LOGINAvez-vous déjà découvert qu'une personne que vous considériez comme votre meilleure amie pourrait représenter une menace pour votre famille ? C'est l'histoire d'Adeline, une jeune femme d'une beauté envoûtante, qui succombe au charme de Donald, le frère de sa meilleure amie. Leur romance semble idyllique, jusqu'à ce que le père de Donald tombe lui aussi sous son charme irrésistible. Malgré ses réticences initiales, Adeline finit par céder à ses avances. Désormais, elle entretient des relations secrètes avec Donald et son père. Lorsque Adeline tombe enceinte, une question terrifiante se pose : qui est le père de l'enfant ? Incapable de supporter la honte et les insultes qui s'ensuivent, Adeline envisage de mettre fin à ses jours. Quel sera le dénouement de cette histoire tumultueuse ?
View MoreLangkah Salsa gemetar melihat rumah megah Nayendra dihias begitu indah. Sebuah tenda besar berdiri kokoh di gerbang masuk. Sepertinya keluarga itu tengah berpesta, tetapi mengapa dirinya tidak tahu apa pun.
Dia adalah menantu di keluarga ini meski hanya sang ayah mertua saja yang menerimanya. Mama dan kedua adik Arkan tidak pernah memandangnya karena mereka menganggap dirinya tidak sederajat. Memang, Arkan menikahinya tanpa restu sang mama dan membawa dirinya tinggal terpisah dengan keluarga besarnya. Meski begitu, Salsa selalu mendorong suaminya tetap berkomunikasi dengan sang wanita yang melahirkannya itu.Setahun ini hubungan mereka membaik. Arkan lebih sering mengunjungi mamanya walau tanpa dirinya. Sang mama belum menerima wanita pilihan anaknya sebagai menantu. Awalnya Salsa memaklumi sikap Arkan yang akhir-akhir ini lebih sering berada di sana, sungguh dia tidak pernah berpikiran buruk tentang suaminya. Namun, satu kenyataan yang ditemuinya tadi siang membuat hatinya tergerak ingin tahu.Dan ... di sinilah dia sekarang. Salsa tercekat, dadanya seperti ditusuk belati tumpul hingga seluruh tubuhnya bergetar menahan sakit. Di depannya, Arkan tersenyum bahagia sambil memeluk seorang wanita yang tengah mengandung. Sorot mata keduanya memancarkan cinta. Tanpa sadar Salsa meraba perutnya. Dadanya sesak melihat senyum Arkan yang lepas, berbeda sekali jika bersamanya.Salsa melangkah maju dengan gontai. Tak dipedulikan tatapan para tamu padanya. Arkan pun menyadari kehadiran sang istri. Pria itu membeku, seolah-olah sadar aura dingin yang mengiringi langkah wanita tersebut."Kenapa, Mas? Apa salahku padamu hingga tega menusukku dari belakang?!" tanya Salsa dengan sorot mata terluka, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.Arkan tercekat. Dia bisa melihat wanita yang dinikahinya dua tahun yang lalu terluka. Ada penyesalan dan amarah dalam hatinya. Menyesal karena melukai wanita selembut Salsa dan marah sebab ketidakberdayaannya."Maaf, Salsa. Pulanglah ... akan kujelaskan di rumah nanti," ujar Arkan parau.Salsa tersenyum getir. "Pulang ke mana? Rumah siapa? Sedangkan suamiku sendiri tak mengakuiku!"Arkan mengusap wajahnya kasar, dia terlihat frustasi, sementara semua mata tengah memandang ke arah mereka. Dengungan para penonton dadakan itu seperti suara lebah yang menyengat harga diri Arkan."Kumohon Salsa, jangan mempermalukan-""Siapa?! Aku?" tukas Salsa cepat, wajahnya memerah meredam emosi. "Atau kamu? Aku tidak peduli, Mas. Jelaskan siapa dia?" Telunjuk Salsa mengarah pada wanita yang sedari tadi menggamit lengan suaminya.Arkan mengembuskan napas lelah. Melirik sekilas ke arah wanita yang bergayut di lengannya. "Dia Nadia. Kami sudah menikah dan sekarang dia sedang mengandung anakku." jelas Arkan pelan. Tak urung kata-kata pria itu melukai hati Salsa.Pandangan Salsa jatuh pada perut Nadia yang terlihat membuncit. Wanita itu tersenyum mengejek ke arahnya. 