共有

Bab 4

作者: Kak Han
last update 公開日: 2026-02-18 13:31:54

Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.

Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia sudah benar benar tidak tahan. Dia mencoba memutar otak untuk mencari langkah aman saat bergerak. Hingga akhirnya dia harus mengeluarkan sedikit bualannya.

“Bu Maudy, aku tau aku di sini merepotkan kamu. Tapi, akan lebih merepotkan lagi jika aku pingsan karena kakiku pegal. Jadi, izinkan aku untuk duduk sebentar,” ucap Bayu sembari berjalan beberapa langkah, lalu dengan beraninya duduk di kasur. 

Kaki dan pinggangnya seketika merasa nyaman. Apalagi untuk pertama kalinya dia duduk di kasur empuk dan mewah yang ada di hotel tersebut.

Namun, kenyamanan itu tidak berlangsung lama. Maudy tiba tiba berteriak dan melempar Bayu dengan bantal, lalu menyuruhnya untuk segera turun dari kasur.

“Pergi kamu! Pergi! Jangan mendekat! Aku jijik sama kamu! Jangan berani sentuh aku!” teriak Maudy. Dia bukan hanya melempar bantal ke arah Bayu, tetapi juga berusaha mendorong dan menendangnya.

Laki laki itu berusaha menahan keseimbangan. Dia tidak ada niat memaksa Maudy, dia hanya ingin sedikit mencari kenyamanan di kasur empuk itu. Tetapi, tendangan Maudy terlalu kuat sehingga membuat Bayu kewalahan.

“Baik Bu Maudy, baik. Saya akan turun. Jangan tendang saya lagi,” Pinta Bayu sembari mengangkat kedua tangannya. Tanda jika dirinya menyerah menghadapi bosnya itu.

“Udah kaki pegal, baru juga duduk udah ditendang. Ini mah aku bisa sakit pinggang bukan karena main kuda kudaan, tapi sakit pinggang kena tendangan ronaldowati!” gerutu Bayu sambil menurunkan tubuhnya dari kasur. 

Dia duduk bersila di karpet. Meratapi nasib sialnya malam itu. Bayangan indah tidur di kasur empuk hanyalah angan, sekarang dirinya justru harus berdiri berjam jam di depan pintu dan berakhir duduk di karpet.

Di satu sisi Bayu merasa kesal dengan keadaannya, tetapi di sisi lain dia juga merasa kasihan pada Maudy. Dia mendengar Maudy masih terus menangis, tapi Bayu tidak berani memandangnya. 

Biar bagaimanapun, Maudy adalah atasan yang harus dia hormati. Bayu maaih butuh kerjaan di kantornya, sehingga dia tidak bisa berbuat semena mena pada Maudy.

“Kasihan sekali Bu Maudy. Dia pasti tertekan. Andaikan posisi kita tidak seperti ini, pasti aku akan mendekap dia dan menenangkannya agar berhenti menangis,” gumam Bayu di dalam hati. 

Setelah lama menghadapi situasi tegang itu, tenggorokan Bayu terasa kering. Dia mencoba meraih botol minum yang ada di atas meja. Setelah diraih, dia segera membukanya. 

Tapi, sebelum meneguk air minum itu, Bayu memikirkan Maudy yang pasti tidak kalah dahaganya seperti dia. Apalagi sejak tadi Maudy berteriak teriak sambil menangis.

“Minumlah Bu Maudy. Pasti Bu Maudy haus,” ucap Bayu dengan hati hati sambil mengulurkan botol itu ke arah Maudy tanpa berani menatapnya. 

Maudy mendengar ucapan Bayu, tetapi dia tidak meresponnya. Tidak menolak dan juga tidak menerima. Namun, saat dia lihat Bayu sejak tadi menundukkan kepala saat mengulurkan botol minum itu, Maudy berpikir mungkin OB itu memang berniat tulus memberikan dia minum.

