MasukDyah Ayuwangi kehilangan segalanya dalam satu malam di Stasiun Tawang. Ditinggalkan tanpa kabar oleh Willem van Deventer, ia tak hanya patah hati, tapi juga dicap sebagai pengkhianat bangsa dan dibuang oleh keluarganya karena mencintai penjajah. Sepuluh tahun kemudian, Dyah bertahan hidup dengan mengelola panti asuhan bagi rakyat kecil. Namun, Willem kembali bukan untuk meminta maaf melainkan sebagai arsitek kolonial yang ditugaskan meratakan panti tersebut demi ambisi ayahnya membangun jalan rel kereta api. Di tengah desas-desus kota yang memandang Dyah dengan jijik dan intrik politik yang licik, keduanya terjebak dalam pusaran konspirasi yang jauh lebih gelap dari sekadar patah hati. Sekarang Willem harus memilih, menyelesaikan misi ayahnya demi karier di Eropa atau mengkhianati bangsanya sendiri demi menebus dosa masa lalu pada satu-satunya wanita yang pernah ia cintai. Dapatkah cinta tumbuh di atas tanah yang dipenuhi stigma ataukah fajar di Semarang hanya akan menyaksikan reruntuhan janji untuk kedua kalinya?
Lihat lebih banyakWillem tidak memedulikan tatapan jijik dan hinaan di sekelilingnya. Ia melangkah tenang menyusuri karpet merah utama. Derap langkah sepatunya yang kotor meninggalkan jejak lumpur tipis di atas marmer putih yang bersih, seolah sengaja mencemari kesucian Kota Atas.Di barisan tamu sisi barat, Hendrik yang mengenakan jas wartawan longgar menyelinap perlahan. Saat Willem melintas tepat di sampingnya, Hendrik batuk kecil secara terselubung, lalu mengangkat cangkir kopinya sembari memutar matanya tiga kali ke arah jendela utara, kode rahasia bahwa obor Dyah telah menyala dan Nyai Rahayu telah selamat di tangan panti.Mata biru Willem seketika berkilat terang. Beban berat dan kecemasan yang menggelayuti dadanya sejak pagi menguap tanpa sisa, berganti menjadi kepercayaan diri yang tinggi."Willem!" bentak Adriaan saat anaknya berhenti tepat lima langkah di depan tangga podium. "Tempat apa yang kaukira ini?! Bagaimana bisa kamu datang ke pesta malam amal karesidenan dengan pakaian kuli nis
Tanpa menunggu komando kedua, tiga kuli pelabuhan itu berbalik arah dan menerjang kegelapan lorong belakang Puri sembari mengacungkan balok kayu dan batu.Suara benturan kayu, jeritan opas, dan caci maki seketika pecah di belakang mereka, menciptakan ruang dan waktu bagi pelarian Nyai Rahayu."Ayo, Den Ayu! Lewat sini!" panggil Darmo seraya menyibak semak gelagah tinggi di mulut rawa.Dyah setengah menyeret Nyai Rahayu menuruni tanggul tanah yang licin. Air rawa setinggi lutut menyergap kaki mereka yang gemetar. Nyai Rahayu terbatuk pelan, napasnya tersengal-sengal menahan rasa perih di kedua pergelangan kakinya yang lecet."Dyah, tinggalkan Ibu!" bisik Nyai Rahayu parau di tengah guncangan langkah mereka. "Ibu hanya akan memperlambat kalian. Pergilah selamatkan panti!"Dyah menatap lurus ke sepasang mata teduh wanita tua itu dan meremas jemarinya yang dingin dengan kehangatan."Tidak akan pernah, Ibu! Mas Willem tidak akan memaafkan saya jika saya pulang tanpa membawa Ibu. Kita
Malam beringsut kian pekat menutupi seluruh sudut puri kabupaten. Di saat perhatian para pejabat dan perwira kolonial tertuju sepenuhnya pada persiapan pesta kemegahan di Societeit de Harmonie, suasana di sudut belakang puri tampak lengang dan mati. Suara musik gambang kromong dan denting gelas kristal dari arah Kota Atas tak tersampaikan hingga ke rawa belakang puri.Di dalam selokan pembuangan air tua berlumut yang terhubung langsung dengan rawa, Dyah merayap pelan. Kebaya luriknya telah basah kuyup oleh air selokan hitam, sementara helai-helai rambutnya melekat lepek di dahi. Tepat di belakangnya, Kang Darmo dan tiga kuli pelabuhan merayap tanpa suara sambil membawa dua potong balok kayu tebal dan rantai pengikat."Pelan-pelan, Den Ayu," bisik Kang Darmo seraya menahan tubuh Dyah saat mereka tiba di jeruji besi pembuangan air belakang puri. "Di balik dinding batu ini ada lorong menuju sel bawah tanah."Kang Darmo menyisipkan ujung linggisnya ke sela jeruji besi selokan yang s
Willem menoleh cepat dan menyeka noda oli di pipinya. "Ada apa, Hendrik? Fotografermu berhasil mengabadikan traktornya?""Lebih dari itu!" jawab Hendrik cepat.Matanya berkilat membocorkan rahasia penting. "Jaringanku di balai kota baru saja memberi kabar telegraf darurat. Aksi sabotase traktor ini memicu kepanikan total di Kota Atas. Residen dan Adriaan tahu mereka tidak bisa menembak mati ratusan buruh di depan kamera pers tanpa memicu revolusi pelabuhan!"Dyah mendekatkan wajahnya. "Lalu apa yang akan dilakukan Adriaan dan Soerjo?""Malam ini, Adriaan dan Soerjo terpaksa mengalihkan permainan ke ranah politik formal," kata Hendrik. Suaranya bertambah serius. "Mereka mengadakan pesta malam amal megah di Societeit de Harmonie untuk merayakan ulang tahun pertunangan Clarissa dan menenangkan para investor Eropa. Soerjo akan hadir di sana sepanjang malam sebagai penjamin keamanan."Willem menyipitkan matanya. "Soerjo akan berada di Societeit sepanjang malam?""Ya! Dan itu art
Adriaan van Deventer berjalan perlahan menembus barisan kuli yang mulai menyibak dan dikawal oleh dua opsir militer kolonial. Tatapannya tertuju pada rantai baja traktor yang putus di tanah, lalu beralih ke wajah Willem dengan kebencian yang sedalam lautan."Kamu telah melangkah terlalu jauh, Will
Malam semakin melarut di sepanjang tepian Kanal Timur, membawa serta hawa lembap yang menusuk tulang. Di teras panti asuhan yang remang-remang, Dyah duduk menyendiri di atas amben bambu. Sepuluh anak panti telah lama terlelap, menyisakan kesunyian yang mencekam. Tiba-tiba ada derap langkah kaki y
Willem kembali menaiki tangga bambu dan menyelesaikan sedikit demi sedikit atap dapur yang bocor. Ketika malam mulai turun, Willem akhirnya turun dari atap.Anak-anak panti sudah masuk ke kamar untuk bersiap tidur. Dyah berdiri di ambang pintu dapur, membawa selembar kain handuk kering dan segelas
Saat buldoser itu merangsek satu meter lebih dekat, Willem bergerak tanpa ragu. Secara refleks, tangan kirinya menarik bahu Dyah dengan cengkeraman yang erat namun protektif dan menyembunyikan tubuh wanita itu sepenuhnya di balik punggung tegapnya. Sebelum melangkah maju melewati barikade, Willem


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.