'Nadia' nama itu bukanlah tandingan bagi dirinya. Wanita itu selalu bersinar sejak dulu dan Arkan selalu memujanya. Sempat terluka karena dia lebih memilih karirnya dan menikah dengan seorang produser. Salsalah yang membalut luka hati Arkan, mendampingi pria itu bangkit dari keterpurukan. Bukan hal mudah mengembalikan semangat hidup Arkan.Dua tahun terpuruk, Arkan menawarkan cinta untuk Salsa. Meski ragu, dia menerima pinangan pria itu sebab jauh di hati, Salsa sudah lebih dulu mencintai pria itu. Hari ini, di annyversary pernikahan mereka yang kedua, wanita tersebut mendapat kado yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup, Arkan dan pengkhianatannya.Pandangan Salsa mengabur karena air mata yang menggenang. Dia berusaha mengokohkan kakinya agar tidak jatuh dan terlihat lebih menyedihkan."Aku masih istrimu, Mas. Ceraikan wanita itu," pinta Salsa lantang.Arkan menggeleng. "Aku tidak bisa. Dia mengandung anakku," tolaknya tegas.Salsa tertawa getir. Dua tahun menikah Arkan menolak memiliki anak dengannya, sedangkan dengan Nadia ... rasanya udara yang dihirup Salsa berubah menjadi serpihan kaca yang melukainya setiap bernapas."Aku tidak menyangka kau sekejam ini, Mas. Kuserahkan hatiku padamu, kuabdikan diriku untukmu, dan kuletakkan kesetiaanku padamu, nyatanya kau tak ubah seperti banci," desis Salsa tajam menghunjam tepat ke dada Arkan.Plak!Arkan menatap telapak tangannya yang bergetar. Untuk pertama kalinya dia menampar wanita dan itu adalah istrinya sendiri. Pandangannya beralih ke wajah Salsa. Pipi putih wanita itu memerah dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Hati Arkan berdenyut ketika melihat sorot mata Salsa yang kosong. Dia tahu telah menyakiti istrinya lebih dari yang seharusnya. Namun, kata-kata wanita itu menampar egonya. Bagaimana mungkin Salsa memintanya menceraikan Nadia, wanita yang tengah mengandung pewaris keluarga Nayendra."Salsa ...."Kata-kata Arkan menggantung karena isyarat dari Salsa. Wanita itu mundur satu langkah menjauhinya."Dengar, Tuan Arkan Nayendra yang terhormat. Aku memang tidak sebanding dengan keluarga kalian. Akan tetapi, kaulah yang menawarkan pernikahan padaku, berjanji menjaga hingga akhir hayatku. Namun, kusadari seorang pengecut sepertimu hanya mampu berjanji tanpa pernah bisa menepati.""Salsa, cukup!" Arkan mencoba menghentikan badai yang dibawa wanita itu, tetapi siapa yang mampu meredam wanita yang sedang terluka hatinya. Seperti murka yang dibawa Dewi Amba pada Bisma Yang Agung. Menggetarkan mayapada dan membuat sang kesatria bertekuk lutut di bawah kutukannya.Begitupun Salsa. Wanita itu laksana topan yang tengah mengamuk. Tatapannya penuh dendam, seluruh tubuhnya menyuarakan kepedihan ditambah tatapan sinis keluarga Nayendra yang mengejeknya."Ceraikan aku Tuan Arkan Nayendra!" pinta Salsa dengan suara bergetar.Arkan bergeming. Dia memang mencintai Nadia, tetapi Salsa juga berarti baginya. Tak pernah terpikir olehnya untuk menceraikan wanita itu.Salsa mendengkus melihat reaksi Arkan. Pria itu hanya diam dan itu membuatnya meradang."Apa yang Anda pikirkan Tuan Arkan? Selama ini aku seperti orang bodoh percaya pada semua ucapanmu. Nyatanya, semua hanya sampah. Aku hanya istri figuran bagimu, yang bisa kau buang setelah pemeran utamanya kembali." Salsa menghela napasnya yang tersengal, dia menjeda kata-katanya. "Ceraikan aku dan kau tidak perlu repot berselingkuh dengan jalang itu." sembur Salsa."Salsa!" bentak Arkan. Kesabaran pria itu habis ketika mendengar Salsa