Share

Bab 288

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-05-28 19:45:13

Rahang Bayu mengatup begitu rapat hingga persendian di sekitar telinganya memutih. Amarah yang sejak tadi ia tahan di ujung kepala kini sudah berada di batas maksimal, bergejolak hebat menghadapi rangkaian kalimat manipulatif yang terus-menerus dimuntahkan oleh Alena. Logika gila macam apa yang sedang wanita ini gunakan untuk menjadikannya sebagai satu-satunya penawar rasa sakit?

​"Cukup, Alena! Aku tidak peduli dengan semua bualanmu!" geram Bayu, suaranya beralih menjadi sebuah ancaman yang te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 373

    Setelah kembali ke ruang kerjanya, Tasya mengunci pintu dengan rapat. Wajahnya yang semula pucat pasi karena ketakutan kini perlahan berubah menjadi merah padam oleh rasa geram yang membakar dada. Ia melempar tas sepatunya ke sudut ruangan dengan kasar.​"Kurang ajar!" geram Tasya, giginya mengatup rapat sembari mondar-mandir di balik meja manajernya.​Rasa malu didepan Silvy dan ancaman pemecatan dari Bayu bukannya membuat Tasya sadar, melainkan memicu sisi gelap dari keangkuhannya yang terluka. Dari dulu, keluarganya tidak pernah mau kalah dari keluarga Maudy. Baginya, Maudy tidak layak mendapatkan segalanya. Suami tampan yang kaya raya, kekuasaan mutlak, dan pengakuan sebagai mantan CEO perusahaan itu.​Tasya berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap ke arah luar. Sebuah pemikiran licik mendadak melintas di otaknya yang buntu. Sumbu egonya yang sakit mulai merajut sebuah rencana baru.​"Kalau Maudy yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan pria sekelas Bayu, kenapa aku tidak?" g

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 372

    Di dalam ruangan yang mendadak terasa sekecil kotak korek api itu, keheningan bergulir begitu menyiksa. Tasya masih berdiri mematung dengan bibir yang sedikit terbuka, namun tak ada satu pun patah kata yang mampu lolos dari tenggorokannya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, merusak kenyamanan setelan kerja mahal yang ia kenakan.​Bayu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Tasya. Pria itu menarik sebelah tangannya dari saku celana, lalu mengetukkan ujung jemarinya di atas tas belanja berisi sepatu hak tinggi milik Tasya. Bunyi ketukan itu terdengar ritmis, seolah sedang menghitung sisa waktu harga diri Tasya yang berada di ambang kehancuran.​"Jika pendengaran saya tidak salah. Anda baru saja mengancam akan memberikan nilai merah pada evaluasi kerja Sekretaris Silvy jika dia menolak menjadi pelayan pribadi Anda?" Bayu kembali bersuara dengan nada yang tenang dan mengerikan.​Tasya refleks menggelengkan kepala dengan cepat, matanya berkaca-kaca karena panik. "B-bukan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 371

    Hari demi hari berlalu di kantor Divisi Pemasaran, namun situasi bukannya membaik, justru kian meruncing. Rasa malu dan frustrasi Tasya yang terus-menerus ditekan oleh jajaran direksi akibat performa kerjanya yang pas-pasan, membuat tingkat stresnya melonjak drastis. Dan seperti biasa, Silvy-lah yang menjadi samsak abadi untuk menampung seluruh kekesalan itu.​Kian lama, tindakan Tasya pada Silvy makin keterlaluan dan di luar batas kewajaran seorang profesional. Tasya tidak lagi sekadar memaki atau mengritik pekerjaan administrasi Silvy. Ia mulai memperlakukan janda muda itu layaknya seorang pembantu pribadi di rumahnya sendiri.​Bukan hanya urusan pekerjaan kantor yang ia timpakan, tetapi juga urusan-urusan pribadi Tasya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan job desk seorang Sekretaris Regional. Mulai dari menyuruh Silvy mengantre membeli menu makan siang dietnya yang berada di luar gedung, mencuci cangkir kopi bekas lipstiknya, hingga memesankan taksi online untuk teman-tem

