Share

Bab 24

Author: Mumu Mooi
last update publish date: 2026-05-18 21:22:38

“Kalian untuk sementara tinggal disini saja,” kata Pak Beni saat makan malam telah usai dan mereka berkumpul di ruang tengah.

“Di rumah ini ramai yang akan memantau Aluna. Kalau disana cuma ada Mbak Jum,” sambung Pak Beni.

“Nggak apa-apa, Yah. Kami masih disana aja,” jawab Ragil.

“Kamu itu juga jarang di rumah, Ragil. Bulan depan kamu juga akan pergi ke Taiwan urusan marger itu,” kata Pak Beni lagi.

Aluna langsung menoleh cepat ke arah Ragil dengan dahi yang mengernyit.

“Mas mau ke Taiwan?” tan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 98

    “Halo…”“Al, kamu lagi di mana?” tanya pria di seberang telepon itu dengan nada suara yang lembut, namun tetap terdengar tegas.“Emm…”Aluna menggantung kalimatnya. Ia perlahan mengangkat pandangannya ke atas, menatap ke arah Mbak Sri yang berdiri di samping ranjang IGD dan tengah menatapnya dengan raut wajah penuh kecemasan. Menyadari bahwa majikan mudanya itu membutuhkan ruang privasi untuk berbicara sendiri, Mbak Sri mengangguk paham. Wanita paruh baya itu melangkah pelan keluar dari balik tirai bilik perawatan dan meninggalkan Aluna.“Al…” panggil Dirga lagi setelah beberapa detik hanya mendapati keheningan di seberang sana.“Eh, aku… aku lagi di rumah, Kak,” jawab Aluna sedikit terbata-bata. Ia meremas ujung selimut rumah sakit yang menutupi kakinya, mencoba menutupi kegugupan yang mendadak menyerang pertahanannya.Hening seketika melanda di ujung telepon sana. Keadaan itu entah bagaimana langsung membuat Aluna merasa ketar-ketir. Jantungnya berdegup tidak beraturan, takut jika D

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 97

    “Mas… Mas bisa tidak, kamu sekarang datang ke rumah sakit untuk menemaniku di sini?”Hening beberapa saat diujung telepon sana membuat Aluna tersenyum tipis. Bahkan sebelum suaminya itu sempat menjawab, Aluna sudah tahu jawabannya.“Nggak usah, Mas. Kalau memang Mas Ragil nggak bisa, nggak apa-apa. Aku sendiri aja disini,” katanya dengan nada bicara yang tenang.“Maaf, Lun,” ucap Ragil yang terdengar tidak merasa bersalah sama sekali.“Hm. Aku matiin dulu, Mas. Dokternya sudah datang.” Tanpa menunggu jawaban, Aluna segera memutuskan panggilan itu.Rasa sakit yang sebelumnya terasa begitu menyakitkan di bagian perutnya, kini telah hilang berganti dengan rasa sakit di dadanya. Entah karena Anggun atau Ragil sendiri yang memang tidak mau datang, Aluna tidak mau memikirkannya lagi.“Sekarang aku sudah sangat yakin, Mas untuk meninggalkanmu walaupun kamu tidak punya hubungan gelap sekalipun dengan Anggun,” gumamnya.Bagaimana tidak, Aluna sudah berkorban sebesar ini untuk hubungan keduanya

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   96

    “Kamu ngapain masih tiduran saja? Biasanya juga kamu sudah kelayapan pagi-pagi. Entah keliling kompleks atau sibuk di taman baru kamu itu.”Suara bariton Ragil memecah keheningan kamar mereka yang masih remang. Aluna yang meringkuk di balik selimut tebalnya hanya memejamkan mata erat-erat. Rasa pening menjalar di kepalanya tiba-tiba pagi itu.“Lagi tidak enak badan saja, Mas,” jawab Aluna lirih dengan suara serak di balik kain katun tebal itu.“Kenapa? Ngapain kamu kemarin seharian? Jalan-jalan lagi?” tanya Ragil lagi dengan nada menuduh.Tangannya bergerak sibuk memakai dan merapikan simpul dasinya di depan cermin meja rias. Pria itu tidak menoleh sedikitpun, seakan tidak mempedulikan istrinya.“Aku nggak ngapa-ngapain, Mas. Aku cuma di rumah saja seharian kemarin,” jawab wanita itu jujur sebab memang sudah dua hari ini dirinya menghabiskan hari hanya dengan di rumah saja.“Kalau kamu nggak ngapa-ngapain, nggak mungkin kamu kelelahan seperti ini,” ujar Ragil lagi, nadanya terdengar s

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 95

    Di tengah isak tangis Aluna yang perlahan mulai mereda, benda persegi di atas meja kaca kafe itu tiba-tiba bergetar panjang. Layar ponsel Aluna menyala terang, memecah keheningan yang sempat mencekam di antara kedua wanita tersebut. Sepasang mata sembab Aluna melirik ke arah layar, dan jantungnya berdesir halus saat melihat nama ‘Kak Dirga’ berkedip di sana.Aluna menatap Ririn dengan pandangan bimbang, seolah meminta petunjuk dari sahabatnya itu. Ririn yang masih mencerna situasi dan syok akibat pengakuan gila Aluna tadi langsung menegakkan tubuhnya. Matanya yang tajam menunjuk ke arah ponsel dengan gerakan dagu yang tegas.“Angkat, Lun. Angkat saja. Aku mau tahu bagaimana sikap pria itu setelah semua kejadian ini,” desak Ririn dengan volume suara yang tertahan.Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Aluna menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel pintar itu ke telinganya. Ia berdeham kecil, mencoba menstabilkan intonasi suaranya yang serak agar tidak terdengar menc

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 94

    “Sebenarnya… kamu ada hubungan apa sama Kak Dirga?”Aluna tersentak ketika mendengar pertanyaan dari bibirnya Ririn. Jantungnya terasa berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. Selain karena beban rahasia yang teramat besar, wajah Ririn yang mendadak menuntut penjelasan dan menatap tajam ke arahnya turut menjadi alasan mengapa Aluna terpaksa memaksakan sebuah senyuman tipis dan berusaha bersikap setenang mungkin.“Hubungan apa emangnya? Biasa saja, nggak ada yang spesial,” elak Aluna.Walau sudah berusaha sekuat tenaga untuk meredam kegugupannya, suara yang keluar dari bibir Aluna masih saja bergetar samar, mengkhianati ketenangan palsu yang ia pamerkan dihadapan sang sahabat.“Jangan bohong, Lun! Aku tahu pasti ada sesuatu yang besar di antara kalian berdua. Kak Dirga itu bersikap seperhatian itu ke kamu, lho. Bahkan… ketika kamu pergi kontrol kehamilan kamu yang terakhir kali di rumah sakit, dia juga ada di sana dan menemani kamu masuk ke dalam ruangan, kan?”Mata Aluna seketika me

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 93

    “Lun, kita ketemuan di kafe dekat rumah sakit aku, bisa nggak? Siang jam dua.”Aluna membaca pesan yang masuk di layar ponselnya kala dirinya baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah cukup lama bergelut dengan tanah dan tanaman hias barunya di halaman belakang rumah.Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Aluna langsung mengetik pesan balasan di papan tombol.“Memangnya kamu lagi libur hari ini?”Tidak butuh waktu sampai satu menit, sebuah notifikasi balasan kembali diterima oleh ibu hamil itu dari seberang sana.“Kelar jam dua praktik aku, Lun. Makanya aku mau mengajak kamu nongkrong lagi sebentar. Nanti malam aku ada jadwal operasi besar. Lumayan, kan, buat recharge pikiran biar nggak stres di dalam ruang operasi.”Aluna mengulas senyum tipis ketika membaca penuturan sahabat karibnya yang tengah menempuh spesialis saraf itu.“Oke deh. Jam dua-an kita ketemuan di sana langsung, ya. Aku mau istirahat dulu bentar di kamar.”Ririn

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 62

    “Aku hanya menegur apa yang seharusnya ku tegur, Mas.”Suara Aluna terdengar begitu tenang dan datar. Namun setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh penekanan.Ia melangkah santai menuju sofa yang berada di tengah ruangan luas tersebut. Dengan gerakan anggun, ia meletakkan tas jinjingnya di atas

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 49

    Aluna tersentak di tempatnya berdiri. Suara pintu yang tertutup dengan keras itu seolah meremukkan sisa-sisa gairah yang sempat membakar tubuhnya beberapa saat lalu. Ruang kerja yang megah ini mendadak terasa begitu dingin dan asing. Rasa bersalah, malu, dan cemburu bercampur aduk menjadi gumpalan

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 45

    “Aku ikut ke kantor ya, Yah,” pinta Aluna sambil menatap sang ayah dengan mata berbinar penuh harap.Pak Beni mengalihkan pandangannya yang semula ke arah halaman rumah kini menatap ke arah Aluna. Dahi pria itu berkerut tipis menatap putri tunggalnya.“Mau ngapain kamu ke kantor? Hari ini Ayah sama

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 40

    Aluna masuk ke dalam rumah sambil menenteng kantong makanan yang diambilnya dari depan. Ia duduk di ruang tengah dan langsung membuka bungkusan itu.Kali ini Dirga mengirimkan sop iga lengkap dengan jus alpukat. Dan seperti biasa, beberapa menit kemudian pesan dari Dirga masuk.‘Dipaksa habisin min

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status