Share

Bab 1550

Author: Imgnmln
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-02 21:07:59

Nathan memicingkan mata. “Ada markas di bawah sini.”

“Dan bukan markas kecil,” timpal Bonang.

Mereka bergerak maju tanpa suara, melewati pepohonan dan bayangan bukit. Sesekali aura kuat terasa berdenyut, memaksa Nathan menahan napas dan menarik kembali kesadarannya agar tidak terdeteksi.

Hingga akhirnya, dari balik dahan pohon, mereka melihat pusat kamp.

Di halaman tengah, Ketua Aula Sibolga berdiri dengan sikap gelisah. Tidak lama kemudian, tiga sosok berjubah hitam turun dari bangunan utama.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2160

    Nathan memilih cara paling nekat. Ia mengerahkan seluruh kekuatan tubuhnya dan menerjang lurus ke arah patung merah itu, berniat menghancurkannya meski harus mempertaruhkan nyawanya.BAAANG!Tubuh Nathan menghantam patung tersebut dengan keras.BRAK!Patung itu langsung roboh, lalu pecah berkeping-keping hingga berserakan di lantai.Pada saat yang sama, Aura Kegelapan yang semula memenuhi aula dan lorong lenyap tanpa bekas. Cahaya kembali menerangi seluruh reruntuhan, sementara bayangan-bayangan hitam menghilang seolah tidak pernah ada.Velisa dan Tetua Sorei segera berlari menghampiri Nathan. Mereka mendapati pria itu terbaring di lantai sambil bernapas berat akibat menguras hampir seluruh tenaganya."Tuan Nathan, Anda tidak apa-apa?" tanya Velisa cemas sembari membantu Nathan bangkit."Aku baik-baik saja." Nathan menggeleng pelan sambil mengatur napas."Tuan Nathan, lihat itu..." Tetua Sorei menunjuk puing-puing patung. "Ada sesuatu yang bercahaya."Nathan segera menyingkirkan pecah

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2159

    Melihat pemandangan itu, Levan hanya mendengus sinis. "Hanya buang-buang waktu. Ini Formasi Kegelapan peninggalan Kerajaan Luminus. Mana mungkin bisa dihancurkan semudah itu."Nathan sama sekali tidak memperdulikan ejekan tersebut. Dengan mata tetap terpejam, ia mulai melangkah perlahan mengikuti aliran energi Formasi. Sementara itu, orang-orang yang melindunginya terus bergerak mengitari posisinya, mati-matian menahan setiap bayangan hitam yang berusaha menerobos pertahanan.Semua orang mengerahkan teknik terkuat mereka tanpa sedikit pun menahan diri. Tidak ada lagi yang berani lengah karena pertarungan ini benar-benar menentukan hidup dan mati. Di atas kepala mereka, kompas milik Lysander terus memancarkan cahaya merah yang membentuk lapisan pelindung, untuk sementara menghalau pengaruh Aura Kegelapan yang memenuhi aula.Di tengah kekacauan itu, Nathan justru melangkah perlahan kembali menuju lorong yang sebelumnya mereka tinggalkan. Tempat itu merupakan pusat Aura Kegelapan dengan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2158

    Nathan juga menghadapi situasi yang sama. Meski api spiritualnya sanggup memusnahkan bayangan hitam, semakin banyak makhluk serupa terus bermunculan dari Aura Kegelapan yang memenuhi aula.Tatapan Nathan perlahan berubah serius. Andaikan hanya sedikit Aura Kegelapan, ia masih bisa memurnikannya melalui Tekjik Kijutsu. Namun jumlah energi di tempat itu terlalu besar. Jika mengandalkan cara tersebut, prosesnya akan memakan waktu sangat lama.Saat itulah Lysander dan Levan akhirnya berhasil mundur ke aula utama. Namun begitu melihat seluruh ruangan telah dipenuhi Aura Kegelapan dan lautan bayangan hitam, keduanya langsung terpaku."Sial..." Lysander mengumpat pelan. "Seandainya tahu akan seperti ini, aku pasti membawa lebih banyak orang."Ia tak lagi memperdulikan penampilannya. Sambil terus mengaktifkan kompas di tangannya, Lysander berusaha menahan gempuran bayangan-bayangan hitam yang datang tanpa henti.Kompas di tangan Lysander terus memancarkan cahaya merah. Setiap kali sinar itu m