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 370

    Setelah keheningan yang mencekik itu berlangsung selama beberapa saat, Bayu akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. Ketegangan di dalam ruangan itu sedikit mengendur, namun kewibawaan yang terpancar dari sosok sang Pemilik Modal tetap membuat atmosfer terasa begitu menekan.​Bayu mengalihkan pandangan tajamnya dari Tasya, lalu beralih menatap Silvy yang sejak tadi duduk dengan posisi tegak. "Kalian berdua boleh kembali ke ruangan kalian. Saya hanya menerima hasil kerja yang nyata mulai hari ini. Dan jangan bawa masalah pribadi dalam urusan pekerjaan!” tegas Bayu pada kedua karyawan barunya itu.Bayu sengaja mengatakan hal itu karena di balik hubungan kerja mereka, Tasya dan Silvy pernah punya masalah pribadi dengan dirinya maupun keluarganya.​Tasya bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, diikuti oleh Silvy. Begitu pintu jati besar ruang kerja Bayu tertutup di belakang mereka, Tasya seolah baru saja mendapatkan kembali pasokan oksigennya. Namun, rasa lega itu dengan cepat b

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 369

    Mobil sedan mewah milik Bayu membelah jalanan ibu kota yang mulai padat pagi itu. Sepanjang perjalanan, seulas senyuman tipis tidak pernah benar-benar luntur dari wajah sang Komisaris Utama. Ingatan tentang wajah panik Maudy yang menggemaskan dengan rambut acak-acakannya tadi pagi menjadi suntikan energi tersendiri sebelum ia memasuki medan pertempuran korporasi.​Begitu mobil berhenti di depan lobi utama perusahaannya,suasana di sekeliling Bayu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Begitu kakinya memijak lantai marmer lobi, senyuman hangatnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi kaku, dingin, dan penuh wibawa yang menjadi ciri khasnya.​"Selamat pagi, Pak Komisaris," sapa beberapa staf keamanan dan resepsionis yang langsung berdiri tegak dan menunduk hormat.​Bayu hanya mengangguk kecil tanpa menghentikan langkah tegapnya menuju lift eksekutif. Hari ini adalah hari penentuan bagi divisi pemasaran regional yang baru, dan Bayu tahu betul, bidak-bidak catur yang sengaj

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 368

    Mendengar gombalan maut pagi-pagi dari suaminya, Maudy hanya bisa mematung dengan wajah yang memerah sempurna, mirip seperti kepiting rebus. Detak jantungnya yang tadi berdegup kencang karena panik kesiangan, kini berubah ritme menjadi debaran yang jauh lebih mendebarkan di dalam dada.​"Mas Bayu…! Masih pagi, lho. Jangan mulai deh. Katanya tadi mau berangkat kerja?" Seru Maudy dengan suara pelan, tangannya yang semula mendorong dada bidang Bayu kini beralih meremas kemeja bagian dalam jas suaminya.​Bayu tidak menjawab dengan kata-kata. Seulas senyum usil justru terbit di wajah tampannya. Alih-alih melepaskan Maudy untuk bersiap-siap, lengan kokoh sang Komisaris Utama malah semakin merapat, menempelkan tubuh mereka tanpa jarak. Ia menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Maudy, membiarkan embusan napas hangatnya membuat bulu kuduk istrinya meremang.​"Memang mau berangkat kerja. Tapi melihat istriku secantik ini dengan rambut berantakan... rasanya mengajukan izin cuti s

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 187

    Setelah meninggalkan kediaman Ibu angkatnya dengan perasaan campur aduk, Bayu segera memacu mobilnya membelah kemacetan sore menuju satu-satunya tempat yang bisa memberinya kedamaian: rumah Maudy. Meski tadi Maudy melepasnya dengan senyuman tenang, Bayu tahu bahwa di balik ketenangan itu, Maudy pas

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 176

    Langkah kaki Bayu yang biasanya terdengar tegas dan penuh wibawa di lorong kantor, kini terdengar berat dan terseret. DIa melangkah gontai, seolah-olah setiap ubin marmer yang dia pijak adalah beban yang harus dia angkat. Pikirannya masih terpenjara pada meja kafe tadi, pada suara dingin Lyra yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 166

    ​Rio merasa geram. Namun dia tidak punya pilihan. Dia segera memacu mobilnya menuju apartemen Lyra. Setibanya di sana, sia menemukan Lyra sudah menunggunya di balkon, menatap pemandangan kota dengan gaun sutra yang melambai ditiup angin. Tanpa basa-basi, Rio langsung berdiri di hadapannya.​"Gimana

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 158

    Suasana di dalam kamar hotel yang mewah itu seketika berubah mencekam. Kehangatan sisa-sisa kemesraan yang tadi melingkupi mereka seolah menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Bayu memegang ponselnya dengan tangan yang sedikit kaku, sementara Maudy berdiri di sampingnya dengan napas yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status