Masuk.) Semua berawal dari keluarga priyayi yang mengalami kebangkrutan dan salah satu anak perempuannya bernama Warti menjadi penjahit cukup terkenal di desanya. Lalu menikah dengan Wanto anak dari saudagar kaya di desa. Lama kelamaan, mereka punya anak terakhir bernama Anis. .) Selama perjalanan waktu ternyata takdir membawa Warti kepada kematian. Dan keluarga Wanto hidup serba kekurangan. Masa kecil Anis memang kurang beruntung layaknya anak-anak yang lainnya. Sampai ia juga iri dengan sepupunya dari pihak Warti bernama Aro. Ketika Aro bermain sepeda, Anis hanya bisa menonton. Kehidupan Aro ini sangat berkecukupan, semuanya terpenuhi dan serba ada. ,) Ketika memasuki usia sekolah SMP pun Anis mendapatkan uang saku dari ayahnya Aro. .) Lulus SMP, Anis tidak melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Sedangkan Aro melanjutkan ke jenjang SMA di kota. .) Lulus SMP, Anis bekerja menjadi salah satu karyawan di toko milik Cina di Jakarta. Selama itu kehidupannya sedikit demi sedikit berubah lebih baik. .) Selama hampir 7 tahun, Anis bekerja di Jakarta dan mengenal gemerlap kota Jakarta. .) Selama itu pula dia punya pacar yang bekerja di sana juga. Akhirnya terjadilah malapetaka tersebut. Ia mendapatkan banyak siksaan dari pacarnya. Tapi dia tidak pernah mengadu ke pihak berwajib. Dia hanya cerita kepada Aro. .) Setelah selesai bekerja di Jakarta, ia memutuskan bekerja di Hongkong sebagai perawat dan menata kembali hidupnya. .) Selama bekerja di Hongkong, dia bertemu dengan jodohnya. Dan akhirnya sukses bisa membuat rumah dengan biaya hasil kerjanya.
Lihat lebih banyakA dark blue document folder was thrown onto the glass table in front of Elena.
“Sign it,” Charlie ordered flatly, his voice devoid of emotion. “Sarah has returned. She’s fully recovered now, and I won’t let her keep hiding just because she’s afraid of you.” Elena stared at the bold word Divorce printed across the top of the papers. Her chest instantly tightened with unbearable pain. For five years of marriage, Elena had survived in hell. She endured every insult, was branded as the monster who ruined her own sister’s life, and was forced to serve Charlie while he constantly looked at her with disgust. She swallowed all that pain for one foolish hope: that someday Charlie would finally see her as Elena, not merely Sarah’s shadow. But today, that hope died completely—trampled beneath the feet of the same man she once risked her life to save from an icy lake many years ago. Slowly, Elena lifted her head, refusing to shed another tear in front of this man. “You never even asked me once, Charlie,” Elena said, her voice trembling coldly. “Did I really cut those brake lines? Am I truly that cruel in your eyes?” Charlie scoffed dismissively. Leaning back against his chair, he folded his arms across his chest arrogantly. “What else is there to ask, Elena?” His gaze radiated pure hatred. “Sarah became crippled because of your sick obsession with me,” he accused coldly. “You were jealous because I loved her, not you.” His finger pointed directly at Elena’s face. “Now she’s back to reclaim her happiness. I won’t let you touch or hurt her ever again. Your existence in this house was a mistake from the very beginning.” A mistake… Elena almost wanted to laugh hysterically. If Sarah had suffered overseas, then what should Elena call her own life? Who was the one trapped every night inside a silent room, crying until she threw up because of Charlie’s rejection? Charlie had deliberately married her while drunk, swearing to torment her for the rest of her life as revenge for Sarah’s disability. And Elena accepted every bit of that suffering for the sake of the