MasukDia adalah agen rahasia yang paling ditakuti, hingga sebuah pengkhianatan merenggut nyawanya. Kini, Nayaka terjebak dalam tubuh Aurora, wanita hamil yang dibuang oleh keluarganya sendiri. Suaminya berselingkuh dengan adik angkatnya. Orang tuanya menganggapnya kutukan. Dunia menginginkannya mati. Namun, Nayaka memilih untuk melawan. Dengan bantuan Lucien Ashford, pria paling berbahaya di dunia bisnis, ia memulai permainan balas dendam yang mematikan. Satu persatu rahasia dibongkar, satu persatu musuh ditumbangkan. Saat mereka memohon ampun, Nayaka hanya akan tersenyum dan berkata, "Ini baru permulaan."
Lihat lebih banyakLantai marmer itu terasa sedingin es, namun rasa sakit yang menghujam perutnya jauh lebih mematikan. Aurora Calista Wijaya terkapar dengan nafas tersengal, sementara darah merah kental mulai merembes, mengotori gaun putih yang ia kenakan. Di atas tangga, Selena Anindya berdiri dengan senyum kemenangan yang tipis, jari-jemarinya masih gemetar setelah mendorong saudara angkatnya.
"Mati saja kamu, Pembawa Sial," bisik Selena, suaranya nyaris tidak terdengar namun menusuk indra pendengaran Aurora yang mulai memudar. "Gavin dan bayi di rahimku lebih butuh posisi ini daripada wanita penyakitan sepertimu." Aurora ingin berteriak, ingin memaki, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Di saat kesadarannya hampir hilang sepenuhnya, sebuah ledakan hebat seolah terjadi di dalam kepalanya. Di tempat lain, di saat yang bersamaan, Nayaka Seraphina… sang agen rahasia elit baru saja dikhianati oleh sahabatnya sendiri, Vania. Ledakan bom di markas rahasia itu seharusnya mengakhiri hidup Nayaka, namun takdir berkata lain. Seketika, mata Aurora yang tadinya sayu terbuka lebar. Pupil matanya yang berwarna cokelat gelap kini memancarkan kilatan tajam yang belum pernah terlihat sebelumnya. Nayaka kini berada di sana, di dalam tubuh yang rapuh dan sedang meregang nyawa ini. "Sial," batin Nayaka, mencoba menggerakkan ujung jarinya yang kaku. "Tubuh siapa ini? Kenapa rasanya seperti dihantam truk?" Langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat. Gavin Ardhani, suami Aurora, muncul dengan wajah panik yang dipaksakan. Namun, bukannya menghampiri Aurora yang bersimbah darah, pria itu justru langsung memeluk Selena yang tiba-tiba berpura-pura menangis histeris. "Mas Gavin! Tolong Kak Aurora! Dia... dia terpeleset!" tangis Selena pecah, tangannya menutupi wajahnya yang tidak mengeluarkan air mata sedikit pun. Gavin menatap Aurora dengan tatapan penuh kejengkelan. "Aurora! Bisa tidak sehari saja kamu jangan membuat keributan? Kamu jatuh karena ceroboh, jangan berani-berani menyalahkan Selena!" Nayaka, yang kini menguasai tubuh Aurora, merasakan amarah yang membara dari sisa-sisa perasaan pemilik tubuh aslinya. Ia memaksakan diri untuk duduk, meski rasa sakit di perutnya membuat dunianya seakan berputar. Dengan susah payah, ia menatap Gavin tepat di matanya. "Berhenti membentakku, Gavin," suara Aurora terdengar serak, namun ada nada dingin yang membuat Gavin terdiam seketika. Gavin mengernyitkan dahi. "Apa kamu bilang? Kamu sudah berani menjawab?" "Aku bilang, tutup mulutmu," desis Nayaka sambil mencengkeram pinggiran tangga untuk bangkit berdiri. "Darah ini mengalir karena wanita yang kamu peluk itu mendorongku. Dan kamu, sebagai suami, justru lebih memilih memeluk selingkuhanmu daripada menolong anakmu sendiri?" Wajah Gavin