LOGINNathan perlahan membuka matanya. Pandangannya menyapu ruangan yang bersih dan tertata rapi, membuat dahinya langsung berkerut. Dia sama sekali tidak tahu di mana dirinya berada.Ingatan terakhirnya hanyalah pertarungan sengit melawan Darius. Setelah kehilangan kesadaran, semua yang terjadi berikutnya lenyap begitu saja dari ingatannya.Nathan perlahan bangkit dari tempat tidur, lalu menggerakkan tubuhnya. Dia terkejut saat mendapati tidak ada luka serius yang tersisa. Bahkan ketika mengedarkan energi spiritual ke seluruh tubuh, alirannya terasa lancar tanpa sedikit pun hambatan."Di mana aku sebenarnya? Siapa yang menyelamatkanku?"Sambil bergumam pelan, Nathan melangkah menuju pintu.Begitu daun pintu dibuka, sesosok gadis tiba-tiba muncul dari arah berlawanan hingga keduanya bertabrakan."Maaf..."Nathan spontan meminta maaf.Gadis itu ternyata Velisa yang sedang membawa semangkuk makan. Karena benturan tersebut, isi mangkuk langsung tumpah membasahi pakaian Nathan."Kamu... kamu su
Ucapan itu jelas menyindir Darius yang selama ini hanya mengandalkan kekuatan.Harland mengangguk pelan. "Baik. Pergilah, tetapi berhati-hatilah. Aku tidak ingin kau ikut terluka."Levan langsung membungkukkan badan. "Terima kasih, Ayah. Aku tidak akan mengecewakan Ayah."Setelah Levan dan ibunya meninggalkan ruangan, senyum di wajah Harland perlahan menghilang, digantikan raut yang begitu serius. Tatapannya menembus jendela, mengarah ke langit biru yang membentang luas."Apakah melawan kehendak langit benar-benar akan mendatangkan hukuman ilahi?"Dia bergumam pelan seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Meski telah meninggalkan dunia fana dan mengabdikan hidup untuk berkultivasi, mencapai keabadian tetap merupakan sesuatu yang nyaris mustahil. Di mata orang biasa mereka memang dipuja bak dewa, tetapi hanya para kultivatorlah yang memahami kenyataan sesungguhnya.Mereka masih terpaut jarak yang sangat jauh dari sosok dewa sejati.Sementara itu, Levan yang sudah keluar dari ru
Darius dan Levan memang saudara seayah tetapi berlainan ibu. Setelah ibu Darius meninggal dunia, Harland menikah lagi dan kemudian memiliki Levan.Sejak saat itu, hubungan Darius dengan ibu serta adik tirinya selalu dipenuhi pertentangan.Levan berkali-kali berusaha merebut posisi Darius sebagai pewaris utama Ordo Tempest, tetapi Harland tidak pernah mengizinkannya. Terlebih lagi, setelah menjalani modifikasi genetika, kekuatan Darius meningkat drastis sehingga posisinya sebagai penerus utama semakin sulit digoyahkan.Levan sebenarnya juga ingin menjalani modifikasi yang sama, tetapi Harland selalu menolaknya dengan alasan usianya masih terlalu muda.Levan kembali menatap Darius sambil tersenyum tipis. "Kak, bukankah kau seorang Puncak Sovereign? Namun, kau justru dikalahkan oleh seorang Sovereign menengah yang bahkan bukan berasal dari Sektor Bayangan.""Kalau berita ini menyebar, bukankah seluruh Ordo Tempest akan menjadi bahan tertawaan?" Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan de
Mahesa kemudian menoleh ke arah Velisa. "Velisa, ambilkan Elixir Esensi milikku. Kita selamatkan nyawa anak ini terlebih dahulu."Velisa belum sempat bergerak ketika Rael buru-buru angkat bicara. "Guru, Elixir Esensi adalah pil penyelamat nyawa milik Anda. Persediaannya tinggal sedikit. Kalau diberikan kepada... kepada orang ini, bukankah itu akan terbuang sia-sia?""Omong kosong!" Mahesa langsung membentaknya. "Sudah kukatakan, dia bukan kultivator jahat!"Tatapannya menyapu seluruh murid Ordo Sancta. "Selama ini bagaimana aku mendidik kalian? Meski Ordo Sancta hidup mengasingkan diri dari dunia luar, bukan berarti kita menutup mata terhadap orang yang membutuhkan pertolongan. Selama mampu menyelamatkan seseorang, kita wajib mengulurkan tangan.""Kekuatan memang penting, tetapi jangan pernah kehilangan belas kasih. Bila seseorang sudah kehilangan rasa kemanusiaannya, sebesar apa pun kekuatannya, dia tak lebih dari sekadar mesin pembunuh."Suasana langsung terdiam."Velisa, segera amb
"Kak, dia terluka separah itu. Kalau kau membawanya seperti itu, bagaimana kalau dia mati di tengah jalan?" Velisa mengejar dari belakang sambil menatap Nathan dengan rasa kasihan.Rael mendengus dingin. "Dia itu kultivator jahat. Untuk apa kau mengkhawatirkannya? Kalaupun mati, itu memang pantas."Seandainya bukan karena harus membawa Nathan kembali menemui Guru, Rael bahkan sudah membunuhnya di tempat."Bukan begitu maksudku." Velisa buru-buru menjelaskan. "Aku hanya khawatir kalau dia mati sebelum kita tiba, kita akan kesulitan memberikan penjelasan kepada Guru."***Di Ordo Sancta, Mahesa selaku pemimpin sekte sedang memberikan wejangan mengenai metode kultivasi kepada seluruh muridnya.Saat pengajaran berlangsung, dua sosok melesat turun dan mendarat tepat di hadapannya. Mereka adalah Rael dan Velisa yang baru saja kembali."Guru, ledakan Energi Keyakinan yang muncul tadi berasal dari orang ini." Sambil berbicara, Rael melemparkan Nathan yang masih tak sadarkan diri ke depan Mahe
Darius langsung menyipitkan mata. "Orang ini sudah kutangkap. Atas dasar apa kalian ingin membawanya?""Tidak perlu alasan." Suara Rael terdengar dingin. "Aku hanya tidak akan membiarkanmu membawanya pergi."Ucapan itu langsung membakar amarah Darius. "Jadi kau berniat merebutnya dariku secara paksa?" Tatapannya berubah tajam. "Rael, jangan terlalu percaya diri. Dengan kemampuanmu, kau sama sekali bukan lawanku."Rael justru tersenyum tipis penuh sindiran. "Berhenti membual." Tatapannya menyapu tubuh Darius yang penuh luka. "Dalam kondisimu sekarang, aku bisa mengalahkanmu hanya dengan satu tangan."Dia mendengus pelan sebelum melanjutkan, "Selama ini kau selalu menyebut dirimu jenius nomor satu di klan tersembunyi. Nyatanya, seorang Sovereign tingkat menengah saja mampu membuatmu berada dalam kondisi mengenaskan seperti ini. Masih berani menyombongkan diri?"Ucapan Rael benar-benar menusuk harga diri Darius.Aura yang menyelimuti tubuhnya kembali meledak. Dia menatap Rael dengan soro
Kali ini, dia benar-benar menggunakan dua tinjunya, tapi sayang sekali, tidak peduli seberapa cepat tinjunya, dia tetap tidak bisa menyentuh sudut pakaian Nathan. Hanya dalam beberapa menit, Wenford sudah melayangkan lebih dari 100 pukulan, tapi tidak satu pun pukulan itu mengenai sasaran. "A-aahh …
“Tuan Nathan, kita mau kemana?” Dalam perjalanan, Stefano bertanya pada Nathan. “Pergi mencari batu-batu, bawa aku melihat semua batu giok yang ada di Kota Boulmer, aku sekarang kekurangan uang!” Nathan berkata tanpa ragu-ragu. “Baik!” Stefano tampak bersemangat dan membawa Nathan pergi ke jalanan t
"Adik seperguruan, jangan gugup, kamu tahu watak Guru, berusahalah sebisamu, dengan kemampuanmu saat ini, kamu memiliki harapan untuk menjadi pemenang!” Setelah menepuk pundak Wenford, pemuda tinggi besar itu juga menyusul mereka. “Baik!” Wenford yang melihat gurunya berjalan menuju kamar yang ada
“Tidak disangka, kamu memang punya kemampuan!" William melihat Nathan yang tidak kenapa-kenapa tidak bisa menahan keterkejutannya. “Kalau kamu punya kemampuan, silahkan tunjukkan, mayat putramu masih terbaring disana, jangan sampai dia yang berada di neraka tingkat sembilan membenci ayahnya ini kare







