanya akan makin menderita."

Jika Felix menunggu lebih lama, bukan tidak mungkin mereka juga akan terciprat api amarahnya.

"Rafael ada benarnya!"

"Laura, kamu tahanlah sebentar!"

Mendengar ucapan Rafael, kedua orang lainnya pun menimpali setuju.

"Apa kalian masih punya perasaan?" hardik Melisa, tetap membela sahabatnya. Dia memelototi semua orang dengan marah.

"Apa yang salah dengan kami? Bukannya kami berkata begitu juga demi kebaikan Laura?"

"Iya, betul! Orang bijak akan menghindari konflik yang nggak perlu!"

"Kalau kamu memang begitu peduli pada Laura, kenapa kamu nggak berlutut menggantikannya?"

Orang-orang itu membalas perkataan Melisa tanpa mau kalah. Mendengar itu, Melisa marah sekali dan langsung mengentakkan kakinya.

"Sudah, nggak usah bertengkar! Aku akan berlutut!" seru Laura sambil menahan tangis. Kakinya melangkah keluar dengan gemetar.

Melisa yang peka bergegas mendekat dan menopangnya.

Melihat Laura seperti ini, Jimmy tak kuasa menahan diri untuk mengumpat dalam hati. Sejak awal dia sudah bilang bahwa anggur itu palsu, tetapi wanita itu tidak mau percaya! Lihatlah, sekarang begitu timbul masalah, mengapa dia tidak melihat teman-teman Laura membelanya?

Masih sambil mengumpat dalam hati, Jimmy diam-diam membuat keputusan. Dia akan melimpahkan kesalahan pada Rafael, bajingan sok hebat itu terlebih dahulu. Jika itu tidak berhasil, dia terpaksa akan maju melawan.

Setiap tahun, perusahaan mengundang para veteran untuk melatih mereka beberapa teknik dasar bela diri. Prestasi Jimmy cukup baik dalam pelatihan dan kondisi fisiknya juga bagus. Semoga saja dia benar-benar bisa mengatasi Felix. Bagaimanapun, Jimmy tidak mungkin membiarkan seorang wanita berlutut di atas beling, bukan?

"Jangan takut, setelah amarah Felix reda, aku akan segera mengantarmu ke rumah sakit ...," hibur Rafael sambil berjalan di belakang Laura.

Saat mereka keluar, Felix sudah menunggu bersama beberapa orang. Jelas, dia tidak bodoh. Dia sudah menyuruh anak buahnya berjaga agar mereka tidak bisa kabur. Di luar, beling dari botol anggur berserakan di mana-mana.

"Apa yang Laura lakukan hingga menyinggung Felix?"

"Kudengar Laura meminta maaf pada Felix dengan anggur palsu, tapi ketahuan waktu Felix mencicipinya."

"Gila! Apa dia sudah bosah hidup? Mau minta maaf pada Felix, tapi berani pakai anggur palsu?"

"Itu sih bukan permintaan maaf, tapi penghinaan!"

Orang-orang yang melihat keramaian asyik berkomentar. Tatapan mata mereka tanpa sadar tertuju pada lutut Laura.

Kaki Laura sangat indah, sungguh tidak membosankan meski dipandangi terus. Sayang sekali, kaki itu akan segera terluka.

"Berlutut di situ!" perintah Felix dengan marah sambil menunjuk beling di tanah.

Kaki Laura terasa lemas, hampir tidak mampu menopang tubuhnya. Bahkan sebelum berlutut, dia sudah bisa merasakan sakit yang tajam.

"Tunggu sebentar!" seru Jimmy untuk menghentikan Felix. Dia lalu menunjuk ke arah Rafael. "Dialah yang membawa anggur palsu itu, masalah ini nggak ada hubungannya dengan kami. Kalau ada yang harus berlutut, dia orangnya!"

"Kamu pikir siapa dirimu? Kamu berani menguliahiku?" bentak Felix dengan raut dingin, mengabaikan poin utama perkataan Jimmy.

"Felix, dia hanya seorang satpam di perusahaan Laura," ujar Rafael, berjalan mendekat sambil melirik Jimmy dengan tatapan tidak bersahabat.

