تسجيل الدخولNathan memilih cara paling nekat. Ia mengerahkan seluruh kekuatan tubuhnya dan menerjang lurus ke arah patung merah itu, berniat menghancurkannya meski harus mempertaruhkan nyawanya.BAAANG!Tubuh Nathan menghantam patung tersebut dengan keras.BRAK!Patung itu langsung roboh, lalu pecah berkeping-keping hingga berserakan di lantai.Pada saat yang sama, Aura Kegelapan yang semula memenuhi aula dan lorong lenyap tanpa bekas. Cahaya kembali menerangi seluruh reruntuhan, sementara bayangan-bayangan hitam menghilang seolah tidak pernah ada.Velisa dan Tetua Sorei segera berlari menghampiri Nathan. Mereka mendapati pria itu terbaring di lantai sambil bernapas berat akibat menguras hampir seluruh tenaganya."Tuan Nathan, Anda tidak apa-apa?" tanya Velisa cemas sembari membantu Nathan bangkit."Aku baik-baik saja." Nathan menggeleng pelan sambil mengatur napas."Tuan Nathan, lihat itu..." Tetua Sorei menunjuk puing-puing patung. "Ada sesuatu yang bercahaya."Nathan segera menyingkirkan pecah
Melihat pemandangan itu, Levan hanya mendengus sinis. "Hanya buang-buang waktu. Ini Formasi Kegelapan peninggalan Kerajaan Luminus. Mana mungkin bisa dihancurkan semudah itu."Nathan sama sekali tidak memperdulikan ejekan tersebut. Dengan mata tetap terpejam, ia mulai melangkah perlahan mengikuti aliran energi Formasi. Sementara itu, orang-orang yang melindunginya terus bergerak mengitari posisinya, mati-matian menahan setiap bayangan hitam yang berusaha menerobos pertahanan.Semua orang mengerahkan teknik terkuat mereka tanpa sedikit pun menahan diri. Tidak ada lagi yang berani lengah karena pertarungan ini benar-benar menentukan hidup dan mati. Di atas kepala mereka, kompas milik Lysander terus memancarkan cahaya merah yang membentuk lapisan pelindung, untuk sementara menghalau pengaruh Aura Kegelapan yang memenuhi aula.Di tengah kekacauan itu, Nathan justru melangkah perlahan kembali menuju lorong yang sebelumnya mereka tinggalkan. Tempat itu merupakan pusat Aura Kegelapan dengan
Nathan juga menghadapi situasi yang sama. Meski api spiritualnya sanggup memusnahkan bayangan hitam, semakin banyak makhluk serupa terus bermunculan dari Aura Kegelapan yang memenuhi aula.Tatapan Nathan perlahan berubah serius. Andaikan hanya sedikit Aura Kegelapan, ia masih bisa memurnikannya melalui Tekjik Kijutsu. Namun jumlah energi di tempat itu terlalu besar. Jika mengandalkan cara tersebut, prosesnya akan memakan waktu sangat lama.Saat itulah Lysander dan Levan akhirnya berhasil mundur ke aula utama. Namun begitu melihat seluruh ruangan telah dipenuhi Aura Kegelapan dan lautan bayangan hitam, keduanya langsung terpaku."Sial..." Lysander mengumpat pelan. "Seandainya tahu akan seperti ini, aku pasti membawa lebih banyak orang."Ia tak lagi memperdulikan penampilannya. Sambil terus mengaktifkan kompas di tangannya, Lysander berusaha menahan gempuran bayangan-bayangan hitam yang datang tanpa henti.Kompas di tangan Lysander terus memancarkan cahaya merah. Setiap kali sinar itu m
Mata Nathan langsung menyipit. "Mundur!"Tanpa ragu, ia menarik lengan Velisa dan segera melompat ke belakang.Tetua Sorei juga merasakan firasat yang sama. Hampir bersamaan dengan Nathan, ia ikut mundur secepat mungkin menjauhi lorong itu."Tuan Nathan, ada apa? Bukankah Batu Nadir itu adalah harta karun?" tanya Velisa dengan wajah dipenuhi kebingungan."Itu bukan harta karun." Nathan terus berlari tanpa menoleh. "Batu-batu itu hanyalah umpan. Aku bisa merasakan niat membunuh yang sangat kuat dari dalamnya."Tetua Sorei turut mengangguk. "Aku juga merasakan hal yang sama. Ruangan-ruangan itu pasti menyembunyikan sesuatu yang berbahaya."Belum lama mereka keluar dari lorong, jeritan memilukan tiba-tiba bergema dari setiap ruangan di kedua sisi."AAHH—!"Sesaat kemudian, para kultivator berhamburan keluar dengan wajah dipenuhi ketakutan. Tepat di belakang mereka, puluhan bayangan hitam melesat mengejar dengan kecepatan mengerikan.Batu Nadir yang mereka bawa terus memancarkan Aura Kege
