Share

Chapter 3

Author: Melisa Satya
last update publish date: 2021-05-20 09:00:56

Abraham tidak peduli dengan sikap yang ditunjukan ketiga pewarisnya terhadap Clarissa, sebaliknya dia justru senang jika cucu-cucunya terang-terangan menyindir Cla di sana. Abraham ingin melihat perlawanan dari wanita muda itu. Ingin tahu sampai dimana dia sanggup untuk bertahan.

Makan malam kini sedang berlangsung, semua orang telah berada di kursinya masing-masing. Clarissa ikut duduk setelah seorang pelayan menuntunnya.

"Silahkan, Nona." Angelo memandangnya sinis.

"Terima kasih," ucap Clarissa.

Zeland dan David kompak memperhatikan gadis itu. Pelayan dengan sigap melayani masing-masing anggota keluarga Reevand. Sudah menjadi kebiasaan di rumah itu. Tuan muda hanya makan jika makanan telah tersaji di atas piring.

"Anda ingin makan apa, Nona?" tanya sang pelayan.

Berbagai jenis makanan tersaji di depan mata, Clarissa menelan air liurnya, tergiur dengan aroma makanan yang lezat.

"Terima kasih, aku akan mengambil sendiri nanti," ucap Cla sopan.

Di satu sisi, dia juga gengsi karena tatapan Elo tak beralih darinya.

Angelo tersenyum masam, pemuda itu memang anti dengan orang asing. Apalagi jika yang datang berpenampilan seperti Clarissa. Bahkan pelayan yang bekerja di rumah mereka pun terlihat lebih rapi dan bersih ketimbang gadis itu. Angelo tidak tahan lagi, dan ....

Byarr.

"Gua nggak sudi makan satu meja dengan gadis miskin ini!" Angelo berdiri dan bersiap untuk pergi.

Semua mata tertuju padanya, Cla berdecak namun dia harus menahan diri untuk tidak memaki.

"Duduk!" Satu kata dari Abraham menghentikan langkah cucunya.

Elo mengepalkan tangan, pikiran buruk menelusup di kepalanya.

Kedatangan Cla pasti ingin menggerogoti kekayaan sang kakek.

"Jangan kurang ajar pada kakek, El. Ingat, semua fasilitas yang kamu dapatkan dari mana?"

Angelo memalingkan wajah, benci mendengar hal itu.

"Duduklah, jangan buat Kakek memaksamu."

Suasana di meja makan berubah tegang, Angelo yang sering kali berontak kembali ke kursinya.

Di dalam istana itu, hanya ada satu orang yang berkuasa. Dan dia adalah Abraham.

Dengan sangat terpaksa.

Keluarga Reevand melanjutkan makan malam dalam keheningan. Elo yang tak berselera, muak melihat sang kakek Abraham mengawasi gadis itu dengan penuh perhatian.

Saat tangan Clarissa terulur untuk mengambil ayam goreng di atas piring. Semua mata kembali memandangnya, bukan hanya ketiga pewaris itu, tetapi para pelayan pun ikut meringis melihat apa yang dilakukan Cla saat ini. Dia menikmati makanannya dengan caranya sendiri, mengabaikan peralatan makan yang tersedia, Clarissa menggigit lauknya dengan tangan kosong.

Hup.

Dia tampak lahap, tidak peduli dengan tatapan semua orang. Zeland tersenyum untuk pertama kalinya, sedang David hanya menggeleng melihat tingkah Clarissa.

"Hey, cewek hutan! Lo, nggak bisa apa, menggunakan sendok? Menjijikkan!" Nafsu makan Angelo seketika hilang. Pemuda itu menghempaskan peralatan makannya ke atas piring hingga menimbulkan bunyi berdenting.

Kling.

Semua orang kini menatap Angelo. Clarissa menoleh ke Abraham, dia tidak peduli dengan komentar pemuda itu. Angelo dari awal terus menyudutkan dan membuat Clarissa kesal.

"Apa makan dengan tangan dilarang?" tanya Clarissa santai.

Sesaat hening, Clarissa begitu berani dan tidak sungkan. Abraham menggeleng dan tersenyum. Ketiga cucunya saling menatap dengan heran.

"Tidak," ucapnya. Senyum Clarissa terbit membuat Zeland dan David tertegun.