"Bagus, hebat sekali! Keluarga Sucipto benar-benar patut diacungi jempol. Seorang satpam nggak berguna pun berani menguliahku?" Amarah Felix makin berkobar. Dia menunjuk Jimmy dan memerintah para anak buahnya, "Buat dia berlutut di atas beling sampai pagi! Biar dia jadi pelajaran untuk yang lain!"

Mendengar itu, Rafael diam-diam merasa senang. Jimmy sungguh tolol, berpikir dia bisa berunding dengan Felix? Sejak kapan Felix bisa diajak bicara baik-baik? Haha! Sekarang Jimmy akan merasakan akibat kebodohannya sendiri. Rasakan itu!

Begitu menerima perintah, para anak buah Felix yang tanggap bergegas menyerbu ke arah Jimmy.

Jimmy tidak menyangka kata-katanya akan diabaikan mentah-mentah oleh Felix. Sekarang, dia benar-benar tidak punya pilihan selain melawan.

Tepat ketika salah satu preman mendekat, Jimmy memantapkan hatinya, lalu menendang keras-keras. Tendangan itu dilayangkan dengan begitu kuat hingga membuat orang itu terlempar jauh dan jatuh menghantam beling.

"Akh!" jerit orang itu dengan tajam.

Gila! Satu tendangan ini membuat semua orang tertegun.

Bahkan Jimmy sendiri juga melongo. Sejak kapan dia menjadi sekuat ini? Apa kekuatan tersembunyinya tiba-tiba bangkit?

Saat Jimmy tengah melamun, enam preman lainnya menyerbu dengan beringas dan mengepung Jimmy sepenuhnya. Niat membunuh berkilat di mata mereka masing-masing.

Saat itu, barulah orang-orang di sekitar tersadar.

"Apa orang itu sudah gila? Hanya seorang satpam kecil, tapi berani memukul anak buah Felix?"

"Kudengar banyak anak buah Keluarga Bahrani yang sudah pernah membunuh sebelumnya!"

"Felix lagi marah besar. Minimal bocah itu akan dihajar hingga sekarat!"

"Semuanya, jangan terlalu dekat. Jangan sampai kita terkena cipratan darah ...."

Sambil menghela napas, semua orang menggeleng dan mundur teratur.

Di sisi lain, Rafael begitu senang hingga hampir menyemburkan tawa. Amarah Felix pasti sudah berada di titik puncak. Seorang satpam tidak berguna telah menghajar anak buahnya di depan umum. Jika dia tidak memberi pelajaran pada Jimmy, mau ditaruh ke mana wajahnya?

Dengan mata berkilat tajam, Felix menggertakkan giginya dan berseru marah, "Hajar dia, lalu telanjangi dan campakkan ke atas beling!"

Para preman itu tidak berani menunda-nunda. Mereka segera mengepalkan tinju, menghantamkannya sekuat tenaga ke arah Jimmy.

Pada momen kritis itu, naluri Jimmy kembali meledak. Duk, duk! Dia melayangkan tinju secepat kilat beberapa kali, semuanya mendarat di titik vital para preman itu.

Kejadiannya begitu cepat. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, semua preman itu sudah terkapar sambil meratap kesakitan di tanah. Seketika, suasana berubah hening mencekam.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 672

    Setelah jamuan berakhir, Argani secara pribadi mengantar Jimmy sampai ke pintu. Saat Jimmy hendak pergi, Laura dan Jasvin malah menghampiri mereka.Laura sama sekali tidak terpengaruh oleh kejadian sebelumnya. Dengan senyum manis, dia melangkah maju dan berkata, "Jimmy, bukannya kamu bilang mau perkenalkan aku sama Pak Argani?"Jimmy tertawa geli. Dia mengangguk ke arah Jasvin dan berkata, "Bukannya dia bilang dia yang akan perkenalkan ke kamu?""Dia?" Argani mengangkat pandangan ke arah Jasvin. "Kamu ... siapa ya?"Pertanyaan Argani itu langsung membuat Jimmy tak bisa berkata-kata. Orang ini tadi sepercaya diri itu mengatakan akan memperkenalkan Argani kepada Laura. Ternyata Argani bahkan tidak mengenalnya? Sandiwara pamer koneksi ini benar-benar kelewatan!Jasvin menatap Argani dengan canggung, lalu tersenyum meminta maaf."Saya Jasvin dari Keluarga Ongko di ibu kota provinsi. Saya memiliki beberapa kerja sama proyek di kawasan pengembangan bersama Pak Howard.""Oh!"Argani langsung

