LOGIN"What do you f**king want?" his voice was warm against my neck, his lips brushing against my earlobe. "You," I breathed shamelessly. "I want you." "Do you know what it means to want me?" he asked, his finger trailing down my navel. I shook my head, shivering. "It means taking everything I have to offer. It means surrendering to my world. Are you sure you want all of that, tesoro?" I gave a quick nod. "Yes." **** Gabriel was given a task to watch Arielle—to protect her. What started as a duty turned into a habit. Habit turned into obsession until he began to crave her like a drug. Arielle never planned to fall for him—the man with the double identity. But with every look, every addictive touch, he pulled her deeper into a world she had no business craving.
View More“Berapa harganya?” tanya seorang pria bertubuh kekar yang kini sedang berada di sebuah rumah sederhana yang terletak di daerah Bandung.
“Dua M,” jawab seorang wanita paruh baya dengan lantang. “Bibi mau jual apa? Bukannya semua tanah dan sawah peninggalan Bapak sudah habis dijual buat biaya kuliah Diana?” tanya seorang gadis berambut panjang yang baru saja keluar dari kamarnya. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu bernama Tamara Mustika. Ia adalah seorang yatim piatu, ibunya meninggal sejak ia duduk di bangku SD, sedangkan ayahnya meninggal ketika ia kelas tiga SMP. Sejak itu juga, Tamara tinggal bersama dengan adik dari ayahnya yang bernama Pratiwi. Namun, sejak tinggal bersama bibinya yang berstatus sebagai janda itu, Tamara malah diperlakukan layaknya seorang pembantu. Semua harta peninggalan kedua orang tuanya sudah habis dijual oleh Pratiwi dengan alasan biaya hidup Tamara. Padahal, semua uang itu ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan ia dan juga putrinya yang bernama Diana. Usia Tamara dan Diana hanya beda satu tahun saja, Tamara lebih tua dari Diana. Akan tetapi, sejak lulus SMA, Tamara tidak melanjutkan pendidikannya. Harta peninggalan kedua orang tuanya yang seharusnya digunakan untuk biaya pendidikan Tamara, malah diambil alih oleh Pratiwi untuk biaya kuliah Diana. Hingga saat ini, semua harta peninggalan orang tua Diana habis, sementara Diana butuh biaya besar untuk melanjutkan kuliah sampai selesai serta ikut kursus modeling. Karena gadis itu bercita-cita ingin menjadi model dan artis. Sehingga Pratiwi harus mengeluarkan uang banyak untuk membiayai putrinya agar bisa menggapai cita-citanya itu. Diana selalu merasa lebih cantik dari Tamara, bahkan gadis itu tak segan-segan menghina Tamara. Terlebih lagi, Diana memiliki kulit yang lebih putih dari Tamara. Padahal, Tamara adalah gadis yang manis, ia memiliki rambut panjang lebat dan sedikit bergelombang, Tamara juga memiliki kulit sawo matang dengan bola mata bulat, alis tebal tertata rapi, bulu mata lebat, serta hidung yang tidak terlalu mancung dan juga tidak terlalu pesek. Tubuhnya tinggi ramping, ia memiliki lesung pipi jika sedang tersenyum. Akan tetapi, Diana selalu meledek Tamara dengan sebutan dekil, ikal, dan juga kerempeng, karena ia sendiri memiliki tubuh yang cukup berisi. Saat ini, Tamara berdiri di depan pintu kamarnya, ia melihat ke arah ruang tamu yang terdapat dua orang pria bertubuh kekar yang sedang berbicara bersama dengan bibinya dan juga Diana. “Ini orangnya?” tanya seorang pria bertubuh kekar sambil menunjuk ke arah Tamara. “Iya, dia adalah gadis yang lugu dan bodoh. Dia akan menurut saja diperlakukan seperti apapun,” jawab Tiwi dengan wajah angkuh. Tamara yang mendengar itu, sontak membulatkan kedua matanya. “Maksud Bibi apa? Bibi mau jual rumah ini?” Tamara masih terlihat bingung. “Diam jangan banyak bicara! Saya akan menjual kamu kepada mereka!” jawab Tiwi dengan lantang. “Apa? Bibi sudah gila?” Tamara benar-benar terlihat syok. “Kamu yang gila! Saya sudah capek mengurus kamu dari dulu sampai sekarang. Ini saatnya saya melepas kamu. Anggap saja, ini adalah bentuk balas Budi kamu kepada saya, karena saya telah mengurus kamu selama ini. Silahkan bawa dia pergi dari rumah ini. Saya jual dia kepada kalian dengan harga dua M!” tutur Tiwi dengan wajah jutek dan nada bicara yang terdengar angkuh. “Dua M terlalu mahal untuk gadis desa seperti ini. Kami akan membayar dengan harga satu koma lima M, bagaimana?” Pria bertubuh kekar itu menawar. “Baiklah, tidak masalah turun lima ratus juta, yang penting dia laku.” Tiwi bersedekap dada. “Baikkah, kami sudah menyiapkan uangnya.” Pria berkepala botak itu memberi isyarat kepada anak buahnya yang berdiri di depan pintu. Tak lama kemudian, pria tersebut masuk ke dalam rumah sambil membawa dua koper uang. “Ini uangnya!” ucap pria itu seraya membuka dua koper yang berisi uang tunai. Seketika kedua mata Pratiwi dan Diana terbuka lebar, bahkan bola mata kedua orang itu hampir keluar dari tempatnya saat mereka melihat tumpukan uang itu. “Banyak banget uangnya, Bu,” ucap Diana dengan kedua mata yang hampir tak berkedip. “Iya, Sayang. Kamu bisa langsung jadi artis terkenal dengan uang ini,” balas Pratiwi dengan bangga. “Sudah deal ya! Gadis ini akan segera kami bawa.” Dua orang pria bertubuh kekar mendekat ke arah Tamara yang masih mematung di depan pintu kamarnya. “Iya, silahkan bawa dia!” Pratiwi mempersilahkan dengan senang hati. “Nggak! Aku nggak mau dijual. Bibi … Bibi sedang bercanda kan? Bibi nggak mungkin menjual aku.” Tamara berusaha melakukan penolakan. “Kalian, cepat bawa dia ke dalam mobil! Jangan lupa, ringkus kaki dan tangannya. Matanya juga ditutup!” titah seorang pria yang langsung dilaksanakan oleh anak buahnya. Mereka terus mendekat ke arah Tamara yang akan melarikan diri lewat pintu belakang. Namun, kedua orang bertubuh kekar itu segera menahannya dan meringkus kaki serta tangan Tamara sampai membuat gadis itu tidak bisa bergerak. “Tolong … tolong jangan bawa aku! Bibi … tolong aku Bibi … Bibi boleh mempekerjakan aku seperti apapun, tapi tolong jangan jual aku ke mereka, aku takut Bi …” teriak Tamara sambil menangis kencang. Ia benar-benar merasa takut. Namun, Pratiwi dan Dania hanya menatapnya dengan wajah angkuh. Kedua orang itu masih duduk santai di atas sofa sambil menghadapi tumpukan kertas berwarna merah yang membuat ibu dan anak itu lupa segalanya. Tamara diseret paksa dan dimasukkan ke dalam sebuah zeep berwarna hitam. “Tolong … Bibi … Diana … tolong aku …” teriak Tamara yang kini sudah berada di dalam mobil. Air mata langsung mengalir deras, ia menatap nanar ke arah rumah yang ditempati oleh Pratiwi dan Diana. Sebenarnya itu adalah rumah Tamara, rumah peninggalan ayahnya dan juga rumah masa kecilnya bersama dengan kedua orang tuanya. “Bapak … Ibu …” teriak Tamara dengan suara yang mulai terdengar serak, karena ia telah beberapa kali berteriak. “Tutup mata dan mulut gadis itu!” titah seorang pria yang langsung dilaksanakan oleh anak buahnya. Kedua mata Tamara ditutup dengan sebuah kain tebal, begitupun dengan mulutnya. Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa meringkuk di kursi belakang. Dalam hatinya, Tamara meminta kepada sang kuasa agar tetap melindunginya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tetapi dalam benaknya ia berpikir anggota tubuhnya akan diambil. Begitu yang ada di dalam pikiran Tamara, sesuai apa yang sering ia dengan tentang jual beli manusia. Tamara hanya bisa pasrah dan berdoa. Kedua matanya tak bisa melihat, entah kemana arah mobil yang kini sedang ditumpanginya itu melaju. Tamara menangis dalam diam, air matanya yang keluar langsung diserap oleh kain hitam yang menutupi kedua mata indahnya itu. Tamara tak bisa melihat apapun, semuanya benar-benar gelap. Ia merasa perjalanan itu cukup jauh, bahkan kedua tangan dan kakinya yang diikat kuat, semakin terasa sakit. ‘Ya Tuhan, mungkinkah ini akhir dari hidupku?’ batin Tamara sendiri. Jika memang ini sudah waktunya ia meninggalkan dunia, Tamara akan jauh lebih tenang daripada ia harus melewati siksaan dari manusia kejam itu. Karena selama ini, di dalam hidupnya tidak ada yang spesial, ia hanya dijadikan babu oleh bibinya sendiri. Babu tanpa upah, begitu sebutannya bagi Tamara. Sudah sangat lama ia diperlakukan seperti itu, hal yang membuat Tamara untuk tetap semangat melanjutkan hidup, yaitu ia yakin suatu saat nanti ia akan bertemu dengan seseorang yang menjadikannya spesial. Namun, Tamara sendiri tidak tahu siapa orang itu, yang jelas ia pernah beberapa kali bermimpi didatangi oleh sosok pria tampan.Arielle's POV "What are you doing here, Maven?" I asked the moment I met Maven dropping Violet home. I had just come to visit."And you?" he shot back."I came to see my friend," I snapped.He gave a wry smile. "Well, I offered my sister's friend a ride." Then, he got into the car, grinning."My eyes are on you," I said.He winked at me before driving off.I turned back to Violet immediately. "You didn't tell me you were back with Maven.""No. We're not back together." She bit her lip. "We were never anything, by the way. He just wanted to apologize.""So, did you accept the apology?""It's still in consideration."Her lips curled into a mischievous smile as she grabbed my arm. "Come here. I need the juicy details of last night.""Uh..."She opened the door and dragged me inside. Dropping onto the couch, she looked up at me, her face glowing with excitement. "Start talking.""Well, last night was... sweet, romantic and..." I exhaled. "Hot.""Mm-hmm.""Uh... we kissed. He made me feel