Rombongan itu menaiki anak tangga satu per satu hingga akhirnya memasuki aula utama Kerajaan Luminus.Tak seorang pun mengetahui sudah berapa lama reruntuhan ini berdiri. Namun, begitu menginjakkan kaki ke dalam, semua orang dibuat tercengang. Bangunan megah itu masih berdiri kokoh seolah baru selesai dibangun. Berbagai perabot di dalamnya tersusun rapi tanpa sedikit pun tanda kerusakan, sama sekali tidak menyerupai tempat yang telah lama ditinggalkan.Meski terpukau oleh kondisi aula yang nyaris sempurna, tak seorang pun berani lengah. Justru ketenangan yang menyelimuti tempat itu membuat mereka semakin waspada. Dalam pengalaman para kultivator, tempat yang terlihat paling aman sering kali menyimpan bahaya paling mematikan."Semua tetap di belakangku, jangan sampai memicu Formasi." Lysander memimpin langkah di barisan paling depan sambil menggenggam kompas di tangannya.Cahaya lembut memancar dari permukaan artefak itu, sementara jarumnya melayang di udara dan terus menunjuk ke satu
Pada saat yang sama, Levan yang masih terjebak di dalam Formasi turut merasakan gejolak itu. Ia segera menoleh ke sekeliling, lalu mendapati sekelompok orang tiba-tiba muncul tidak jauh dari posisinya."Nathan?"Begitu melihat sosok Nathan muncul, mata Levan langsung dipenuhi kebencian. Tanpa ragu sedikit pun, ia melesat menyerang dengan kecepatan penuh.Nathan sendiri tidak menyangka akan bertemu Levan di tempat itu. Namun, begitu merasakan niat membunuh yang mengarah kepadanya, ia segera bersiap. Aura Sovereign di tubuhnya meledak, sementara cahaya keemasan mulai menyelimuti tinjunya.Sebelum Nathan sempat bergerak, sesosok bayangan putih melintas di depannya dan langsung bertabrakan dengan Levan.Brak!Levan terdorong mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil menstabilkan tubuhnya."Tuan Muda Kedua, Anda tidak apa-apa?" tanya beberapa murid Ordo Tempest dengan cemas.Levan mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. Tatapannya kemudian beralih kepada Lys
"Lihat dirimu! Ketua Martial Shrine, tapi kelakuan seoerti bos preman, mainnya keroyokan. Kau bilang anti-kultivator hitam, tapi? Apa kau tidak malu? Jika arwah orang tuamu lihat kelakuanmu sekarang, mereka mungkin minta dilahirkan kembali jadi anjing karena malunya!"Sancho melongo. Seluruh anak b
Wajah Sancho pucat pasi. Ia jatuh kembali ke kursinya, kalah telak. Skenario yang sudah ia bangun dengan susah payah hancur berkeping-keping hanya dengan satu lambaian tangan Ryujin.‘Kalau bukan dirasuki, lalu bagaimana mungkin kekuatan anak ini?’Di sisi lain ruangan, hanya Jazer yang tersenyum t
"Bonang," kata Sancho, suaranya rendah dan mengancam. "Karena aku bisa sampai di sini, artinya aku sudah tahu siapa kau sebenarnya. Jadi, jangan pura-pura bodoh. Buatkan aku dua Jimat Pelacak, dan aku akan anggap kita tidak pernah bertemu."Pria tua yang dipanggil Bonang itu menatap Sancho, lalu ke
Mereka membawa Nathan melewati halaman-halaman yang sunyi, menuruni koridor-koridor yang semakin gelap dan lembap. Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah taman batu buatan yang tampak suram. Di salah satu sisi taman batu itu, terdapat sebuah mulut gua yang gelap."Ini... ini pintu masuknya, Tuan," k