memucat. Ia tidak menyangka Aurora yang biasanya hanya bisa menangis diam-diam kini berani bicara sefrontal itu. "Jaga bicaramu, Aurora! Siapa yang selingkuh? Jangan mengada-ada hanya karena kamu iri pada Selena!" Selena semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Gavin. "Mas, Kak Aurora pasti sudah gila karena benturan di kepalanya. Bagaimana mungkin dia menuduh kita seperti itu?" Nayaka menyeringai tipis, sebuah seringaian yang terlihat sangat asing di wajah lembut Aurora. "Gila? Mungkin saja. Tapi setidaknya aku tidak sehina kalian berdua yang bermain api di dalam rumah ini." Darius Wijaya dan Ratna, orang tua Aurora, muncul dari arah luar rumah… karena mereka berdua baru akan pergi, setelah mendengar keributan. Alih-alih khawatir melihat darah di lantai, Ratna justru mendengus kasar. "Aurora! Lagi-lagi kamu membawa sial di rumah ini! Kakekmu meninggal karena menyelamatkanmu, dan sekarang kamu mau mencelakai Selena juga?" "Papa, lihatlah lantai rumah kotor karena darahnya," lanjut Ratna tanpa rasa iba sedikit pun. Nayaka menatap kedua orang tua di depannya dengan tatapan kosong. Jadi ini keluarga Aurora? Sebuah neraka yang berkedok rumah mewah. Ia merasakan denyut kehidupan di perutnya mulai melemah, dan ia tahu ia harus segera mendapatkan pertolongan medis jika ingin bayi ini selamat. "Nikmati saja sandiwara kalian untuk saat ini," kata Nayaka sambil mulai melangkah tertatih menuju pintu keluar rumah. "Mau ke mana kamu, Aurora? Aku belum selesai bicara!" teriak Darius berwibawa. Nayaka berhenti sebentar tanpa menoleh. "Aku mau menyelamatkan nyawa yang kalian abaikan. Dan mulai besok, jangan harap bisa melihat Aurora yang lemah lagi.” Gavin ingin mengejar, namun Selena menahannya. "Biarkan saja dia, Mas. Dia hanya ingin mencari perhatian." Nayaka berjalan dengan terseok-seok, tapi sebelum sampai pintu keluar… ia melihat sebuah kunci mobil tergeletak di atas meja. Tanpa berpikir panjang lagi, ia menyambar cepat kunci itu dan menuju satu mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Pandangannya mulai mengabur, namun ia tidak boleh menyerah. Dengan sisa-sisa tenaganya, Nayaka masuk mobil dan mengemudikannya sendiri menuju ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan dengan gemetar, sambil memeluk perutnya yang terasa sangat panas… ia bersumpah di dalam hati. Jika ia dan bayi ini selamat, ia akan merobek topeng suci Selena dan menghancurkan Gavin sampai ke akar-akarnya. Sesampainya di lobi instalasi gawat darurat, Nayaka turun dengan langkah gontai. Kesadarannya benar-benar berada di ambang batas. Saat suster berlarian membawakan brankar, Nayaka sempat melihat sebuah mobil hitam mewah melintas pelan di depan rumah sakit. Tatapan Nayaka sempat beradu dengan sepasang mata elang di balik kaca jendela mobil yang tertutup rapat. Sosok pria yang memancarkan aura es itu seolah menarik kembali ingatan Nayaka sebagai agen rahasia. "Mata itu..." bisik Nayaka sebelum dunianya menjadi gelap total.Bayi perempuan di atas dada Nayaka mengeluarkan lenguhan kecil, menggeser kepala mungilnya yang berbalut kain flanel putih ke dekapan yang lebih dalam. Napasnya halus, naik turun seirama dengan napas ibunya yang mulai teratur. Nayaka mengusap punggung kecil bayinya perlahan, menikmati kehangatan kulit baru yang kini melengkapi hidupnya di Menteng. Lucien Ashford masih bersandar pada pilar hulu ranjang, menjadi sandaran fisik bagi Nayaka