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 671

    Jasvin mengira Laura akan menamparnya lagi, sehingga tanpa sadar dia mundur selangkah.Laura langsung menarik Jasvin, lalu mengusap pipinya dengan lembut menggunakan telapak tangannya yang hangat. Dengan mata penuh kelembutan, dia berkata, "Pak Jasvin, kita ini teman! Aku sudah pernah merasakan akibat karena meremehkan Jimmy. Aku nggak ingin kamu juga mengulangi kesalahanku, apalagi sampai terjadi sesuatu padamu. Mengerti?"Di bawah belaian lembut Laura, Jasvin langsung merasa nyeri di wajahnya berkurang. Kemarahan di dalam hatinya juga perlahan mulai mereda. "Aku tahu kamu melakukan ini demi kebaikanku."Jasvin menggenggam tangan Laura. "Lain kali kalau ada sesuatu yang ingin dikatakan, bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini lagi.""Aku juga nggak ingin begini, tapi aku harus menyadarkanmu." Laura menghela napas pelan. "Ingat baik-baik, Jimmy bukan musuh kita, setidaknya untuk saat ini bukan! Dengan kemampuan kita sekarang, kita sama sekali nggak punya modal untuk melawannya! Jangan

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 670

    Tamparan Laura itu langsung membuat Jasvin tercengang. Jasvin membelalakkan mata dan menatap Laura dengan linglung.Setelah beberapa saat, amarah mulai meluap di dalam dirinya. Jasvin mengepalkan tangannya erat-erat hingga seluruh tubuhnya gemetar karena marah.Kalau bukan dia yang membawa Laura ke sini, Laura tidak akan punya kesempatan menghadiri pesta Argani! Sekarang Laura malah berani menamparnya?Dia bahkan sudah bersiap untuk melangkah lebih jauh, tetapi malah ditampar oleh Laura? Dalam amarahnya, Jasvin tak lagi peduli untuk bersikap lembut kepada wanita.Plak! Jasvin membalas dengan tamparan keras ke wajah Laura. Laura meringis kesakitan, tetapi langsung membalas dengan tamparan lain ke wajah Jasvin.Laura yang sekarang sudah bukan lagi Laura yang dulu, yang penakut dan selalu mengalah. Dia bisa duduk semalaman di pemakaman liar tanpa rasa takut, bahkan bisa memancing seseorang ke tempat sepi, menyetrum orang dengan alat kejut hingga pingsan, lalu mencekik orang sampai mati.T

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 669

    Jimmy baru mengerti, lalu berkata dengan santai, "Datang ya datang saja! Aku nggak perlu menghindarinya, juga nggak mungkin nyuruh kalian usir dia cuma karena urusan masa lalu kami.""Benar juga." Sabrina tersenyum sambil mengangguk.Jimmy tersenyum, lalu menyuruh Sabrina kembali menyambut para tamu dan tidak perlu memedulikannya.Setelah Sabrina pergi menyambut tamu lain, Jimmy berjalan ke sudut aula dan duduk sendirian.Tujuannya datang ke sini sudah tercapai. Sisanya tinggal menunggu jamuan dimulai. Setelah makan dan minum sampai kenyang, dia bisa langsung pulang.Baru duduk dan memikirkan beberapa hal sebentar, dia sudah merasakan seseorang berjalan ke arahnya. Yang datang bukan orang lain, melainkan Laura.Bersamanya, ada seorang pria berwajah tampan dan bersih. Sepertinya inilah Jasvin yang tadi disebut Sabrina."Jimmy." Melihat Jimmy mengangkat kepala, Laura menyapanya lebih dulu, lalu bertanya, "Kenapa kamu duduk sendirian di sini?""Aku lagi mikir sesuatu." Jimmy tersenyum tip