"Untuk hari ini, kau mendapatkan pengecualian. Tetapi besok, kau akan mengikuti kelas kepribadian. Kau harus belajar cara menggunakan peralatan makanan, cara berjalan dan cara bersikap."

Anggelo tersenyum puas mendengar ucapan kakeknya.

"Kenapa kalian mempersulit apa yang mudah, makan menggunakan sendok atau tidak yang penting, kenyang kan?" Clarissa terlihat tangguh. David dan Zeland jadi penasaran dengan karakternya.

"Wow! Kamu sangat berani," puji David.

Clarissa menoleh sesaat pada ketiga pewaris Abraham, hanya sesaat lalu kembali menatap sang Tuan Rumah.

"Mengambil kelas kepribadian bukan untuk mempersulit hidup, Clarissa. Tapi, untuk belajar lagi cara memantaskan diri dengan bergabung dalam keluarga kami."

"Makan dengan tangan adalah budaya orang Indonesia."

Clarissa tidak peduli. Ucapan Abraham hanya angin lalu baginya. Gadis itu menikmati makanannya tanpa peduli reaksi Anggelo yang menahan mual melihat kelakuannya.

"Orang kaya selalu melebih-lebihkan sesuatu yang sangat mudah."

"Kau akan mengerti jika bi Agnes menjelaskannya padamu."

"Siapa Bi Agnes?" tanya Cla penasaran.

"Pelayan yang akan menyediakan segalanya untukmu."

Seorang pelayan mendekat lalu membungkuk hormat.

"Oh," Di sisi lain, Cla masih memikirkan cara untuk pergi.

Beberapa saat kemudian.

Makan malam telah selesai, Clarissa terpaku melihat dessert yang cantik dan mungil di atas piring. Dia kembali teralihkan oleh makanan, Cla menikmati sajian sedang yang lain hanya bisa menontonnya.

"Entah apa yang ada dipikiran Kakek. Bisa-bisanya dia membawa cewe hutan itu ke rumah kita," ucap Angelo ketus.

Clarissa yang mendengarnya lalu melempar garpu ke atas meja. David dan Zeland terperangah atas sikap yang ditunjukan gadis itu. Carissa jelas tersinggung dengan ucapan Angelo.

Abraham menatap Cla, gadis itu mengepalkan tangan kecilnya. Tanda bahwa dia sedang menahan amarah. Sebaliknya, Angelo pun sangat muak melihatnya.

"Wow, lo mau buktiin apa ke kita? Ternyata bukan hanya penampilan lo yang tidak masuk kriteria dalam keluarga kami, tapi sikap lo juga. Bahkan gua rasa orang miskin pun punya adab di meja makan. Apalagi jika dia hanya seorang tamu!"

Angelo berlalu setelah menampar Clarissa dengan ucapannya, gadis itu tertunduk sejenak, Zeland dan David menatap kakeknya lalu berlalu menyusul Angelo. Hening, hanya Abraham dan Clarissa yang berada di sana.

Titik bening itu jatuh, degub jantung bergemuruh membuat bahu Clarissa bergetar. Abraham tahu jika gadis itu sedang menangis. Sesak yang dirasakan Clarissa saat ini hanya dinikmati sendiri. Tissu disodorkan Abraham dihadapan gadis itu. Setelah puas menangis, Abraham lalu menasehatinya.

"Belajarlah bersikap, Angelo hanya satu dari ribuan orang yang akan mengkritik sikapmu."

Kepala Clarissa mendongak dengan sorot mata memerah menatap Abraham, gadis itu bingung dengan ucapan lelaki tua itu.

"Dengan adanya kamu di keluarga kami. Kau akan menjadi sorotan, media akan mencari tahu siapa kamu? Dari mana asal-usulmu. Apa hubunganmu dengan kami, hal seperti ini sangat wajar."

Clarissa terperangah tak percaya, tangannya gemetar. Bagaimana dia bisa menghadapi orang-orang nyiyir setelah ini. Jika menghadapi Angelo saja menguras perasaan dan juga tenaganya.

"Bi, bawa dia ke kamarnya. Lakukan tugas kalian dan buat dia paham." Abraham berdiri meninggalkan meja makan. Sikap dingin pria itu menghilangkan keramahan yang di tunjukkan sepanjang kebersamaan.