menyebut Nadia jalang."Baik, jika itu maumu. Kau akan kucerai. Mulai hari ini kau bukan lagi istriku. Hapus tentang aku di dirimu karena kau tidak punya hak lagi menjadi bagian keluarga Nanyendra." ucap Arkan lantang. Namun, di beberapa detik kemudian dia merutuki lidahnya yang lancang bergerak bahkan sebelum berpikir. Dia tidak akan pernah sanggup menceraikan Salsa. Tadis itu sebatang kara dan Arkan telah berjanji di hadapan almarhum Ayah gadis itu untuk menjaganya.Salsa mematung mendengar kata-kata Arkan meski dia yang meminta. Dia tidak mengira Arkan sanggup memuntahkan kalimat kejam untuknya. Hingga sebuah kesadaran membuatnya menyadari, Arkan tidak pernah mencintainya. Pria itu hanya menjadikan dirinya pelarian semata. Perlahan cinta yang besar untuk pria itu berubah menjadi sebuah kebencian."Baiklah. Aku menerima keputusanmu. Ingatlah, mulai hari ini hubungan kita terputus. Apa pun yang terjadi di masa depan bukan lagi hakmu untuk mengaturku dan aku bersumpah, jika wanita itu hanya akan melahirkan anak perempuan saja. Di masa depan kau akan rasakan sakit sepertiku, bahkan lebih sakit. Saat itulah kau akan mengingatku, meminta ampunanku," ujar Salsa dengan sorot mata berkilat penuh dendam.Seakan langit merestui, petir menggelegar memekakkan telinga, membuat Arkan bergidik, sementara Nadia mengelus perutnya dengan tangan gemetar. Salsa melangkah ke luar dari kediaman keluarga Nayendra dengan hati perih diiringi tatapan iba para tamu. Meski tubuhnya tak lagi bertenaga, dia tetap menegakkan kepalanya. Bak pejuang yang pulang dari medan pertempuran, Salsa hancur berkeping-keping, tetapi dia belum kalah. Perang ini baru saja dimulai dan wanita itu bertekad dialah yang akan tertawa paling akhir.Salsa mendongak menatap hujan yang turun dengan deras. Dia membiarkan titik air itu menghantam wajahnya, menyamarkan air mata yang jatuh di pipi. Dia berjanji akan mengendapkan luka dan sakit. Dalam hati dia bersumpah akan membalas semua penghinaan ini meski dari neraka sekali pun.Il se leva, s'approcha de son armoire, l'ouvrit et sortit un sachet. Arrivé à mon niveau, il me le donna et reprit sa place, j'étais surprise car je ne connaissais pas le contenu. Je l'ouvris doucement, vous n'allez pas me croire mais c'était un téléphone portable, un Techno Spark 9.- Mais c'est trop, disais-je.- Non, ne t'inquiète pas, je voulais t'offrir un téléphone portable plus cher mais j'ai pensé que tu devrais commencer par celui-ci d'abord.- Merci beaucoup.- Tu trouveras une carte SIM à l'intérieur, veille à ce que personne ne découvre cela.- Ne vous inquiétez pas.J'ai mis le téléphone portable dans mon sac et j'ai commencé à manger la pizza qu'il avait payée. En mangeant, j'ai remarqué que monsieur ne cessait de me regarder, ses yeux étaient rivés sur moi. Je l'ai regardé à mon tour mais il n'a pas remarqué.- Tu es très belle, m'a-t-il complimentée.- Merci.Une chose me traversa l'esprit, je devrais être reconnaissante, lui donner ne serait qu'un seul coup, avais-j
Ce matin, alors que je discutais avec ma mère au salon, les klaxons d'une voiture attirèrent notre attention.- Va voir, m'ordonna-t-elle.Sans réfuter son ordre, je suis allée ouvrir le portail. Incroyable mais vrai, le père de ma meilleure amie était juste debout devant moi avec Lory .- Bonne arrivée, lançai-je à leur encontre.- Bonjour Adeline, répondit Lory tout en s'approchant de moi, mon père a dit qu'il va me déposer. J'espère que ça ne te dérange pas ?- Non, pas du tout. Bonjour papa.- Ça va ?- Ça va bien. Merci d'avoir déposé Lory .- Je t'en prie, bon à ce soir et passez une très bonne journée.Il prit sa voiture et disparut.- Et maman ?- Elle est à l'intérieur, allons-y.Nous nous rendîmes au salon toutes les deux. Ma mère n'y était plus là. J'ai installé Lory confortablement et je suis allée chercher quelque chose à boire pour elle.- Merci, Adeline.- Je t'en prie.C'est à ce moment que ma mère réapparut.- Bonsoir maman.- Lory , comment vas-tu ?- Très bien, mama
