LOGINUntungnya Bonang segera maju untuk mencairkan suasana. "Kalian pasti sudah kelaparan setelah terjebak selama itu. Aku akan meminta orang-orang menyiapkan jamuan. Hari ini adalah hari yang membahagiakan, jadi kita harus merayakannya bersama."Tak sampai satu jam kemudian, seluruh markas Klan Draken Ascalon berubah semarak. Lampion dan berbagai hiasan memenuhi setiap sudut halaman, sementara belasan meja besar dipenuhi beragam hidangan.Nathan memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkenalkan Sarah kepada semua orang satu per satu."Nona Sarah." Bonang menatapnya sambil tersenyum. "Selama kamu menghilang, Nathan berkali-kali mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menemukanmu. Beberapa kali dia bahkan hampir kehilangan hidupnya."Sarah menoleh ke arah Nathan. Tatapannya dipenuhi kehangatan dan rasa haru. Dia tidak perlu mendengar cerita panjang untuk mengetahui betapa besar perjuangan Nathan demi membawanya kembali.Jamuan berlangsung hingga larut malam.Tawa, obrolan, dan denting gelas meme
Nathan mengangguk pelan. "Baik."Dia berjalan menuju lokasi yang telah dijelaskan oleh Buku Resonansi Dunia, lalu mengangkat satu tangan. Ujung jarinya bergerak membentuk beberapa segel sebelum bibirnya mulai melantunkan mantra kuno.Bzzzt!Seberkas cahaya melesat menembus kehampaan.Riak ruang segera menyebar ke segala arah, kemudian perlahan membentuk sebuah gerbang cahaya yang terus membesar hingga akhirnya berdiri kokoh di hadapan mereka.Tatapan keempat orang itu langsung dipenuhi kegembiraan."Akhirnya..." Sarah menatap gerbang bercahaya tersebut dengan mata yang berbinar. "Kita benar-benar bisa keluar dari tempat ini!""Ayo, kita harus segera pergi." Nathan mempercepat langkahnya. Dia tidak ingin mengambil risiko jika sesuatu yang tidak terduga kembali terjadi.Mereka berempat melintasi gerbang cahaya satu per satu. Sesaat kemudian, sosok mereka muncul di halaman belakang markas Klan Draken Ascalon.Para anggota yang sedang berpatroli langsung menghentikan langkah ketika meliha
Sarah terus menatap Nathan tanpa berkedip. Ingin menghampiri, tetapi tekanan aura yang memancar dari tubuh pria itu begitu dahsyat hingga membuat mereka bertiga sama sekali tidak mampu mendekat.Kurang lebih sepuluh menit kemudian, gelombang energi itu akhirnya mereda. Seluruh tekanan spiritual lenyap seolah tidak pernah ada, tubuh Nathan ambruk ke tanah dalam keadaan kehabisan tenaga."Nathan!""Kak Nathan!"Ketiga gadis itu segera berlari menghampirinya.Nathan terbaring di atas tanah dengan pakaian yang telah basah oleh keringat. Namun alih-alih menunjukkan rasa sakit, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum lebar."Haha... hahaha…!"Tawanya menggema tanpa henti hingga membuat Sarah, Rebecca, dan Prisly saling berpandangan dengan wajah bingung."K-Kak Nathan... jangan-jangan kamu benar-benar sudah kehilangan akal?" Prisly bertanya dengan cemas."Nathan, kamu tidak apa-apa?" Sarah ikut berjongkok di sampingnya sambil menatap wajahnya penuh kekhawatiran.Nathan tiba-tiba ban
Buku Resonansi Dunia kembali melayang tenang. Kali ini dia dapat membukanya tanpa hambatan sedikit pun. Saat halaman demi halaman terbuka, seluruh informasi mengenai tanaman yang baru saja disentuhnya ternyata telah tercatat rapi di dalam buku tersebut."Benar... jadi memang seperti ini." Ekspresi Nathan langsung dipenuhi kegembiraan.Tanpa membuang waktu, dia mengeluarkan berbagai benda dari dalam Cincin Ruang. Batu spiritual, senjata, bahan obat, hingga berbagai artefak memenuhi tanah di hadapannya. Setiap kali sebuah benda disentuh dan dialiri sedikit energi spiritual, informasi mengenai fungsi, asal, kualitas, hingga kegunaannya langsung muncul di benaknya.Nathan menarik napas panjang sambil tersenyum lebar. "Kalau begini... bukankah Buku Resonansi Dunia sama saja seperti sebuah ensiklopedia yang mencatat segala hal? Selama memilikinya, apa lagi yang tidak bisa kuketahui?"Semakin dipikirkan, semakin besar rasa kagum yang memenuhi hatinya. Namun tak lama kemudian, sebuah ide lain
Nathan hanya tersenyum masam. "Entahlah... bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa bisa mengenalnya.""Sudahlah, untuk apa dipikirkan?" Rebecca tersenyum puas sambil menggigit buah berikutnya. "Kalau setiap hari bisa makan buah seenak ini dan masih bisa mempercantik kulit, terjebak di sini juga tidak terdengar terlalu buruk."Melihat ketiganya kembali tersenyum membuat beban di dada Nathan sedikit berkurang. Walaupun mereka belum menemukan jalan keluar, setidaknya untuk sementara tidak ada ancaman yang mengintai. Dibandingkan Sektor Bayangan di Dune Hall yang dipenuhi hamparan gurun tandus, tempat ini jauh lebih nyaman untuk ditinggali.Nathan kemudian duduk di atas hamparan rumput sambil memandangi Sarah, Rebecca, dan Prisly yang mengobrol santai.Sesaat muncul sebuah angan di benaknya. Andaikan suatu hari nanti dia memiliki Sektor Bayangannya sendiri, lalu membawa semua orang yang penting baginya tinggal di sana tanpa harus terlibat dalam berbagai konflik dunia luar, mungkin kehidupan
Di sana, kitab bercahaya itu masih melayang tenang.Nathan berusaha mendekatinya untuk membaca kembali isi di dalamnya, tetapi sebelum kesadaran spiritualnya menyentuh kitab tersebut, sebuah tekanan luar biasa langsung menghantamnya dan memaksanya mundur.Nathan membuka mata dengan raut frustasi. "Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya."Perasaan itu sangat aneh.Ketika membaca kitab tadi, ia yakin setiap kata telah terekam jelas di dalam benaknya. Namun sekarang, semua isi kitab seolah terkunci rapat di balik sebuah penghalang yang sama sekali tidak dapat ditembus.Ia merasa seperti seseorang yang kehilangan sebagian ingatannya sendiri."Lalu bagaimana sekarang?" Prisly menghembuskan napas panjang. "Jangan-jangan kita benar-benar akan terjebak selamanya di Sektor Bayangan."Tak seorang pun mampu menjawab pertanyaan itu.Nathan sendiri juga belum menemukan jalan keluar.Grrkkk~Keheningan mendadak pecah ketika suara perut Rebecca kembali berbunyi nyaring. Setelah melalui begitu banya
Keesokan harinya. Ainsley mengendarai mobilnya dan langsung menuju penginapan, dan bersiap berangkat bersama dengan Reus dan Nathan menuju wilayah Abyss. Witan dan yang lainnya juga sedang bersiap untuk pergi ke wilayah Abyss dan melakukan penyelidikan. Saat melihat Ainsley mengemudikan mobilnya unt
“Sudah, tidak usah bicara lagi, kalian keluarlah, jangan mengganggu Tuan Wilbert!” Hartley mengibaskan tangannya dan berkata dengan dingin. Tidak peduli Nathan benar-benar mengerti pengobatan atau tidak, menurut Frank Hartley, seorang pemuda berusia dua puluh tahunan seperti Nathan mana mungkin bis
“Hah? Menikmatinya?!" Sarah terbelalak. "Eve membeli celana motif leopard, apa kamu ingin menikmatinya? Lagipula, kamu juga sudah pernah melihatnya, melihat sekali lagi tidak masalah, hah?!” Sarah berkata pada Nathan dengan ekspresi meledek. “Sarah!” wajah Beverly memerah. “Ugh!” Nathan terbatuk dan
Wanita itu tampaknya masih muda, sekitar dua puluh tahunan, dan mengenakan gaun berwarna biru muda tetapi ada banyak bercak darah di gaun itu, dan wajah wanita itu tampak pucat. Nathan berjalan mendekat, dan meletakkan tangannya di tangan wanita itu dengan ringan. Kemudian, energi spiritual mengalir