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2157

    Mata Nathan langsung menyipit. "Mundur!"Tanpa ragu, ia menarik lengan Velisa dan segera melompat ke belakang.Tetua Sorei juga merasakan firasat yang sama. Hampir bersamaan dengan Nathan, ia ikut mundur secepat mungkin menjauhi lorong itu."Tuan Nathan, ada apa? Bukankah Batu Nadir itu adalah harta karun?" tanya Velisa dengan wajah dipenuhi kebingungan."Itu bukan harta karun." Nathan terus berlari tanpa menoleh. "Batu-batu itu hanyalah umpan. Aku bisa merasakan niat membunuh yang sangat kuat dari dalamnya."Tetua Sorei turut mengangguk. "Aku juga merasakan hal yang sama. Ruangan-ruangan itu pasti menyembunyikan sesuatu yang berbahaya."Belum lama mereka keluar dari lorong, jeritan memilukan tiba-tiba bergema dari setiap ruangan di kedua sisi."AAHH—!"Sesaat kemudian, para kultivator berhamburan keluar dengan wajah dipenuhi ketakutan. Tepat di belakang mereka, puluhan bayangan hitam melesat mengejar dengan kecepatan mengerikan.Batu Nadir yang mereka bawa terus memancarkan Aura Kege

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2156

    Rombongan itu menaiki anak tangga satu per satu hingga akhirnya memasuki aula utama Kerajaan Luminus.Tak seorang pun mengetahui sudah berapa lama reruntuhan ini berdiri. Namun, begitu menginjakkan kaki ke dalam, semua orang dibuat tercengang. Bangunan megah itu masih berdiri kokoh seolah baru selesai dibangun. Berbagai perabot di dalamnya tersusun rapi tanpa sedikit pun tanda kerusakan, sama sekali tidak menyerupai tempat yang telah lama ditinggalkan.Meski terpukau oleh kondisi aula yang nyaris sempurna, tak seorang pun berani lengah. Justru ketenangan yang menyelimuti tempat itu membuat mereka semakin waspada. Dalam pengalaman para kultivator, tempat yang terlihat paling aman sering kali menyimpan bahaya paling mematikan."Semua tetap di belakangku, jangan sampai memicu Formasi." Lysander memimpin langkah di barisan paling depan sambil menggenggam kompas di tangannya.Cahaya lembut memancar dari permukaan artefak itu, sementara jarumnya melayang di udara dan terus menunjuk ke satu

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 2155

    Pada saat yang sama, Levan yang masih terjebak di dalam Formasi turut merasakan gejolak itu. Ia segera menoleh ke sekeliling, lalu mendapati sekelompok orang tiba-tiba muncul tidak jauh dari posisinya."Nathan?"Begitu melihat sosok Nathan muncul, mata Levan langsung dipenuhi kebencian. Tanpa ragu sedikit pun, ia melesat menyerang dengan kecepatan penuh.Nathan sendiri tidak menyangka akan bertemu Levan di tempat itu. Namun, begitu merasakan niat membunuh yang mengarah kepadanya, ia segera bersiap. Aura Sovereign di tubuhnya meledak, sementara cahaya keemasan mulai menyelimuti tinjunya.Sebelum Nathan sempat bergerak, sesosok bayangan putih melintas di depannya dan langsung bertabrakan dengan Levan.Brak!Levan terdorong mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil menstabilkan tubuhnya."Tuan Muda Kedua, Anda tidak apa-apa?" tanya beberapa murid Ordo Tempest dengan cemas.Levan mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. Tatapannya kemudian beralih kepada Lys

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 30

    “Mencuri?” Nathan terkejut saat mendengar ucapan pemilik toko itu. “Jelas-jelas aku sudah membelinya darimu.”"Omong kosong! Sedari awal aku ingin memberikan cincin itu untuk Tuan Ryzen, tapi kamu mencurinya dariku!" elak pemilik toko itu seraya menatap wajah pria di hadapannya yang terkejut.Mendenga

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 85

    “Apakah perusahaan ini sudah bangkrut?” Lily melihat papan nama yang ada didepan pintu dan berkata dengan khawatir.“Apa ada orang didalam?!”Teriak Lily memanggil-manggil.Kalau perusahaan sudah bangkrut, dan orangnya sudah kabur, maka ini akan menjadi piutang tidak tertagih!“Ayo lihat kedalam,” Natha

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 14

    “Bocah ingusan ini!” Teriak Zein penuh amarah seraya mengangkat tangannya menunjuk ke arah Nathan. “Dia berani datang membuat onar di pernikahan putraku, bahkan mematahkan tangannya, aku akan mencincang tubuhnya!” Zein menunjuk Nathan yang duduk tenang menyeruput teh di mejanya.Dan saat Sarah meliha

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 32

    “Ada apa? Apakah kamu melihat kursi naga itu bukan seperti kursi biasa?” terlihat rasa bangga di wajah Zayn dan berkata. “Kursi ini dikirim dari luar negri dengan harga yang cukup mahal, konon katanya, kursi ini pernah diduduki oleh kaisar Qing.”Zayn meraba tangan kursi naga itu dengan lembut, terli

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status