INICIAR SESIÓNEntah, sudah berapa jam mereka menikmatiku yang tengah mengangkang ini. Reno cs tidak ada apa-apanya di banding dengan mereka bertiga ini. Walau tak sehebat kak Roby tentunya. Akhirnya mereka bertiga menggunakan pakaian mereka kembali, lalu Reno masuk ke dalam tenda.
"Ini upah loe." Andrew memberikan amplop yang aku yakini berisi uang yang banyak pada Reno."
"Barang kali ini sangat bagus! Pertahankan nih barang. Jangan sampai kita kehilangan dia! Baka
Sebuket bunga edelweis, ester dan krisan terikat indah, tergengenggam oleh diriku. Dengan blues berwarna mocca dan pita hitam di kerahku lalu berpadu padan dengan skirt motif kotak-kotak kecil berwarna cokelat muda. Tidak lupa dengan sepatu berhak lima centi dengan warna hitam. Rambut yang ku gerai berhiaskan jepit rambut berwarna mocca. Membuatku semakin percaya diri dalam melangkah menuju gedung ujian skripsi fakultas teknik.Ada beberapa mahasiswa yang ujian saat ini. Jadi, aku melihat banyak orang yang mengantri di depan memberikan dukungan secara moral untuk seseorang yang mereka anggap berharga. Aku duduk di salah satu bangku yang lumayan berjarak dengan ruangan itu. Sesekali aku memeriksa penampilanku dengan cermin kecil yang aku beli beberapa waktu yang lalu.Lima belas menit berikutnya, pintu ujian terbuka. Ada lima mahasiswa yang keluar dari ruangan tersebut. Kak Roby keluar paling akhir bersama dengan para penguji. Ada beberapa ob
"Ada apa ini?" Suara lantang membuat kami menoleh secara serempak dan menghentikan pertikaian tersebut. Kak Mayo berdiri diantara dua pria paruh baya. Pria yang bersuara lantang itu adalah bapak rektor Universitas kami.Mereka berdua melangkah mendekat ke arah kami. "Dua orang mahasiswa berkelahi di muka umum! Sungguh...""Bapak harus melihat ini terlebih dahulu." Potongku yang merebut smartphone salah satu mahasiswa yang tadi marah kan semua hal yang terjadi. Aku tidak ingin kak robby mendapat masalah. Lalu aku menceritakan bagaimana kak Roby melindungiku dari rencana jahat "mereka" dan bagaimana busuknya orang-orang itu."Ini sungguh memalukan!" Geram pria paruh baya satunya yang merupakan dekan fakultas Teknik. "Apa benar semua ini Robby?""Semuanya telah anda dengar dan lihat dengan jelas pak. Bukankah di video tersebut sudah ada pengakuan bocah ini?""Kenapa kau
LMD – BAB 23Aku dan kak Roby memisahkan diri dari rombongan, menyusuri jalan setapak yang penuh dengan bunga edelweis. Kak Roby berjalan di belakangku. Sambil terus mengingatkanku akan langkahku, jangan sampai aku terjatuh. "Itu apa kak?" Tanyaku sambil menunjuk sebuah benda, seperti kotak pos, berwarna cokelat. Jika kalian sering menonton film luar negeri pasti kalian tahu yang ku maksud.Kotak yang bisa kita masukkan surat bila kita ingin mengirim surat tanpa harus ke kantor pos. Tapi, akan sangat aneh jika di Indonesia masih ada kotak pos di jaman sekarang ini yang penuh dengan kecanggihan dan kemalasan para penduduknya untuk ke kantor pos, dan terlebih kotak itu berada di pinggir jalan setapak di hutan seperti ini. Tapi, sejak kapan Indonesia memiliki kotak pos seperti ini? Bukankah dari dulu kalau orang Indonesia ingin mengirimkan surat, kita harus ke kantor pos?"Aku belum pernah melihat benda ini di s
Entah, sudah berapa jam mereka menikmatiku yang tengah mengangkang ini. Reno cs tidak ada apa-apanya di banding dengan mereka bertiga ini. Walau tak sehebat kak Roby tentunya. Akhirnya mereka bertiga menggunakan pakaian mereka kembali, lalu Reno masuk ke dalam tenda."Ini upah loe." Andrew memberikan amplop yang aku yakini berisi uang yang banyak pada Reno.""Barang kali ini sangat bagus! Pertahankan nih barang. Jangan sampai kita kehilangan dia! Bakal banyak untung kita!"Reno tersenyum sumringah atas pujian dari ketiga cowok itu yang sekarang telah meninggalkan tenda ini. Reno menghampiriku mencengkram pipiku dan meneteskan kembali obat perangsang itu. Yah, masih ada empat orang lagi yang harus aku layani.* * *Ku kira setelah empat orang itu puas permainan telah usai, tapi ternyata tidak Andrew di CS kembali dalam tenda. Hingga akhirnya semua usai jam 3 pagi. Ka
"Hmmm... Wangi... " Ucapnya yang menarik diriku untuk berdiri dan mendekapku dari belakang dan mencium rambutku serta tengkukku. Ku rasa indra penciumannya rusak, aku belum keramas beberapa hari ini, di tambah aku hanya menyiram rambutku tanpa sampo tadi sore padahal kemarin malam aku penuh dengan keringat dan cairan kental mereka yang mengguyur seluruh tubuhku. Bagaimana bisa ia menyebut rambutku wangi?"Ganti musiknya! Yang slow!" Ucap Andrew, lalu musik yang sedari tadi memekakkan telinga berubah menjadi musik yang lebih slow. "Kita berdansa cantik." Katanya yang masih mendekapku dari belakang, kedua tangannya melingkar di pinggangku."Aku akan menuntunmu cantik." Dia mulai menggerakkan tubuhnya, melenggok ke kanan dan ke kiri secara erotis. Menggesekkan pangkal pahanya padaku. Musik yang mendayu, ditambah dengan obat perangsang dan juga adrenalin dari pengalaman yang baru membuat tubuhku secara otomatis mengikuti lelaki yang bernama Andre ini. Ah, atau mungkin tubuhku sedang mengi
Sejujurnya aku sedang menghindari Reno, sejujurnya aku tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Reno. Antara kecewa karena ia begitu saja menyerahkanku pada cowok lain, ah bahkan melemparkanku pada banyak cowok tapi, di sisi lain ini adalah hal yang telah aku putuskan sendiri. Ini adalah keputusanku. Memiliki pengalaman dengan banyak cowok sekaligus.Tapi, setidaknya ia bisakan bertanya padaku sebagai basa-basi terlebih dulu? Tapi walaupun ia berbicara padaku pun, mana mungkin aku mengiyakan secara gamblang, sebagai cewek gengsi ku terlalu tinggi untuk itu. Lalu, yang paling membuatku ilfeel dengannya adalah, permainannya dalam proses kami bersenggama. Dia benar-benar buruk. Terlebih, bagaimana bisa ia menyudahi permainan tanpa memperdulikan kepuasanku?Ah lupakan, toh sebentar lagi aku akan memutuskannya. Tapi, seingatku hubungan kami tidak bisa di sebut hubungan pacaran. Kami tidak memiliki status itu.Hingga mat







