LOGINBetrayed in one life and reborn in another, Luna awakens as Alessia Keren Endymion, the prophesied Convergent destined to unite three warring empires. With unstoppable luminous power, modern-world instincts, and a fiercely loyal Shadowborn warrior at her side, she rises from hunted princess to Empress of a new world. But ancient darkness stirs—and Alessia must prove she isn’t just chosen by prophecy… she’s strong enough to rewrite it.
View MoreGara-gara temanku mengirimkan Video Dewasa, pembantuku yang menjadi pel4mpiasan. Padahal minggu depan aku akan menikah.
"Halo, Bro." "Iya, kenapa?" "Lagi di mana? di rumah?" "Iya, gue di rumah. Payah banget nyokap gue, masa gue bener-bener dipingit." Terdengar suara Heru tertawa. "Gak papa, Vid, nurut aja apa kata nyokap lu. Di rumah juga pasti rame orang'kan, lo gak bakalan kesepian." "Tahu nih, lagi pada keluar. Rumah sepi. Si Mbak doang adanya. Kenapa, tumben lu nelpon? Sabtu nanti lu jangan lupa jadi bridesman gue." "Iya, siap. Makanya ini, gue ada kirimin video ke HP lu, coba buka dan lu pelajari ha ha ha... lu kan mau jadi manten. Oke!" Baru mau menyanggah, panggilan dari Heru sudah terputus. Aku langsung menekan pesan video yang dikirim oleh Heru lima menit yang lalu. Video apa, sih? Aku mendelik saat gambar pertama adalah wanita berpakaian begitu terbuka sedang berada di dapur. Lalu... dan seterusnya... jakunku naik turun melihat adegan demi adegan. Keringat sebesar biji ketumbar bermunculan di kening dan juga punggung. Bajuku basah, padahal AC di kamar menyala. Detak jantungku juga sangat cepat. Aku benar-benar gelisah dan menyesal karena sudah melihat yang seharusnya jangan aku lihat. Tok! Tok! "Mas David, saya Sri. Mau anterin makan." Aku terlonjak kaget. "Masuk." Fokusku masih pada ponsel. Suara pintu memang terdengar terbuka, tetapi aku sama sekali tidak menoleh ke arah Sri. "Mas David, makannya saya taruh meja, jusnya juga. Apa ada yang lain?" aku bisa gila jika semua yang menyesakkan ini tidak dituntaskan. Sri berdiri di depanku sambil memegang nampan. Seperti biasa, ia selalu menggunakan baju kebesaran dan selalu berpakaian sopan di rumahku. Usianya lebih tua dua tahun dariku. Sejenak aku menekan tombol jeda pada video. "Mbak Sri bisa bantu bereskan lemari saya? Pakaian saya tolong disusun agar nanti pakaian istri saya bisa muat di lemari." "Oh, baik, Mas." Sri menaruh nampannya di atas meja kerjaku. Lalu ia mulai mengerjakan apa yang aku perintahkan. Aku kembali menekan tombol play dan aku lupa jika suara dari video itu tidak aku silent. Sri seperti ingin menoleh ke arahku, tapi ia ragu. Sri bukan gadis lagi. Dia sudah punya suami, apa... aku berjalan ke arah pintu kamar, lalu menguncinya. Sri menoleh ke arahku dengan tatapan bingung. "Mas, k-kenapa p-pintunya dikunci?" *** "Mbak Sri, i-ini sudah terjadi. Maafkan saya ya. Oh, iya, ini ada sedikit untuk Mbak Sri kirim ke kampung." Aku mengambil sembarangan uang dari dalam tasku. Mungkin ada sekitar tiga ju-ta di sana. Aku tidak ingat persis. Uangnya aku ambil semua dan aku berikan pada ART mamaku itu. Mbak Sri masih diam sambil merapikan bajunya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi dan melakukan apa karena menjadi salah tingkah sendiri akibat kelakuanku. Kedua kaki pun ikut gemetar. Ini pengalaman pertamaku sebagai pria. Ia bergerak turun dari ranjangku. Tidak lupa nampan yang tadi di atas meja kerjaku. Uang yang aku sodorkan padanya, sama sekali tidak ia lirik. Mbak Sri keluar begitu saja dari kamarku dengan jalan sedikit kepayahan. Apa yang terjadi dengan Mbak Sri? Kenapa jalannya susah? Perasaan yang di video tadi gak papa perempuannya. Apa yang sudah aku lakukan? Aku sampai menepuk pipi ini cukup keras untuk memastikan aku tidak sedang bermimpi. Sakit sekali, ternyata aku tidak mimpi. Keperjaka4n yang aku pertahankan dan ingin aku berikan pada istriku kelak, kini harus rela aku berikan pada ART yang sudah bersuami pula dan itu semua karena hasutan s3tan. *** Hari pernikahan yang dinantikan pun semakin dekat. Sesekali aku mencuri pandang jika Mbak Sri mondar-mandir disuruh ini dan itu oleh mamaku. Wanita itu biasa saja. Sepertinya sama sekali tidak mengingat apa yang sudah kami lakukan waktu itu. Lebih tepatnya aku yang memaksa. Sri sempat marah, tetapi karena aku paksa dan aku ancam, Sri akhirnya menurut. "Ke mana, Sri?" "Lagi