yang mulai menghabiskan sup sarang burung walet dari mangkuk porselen di tangan ibunya. Lengan kokoh Lucien melingkar di bahu istrinya. Sesekali ia mengusap lengan Nayaka untuk menenangkannya. "Suhu tubuhnya stabil, Dokter," Sofia Wijaya berkata lembut sambil meletakkan sendok perak kembali ke mangkuk setelah memastikan Nayaka selesai makan. Ia menoleh ke arah Dr. Setiawan yang merapikan lembar grafik biosinyal terakhir ke dalam tas medis kulitnya di dekat pintu geser. "Semua indikator klinis Nona Aurora d
Cahaya keemasan pagi menembus kaca patri tinggi, melemparkan warna jingga dan kuning di atas lantai parket jati yang mengilat. Suasana di ruang paviliun samping kini tenang, berubah dari ketegangan persalinan menjadi kehangatan yang terlindung. Bayi perempuan itu sudah dibersihkan oleh perawat senior tanpa dipisahkan dari dekapan Nayaka. Diselimuti kain flanel putih bersulam inisial keluarga, ia tertidur pulas dengan mulut kecil yang sesekali mengecap. Rambut hitam halusnya masih lembab, memantulkan cahaya fajar yang masuk melalui tirai sutra gading. Nayaka berbaring dengan sandaran bantal bulu angsa yang baru diganti. Kelelahan masih terlihat di bawah matanya, tapi tatapannya tetap tajam. Tangan kanannya mendekap putrinya erat, sementara tangan kirinya digenggam Lucien yang duduk di tepi ranjang. Lucien telah melepas handuk steril, tapi kemeja katun putihnya masih kusut bekas cengkeraman Nayaka selama fase pengeluaran tadi. Tatapannya ya
Cahaya keemasan pukul 05.45 pagi merobek kabut subuh, menyapu kaca patri tinggi di selasar paviliun samping. Pendaran biru kelabu berubah menjadi kehangatan fajar yang benderang, menembus tirai sutra gading dan menerangi lantai parket kayu jati. Di dalam kamar periksa, ketegangan terasa semakin dekat ke titik akhir. Nayaka menarik napas panjang saat kontraksi berikutnya datang. Ia mengunci oksigen di dasar tenggorokan dan menyalurkan seluruh tenaganya ke panggul bawah. Kedua tangannya mencengkeram jemari Lucien dengan kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan. Keringat membasahi kening dan lehernya, menetes ke atas bantal bulu angsa yang sudah basah. Lucien mempererat sanggahan lengannya di punggung atas Nayaka, menahan tubuh istrinya dengan stabil. Dadanya merapat ke punggung Nayaka. Telapak tangan kanannya tetap menekan area sakrum, membantu melapangkan jalan bagi bahu belakang janin. "Sekali lagi, Aurora. Dorong lurus be
Cahaya biru kelabu pukul 05.15 pagi merambat masuk melalui kisi-kisi kayu jati, membentuk garis-garis tegas di atas lantai marmer selasar paviliun samping. Kabut subuh Menteng perlahan menipis di bawah udara hangat yang naik dari pelataran ring dua. Di dalam kamar periksa, suasana tegang mencapai puncaknya. Setiap napas dan gerakan instrumen medis terasa dihitung oleh jarum detik jam mekanis Dokter Setiawan. Nayaka tidak lagi mengeluarkan suara. Seluruh energi fisiknya terpusat pada dorongan di dalam rongga perutnya. Kedua tangannya mencengkeram erat penopang ranjang kayu mawar hingga anyaman linen di bawah jemarinya berderit. Di balik gaun sutra kelabu tua yang basah oleh keringat, otot rahim bawahnya berkontraksi tanpa jeda. Ritme itu mendorong kepala janin meluncur melewati tulang pubis. Lucien Ashford mengeratkan kedua lengannya di bawah ketiak Nayaka, mengangkat tubuh istrinya beberapa sentimeter untuk memberikan s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan