LOGINElias Thorne, PDG froid et impitoyable de Thorne Global, est habitué à exiger la perfection et à obtenir ce qu'il veut. Mais une clause bizarre dans le testament de son défunt grand-père a jeté un pavé dans la mare de sa vie méticuleusement contrôlée : pour hériter de son empire, il doit épouser une femme dotée d'une pure passion créative — une artiste — dans les 90 jours. Tout manquement signifie tout perdre au profit de son cousin rival et manipulateur. Entre en scène Sienna Reed, graphiste farouchement indépendante qui, secrètement, est une artiste de rue virale. Luttant pour payer les factures médicales écrasantes de sa mère, elle est un pion improbable, mais nécessaire. Elias lui propose un contrat non négociable de dix-huit mois : Un mariage temporaire contre un prix astronomique. Sienna accepte, jurant que l'arrangement restera strictement commercial. Mais vivre sous le même toit dans le penthouse stérile d'Elias force l'artiste chaotique et le PDG dominateur à une collision immédiate. Alors qu'ils naviguent entre les batailles féroces du conseil d'administration, les événements mondains, et les tentatives incessantes de son ex-fiancée pour reprendre sa place, les limites de leur contrat commencent à s'estomper. Lorsqu'une intrigue corporative menace de révéler le secret profond et caché derrière l'étrange stipulation du testament — un secret qui lie la lignée artistique de Sienna directement à la dynastie Thorne — Elias doit choisir. Peut-il protéger la femme qui a fondu son cœur gelé de manière inattendue, ou les termes mêmes de leur contrat détruiront-ils finalement l'empire, et l'amour fragile, qu'ils ont secrètement construits ?
View More“Ayo, Alyssa. Lakukan demi Ayah,” bisiknya pada diri sendiri sebelum melangkah masuk.
Gedung di hadapannya adalah benteng kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan. Bagi Alyssa, ini adalah pelabuhan terakhir. Ayahnya, Johan Verena, kini mendekam di sel besi atas tuduhan pencucian uang senilai jutaan dolar.
Alyssa tahu ayahnya hanyalah tumbal dari rekan bisnisnya yang licik, namun hukum tak butuh air mata, hukum butuh bukti dan pembelaan yang tak terkalahkan.
Setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat, Alyssa akhirnya berdiri di depan pintu kayu jati besar di lantai paling atas. Di sana, duduk seorang pria yang namanya selalu menghiasi tajuk utama berita hukum: Arsenio Valmer.
Arsenio tidak mendongak. Karena sedang sibuk meninjau tumpukan dokumen dengan kacamata berbingkai perak yang bertengger di hidungnya yang bangir. Aura di ruangan itu terasa beberapa derajat lebih dingin.
“Duduk,” perintah Arsenio singkat.
Alyssa lantas duduk dengan punggung tegak, sambil mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah meja. “Terima kasih sudah meluangkan waktu, Tuan Valmer. Saya Alyssa Verena, saya lulusan terbaik hukum dari Universitas Thera—”
“Aku sudah membaca resumenya,” potong Arsenio tajam, lalu akhirnya mendongak. Sepasang mata gelapnya menatap Alyssa dengan tatapan menilai yang membuat Alyssa merasa telanjang. “Fokus hukum perdata. Baru lulus dua bulan yang lalu. Belum punya lisensi beracara. Benar?”
Alyssa menelan ludah. “Be-benar, Tuan. Tapi saya sangat kompeten dalam riset dan—”
“Nona Verena,” Arsenio menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mahal.
“Ars’s Legal adalah firma hukum pidana dan korporasi elit. Kami tidak menerima magang yang bahkan belum bisa membedakan prosedur pengadilan negeri dan arbitrase internasional secara praktis. Latar belakang perdatamu tidak berguna di sini. Kau hanya akan menjadi beban bagi stafku.”
Wajah Alyssa memanas mendengar Arsenio yang sudah dipastikan menolak resumenya itu. “Tuan, saya bersedia bekerja dari bawah. Sebagai asisten hukum junior, atau bahkan staf administrasi. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk…”
Alyssa tak bisa melanjutkan ucapannya karena sudah dipastikan Arsenio semakin enggan menerimanya bekerja di sana.
Arsenio menaikan alisnya melihat Alyssa yang terdiam, kemudian menutup map di depannya dengan suara berdebum yang keras.
“Di sini bukan perusahaan untuk pemula. Jangan membuang waktuku dengan memohon pekerjaan yang tidak layak kau tempati.”
“Tolong, Tuan Valmer. Saya bisa belajar dengan cepat. Saya tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai tolong,” suara Alyssa mulai serak karena keputusasaan yang membuncah.
“Keluar, Nona Verena. Sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu,” usir Arsenio tanpa belas kasihan.
Alyssa berdiri dengan lutut lemas. Penghinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada hawa dingin di luar. Dengan lemas, akhirnya Alyssa berbalik menuju pintu. Namun, tiba-tiba pintu itu terbuka lebar dengan kasar.
Seorang balita laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari masuk sambil menangis histeris. Suara tangisannya begitu melengking, penuh dengan ketakutan dan frustrasi.
“Papa! No! Nooo!” teriak anak itu.
Alyssa ternganga, dan terpaku di tempatnya saat melihat balita itu menerjang kaki Arsenio dan memeluknya erat. Arsenio, pria yang baru saja mengusirnya dengan kejam, kini tampak kaku dan kewalahan.
“Nathan, berhenti menangis,” ujar Arsenio dengan nada yang tidak sabar. “Papa sedang bekerja.”
Namun, tangis Nathan justru semakin menjadi-jadi. Ia mulai memukul-mukul kaki Arsenio, wajahnya merah padam dan napasnya tersengal-sengal karena tantrum yang hebat. Tak lama kemudian, tiga orang staf masuk dengan wajah pucat pasi.
“Maaf, Tuan Valmer. Tadi dia sedang makan siang, tapi tiba-tiba melempar piringnya dan mencari Anda,” ucap salah satu staf wanita dengan suara gemetar.
“Kenapa kalian tidak bisa menenangkannya?” bentak Arsenio. “Di mana pengasuh barunya?”
“Nyonya Miller baru saja menyatakan mengundurkan diri, Tuan. Dia bilang dia tidak sanggup lagi menghadapi ledakan emosi Nathan. Ini pengasuh kelima bulan ini yang berhenti,” jawab staf itu pelan, nyaris berbisik.
Arsenio memijat pangkal hidungnya, tampak sangat pening. “Sial. Aku ada rapat pemegang saham satu jam lagi. Bawa dia keluar! Berikan apa saja yang dia mau, asal dia diam!”
Para staf mencoba mendekati Nathan, namun anak itu justru semakin histeris. Ia berguling di lantai, menolak disentuh oleh siapa pun. Suasana kantor yang semula profesional berubah menjadi kacau balau.
Alyssa memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia melihat ketakutan di mata Nathan, bukan sekadar nakal, tapi anak itu tampak sangat kesepian dan cemas. Instingnya sebagai seseorang yang dulu sering mengasuh adik-adik sepupunya tiba-tiba bangkit.
“Dia tidak butuh mainan,” gumam Alyssa tanpa sadar, namun suaranya terdengar oleh Arsenio.
Arsenio menoleh tajam ke arah Alyssa. “Kau masih di sini?”
Alyssa tidak menjawab tantangan itu. Ia justru melangkah mendekat ke arah Nathan, mengabaikan tatapan peringatan dari para staf. Ia berjongkok beberapa meter dari Nathan, tidak langsung menyentuhnya.
“Hei, jagoan,” ucap Alyssa dengan nada yang sangat lembut dan tenang, kontras dengan keributan di ruangan itu. “Ada paus biru besar yang tersesat di saku Kakak. Mau lihat?”
Tangisan Nathan mereda sejenak, hanya menyisakan isak kecil. Bocah itu pun menoleh ke arah Alyssa dengan mata yang basah, yang membuat Arsenio menganga tak percaya.
“Ba-bagaimana bisa…?”
