Masuk"TIDAK MUNGKIN! APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN, DANI?" Freya berteriak histeris dengan isakan hebat. Seluruh persendian tubuhnya seketika lemas mendengar kegilaan mantan tunangannya itu.Dengan sigap, Bibi Ziang dan para pelayan memegangi tubuh Freya yang nyaris ambruk.Sementara itu, para pengawal tanpa aba-aba langsung meringkus dan mengamankan Dani.Dani diseret paksa menuju gudang belakang oleh para pengawal, tetapi tidak ada sedikit pun perlawanan darinya. Pria itu justru tertawa puas menyaksikan Freya yang menangis histeris."Aku tidak rela melihat kamu menikah dengan pria selain aku, Freya! Kalau kamu tidak bisa aku miliki, maka tidak boleh ada pria lain yang memilikimu! Kamu hanya milik Dani!" teriak Dani gila. "Bom itu akan meledak dalam waktu sepuluh menit! Kamu tidak akan bisa menyelamatkannya! Aku pastikan dia mati, dan kamu tetap sendiri sama sepertiku!"Freya terduduk lemas di atas lantai teras. "Paman ... tidak mungkin!" Ia mendongak menatap Bibi Ziang penuh kepanikan
"Dani ...."Semua orang terkejut saat mendengar Freya menyebut nama laki-laki itu sambil menyunggingkan senyuman tipis.Pun dengan Dani yang langsung tertawa haru sambil terus menatap Freya penuh harap. "Freya! Kamu mengingatku? Apa kamu mau menjadi Istriku? Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi, Sayang!"Freya melangkah menghampiri Dani. Melihat pemandangan itu, Bibi Ziang menghela napas panjang dipenuhi rasa kecewa. Ia memutar tubuh, malas menyaksikan adegan penyerahan diri tersebut.Sementara para pelayan dan pengawal lain hanya diam membisu sambil menundukkan kepala mereka."Sayang ... kamu benar-benar mengingat aku, kan? Semua kenangan indah yang pernah kita lewati berdua?" tanya Dani lirih dengan suara bergetar.PLAK!Suara tamparan keras dan nyaring seketika membelah keheningan teras.Orang-orang refleks menoleh ke asal suara, tak terkecuali Bibi Ziang yang menghentikan langkah kaki dan buru-buru berbalik ke belakang.Mata Bibi Ziang membulat sempurna saat melihat
"Nona, Anda harus tetap berhati-hati membuka kotak itu," ucap Bibi Ziang memperingatkan."Hmm, aku tahu Bi," senyum Freya, membayangkan kejutan indah dari Diego di dalam sana.Namun, belum sempat Freya menyentuh paket besar itu, tiba-tiba terlihat gerakan aneh dari dalam kotak."Ada yang bergerak! Apa isi paket itu?" panik pelayan."Menjauh, Nona!" teriak pengawal sigap sambil melangkah maju dan langsung menodongkan moncong senjata tepat ke arah kotak tersebut.Dengan gerakan refleks, Bibi Ziang dan pelayan lain menarik cepat lengan Freya, membawanya mundur menjauhi kotak misterius itu.Ceklek!Suara senjata api yang siap memuntahkan peluru."Jangan tembak! Tolong jangan tembak!"Semua orang di teras tercengang saat mendengar jeritan panik dari dalam kotak. Suara itu terasa sangat tidak asing di telinga Freya."Tolong jangan tembak! Ini aku ... Dani!" Pria itu perlahan berdiri dan memunculkan tubuhnya ke hadapan semua orang dari dalam kotak raksasa tersebut."Pak Dani?" Pengawal
Baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku celana, suara notifikasi pesan berbunyi. Dani merogoh kembali sakunya, mengeluarkan benda pipih itu, lalu melihat kiriman video dari nomor tak dikenal.Kedua mata Dani membulat sempurna saat menyaksikan isi video tersebut, yang memperlihatkan Nadia dan seorang pria asing tengah masuk ke dalam kamar hotel."Brengsek! Jadi selama ini dia berselingkuh di belakangku?" Dani mencengkeram erat ponsel di tangan dengan tatapan nyalang penuh amarah. "Sejak kapan dia berani bermain api?"Belum habis rasa terkejutnya, ia kembali menerima pesan susulan yang berisi penjelasan lengkap mengenai pengkhianatan Nadia.Dani tercengang, tidak menyangka wanita yang selama ini ia banggakan ternyata serendah itu. "Nadia sudah memiliki suami, bahkan sebelum mengenalku? Jadi selama ini aku sudah ditipu habis-habisan olehnya? Dia yang berselingkuh denganku di belakang suaminya?"Kenyataan pahit itu menghantam Dani begitu telak, membuat dadanya mendadak terasa sesa
"Tuan, Yenzing ingin bicara dengan Anda." Seorang pelayan menghampiri Diego yang berdiri di dekat pintu dapur, menyampaikan pesan sambil menundukkan kepala penuh hormat.Tanpa menjawab sepatah kata pun, Diego langsung berbalik melangkah meninggalkan area dapur menuju pintu utama mansion dan berjalan ke luar.Melihat sang Naga mendekat, Yenzing bergegas menghampiri. "Pemeriksaan keamanan di gedung pesta Pak Dani sudah selesai dilaksanakan, Tuan. Seluruh gedung sudah dipastikan steril, dan tim penjagaan ketat juga sudah diturunkan sejak semalam."Diego menganggukkan kepala pelan. Merogoh saku celananya, mengambil ponsel, lalu langsung menghubungi Yoss."Selamat pagi, Tuan," sapa Yoss sigap dari seberang sambungan. "Saya masih memantau di depan rumah Pak Dani, dan sejauh ini tidak ada hal yang mencurigakan.""Bagaimana dengan pergerakan Nadia?" tanya Diego."Sampai saat ini Nadia masih berada di dalam hotel bersama pria selingkuhannya itu. Kemungkinan besar dia tidak akan hadir di
"Nona kenapa? Wajah Nona terlihat sangat pucat."Freya menoleh ke belakang. Pemilik suara hangat itu tak lain adalah Bibi Ziang.Ia menghela napas panjang, lalu menarik kursi di depan meja makan dan duduk."Ada yang sedang Nona pikirkan? Tentang apa? Kalau Nona ingin membaginya, Bibi siap mendengarkan." Bibi Ziang mendekat dan duduk di samping Freya.Sebelum menceritakan keluh kesahnya, Freya mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan tidak ada siapa pun di sana selain mereka berdua."Tuan masih tidur di kamar tamu, Nona," ucap Bibi Ziang seolah mengerti kekhawatiran Freya. "Nona tidak perlu khawatir, Tuan tidak akan mendengar."Freya mengangguk pelan. "Aku dengar Paman ingin membawaku ke Amerika. Dia berniat mengobati amnesiaku di sana. Kalau sampai aku benar-benar ke sana dan Dokter memeriksa keadaanku yang sebenarnya sudah sembuh total, Paman pasti akan sangat marah dan kecewa."Bibi Ziang terdiam mendengarnya."Benar, kan, Bi? Paman Diego pasti kecewa ... dia pasti ma
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s