Perlahan tangan Maudy meraih botol tersebut lalu meminumnya. Setelah itu, barulah Bayu mengambil satu botol air minum lagi untuk dirinya.

Maudy sedikit tenang. Setidaknya tenggorokannya sedikit lebih nyaman dari sebelumnya. Dia juga tidak melihat Bayu melakukan tindakan yang tidak sopan. Bahkan, tidak lama kemudian Bayu mengatakan sesuatu yang membuat Maudy merenung.

“Bu Maudy, saya tau apa yang saya lakukan ini salah. Seharusnya saya tidak menerima perintah Pak Rio. Tapi, saya masih butuh pekerjaan ini. Ancaman Pak Rio sangat menakutkan. Jika sampai saya dipecat dan diblacklist di semua perusahaan, bagaimana saya bisa bekerja? Padahal, saya butuh banyak uang untuk pengobatan Ibu saya,” ucap Bayu sembari tetap menundukkan kepalanya.

Dari nada bicara Bayu, tidak ada sesuatu yang sengaja dibuat buat. Meski Bayu di kenal suka bercanda, tapi dia punya satu sisi bijak dan dewasa. Dia juga punya tanggung jawab besar atas Ibunya.

Maudy mulai tersentuh dengan alasan Bayu saat menyebut nama Ibunya. Akan tetapi, dia tidak mau begitu saja terlihat Iba dan membenarkan tindakan Bayu.

“Jika kamu bilang kamu terpaksa, apalagi dengan saya? Bahkan saya sangat membenci malam terkutuk ini! Apapun itu alasan kamu, tidak membuatku bisa menerima keadaan ini!” sahut Maudy dengan ketus dan membuang pandangannya ke arah jendela.

Bayu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. Dia tidak membantah apapun yang diucapkan oleh bosnya. Karena memang itu hak seorang bos kepada bawahannya. Tetapi, dia hanya berusaha menjelaskan jika dia tidak bermaksud sengaja mengambil kesempatan di dalam kesempitan.

“Apa kamu tidak berkaca betapa menjijikannya dirimu yang menerima uang dengan cara seperti ini? Apa kamu tidak menghormati Ibumu? Kau sembuhkan dia dengan cara yang menjijikkan!” 

Maudy sengaja melontarkan kata kata kasar pada Bayu, berharap pria itu marah, tidak terima, lalu pergi dan meninggalkan ruangan tersebut. Karena dia tau, laki laki akan marah jika dibentak bentak dengan kata kata yang kasar. 

Akan tetapi, yang terjadi berbeda. Dengan tenang, Bayu menanggapi cacian Maudy.

“Bu Maudy benar. Saya ini menjijikkan. Ibuku pasti sangat malu dengan tindakanku. Tapi, menolak dan dipecat, lalu kesulitan mencari uang untuk pengobatan Ibu, itu juga tidak lebih menjijikkan bagi seorang anak laki laki yang tidak berguna,” ujar Bayu sembari semakin menundukkan kepalanya. 

Tampak ada beban yang benar benar berat yang dia pikul. Dan Maudy bisa melihatnya.

“Bu Maudy boleh membenci saya karena menerima tawaran tugas ini, tapi jangan pernah berpikir saya akan memanfaatkan posisi ini. Tanpa kesediaan dari Bu Maudy, saya tidak akan memaksa.”

Seketika Maudy mematung. Kata demi kata yang diucapkan oleh Bayu, bernada sangat lembut dan sopan. Tidak ada manipulasi, tidak ada kebohongan, apalagi nada kasar. Sangat berbeda dengan nada bicara Rio yang sering dia dengar.

Tanpa disadari, Maudy merasa nyaman menikmati obrolan dinginnya dengan Bayu. Sepertinya, Bayu juga sangat memahami posisinya. Sehingga Maudy berniat untuk bicara lebih dalam tentang tekanan yang dia rasakan. 

