MasukAku terbangun, sudah siang ternyata. Ku renggangkan otot tubuhku, aku tersenyum kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Itu pasti Leon, seperti rencana di awal kami menginap di hotel dari Jumat malam hingga saat ini. Senyumku yang merekah karena mengingat kegiatan kami semalam langsung luntur ketika aku ingat bahwa hari ini adalah hari Minggu. Saatnya kami berpisah.
Pandanganku fokus ketika pintu kamar mandi terbuka, Leon keluar hanya dengan handuk.
"Sudah bangun." Dia menyapaku dengan senyuman ramahnya. Aku mengangguk, dan memberikan senyuman terbaikku.
Dengan telaten ia memakai baju yang berada di paper bag. Entah dari mana Leon mendapatkan nya mungkin saat kemarin ia turun di loby, mungkin ia meminta seseorang untuk mengantarkan pakaiannya.
Aku beranjak, segera mandi dan membersihkan tubuhku, tak butuh waktu lama karena aku tidak ingin membuang waktuku yang tersisa. Leon sudah benar-benar rapi. Aku yang masih dengan bathrobe ku duduk di pinggir ranjang yang benar-benar kusut karena kegiatan kami.
Leon yang semula melihat pemandangan di luar jendela, kini menghampiriku ia merendahkan tinggi badannya, berjongkok di hadapanku, tangan besarnya menggenggam tanganku terasa hangat. Dia menghela nafas “Kamu tahu Dil? Aku sayang sama kamu, kalau kamu memintaku untuk tidak pergi, aku tidak akan pergi. Aku akan bertahan di sisimu.” Matanya memancarkan ketulusan yang selalu bisa meluluhkan hatiku.
“Aku sayang sama kamu Leon, tapi aku tidak akan menahan mu untuk stay sama aku, sedang masa depan cerah ada di luar sana untuk kau raih.” Balasku, jujur aku tidak ingin berpisah darinya tapi aku juga tidak ingin menghalangi masa depan cerahnya. Karena di sana dia bisa menjadi atlet olahraga basket luar biasa atau apapun itu, dia juga bisa mendapatkan pendidikan tentang bisnis untuk meneruskan usaha orang tuanya.
“Kamu adalah cewek terhebat yang pernah aku kenal setelah mama Dil, percayalah! aku sangat mencintaimu, kamu gadis pertama yang menyerahkan keperawannya padaku, aku tidak akan melupakanmu. Aku tidak akan pernah melupakanmu tidak akan pernah menganggap bahwa kita putus.” Aku melihat ujung matanya mulai berair, ini pertama kalinya aku melihat Leon selemah ini di depanku, dia adalah cowok optimis dan pantang menyerah yang pernah aku kenal. Berulang kali ia jatuh di lapangan basket tidak pernah membuatnya hampir menangis seperti ini.
“Jangan ngomong kayak gitu Leon, kita tidak tahu masa depan kita seperti apa. Jangan tutup hatimu Leon, aku juga tidak akan menutup hatiku dengan segala kemungkinan yang ada. Mungkin kalau berjodoh kita akan bertemu dan memiliki hubungan lagi di masa depan, tapi kita tidak tahu masa depan kita Leon. Kamu hanya cukup mengingatku sebagai mantan yang pernah menyerahkan keprerawanannya padamu. Mari kita lakukan yang terbaik.” Kataku, aku tidak ingin menunggu dia kembali dalam ketidak pastian, dia cowok ganteng, baik juga pintar dan aku yakin banyak cewek di luar sana yang akan senang hati mendampinginya, aku tidak ingin, dia memiliki kesempatan untuk mengkhianatiku dengan alasan jarak jadi aku melepaskan dirinya dari komitmen yang kami bangun dari awal.
“Baiklah, akan aku lakukan apa yang kamu inginkan, gadis pertamaku yang tidak akan pernah aku lupakan.” Ucapnya mengecup keningku lalu berlalu dari kamar hotel yang menjadi saksi bagaimana kami menyelami surga dunia yang begitu nikmat.
Air mataku mulai menetes ketika sunyi mulai terdengar dan meresap ke dalam hatiku. Aku tidak dikhianati, aku tidak ditinggalkan, aku tidak di campakkan aku hanya berpisah dengan dia yang pernah mengisi hari-hariku. Kenapa rasanya seperti ini?
Segera aku menuju ke lemari, bajuku telah tertata rapi di sana, karena kamar ini memang khusus untukku, terimakasih kepada papa yang telah bekerja keras dalam membesarkan bisnis kakek nenek sehingga fasilitas mewah selalu aku dapatkan, jangan lupakan satu apartment mewah hadiah ulang tahunku yang ke lima belas dari papa dan satu appartement sederhana yang aku beli sendiri dari uang saku dan uang bulanan yang di berikan papa. Aku tidak suka boros karena aku tahu bahwa papa bekerja kerasa dan banting tulang di luar sana.
Ku kenakan dress selutut yang berwarna baby blue itu, sangat membuatku kulitku terasa begitu cerah namun aku tetap terlihat begitu kalem. Sekali lagi, aku melihat seluruh ruangan kamar itu, otakku memutar kenangan ku bagaimana kami menikmati makan bersama di kamar ini, bagaimana kami tertawa, oh Leon, pengalaman pertamaku. Aku akan mengingatmu sebagai mantan yang indah yang menyayangiku begitu tulus.
Aku meninggalkan kamar hotel itu, kemana? Tentu saja menuju rumah, bertemu dengan mamaku yang ternyata memiliki berbagai pengalaman gila yang tak mampu aku bayangkan.
Ketika aku berada di depan hotel, aku melihat pak Bejo sudah berada di sana, langsung saja aku memasuki mobil alphard berwarna hitam itu. Aku tidak banyak berkata, pikiranku melayang kepada Leon yang mungkin saat ini telah duduk di salah satu kursi kelas bisnis pesawat dengan lambang garuda berwana biru.
Tidak berapa lama aku telah sampai di ruah mewah yang menyalahkan mata siapapun yang melihatnya.
“Sayang kamu tidak apa-apa?” Mama telah menyambut ku, tentu dia tahu apa yang terjadi di kamar hotel mengingat bahwa mama adalah wanita berpengalaman, yah pengalaman yang begitu gila. Apakah mungkin aku akan mengikuti jejak mama? Entahlah.
"Kami memutuskan berpisah ma." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku. Seterusnya mulutku terasa kelu untuk mengeluarkan kata-kata yang lain. Oh, aku tidak mencintai Leon, tapi aku merasakan kekosongan. Aku tahu itu, hari-hariku akan membosankan tanpa Leon.
"Tak apa..." Mama memelukku. "Perpisahan adalah bagian dari pertemuan sayang." Mama mengelus punggung ku.
"Mama yakin, besok setelah kamu baik-baik saja kamu akan mendapatkan pengganti Leon. Pengisi hari-harimu." Mama melepaskan pelukannya, memberikan senyuman yang begitu menenangkan. Aku mengangguk patuh.
Apakah aku bisa mencari pengganti Leon? Pengalaman pertamaku yang luar biasa, di tambah dia begitu tulus bersamaku selama ini.
"Istirahatlah." Aku segera menuju ke kamarku, menutup nya, dan masuk ke dalam selimut. Menutupi seluruh tubuhku, dari ujung kaki hingga ujung kepala tanpa terkecuali.
Aku menangis diam-diam, entah menangisi apa? Hingga mataku lelah mengeluarkan air mata dan aku terlelap begitu saja.
Sebuket bunga edelweis, ester dan krisan terikat indah, tergengenggam oleh diriku. Dengan blues berwarna mocca dan pita hitam di kerahku lalu berpadu padan dengan skirt motif kotak-kotak kecil berwarna cokelat muda. Tidak lupa dengan sepatu berhak lima centi dengan warna hitam. Rambut yang ku gerai berhiaskan jepit rambut berwarna mocca. Membuatku semakin percaya diri dalam melangkah menuju gedung ujian skripsi fakultas teknik.Ada beberapa mahasiswa yang ujian saat ini. Jadi, aku melihat banyak orang yang mengantri di depan memberikan dukungan secara moral untuk seseorang yang mereka anggap berharga. Aku duduk di salah satu bangku yang lumayan berjarak dengan ruangan itu. Sesekali aku memeriksa penampilanku dengan cermin kecil yang aku beli beberapa waktu yang lalu.Lima belas menit berikutnya, pintu ujian terbuka. Ada lima mahasiswa yang keluar dari ruangan tersebut. Kak Roby keluar paling akhir bersama dengan para penguji. Ada beberapa ob
"Ada apa ini?" Suara lantang membuat kami menoleh secara serempak dan menghentikan pertikaian tersebut. Kak Mayo berdiri diantara dua pria paruh baya. Pria yang bersuara lantang itu adalah bapak rektor Universitas kami.Mereka berdua melangkah mendekat ke arah kami. "Dua orang mahasiswa berkelahi di muka umum! Sungguh...""Bapak harus melihat ini terlebih dahulu." Potongku yang merebut smartphone salah satu mahasiswa yang tadi marah kan semua hal yang terjadi. Aku tidak ingin kak robby mendapat masalah. Lalu aku menceritakan bagaimana kak Roby melindungiku dari rencana jahat "mereka" dan bagaimana busuknya orang-orang itu."Ini sungguh memalukan!" Geram pria paruh baya satunya yang merupakan dekan fakultas Teknik. "Apa benar semua ini Robby?""Semuanya telah anda dengar dan lihat dengan jelas pak. Bukankah di video tersebut sudah ada pengakuan bocah ini?""Kenapa kau
LMD – BAB 23Aku dan kak Roby memisahkan diri dari rombongan, menyusuri jalan setapak yang penuh dengan bunga edelweis. Kak Roby berjalan di belakangku. Sambil terus mengingatkanku akan langkahku, jangan sampai aku terjatuh. "Itu apa kak?" Tanyaku sambil menunjuk sebuah benda, seperti kotak pos, berwarna cokelat. Jika kalian sering menonton film luar negeri pasti kalian tahu yang ku maksud.Kotak yang bisa kita masukkan surat bila kita ingin mengirim surat tanpa harus ke kantor pos. Tapi, akan sangat aneh jika di Indonesia masih ada kotak pos di jaman sekarang ini yang penuh dengan kecanggihan dan kemalasan para penduduknya untuk ke kantor pos, dan terlebih kotak itu berada di pinggir jalan setapak di hutan seperti ini. Tapi, sejak kapan Indonesia memiliki kotak pos seperti ini? Bukankah dari dulu kalau orang Indonesia ingin mengirimkan surat, kita harus ke kantor pos?"Aku belum pernah melihat benda ini di s
Entah, sudah berapa jam mereka menikmatiku yang tengah mengangkang ini. Reno cs tidak ada apa-apanya di banding dengan mereka bertiga ini. Walau tak sehebat kak Roby tentunya. Akhirnya mereka bertiga menggunakan pakaian mereka kembali, lalu Reno masuk ke dalam tenda."Ini upah loe." Andrew memberikan amplop yang aku yakini berisi uang yang banyak pada Reno.""Barang kali ini sangat bagus! Pertahankan nih barang. Jangan sampai kita kehilangan dia! Bakal banyak untung kita!"Reno tersenyum sumringah atas pujian dari ketiga cowok itu yang sekarang telah meninggalkan tenda ini. Reno menghampiriku mencengkram pipiku dan meneteskan kembali obat perangsang itu. Yah, masih ada empat orang lagi yang harus aku layani.* * *Ku kira setelah empat orang itu puas permainan telah usai, tapi ternyata tidak Andrew di CS kembali dalam tenda. Hingga akhirnya semua usai jam 3 pagi. Ka
"Hmmm... Wangi... " Ucapnya yang menarik diriku untuk berdiri dan mendekapku dari belakang dan mencium rambutku serta tengkukku. Ku rasa indra penciumannya rusak, aku belum keramas beberapa hari ini, di tambah aku hanya menyiram rambutku tanpa sampo tadi sore padahal kemarin malam aku penuh dengan keringat dan cairan kental mereka yang mengguyur seluruh tubuhku. Bagaimana bisa ia menyebut rambutku wangi?"Ganti musiknya! Yang slow!" Ucap Andrew, lalu musik yang sedari tadi memekakkan telinga berubah menjadi musik yang lebih slow. "Kita berdansa cantik." Katanya yang masih mendekapku dari belakang, kedua tangannya melingkar di pinggangku."Aku akan menuntunmu cantik." Dia mulai menggerakkan tubuhnya, melenggok ke kanan dan ke kiri secara erotis. Menggesekkan pangkal pahanya padaku. Musik yang mendayu, ditambah dengan obat perangsang dan juga adrenalin dari pengalaman yang baru membuat tubuhku secara otomatis mengikuti lelaki yang bernama Andre ini. Ah, atau mungkin tubuhku sedang mengi
Sejujurnya aku sedang menghindari Reno, sejujurnya aku tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Reno. Antara kecewa karena ia begitu saja menyerahkanku pada cowok lain, ah bahkan melemparkanku pada banyak cowok tapi, di sisi lain ini adalah hal yang telah aku putuskan sendiri. Ini adalah keputusanku. Memiliki pengalaman dengan banyak cowok sekaligus.Tapi, setidaknya ia bisakan bertanya padaku sebagai basa-basi terlebih dulu? Tapi walaupun ia berbicara padaku pun, mana mungkin aku mengiyakan secara gamblang, sebagai cewek gengsi ku terlalu tinggi untuk itu. Lalu, yang paling membuatku ilfeel dengannya adalah, permainannya dalam proses kami bersenggama. Dia benar-benar buruk. Terlebih, bagaimana bisa ia menyudahi permainan tanpa memperdulikan kepuasanku?Ah lupakan, toh sebentar lagi aku akan memutuskannya. Tapi, seingatku hubungan kami tidak bisa di sebut hubungan pacaran. Kami tidak memiliki status itu.Hingga mat