Violet's POV I locked my door and stepped down from the porch, only to notice a car parked in the driveway. I frowned slightly. That was odd. None of my parents had visited in two years now. No one really came here. It was just me. As I got closer, the window rolled down.And just like that, my mood dropped.Damn it.It was Maven."Hop in," he said—more like a command, than a request.I gave him one long stare, shook my head and walked past his car.The engine sputtered to life, and soon the car rolled up beside me. "Get in, Violet," he said again. I swallowed and picked up my pace, refusing to spare him a glance.As I walked, he kept driving slowly beside me. People jogging nearby had already started staring. I didn't even care. I wasn't going to take a ride from him no matter what.He continued following me. I raised a hand and flagged down a taxi right in front of him. I got in and shut the door without looking back. This would annoy him, but I don't care.As the driver pulle
Arielle's POV He drove me home after, gave me one long stare before I finally got out of the car. I turned to give him one last smile."Hold on," he said then reached for the backseat. He retrieved a shawl and stretched it toward me. "Here," he said. "Wrap it around your neck." I looked down at my neck only to see visible purplish red marks all over. They were impossible to miss."Oh." I let out an awkward chuckle and took the shawl from him. "I remember the last time you gave me a hickey. You wanted me to show it off. Now you're giving me something to cover it."He chuckled. "That was one mark. Your neck is in a... state right now. I'm not ready for your brothers' questioning.""That's not going to be a problem," I said, wrapping the shawl around my neck."If you get in there like that... it's a big problem." He swallowed, staring intently at me. "Take care of yourself.""Sure. I will." I smiled. "You're going to work?"He gave a quick nod."Well... I'll reapply for a position as s
Arielle's POV He gently pushed my hair to one side, and then trailed a slow line with his finger from my ear, down to my lips. I couldn't control my erratic breathing as his thumb pressed against my lips, coaxing them open."F**k. I just want to taint you," he said, his eyes burning with nothing but raw desire.With one swift movement, he flipped me over so i was lying flat, stomach facing the bed.Okay... he was rough. He's rough in bed. I need to speak up.He stretched my cuffed hands farther, then landed a sharp spank on my butt."Oh," I let out a moan, my skin tingling from the sudden sting. My core throbbed in response.I began. "I... I honestly don't know anything about your sex life, but I... Luciano, I need you to go easy on me," I said, my voice shaky.Silence.Then: "I'll try to be gentle."But there was nothing gentle about the next thing he did. The way he pulled me up, making my butt press to his crotch while my upper body stayed low. My cuffed hands still remained str
Gabriel's POV She pursed her lips, staring down at the floor then sighed and started taking quick steps towards me.My eyes took in her entire appearance. A short sleeveless halterneck gown clung perfectly to her curves. The red silkiness of her hair matched with her dress, a light makeup accentua
Arielle's POV As I went home that day, I met Maven on the phone with someone. He made a gesture with his hand that he would get back to me. I slumped on the couch, exhausted and mentally tired. The stress of the day's event still weighed on me and I needed to lay it off. Luciano's words stun
Gabriel's POV "I'm your teacher, Jennie. Take it easy on me," I teased. "No. You know you're stronger, so you have to endure the little welcome punches and kicks." "When did you get back?" I asked. She smiled cynically like the crazy girl that she was, and in the next moment, she jumped ont
Arielle's POV It was night already and my curiosity about his family still lingered. He was an unpredictable person. Why would he tell Mario not to speak to me again? After his outburst at the snooker game last night, I realized Mario might have offended him. Draping my nightgown around my b






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore