Short
Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu

Lembaran Baru Tanpa Bayang Masa Lalu

Oleh:  YuniTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
999Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Aku sedang jual furnitur bekas di platform seken, tiba-tiba ada seorang perempuan kirim pesan untuk menawar harga, [Kak, harganya boleh agak kurang?] [Aku belum lulus kuliah, baru saja pindah dari asrama gara-gara berantem dengan teman sekamar. Pacarku yang mencarikan kontrakan untukku.] [Meskipun dia sangat kaya, bahkan bilang mau menikahiku setelah lulus, aku tetap nggak mau terlalu membebani dia.] [Boleh kurang empat puluh ribu, nggak? Nanti aku ambil sendiri ke sana!] Waktu masih kuliah dan pacaran dengan Steve, aku juga pernah rela mengayun sepeda umum selama dua jam hanya demi hemat sepuluh ribu. Meskipun sekarang aku hanya karyawan kantoran biasa, kondisiku lebih baik sedikit dibanding anak kuliah. Akhirnya, aku pun luluh dan menyetujuinya. Malam itu, dua orang muncul di depan gerbang komplek perumahanku. Si Perempuan dengan bangga berkata, “Aku hebat, ‘kan? Hanya keluar uang nggak sampai dua ratus ribu, tapi sudah dapat mesin cuci yang kondisinya masih 90% baru!” Si pria menyahut dengan nada memanjakan, “Iya… sayangku memang paling hebat.” “Tapi aku cari uang memang untuk membiayaimu, kamu nggak perlu sehemat itu.” “Suamimu ini direktur Grup Rosel, masa membiayai kamu saja nggak mampu? Sekali ini saja ya, lain kali jangan begini lagi.” Pria itu mendongak sambil tersenyum. Begitu mata kami bertemu, aku langsung mematung di tempat. Dia adalah Steve, pacarku yang pamitnya mau dinas keluar kota selama tiga bulan demi mendapat uang saku perjalanan dinas tiga kali lipat.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Suasana mendadak sunyi.

Aku bisa melihat dengan jelas raut panik dan terkejut di wajah Steve.

Baru saja aku membuka mulut mau bicara, tapi Steve langsung memberiku tatapan peringatan.

Sementara itu, Kelly sama sekali tak menyadari ada yang aneh. Dia malah memanyunkan bibirnya dengan manja,

“Aku nggak mau jadi parasit! Nanti kalau kamu sudah nggak mau aku lagi, gimana?”

“Kamu lihatin apa, sih? Kok nggak ladeni aku?”

Steve baru tersadar, lalu mengelus rambut Kelly pelan.

“Mana mungkin aku nggak mau kamu?”

Mengikuti arah pandang Steve, Kelly melihat ke arah mesin cuci di sampingku.

“Fungsinya nggak ada masalah, ‘kan?”

Aku tersadar kembali dan memperkenalkan barangnya dengan senyuman yang dipaksakan.

Tiba-tiba, Steve membuka suara,

“Kok dijual furniturnya? Butuh uang?”

Aku terdiam sejenak.

Mana pernah ada kata cukup kalau soal uang?

Belum sempat aku menjawab, Kelly sudah memukul Steve.

“Jangan asal bicara!”

“Maaf kak, jangan dimasukin ke hati. Pacarku memang begini, mentang-mentang punya uang, jadi nggak paham susahnya rakyat jelata seperti kita.”

Dia melirik manja ke arah Steve, lalu menyingsingkan lengan bajunya, memperlihatkan gelang berlian.

“Waktu ulang tahun, aku menginginkan sebuah gelang. Aku harus menabung uang jajan setengah tahun baru sanggup beli. Dia malah langsung kasih satu set koleksi terbaru musim ini! Sampai sekarang aku masih simpan bungkusannya di lemari, belum dibuka!”

Ingatanku melayang ke musim panas tahun lalu. Aku naksir sebuah gaun yang harganya enam ratus ribu setelah diskon.

Steve mau bayarin, tapi aku menahannya.

Aku tersenyum pura-pura tak peduli, sambil berkata,

“Aku jarang pakai baju begini untuk kerja, sayang kalau dibeli.”

“Mending uangnya ditabung buat dana beli rumah kita nanti, bukankah lebih baik?”

Bukannya aku tak mau, tapi dua hari sebelumnya, Steve baru saja mengeluh gajinya dipotong enam ratus ribu gara-gara terlambat.

“Aku berantem dengan teman asrama, niatnya hanya mau cari kamar kosan murah dekat kampus, dia malah langsung belikan apartemen mewah, atas namaku pula! Harganya 160 juta! Kerja seumur hidup pun, mungkin aku hanya sanggup beli kamar mandinya saja!”

Saat kami sewa rumah, aku sampai adu mulut sama pemilik kontrakan gara-gara tagihan air dan listrik naik dua ratus ribu.

Steve yang tak tega melihat diriku yang disudutkan sempat mau membatalkan sewa, tapi aku tetap kekeh bertahan.

Alasannya hanya karena rumah itu sangat dekat dengan kantor Steve. Biar dia tak lelah di perjalanan dan bisa tidur lebih lama setiap pagi.

“Aku juga ngefans sama artis, dia langsung ajak aku nonton konser di barisan paling depan! Aduh, kalau diingat-ingat, sepertinya aku benaran jadi parasitnya deh!”

Mulutnya mengeluh, tapi nada bicara Kelly penuh dengan kebahagiaan.

Sedangkan aku yang berdiri di samping, wajahku terlihat semakin pucat.

Steve berdeham pelan. Kelly menepuk jidatnya, merasa tidak enak hati.

“Maaf kak, aku nggak bermaksud pamer kemesraan kok.”

“Bagaimana kalau kita tukaran nomor whatsapp? Nanti kalau ada furnitur bekas lagi, kabarin aku, ya!”

Steve mencoba menghalangi, tapi Kelly dengan cepat memindai kode QRku.

“Nggak mau mengandalkan kamu terus! Aku mau belajar mandiri!”

Mobi bentley hitam sudah terparkir di pinggir jalan. Steve memasang wajah pasrah.

“Ya sudah, tapi pulangnya naik mobilku, ya? Aku nggak mau mengangkat mesin cuci sambil jalan kaki seperti orang bodoh.”

Dulu pas sewa rumah, aku juga beli furnitur bekas.

Demi hemat biaya angkut, aku tolak jasa pindahan dan mengangkat sendiri sofa, serta lemari berat ke lantai empat.

Ternyata di mata Steve, aku malah terlihat seperti orang bodoh.

Hingga setelah mereka menghilang dari pandangan, aku baru bisa bernapas lagi.

Ponselku bergetar, ada pesan dari Steve,

[Di luar dingin, kamu pulang dulu. Malam ini kita bicara.]

Aku tertawa sinis sambil mengelus perutku yang mulai membuncit.

Steve sangat suka anak-anak. Beberapa hari lalu, aku sempat berpikir ingin memberinya kejutan.

Namun sekarang, semuanya hanya jadi lelucon.

Meski tahu dia sedang bersama Kelly sekarang, aku tetap nekat meneleponnya.

Panggilan pertama, ditolak.

Panggilan kedua, ditolak.

Hingga panggilan ketiga, ponselnya dimatikan.

Aku menunduk dan baru sadar telapak tanganku sudah berdarah karena tertusuk kuku sendiri.

Lukanya sangat kecil, tapi seluruh hatiku rasanya perih luar biasa.

Sesampainya di rumah, aku menekan tombol terima pada permintaan pertemanan Kelly di instagram.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status