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 668

    Saat Jimmy menemukan Argani, pria itu sedang mengobrol santai dengan beberapa tamu yang datang lebih awal.Begitu melihat Jimmy, Argani langsung menghentikan obrolannya dan berlari kecil menghampiri dengan antusias."Wow! Jarang-jarang kamu datang secepat ini. Aku kira kamu bakal datang pas waktunya mepet.""Bagaimanapun juga ini wilayahku. Setidaknya aku harus datang lebih awal untuk lihat-lihat dulu." Jimmy tersenyum, lalu mengangguk ke arah beberapa orang di sana. "Kalian cuma ngobrol santai atau bahas urusan penting?""Cuma ngobrol santai!" Argani terkekeh. "Memangnya kamu ada urusan yang mau dibicarakan?"Jimmy mengangguk. "Ada sedikit.""Kalau begitu, tunggu sebentar." Argani segera menghampiri beberapa orang itu untuk berpamitan, lalu berjalan bersama Jimmy ke tempat yang lebih sepi.Keduanya keluar dari aula pesta dan menuju gazebo di luar resor."Kapan kamu kembali ke ibu kota?" tanya Jimmy langsung."Beberapa hari lagi." Argani mengembuskan napas panjang. "Aku mengadakan pest

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 667

    "Bukan." Zisel menggeleng sambil tersenyum. "Kak Sabrina juga undang aku ke pesta ini. Karena memang mau datang, sekalian saja datang lebih awal untuk bantu.""Pantas saja!" Jimmy tersenyum seolah baru mengerti. "Ada yang perlu kubantu?""Sudahlah!" Zisel terkekeh, lalu menggoda, "Siapa yang berani menyuruhmu bantu? Kalau bos besar sepertimu sampai kelelahan, para karyawan itu pasti mencabik-cabikku hidup-hidup."Meskipun Jimmy hampir tidak pernah ikut campur dalam urusan perusahaan, dia sangat disayangi para karyawannya. Begitu dia datang, semua orang ingin memperlakukannya seperti leluhur yang harus dihormati. Mana mungkin mereka membiarkannya membantu?"Zisel!" Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil dari belakang Jimmy.Saat menoleh, mereka melihat seorang pria muda yang tampan dan berwibawa berjalan cepat menghampiri.Begitu melihat orang itu, Zisel langsung tampak pusing. Melihat reaksinya, Jimmy pun mengerti."Pengejarmu?""Ya." Zisel mengangguk den

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 62

    Dengan inti teluh di tangan Jimmy, langkah selanjutnya menjadi sangat sederhana.Cukup membuat satu sayatan kecil di dada Argani, lalu menyiksa inti teluh tersebut. Inti teluh akan menjerit keras, sehingga serangga guna-guna lain di dalam tubuh Argani otomatis keluar untuk menyelamatkan inti teluh.

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 61

    Melihat Argani yang menggertakkan gigi menahan rasa sakit, Sabrina dan Mukhtar mondar-mandir dengan wajah panik. Begitu Jaka membawa mereka masuk, keduanya langsung seperti melihat penyelamat dan kembali memohon agar Jimmy menyelamatkan Argani.Pada saat ini, mereka semua menjadikan Jimmy sebagai sa

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 66

    Tak lama setelah Zisel pergi, Jimmy menerima telepon dari Argani.Nela memang sudah tertangkap. Sayangnya, sebelum Jaka dan orang-orangnya berhasil menangkapnya, Nela sudah bunuh diri terlebih dulu.Argani mengatakan bahwa dua hari ini dia masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, jadi untu

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 63

    Zisel mengusulkan untuk mengantar Jimmy pulang, dan Jimmy pun tidak menolak.Sepanjang perjalanan, Zisel terus bertanya ke sana kemari seperti anak kecil yang penuh penasaran. Jimmy sedang memikirkan banyak hal, jadi jawabannya pun seadanya.Kejadian malam ini kembali membuktikan dugaannya sebelumny

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status