Il remit le moteur de sa voiture en marche et nous quittâmes le quartier. Arrivés en ville, il m'amena à nouveau dans un bar-restaurant mais celui-ci était différent. Il m'invita à m'installer, je pris place et nous commandâmes à manger. - As-tu réfléchi à ma proposition ? Quoi que soit ta décision, je vais la respecter.- Oui, j'ai beaucoup réfléchi et je ne sais pas si sortir avec vous ne serait pas un risque.Il prit ma main, me regarda droit dans les yeux.- Non, rien du tout. Fais-moi confiance, elles ne sauront rien du tout, nous serons prudents, crois-moi.- J'ai peur de blesser votre femme, ma meilleure amie, et votre fils.- Ne t'inquiète pas pour eux, alors je t'écoute. Ta décision finale avant tout, je suis disposé à te faire tout ce que tu voudras.- Oui, vous m'aviez dit ça la dernière fois.- Très bien.- J'ai réfléchi toute la nuit et j'ai jugé bon de vous laisser une chance.Il était surpris, il n'arrêtait pas de me regarder. Cette phrase que je viens de prononcer a fa
Je le regardai et augmentai la dose, je voulais tout simplement le provoquer, je voulais voir comment il fera devant une telle situation. Il m'a regardé et laissa un large sourire, chose bizarre, il a su se retenir, c'est lorsque j'ai descendu de son engin que monsieur se libéra.Enfin, je l'ai fait pour la deuxième fois, il n'y avait aucun doute, c'était merveilleux, je ne dirai plus peut-être, mais je dirai maintenant c'est ça avec certitude.- Alors comment as-tu trouvé ce moment Adeline ? Demanda-t-il.- C'était merveilleux, je ne sais pas si j'ai été à la hauteur vu que c’etait pour la deuxième fois.- Adeline, tu as assuré plus que moi et sans te mentir, c'est la première fois que je vois une très belle femme comme toi me prendre dans cette position et me faire une pipe. Tu es simplement magnifique et unique en ton genre. Si jamais tu fais ça à un sugar daddy, sache qu'il risquerait de vendre la maison familiale juste pour combler tes besoins. Tu as été incroyable, chérie.- Mer
Ce monsieur était sans scrupule, il voulait me plonger dans un monde où au septième ciel et maintenant il me dit qu’il est désolé. C’est simplement incroyable et insupportable. Au lieu d’arrêter de me regarder et de démarrer sa voiture, non, monsieur me regardait avec ses petits yeux. Il racla la g
Il prit son document et commença par expliquer les notions du cours passé, moi, avec son cours, c’était autre chose, je ne voulais même pas entendre parler de ce cours ”histoire géographie", tellement le cours était dense que je n’arrivais même pas à lire le contenu jusqu’à le garder. Malgré qu’il
Le lendemain matin, je me suis vite réveillée pour mettre au propre la maison, j’ai pris un bon bain et je me suis apprêtée pour le cours. Je rangeais encore mes affaires dans mon sac lorsque j’entendis un bruit au dehors. - Grande sœur, cria Samuel, le benjamin de la famille.- Qu’est-ce qui se pa
Je me levai, rangeai le tabouret à sa place et rejoignis ma chambre. Assise sur mon lit, je souriais. Les conseils de ma mère ne me touchaient pas vraiment, elle a vécu à une autre époque, je ne peux pas me comparer à elle. Aujourd’hui, les choses ont changé, le monde a beaucoup évolué. J’ai préser












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.