masuk angin kayaknya. Dari pagi muntah-muntah." "Kecapean kayaknya yang semalam habis acara pengajian. Tapi udah Mama suruh minum obat." "Ya udah, Ma, gak usah diganggu dulu. Sri orang yang paling capek di rumah ini karena dia sendiri yang kerjakan." Aku mendengar percakapan antara mama, papa, dan juga tante Erin; adik dari mama yang sejak semalam menginap di rumahku. Pantas saja hari ini aku tidak melihat mbak Sri, rupanya lagi sakit. Calon Istri Sayang, aku gak bisa tidur nih. Kamu lagi apa? Aku membaca pesan dari Mayang; wanita yang besok akan menjadi istriku. Seorang wanita cerdas yang berprofesi sebagai dokter anak. Sama, Yank, aku juga gak bisa tidur. Rasanya pengen langsung besok pagi aja he he he... tapi kamu jangan capek-capek ya, usahakan tidur aja walau harus dipaksa. Aku terus berkirim pesan pada Mayang hingga akhirnya aku tertidur. Pagi hari, semua sibuk dengan acara pernikahan. Tim MUA yang merias ku sudah datang sejak jam empat subuh. Jam tujuh pagi, semua sudah rapi dan langsung berangkat. Pengantinku cantik sekali. Mayang menggunakan kebaya putih dengan siger khas Sunda yang dipakai sangat pas di kepalanya. Ekor baju kebaya itu nampak manis dan indah terlihat di mata saat Mayang berjalan mendekat ke arahku. Ijab qabul baru saja aku lafadzkan, setelah itu barulah Mayang menghampiriku dengan didampingi oleh dua bridesmaid yang aku tahu, keduanya adalah teman dokternya Mayang. Aku senang sekali karena berhasil mempersunting Mayang setelah sejak SMA kami berpacaran. "Kamu cantik sekali, Sayang." "Makasih, Sayang." Aku mengecup punggung tangan istriku. Kami menerima ucapan selamat dan doa dari tamu silih berganti. Acara akad dilaksanakan di Masjid At-tin Taman Mini. Dilanjut dengan acara resepsi yang berada masih di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Kami pun akan langsung pergi berbulan madu ke Bali di malam hari setelah urusan pernikahan selesai. Mayang mendapatkan sponsor pernikahan dari salah satu petinggi rumah sakit tempat Mayang bertugas. "Kalau capek, kita cancel tiket aja. Biar besok perginya," kataku saat melihat Mayang kelelahan. Istriku itu, masih menerima konsultasi pasien, padahal sudah cuti dari rumah sakit. "Jangan, Sayang, biar capeknya sekalian tuntas, Yank. Kita langsung aja." Aku mengangguk. Kami makan di ruang ganti karena pakaian harus segera dibawa lagi oleh tim salon menyewakan pakaian pernikahan kami. "Lagian kalau cape, sekarang udah ada suami yang mijitin aku," kata Mayang sambil mengusap pipiku dengan lembut. "Siap, Sayang. Jangankan mijit, yang lain juga aku siap." Kami berdua tertawa cekikikan. "Jadi kalian langsung ke bandara?" tanya mama mertua yang tiba-tiba menghampiri kami. "Iya, Ma, biar sekalian capeknya," jawab Mayang. "Syukurlah kalau begitu. Besok baru istirahat ya, David. Itu juga kalau bisa," sahut papa mertua yang ikutan nimbrung. "Pa, nanti minta tolong Robi anter Mbak Sri ke dokter aja. Makin parah katanya sakitnya." Aku langsung merasa tidak enak hati mendengar Mbak Sri sakit. "Sakit apa pembantunya, Mbak?" tanya mama mertua pada mamaku. "Muntah-muntah." "Hamil kali. Sri ada suaminya'kan?" Perutku langsung terasa mulas. Syukurlah kalau mbak Sri hamil, berarti anak suaminya. "Hamil gimana, wong suaminya udah lama meninggal. Sri itu janda, Mbak Nin. Malah denger-denger, suaminya meninggal persis setelah ijab qabul. Jadi Sri itu masing ting ting!" "Apa, mbak Sri janda ting-ting? Aku merasa pandanganku menggelap. Bersambung“He’s gone.” Kade’s voice trembled as the last echoes of the Architect’s presence faded from the catacomb. The air lightened—just slightly—but enough for everyone to breathe normally again. Kael didn’t relax.He stepped in front of Alessia, shadows still flickering along his arms like restless guards. “We’re leaving. Now.”Alessia shook her head. “Not yet.”Kael stared at her. “You just gutted a Gate skeleton. Your core needs time.”“I’m fine,” Alessia said.“You keep saying that,” he growled. “One day it won’t be true.”“Today is not that day.”Selene brushed stone dust off her sleeves. “She’s right. We’re not done.”Rian, still clinging to a pillar, whimpered. “We’re not?”“Look at the walls,” Selene said, pointing lazily.They did. Blue light now traced the walls—faint, rhythmic breathing slowly, like a sleeping beast. The distortion pulsing through the stone had died, leaving behind pure Arcana resonance.Kade took a step closer, eyes widening. “The fragment… it’s online now. The
