Share

Bab 240

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-05-10 20:32:58
Rio melangkah mundur sedikit, memberikan ruang bagi Lyra untuk bernapas. Namun matanya tetap mengunci manik mata wanita itu dengan sorot yang penuh perhitungan. Dia berjalan menuju meja kecil, mengambil botol wiski yang masih tersisa sedikit, lalu menuangkannya ke dalam gelas tanpa suara. Hanya denting kaca yang memecah keheningan yang tegang itu.

​"Kita sudah terlalu jauh untuk sekadar menjadi orang asing yang tidak sengaja tidur bersama, Lyra. Dan kita juga terlalu cerdas untuk terjebak dala
Kak Han

Halo pembaca semua… Sembari menunggu kisah Bayu dan Maudy, bisa baca novel rekomendasi Author. Judul : Cerai! Kakak Ipar Memanjakanku Karya Author : Er_Su Terima kasih.

| 9
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 406

    Melihat kesempatan masanya sirna begitu saja di depan mata, Tasya bagaikan disiram minyak tanah. Seluruh urat di wajahnya menegang, matanya berkilat-kilat dipenuhi amarah dan kegilaan yang tak tertahankan. Sebelum Bayu sempat berbalik, Tasya melangkah maju dan cengkeraman tangannya yang kuat langsung menahan lengan jas Bayu dengan kasar.​"Tidak bisa begini, Mas Bayu! Kamu tidak boleh memakai darah dari perawat itu! Mas Bayu sudah ingkar janji! Kita sudah sepakat dari awal!" teriak Tasya, suaranya melengking tinggi hingga memantul di sepanjang ruang di rumah sakit.​Bayu menghentikan langkahnya, menoleh perlahan dengan pandangan mata yang teramat dingin dan tajam. "Lepaskan tanganmu, Tasya!"​"Tidak mau! Mas Bayu ini berniat menipuku, kan?! Mas Bayu sengaja mengulur waktu agar darah dari PMI itu datang! Aku dan Mama sudah membuang waktu jauh-jauhan datang ke sini tengah malam! Kamu harus tetap menandatangani surat ini dan memakai darah Mamaku! Aku tidak terima dikerjai seperti ini!"

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 405

    Bayu tidak punya pilihan lain. Meski dia benci dengan keputusan yang akan dia ambil, tapi waktu yang diberikan oleh dokter tidak bisa ditawar lagi. Maudy masih berusaha menahan suaminya, tapi kali itu Bayu tidak bisa lagi mendengarkan saran dari istrinya. “Mas, apa kamu yakin dengan apa yang akan kamu lakukan?” “Kita tidak punya pilihan lain lagi Maudy. Cindy sedang dalam kondisi kritis. Dan satu satunya harapan hanya dari mamanya Tasya.”Bayu mengusap wajahnya yang terasa dingin akibat ketegangan yang kian membakar. Setiap detik yang berdetak di jam dinding lorong gawat darurat terasa bagai pukulan godam yang menghantam dadanya. Di seberang telepon, Maudy masih terdengar terisak pelan, menahan rasa penyesalan dan keputusasaan yang sama besarnya.​"Maudy... maafkan aku. Aku tahu ini sangat berisiko untuk perusahaan kita. Aku tahu Tasya akan memakai jabatan ini untuk memicu kekacauan. Tapi Aku tidak bisa membiarkan Cindy mati di meja operasi malam ini,” ujar Bayu dengan nada yang be

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 404

    Dada Maudy bergemuruh hebat. Jemarinya yang agak bergetar segera mengetik tombol panggilan cepat ke nomor ponsel suaminya. Hanya dalam satu kali nada dering, sambungan telepon langsung terhubung.​"Mas.. Apa kamu sudah baca pesan dari Tasya?" tanya Maudy, suaranya bergetar menahan gejolak cemas dan amarah yang bercampur aduk.​Di lorong rumah sakit yang dingin dan sepi, Bayu menyandarkan punggungnya pada dinding putih. Suara baritonnya terdengar sangat rendah dan berat saat menjawab. "Sudah, Maudy. Aku baru saja membacanya."​"Mas, ini benar-benar jebakan! Aku sangat mengkhawatirkan Cindy, Mas. Dia sedang berjuang antara hidup dan mati di bawah sana. Tapi... tapi aku juga tidak rela kalau kita harus menyerahkan posisi penting di perusahaan kepada Tasya! Dia sangat licik. Kalau dia mendapatkan posisi Pelaksana Harian itu secara resmi, dia akan memakai segala cara untuk menjatuhkanmu dan menguasai perusahaan!" cemas Maudy. Matanya menatap nanar ke arah layar ponsel.​Bayu menghembuskan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bayu 403