truth she desperately hoped would one day come to light. How naive she had been. “Yes, you’re right,” Elena whispered bitterly with a faint smile. “Spending five years of my life loving you was the greatest mistake I’ve ever made.” Charlie frowned slightly. A strange flicker crossed his eyes when he heard the resignation in Elena’s voice, but his arrogance quickly buried the emotion. “Good. At least you finally understand. Take the compensation money and disappear as far away from our lives as possible.” Elena lowered her eyes to the enormous amount written in the document. To Charlie, those numbers were nothing more than a price tag placed on the remains of her dignity. With trembling yet determined hands, Elena picked up the pen. The blazing love she had carried for him for more than a decade had now turned completely to ashes. Taking a deep breath, Elena signed her name across the paper. Done. This cursed bond had finally been severed. She dropped the pen, letting it roll across the glass table. Then she rose to her feet. Her gaze toward Charlie no longer contained pain—only absolute emptiness, as though the man before her was nothing more than a stranger. Yet somehow, that change in her eyes caused Charlie’s chest to tighten unexpectedly. A sudden sense of loss swept through him, but his pride forced him to ignore it. “I’m leaving,” Elena said calmly. “And I swear on the rest of my life, Charlie—one day, you’ll fall to your knees and beg God to turn back time to this very day. The day you threw away the only person who ever sincerely gave her life for you.” Without waiting for a response, Elena turned around and walked firmly out of the room. As she stepped through the gate beneath the light drizzle, Elena placed one hand over her still-flat stomach. Hidden beneath her dress was a tiny secret she had only discovered that very morning through two red lines on a pregnancy test. A cold smile slowly spread across Elena’s rain-soaked face. “Charlie, you will never know about this child.” Starting today, the weak Elena was dead. And when she returned someday, she would no longer stand beneath anyone’s shadow.Hari demi hari berlalu begitu saja. Anis sudah bisa melayani pembeli di toko pakaian Aro.“Anis, aku seneng banget bulan ini kita mendapat banyak sekali pesanan baju. Jadi, aku bisa menggajimu dengan bonus.”“Wah, makasih banyak ya, Ro.” Anis tersenyum manis yang membuat Aro membatin, ‘ternyata kalau dilihat-lihat Anis cantik juga.’“Aro?” Anis mengguncang-guncang tubuh Aro.“Eh eh, iya, Nis. Maaf ya aku malah jadi melamun. He he he.”“Iya nggak apa-apa, Ro. Takutnya kalau kamu melamun gini nanti kesambet, lho.”“Yeee malah bercanda.”Anis dan Aro tenggelam dalam gelak tawa. Tiba-tiba saja dari lubang hidung Anis keluar cairan merah. Anis mimisan.“Kamu kenapa, Nis?” tanya Aro dengan nada khawatir.“Nggak tahu nih, Ro tiba-tiba aja mimisan. Sebelumnya nggak pernah gini. Mana aku sedang hamil.”“Kamu harus periksa ke dokter, Nis.”“Gimana sama kerjaanku, Ro?”“Udah. Kamu nggak usah mikirin tentang kerjaan. Oh ya, Tomo bawa ponsel, nggak?”“Tomo nggak bawa ponsel kalau kerja, Ro. Memang
Matahari mulai menyembul dari ufuk timur. Setelah sarapan nasi dengan sambal goreng tempe, Anis segera mengantar Putri ke sekolah. Tomo seperti biasa pergi bekerja membangun rumah di desa sebelah. Pukul 07.05 WIB Anis selesai mengantar Putri ke sekolah, lalu menghentikan mesin motor di depan rumah Aro.“Kamu ke sini kok pagi banget sih, Nis?” tanya Aro yang baru selesai membuka toko pakaian.“Iya nih, Ro. Aku tadi habis mengantar Putri ke sekolah.”“Wah iya. Katanya kamu mau jadi karyawan di tokoku ya, Nis?” tanya Aro yang duduk-duduk di dalam toko. Anis kemudian duduk-duduk sambil menjawab dengan suara parau, “Iya nih, Ro. Aku bingung nyari uang tambahan untuk biaya lahiran nanti.”“Selamat juga ya atas kehamilanmu. Memangnya kamu nggak apa-apa bekerja dalam keadaan hamil begini?”“Nggak apa-apa kok, Ro. Uang dari pekerjaannya Tomo yang sebagai kuli bangunan nggak cukup buat biaya lahiran nanti.”“Jadi begitu. Mulai hari ini kamu sudah bisa bekerja kok, Nis. Ohya, suamimu tahu apa ng
Anis teringat akan sesuatu. Ia terlambat datang bulan. Lalu ia menghitung tanggal terkahir datang bulan.“Jangan-jangan aku hamil.”Untuk memastikan kebenaran, ia membeli tespek di apotik terdekat. Setelah dilakukan tes sederhana, Anis terkejut melihat hasilnya. Ia positif hamil. Anis tersenyum bahagia.Ia membagikan kebahagiaannya melalui akun FB.“Tomo,” ucap Anis sambil melingkarkan lengannya ke punggung Tomo.“Iya, kenapa, Nis?”“Hari ini aku sangat bahagia.”“Bahagia kenapa?” Tomo melepaskan pelukannya dengan pelan.“Kamu tahu nggak kalau aku sedang hamil.”“Apa? Kamu hamil? Kita bakal punya anak lagi dong.”“Iya. Putri bakal punya adik.”“Jadi, kamu muntah-muntah waktu kemarin ternyata hamil toh.”“Iya. Kamu bahagia kan?”“Iya. Aku bahagia banget.”“Tapi, dari mana nyari uang tambahan buat biaya lahiran nanti? Juga uang tambahan buat anak kedua kita? Aku bingung.”“Kamu tenang ya, Nis. Aku akan nyari pekerjaan tambahan.”“Memangnya mau kerja apa?”“Entahlah. Kita lihat saja nant
Anis terpaksa menghentikan aktivitasnya yang sedang menyapu. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan berteriak memanggil nama Tomo, “Tomo, kamu udah selesai apa belum mandinya?”“Iya bentar lagi kok,” sahut Tomo dari balik pintu kamar mandi.Selesai mandi, Tomo bertanya kepada Anis, “mengapa kamu teriak kaya gitu? Ada apa? Apa kamu udah kebelet pipis?”“Enggak kok, Tom. Aku cuman mau bilang aja tadi kamu dicariin sama Diki,” jawab Anis.“Ada apa memangnya? Nunggu aku selesai mandi kan bisa. Kenapa harus teriak gitu?”“Ya maaf. Nanti malam Diki ada acara bancaan. Kamu diundang ke acara bancaan.” Anis nyengir bagai kuda yang tidak berdosa. Ia memasang wajah kuyu di depan Tomo. Lelaki ganteng itu manyun.“Ya sudah kalau gitu. Iya aku pasti datang kok.”Anis tersenyum menyeringai. Tomo membalas dengan senyuman pahit. Kemudian Anis ke kamar mengambil ponsel pintarnya. Lalu mengirim pesan WA kepada Aro.[Aro, gimana kandunganmu sehat?][Sehat kok, Nis. Alhamdulillah.][Alhamdulilla
Anis yang merayakan ulang tahun anaknya mengundang Aro di acara tersebut. Sama seperti teman-temannya Putri, Aro pun memberikan kado ulang tahun kepada Putri. Anis tersenyum sangat manis. Tomo yang berdiri di samping Anis, melirik Aro.Aro menyadari tingkah Tomo segera berdehem. Tomo menjadi salah ti
Anis masih mengingat bagaimana bapaknya pergi untuk selamanya. Waktu itu Anis memutar gagang pintu kamar. Setelah Tomo memeriksa kondisi bapaknya dengan wajah pucat. Ternyata denyut nadi bapaknya Anis sudah tidak ada.Hari ini Anis bersama sang kakak akan mengadakan pengajian 100 hari untuk mengenang
Waktu yang terbatas memaksa Aro langsung mengenakan blazer cokelat yang dipadukan jilbab merah. Ia tidak mandi. Bagas memberinya selembar uang berwarna merah. Suaminya itu meminta Aro membelikan makanan.Tak lama kemudian Anis mematikan mesin motor di depan rumah Aro.“Arooo, cepetan!” Aro yang menden
Aro yang suka sekali main medsos, memiliki akun facebook. Sayangnya ia tidak berteman akun dengan Tomo. Hanya berteman akun dengan akun Anis. Hampir setiap hari Aro memposting kegiatannya sehari-hari.Beberapa akun tidak dikenal menglike dan mengomentari postingan Aro. Saat akun bernama Bagas mengome


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.