“Do you feel that?” Kael’s voice echoed low in the tunnel as they descended.“Yes,” Alessia said.The Arcana sentinel walked at her right like a silent war statue brought to life, each step making the stone pulse with soft cyan threads. At her left, Kael’s shadows flowed along the wall, swallowing stray flickers of corrupted luminescence before they could reach her.Behind them, the others moved in careful formation.Ianthe and Eryx at the front of the rear line. Lyra and two Noctis guards are behind them. Kade, Rian, Seraphine, and Sorrel are in the center of the group.Selene? She drifted wherever she pleased.Rian whispered, “I really don’t like that the walls are breathing.”“They’re not breathing,” Kade muttered. “They’re pulsing with layered luminous rings bound to an ancient reality spine.”Rian gulped. “That somehow sounds worse.”The tunnel spiraled downward, carved from black stone veined with faint blue patterns. At regular intervals, circular nodes glowed in the ceiling—Ar
“Fall back!” Kael’s voice cracked like a whip the moment the Arcana sentinel dragged its full arm through the fractured archway. Blackstone dust showered the corridor as ancient runes burst apart. The creature’s limb—long, sleek, carved from a single piece of obsidian and threaded with pale-blue veins—scraped across the floor with a metallic shriek.Lyra’s guards leapt back, halberds raised.“It’s moving! IT’S MOVING—” Rian wailed.Selene’s eyes gleamed like a predator’s. “Oh, it’s very awake.”The sentinel’s fingers—seven of them, jointed twice each—stretched outward, each tip glowing with soft cyan flame.And every glowing tip pointed at Alessia.Kael’s blade was in front of her face in a heartbeat. “Not a chance.”But Alessia stepped past the blade. Past Kael. Straight towards the sentinel. “Alessia!” he snarled, reaching for her.She didn’t stop. Sorrel whimpered from behind Seraphine. “It’s scary…”Seraphine swallowed hard. “That is… not how guardians are supposed to look.”Eryx
“They’re watching us.” Kael didn’t whisper it—he stated it flatly as the WING-01 glided low over the mist-covered border cliffs of Noctis. His voice carried easily over the quiet hum of the craft.Alessia didn’t look away from the front view panel. “I know.”Below them, the world shifted from Solaris gold to Noctis shadows. The sky dimmed as if someone pulled a veil over the sun. Blackstone peaks jutted upward, streaked with bioluminescent moss in deep blues and purples. The air shimmered with faint nocturnal luminousness—cold and silent.“Feels like home?” Selene asked from behind Kael, her tone teasing but not unkind.“No,” Kael answered for Alessia. “It feels worse.”Alessia didn’t deny it.From the moment they crossed the border, an old sensation reached for her—a familiar pressure in her chest, like memories she didn’t want trying to crawl back through her ribs.Sorrel pressed her face to the window beside Seraphine. “It’s dark…” the girl whispered.“Safe dark,” Seraphine said to
“Alessia!” Kael lunged forward the moment the mirror shattered, shards exploding outward in a burst of silver light—but the luminous crown sigil on the ground flared, stopping him mid-stride. His shadows slammed against an invisible barrier; the recoil nearly knocked him backward. Ianthe grabbed h
“What did you say?” Kael’s voice vibrated with enough force to crack stone. His shadow surged—alive, furious—spilling across the ground like a storm ready to kill anything that moved, but Alessia lifted her hand slightly. The shadow froze mid-lash. Kael stiffened, jaw clenched so hard a tremor ra
“Unchain them. Now.” Alessia’s voice struck the hall like a blade. Authority, not desperation. Ice, not fear. Kael had never heard her sound more lethal. The Lunaris Prince lifted a pale hand calmly. “Be careful, Alessia.” “Unchain them.” She stepped forward, dual essence spiraling at her fingert
“I’m not leaving until I see her.” Ravion’s voice echoed sharply from the hallway outside the Healers’ Wing. Even muffled through the ornate doors, his tone carried irritation, impatience and something else Alessia couldn’t name, because she was still unconscious, but everyone else heard it clearly


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.