    Ketegangan di ruang tamu kediaman Heru kian memuncak. Napas Mama Tasya masih memburu, matanya memancarkan penolakan keras atas ide suaminya. Bagi wanita paruh baya itu, mendonorkan darah kepada orang yang dianggap sebagai saingan anak tunggalnya adalah sebuah penghinaan.​Tasya yang semula berdiri terpaku ikut merenungkan kata-kata mamanya. Pada awalnya, ia sama sekali tidak setuju. Pikiran pertamanya selaras dengan sang mamanya. Buat apa juga harus menyelamatkan nyawa Cindy? Orang yang selama ini menjadi benteng pertahanan Bayu di jajaran sekretariat? Jika Cindy tewas malam ini, bukankah posisinya otomatis kosong?​Namun, tatkala mata Tasya kembali melirik penghitung waktu di layar ponselnya, yang memperlihatkan betapa kritisnya situasi di rumah sakit, sebuah kilatan ide licik yang jauh lebih besar dan berbahaya mendadak terlintas di dalam benaknya. Otak manipulatifnya bekerja dengan sangat cepat, menghubungkan setiap titik peluang.​Tasya melangkah mendekati mamanya, lalu memegang k

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 402

    Satu jam berlalu terasa bagaikan siksaan yang tak berujung bagi Bayu. Koridor di luar ruang operasi RS Medika diselimuti keheningan yang mencekam, hanya diselingi oleh derak roda brankar atau suara langkah tergesa-gesa petugas medis. Ponsel di genggaman Bayu terus bergetar, namun ribuan pesan dan telepon yang masuk belum juga membuahkan hasil. Mayoritas dari mereka yang menghubungi ternyata tidak memenuhi syarat medis, atau salah memahami jenis golongan darah langka tersebut. ​Pintu ganda ruang operasi mendadak terbuka. Dokter bedah keluar dengan gaun operasi yang masih bernoda darah, melepas maskernya dengan raut wajah yang sangat tegang dan memancarkan keputusasaan yang mendalam. ​"Pak Bayu..." panggil dokter bedah tersebut, suaranya terdengar begitu kaku. ​Bayu langsung menegakkan tubuhnya, melangkah cepat menghampiri sang dokter. "Dokter! Bagaimana kondisi di dalam? Apakah ada perkembangan?" ​"Tindakan pembedahan darurat untuk menutup pendarahan di organ dalam Mbak Cindy su

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 401

    Di tengah kepanikan yang kian mencekik di lorong dingin luar ruang gawat darurat, Bayu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Setiap detik yang terbuang terasa seperti vonis yang semakin mendekatkan Cindy pada bahaya kematian. Pria itu menatap dokter bedah dan petugas laboratorium dengan sorot mata yang penuh tekanan.​"Dokter, berapa lama lagi Cindy bisa bertahan tanpa transfusi darah saat operasi?" tanya Bayu, suaranya terdengar tajam dan menuntut.​Sang Dokter yang juga memantau kondisi umum rumah sakit bersama tim bedah menggelengkan kepala pelan. "Paling lambat dua jam dari sekarang, Pak Bayu. Jika dalam rentang waktu itu pendarahan dalam di area dada tidak segera ditangani dan pasokan darah tidak masuk, organ vitalnya akan mengalami gagal fungsi satu per satu. Pasien tidak akan bertahan."​Bayu menarik napas dalam-dalam, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Otak bisnisnya yang biasa dingin dan penuh perhitungan kini dipaksa bekerja dalam mode darurat. Ketiadaan stok dara

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 2

    “Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 1

    "500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 135

    Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 5

    Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status