ÉlieLes cloques violettes sur mes jointures n'ont pas éclaté ; elles ont durci en perles transparentes et vitreuses qui ressemblaient à la résine qui jaillit d'un épicéa blessé au milieu de l'été. Lorsque j'ai fermé mes doigts droits autour de la poignée en hickory du marteau d'encadrement, le bois ne semblait pas être du bois. C'était comme une extension de mon propre avant-bras - froid, lourd en grains et boulonné à l'os.Je n'ai pas utilisé mes jambes pour sortir du fumoir. Je me suis traîné par mon coude droit, mon côté gauche mort traînant à travers la suie de hickory comme une bûche tirée par une seule mule. Le cercle de givre autour de la dent de Silas faisait maintenant cinq pieds de large, les aiguilles de glace blanches crépitant sous ma poitrine avec un bruit de paille sèche qui se brise dans une grange d'hiver.Le chemin à travers le verger avait disparu. Les ornières où la charrette à main de Sienna avait coupé les mauvaises herbes de quai étaient maintenant de larges fo
Terre de SienneLes arbres en cèdre de la charrette à main étaient trop larges pour ma prise. Mes doigts ne se fermaient pas tout autour du bois brut et ébréché, alors j'ai dû envelopper mes mitaines avec deux bandes de flanelle grasse que j'avais arrachées de la vieille chemise d'hiver d'Elias.Le chariot était léger lorsque nous sommes passés devant le fumoir, mais au moment où la clôture du potager est tombée derrière nous, les roues de cerceau de fer avaient trouvé toutes les ornières molles du chemin du verger. L'essieu a laissé échapper un long cri sec qui m'a mis les dents sur le bord - un grand cri en métal qui ressemblait à un cochon pris sous une porte."Arrête une minute, Marcus", ai-je haleté, laissant tomber les arbres dans les mauvaises herbes du quai mort.Ma poitrine avait l'impression d'être pleine de copeaux de cèdre secs. J'ai appuyé mon poids contre le côté du chariot, en regardant la porte de la cuisine. La maison avait l'air différente d'il y a trois semaines. La
VivienneLe ponceau du poteau du quatrième kilomètre a été construit en granit de montagne rouge qui était devenu noir avec soixante ans de suie de locomotive. Habituellement, le ruisseau le traversait dans un fil fin et bruyant, mais aujourd'hui, l'eau était sauvegardée dans une piscine de la taille d'un sol de grange, étouffée par des branches d'aulne mortes et des écorces de prémures.Le vieil homme Gidley n'avait pas menti sur les liens.Les lourds bois de chêne qui retenaient les rails en acier se soulevaient du ballast de gravier. Ils n'avaient pas l'air de flotter sur l'eau ; ils avaient l'air de dents poussées hors d'une croûte gingive. Les pointes de fer - ces boulons épais et carrés qu'Alistair avait l'habitude de dire être les seules choses honnêtes que l'entreprise ait jamais achetées - étaient à moitié tirées du bois, leurs têtes rouillées montrant deux pouces de métal brut et brillant en dessous."Le train ne l'effacera pas, Vivienne", a déclaré Gidley. Il m'avait suivi
VivienneLa valise en cuir a augmenté de trois livres à chaque fois que le vent changeait. Au moment où j'ai frappé les prêles où l'ancienne piste d'exploitation forestière traversait les appartements, les boucles en laiton étaient assez froides pour brûler à travers mes mitaines en laine.La route ici n'était pas de terre. C'était du velours côtelé - de vieilles bûches de pin posées côte à côte à travers la boue des marais il y a soixante ans, laissées à pourrir jusqu'à ce que la mousse devienne assez épaisse pour cacher les lacunes entre le bois. À chaque troisième pas, mon talon de botte glissait de l'écorce humide dans six pouces de slough noir qui sentait les fougères congelées et le fer noyé.Je me suis arrêté près d'une souche brûlée pour changer de main sur la valise.Mon souffle ne sortait pas dans des nuages normaux ; il pendait dans l'air humide comme des chiffons de laine grise, épais et aigre-doux. Lorsque j'ai regardé la piste, mes propres empreintes ressemblaient à des
Le point de vue de Sienna ReedLa matinée n'a pas commencé par un beau lever de soleil ou un réveil lent. Cela a commencé avec mon téléphone qui a clacoté contre la table de chevet en marbre comme une perceuse. Dans le silence mort de cet immense penthouse, le son était suffisant pour me faire palp
Le point de vue de Sienna ReedLe penthouse était toujours silencieux. Pas calme, mais silencieux - un vide de bruit humain. Le personnel se déplaçait comme des fantômes, les murs absorbaient le son, et Elias travaillait soit dans son bureau insonorisé, soit dormait dans son aile séparée de la suit
Le point de vue de Sienna ReedLa salle de réunion de Thorne Global était tout ce qu'était le penthouse d'Elias, seulement plus bruyant. C'était une cathédrale de pouvoir, tout en acajou brillant, en chrome poli et une efficacité froide et implacable.Sienna était vêtue de la deuxième robe noire qu
Le point de vue de Sienna ReedL'aile secondaire des invités était plus grande que tout son appartement précédent. C'était un espace conçu pour les visiteurs importants qui ne rêveraient jamais de laisser une tache d'eau sur un dessous de verre.Sienna se tenait au milieu de son "studio" désigné, q






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.