Clarissa yang masih ingin bicara dan berusaha mengejar, langkahnya terhenti saat tiga pelayan langsung menghadangnya.

"Anda mau kemana? Sudah waktunya beristirahat. Anda harus masuk ke kamar sekarang juga."

Cla menoleh, dia tidak menyangka bahkan seorang pelayan bersikap tegas kepadanya.

"Kehidupan seperti apa ini? Apa di sini aku akan dipenjara dan tunduk dengan aturan! Ha, itu keterlaluan!" ucap Cla berontak.

Abraham berada tepat dibalik dinding, mendengar ucapan gadis itu.

"Anda harus patuh, Nona. Di rumah ini Tuan Abraham lah yang berkuasa. Semua orang tunduk dengan aturannya. Lebih baik Nona menurut atau ...."

"Atau, apa?!" Clarissa menyipitkan mata.

"Tuan Abraham punya cara sendiri untuk membuat orang patuh, bahkan sekeras Tuan Muda Angelo takluk dibawa kuasa Kakeknya."

Clarissa menelan salivanya, ya pesona Abraham masih bersinar, berkarisma dan tidak terbantahkan, aura yang mampu membuat orang di sekelilingnya patuh.

"Silahkan ikuti kami, Nona harus membersihkan diri."

Clarissa tak memiliki pilihan selain mengikuti langkah ke tiga pelayan yang di utus untuk melayaninya. Bayangan Helena kembali terlintas di kepala.

"Bisakah aku menemui kakakku? Aku berharap bisa menginap di Rumah Sakit, dia akan mencariku jika sadar nanti, ku mohon." Clarissa memelas memohon belas kasih.

Ketiga pelayan itu saling bertatapan, mereka tidak berani memberikan izin.

"Maaf, seseorang telah di utus untuk menjaganya, Nona bisa menemuinya besok. Untuk malam ini, Nona tidak boleh kemana-mana."

Clarissa menatap sedih, batinnya merana dan perasaan cemas tak bisa dihindarkan.

"Tolong, tunjukan dimana kamar Tuan Abraham berada? Aku akan memohon untuk kembali ke Rumah Sakit!"

Kali ini Clarissa memohon dan berlutut di lantai, gadis itu tidak sungkan memelas dihadapan para pelayan. Zeland menyaksikan semuanya dari lantai dua rumah itu.

"Apa yang Anda lakukan, Nona. Berdirilah, kami tidak bisa membantu apapun. Titah Tuan Abraham sudah jelas, Nona akan kembali besok."

Percakapan di bawah sana mengundang rasa penasaran Zeland, David dengan santai ikut bergabung dengannya.

"Siapa dia sebenarnya? Kenapa Kakek membawanya ke rumah kita?" tanya David.

Zeland mengedikan bahu, pandangannya fokus pada Clarissa. Setelah beberapa menit, pelayan akhirnya berhasil membujuk gadis itu.

"Entahlah, aku rasa dia bukan orang sembarangan. Pasti ada alasan kenapa Kakek membawanya," ujar Zeland.

"Kakek mengatakan dia akan menjadi bagian dari keluarga kita, apa menurutmu Kakek akan menikahinya?" David terlihat gusar.

"Jangan ngaco, dia bahkan lebih muda dari kita. Tidak mungkin Kakek akan menikahinya, itu bukan gaya Kakek. Kau tahu itu, 'kan?"

Angelo tiba-tiba datang dari arah belakang.

"Siapapun dia, gua akan buat dia keluar dari rumah ini cepat atau lambat!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MARRIED FOR MONEY   29 informasi tambahan

    Zeeland dan Helena akhirnya berakhir duduk bersama di halaman belakang.Tuan Abraham telah pergi sejak tadi dan Meninggalkan mereka dalam pengawasan orang rumah."Namaku Helena Rifai Ariziq. Aku lahir di Surabaya dan besar di Jakarta. Aku dan adikku yatim piatu.""Kamu tahu siapa kedua orangtuamu?""Tentu saja aku tahu, pertanyaan macam apa itu?" Helena tersenyum. Zeeland menatapnya lekat."Siapa?"Tak langsung menjawab, Helena justru merasa aneh, bagaimana tidak? Zeeland tiba-tiba bertanya layaknya seorang polisi."Ada apa? Kau tidak benar-benar mengindahkan ucapan Tuan Abraham kan?"Zeeland tersenyum dan menatap langit di atas sana."Aku bertanya hanya karena ingin tahu, siapa kamu ini dan adikmu mengapa tiba-tiba tersesat ke rumah kami.""Apa kau tidak merasa aneh? Kakekku sebelumnya memaksa Cla menjadi pengantinnya dan sekarang dia dengan ikhlas menikahkan Cla dengan David. Kakek melunasi hutang kalian dan menjamin hidupmu, melihat kebaikan yang tidak wajar jika aku jadi kau, aku

  • MARRIED FOR MONEY   28 perjodohan untuk Helena

    David belum menerima kabar apapun. Dan di lingkungan itu dia tidak tahu harus melakukan apa. Kanan kirinya hanya ada tetangga yang begitu penasaran akan kehidupan rumah tangganya. Bosan. Dia melangkah keluar dan memperhatikan sekeliling. Ada kayu besar tua yang tumbuh di halaman depan rumah Clarissa. Daun-daun berguguran. Setiap hari sampah akan berserakan dan mereka tak punya pembantu. David iseng mengeluarkan ponselnya untuk memotret. Cla memergokinya dari belakang. "Kau suka pohon itu?" tanyanya. David spontan menoleh. "Hay." Gadis itu membawa sapu lidi dan skop sampah. "Kau sedang apa?" "Aku akan membersihkan halaman ini." "Oh." Cla langsung menyapu dan David hanya menatapnya saja. Gadis itu seolah telah terbiasa dengan pekerjaannya. Cla menyapu seluruh area taman dan tak lama mengumpulkannya di bawah pohon. "Apa kau punya korek api?" David merogoh kantong celananya, dia benar-benar memiliki benda itu. "Terimakasih." Cla membakar sampah dan David tercengang di tempat

  • MARRIED FOR MONEY   27 kedua orangtua Clarissa Anastasya

    Saat tiba di rumah.Cla membuka pintu mobil dan berjalan keluar, tangan mungilnya dengan santai memasukkan kunci di lubang pintu. David menyusul dan sang istri kecilnya terdiam di tempat."Ada apa?" tanya David.Langkah Cla berhenti karena menyadari ada barang yang bergeser dari tempatnya. Gadis itu lantas mundur dan mencari balok kayu yang memang dia sediakan dibelakang pintu."Cla, ada apa?" David sekali lagi menatapnya heran."Ada orang di rumah," ucapnya. Cla masuk dan memeriksa setiap sudut rumah. David tersenyum sejenak dan mendapati raut wajah istrinya yang terlihat terkejut."David, ada kulkas besar di dapur."David menyusul.Cla melepaskan balok kayunya dan mengecek isi kulkas."Makanan, ini banyak banget.""Tiger tadi ke sini," ucap David santai."Karena tahu dia datang sekalian saja aku memintanya untuk mengisi makanan untuk kita.""Tiger datang, bagaimana kamu tahu?"David menunjukkan ponselnya."Zeland mengabariku."Cla pun memahami segalanya."Jadi, apa yang kamu katakan

  • MARRIED FOR MONEY   chapter 26 asal usul Cla

    Usaha yang tidak sia-sia. Keputusan untuk keluar dari rumah dan mencari restoran adalah pilihan yang bijak. Saat David menemukan sebuah cafe di pinggir jalan, dia telah memutuskan untuk makan di tempat itu."Cla, lihat!"Cla yang sudah lemas sejak tadi kini membuka mata, cafe itu. Cla diam dan teringat bagaimana dia bisa terjebak dalam hubungannya sekarang."Kita makan di sini ya." David turun.Cla enggan ke sana namun David telah melenggang memasuki cafe. Senyumnya merekah saat mendapati daerah itu tidak terlalu buruk. Cla menyusul kemudian. Dia berjalan memasuki tempat itu dan David sudah siap memesan. Saat Cla memutuskan duduk, seorang pelayan mengenalinya. "Hey, kamu yang datang melamar pekerjaan beberapa bulan yang lalu kan?'David dan Cla menatapnya kompak."Aku masih ingat, hari itu seorang lelaki tua melamarmu di cafe ini. Kamu menolaknya dengan tegas, walau uang yang dia tawarkan banyak banget. Dia tak mengganggumu lagi kan?"Raut wajah Cla tampak tidak nyaman. David menata

  • MARRIED FOR MONEY   Chapter 25 kelakuan David

    Suasana ruang VIP yang tadinya tegang kini mencair berkat tawa teman-teman David, kecuali di sudut meja tempat Viona berdiri. Wajah wanita itu memerah kesal, dia menahan amarah dan rasa malu yang membakar dadanya. "David! Kamu keterlaluan!" pekik Viona, suaranya bergetar. "Kamu membawa perempuan... perempuan rumahan ini hanya untuk mempermalukan aku di depan teman-teman kita?!" David yang sedang menuangkan jus ke gelas Cla bahkan tidak menoleh. Lucu baginya mendengar ocehan mantan kekasihnya itu. "Minum dulu, sayang. Kamu pasti haus setelah perjalanan dua jam." "David Reevand, aku bicara padamu!" Viona melangkah maju, namun Zeland dengan sigap berdiri di antaranya, menghalangi langkah Viona dengan senyum khasnya. "Viona, ini acara reuni, bukan panggung drama," potong Zeland santai, memasukkan tangan ke saku celana. "Kakak iparku di sini sebagai tamu kehormatan. Jadi, tolong jaga sopan santunmu." Beberapa teman angkatan mereka mulai berbisik-bisik, memandang Viona dengan tatap

  • MARRIED FOR MONEY   Chapter 24 Frustasi dengan David

    Cla melamun di dapur. Kata-kata David terus terngiang di telinganya. Menjadi istri seutuhnya. Cla tidak berpikir untuk menyerahkan diri kepada lelaki itu. "Ehemm!" Makanan telah tersaji di atas meja. Cla tersentak kaget saat David datang dan duduk siap untuk makan. Hanya masakan sederhana yang ada. Cla tak berharap David akan menyukainya. "Silahkan." "Layani aku," ucapnya membuat Cla kembali menatapnya. Gadis itu paham jika dia seorang Tuan Muda. Cla melayaninya, namun tangannya seketika gemetar saat David merangkul pinggangnya. "Kau!" David hanya tersenyum. "Lihat aku saat melayaniku, jika tidak aku akan menyentuh bagian mana saja yang aku suka." Cla terbelalak. "Kau tahu, ada untungnya kakek menyuruh kita ke sini. Aku memang mencari waktu yang pas agar bisa mendidikmu." "Mendidik?" "Ya, mendidikmu sebagai Nyonya David Reevand. Duduk di sini." David menunjuk ke pa ha nya. Cla menggeleng tak mau. "Duduk." Gadis itu mau tak mau mendekat. Cla tak menyangka jika David akan

  • MARRIED FOR MONEY   Capther 6

    Takdir mempermainkan Clarissa Anastasya, hati gadis itu kini merasa sangat cemas. Bagaimana jika Helena tahu? Bagaimana jika sang kakak tidak setuju? Sepanjang perjalanan, pikiran Clarissa lagi-lagi terkuras memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Zeland dan David menatapnya yang gelisah sejak

  • MARRIED FOR MONEY   Chapter 5

    Tiba di Rumah Sakit, Zeland dan David langsung keluar dari mobil, Angelo tiba lebih awal dan berdiri dengan tampang bete di lobby. Jelas terlihat jika Angelo tidak nyaman menuruti keinginan Abraham. “Dimana cewek miskin itu?” tanya Elo saat Zeland dan David berdiri di sampingnya. “Tuh,” ucap David

  • MARRIED FOR MONEY   Chapter 4

    Semalaman dilayani bak putri raja, Clarissa merasa dirinya sedang di alam dunia mimpi. Pelayan bahkan mengikutinya hingga ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuknya. Clarissa merasa kehilangan privasi saat kedua pelayan utusan Abraham memutuskan semuanya. Mulai dari pakaian yang harus dike

  • MARRIED FOR MONEY   Chapter 2

    Helena tidak sadarkan diri saat bantuan datang dan mengankat tubuhnya masuk ke dalam mobil Ambulance. Anak buah Abraham dengan cepat mengawal prosesinya. Clarissa memilih untuk ikut di mobil yang membawa kakaknya. Gadis itu tak hentinya berdoa dan menggenggam tangan saudarinya. "Bertahan, Kak. Semu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status