Namun, belum sempat Maudy melanjutkan obrolannya, ponselnya tiba tiba berbunyi dan perhatian Maudy teralihkan ke panggilan tersebut.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (5)
goodnovel comment avatar
Tency
Lanjutkan, penasaran.
goodnovel comment avatar
Stintje Makasiar
lanjut kasian bayu harus menunggu
goodnovel comment avatar
Endang Waluya
lanjutkan.....
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 373

    Setelah kembali ke ruang kerjanya, Tasya mengunci pintu dengan rapat. Wajahnya yang semula pucat pasi karena ketakutan kini perlahan berubah menjadi merah padam oleh rasa geram yang membakar dada. Ia melempar tas sepatunya ke sudut ruangan dengan kasar.​"Kurang ajar!" geram Tasya, giginya mengatup rapat sembari mondar-mandir di balik meja manajernya.​Rasa malu didepan Silvy dan ancaman pemecatan dari Bayu bukannya membuat Tasya sadar, melainkan memicu sisi gelap dari keangkuhannya yang terluka. Dari dulu, keluarganya tidak pernah mau kalah dari keluarga Maudy. Baginya, Maudy tidak layak mendapatkan segalanya. Suami tampan yang kaya raya, kekuasaan mutlak, dan pengakuan sebagai mantan CEO perusahaan itu.​Tasya berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap ke arah luar. Sebuah pemikiran licik mendadak melintas di otaknya yang buntu. Sumbu egonya yang sakit mulai merajut sebuah rencana baru.​"Kalau Maudy yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan pria sekelas Bayu, kenapa aku tidak?" g

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 372

    Di dalam ruangan yang mendadak terasa sekecil kotak korek api itu, keheningan bergulir begitu menyiksa. Tasya masih berdiri mematung dengan bibir yang sedikit terbuka, namun tak ada satu pun patah kata yang mampu lolos dari tenggorokannya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, merusak kenyamanan setelan kerja mahal yang ia kenakan.​Bayu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Tasya. Pria itu menarik sebelah tangannya dari saku celana, lalu mengetukkan ujung jemarinya di atas tas belanja berisi sepatu hak tinggi milik Tasya. Bunyi ketukan itu terdengar ritmis, seolah sedang menghitung sisa waktu harga diri Tasya yang berada di ambang kehancuran.​"Jika pendengaran saya tidak salah. Anda baru saja mengancam akan memberikan nilai merah pada evaluasi kerja Sekretaris Silvy jika dia menolak menjadi pelayan pribadi Anda?" Bayu kembali bersuara dengan nada yang tenang dan mengerikan.​Tasya refleks menggelengkan kepala dengan cepat, matanya berkaca-kaca karena panik. "B-bukan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 371

    Hari demi hari berlalu di kantor Divisi Pemasaran, namun situasi bukannya membaik, justru kian meruncing. Rasa malu dan frustrasi Tasya yang terus-menerus ditekan oleh jajaran direksi akibat performa kerjanya yang pas-pasan, membuat tingkat stresnya melonjak drastis. Dan seperti biasa, Silvy-lah yang menjadi samsak abadi untuk menampung seluruh kekesalan itu.​Kian lama, tindakan Tasya pada Silvy makin keterlaluan dan di luar batas kewajaran seorang profesional. Tasya tidak lagi sekadar memaki atau mengritik pekerjaan administrasi Silvy. Ia mulai memperlakukan janda muda itu layaknya seorang pembantu pribadi di rumahnya sendiri.​Bukan hanya urusan pekerjaan kantor yang ia timpakan, tetapi juga urusan-urusan pribadi Tasya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan job desk seorang Sekretaris Regional. Mulai dari menyuruh Silvy mengantre membeli menu makan siang dietnya yang berada di luar gedung, mencuci cangkir kopi bekas lipstiknya, hingga memesankan taksi online untuk teman-tem

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 370

    Setelah keheningan yang mencekik itu berlangsung selama beberapa saat, Bayu akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. Ketegangan di dalam ruangan itu sedikit mengendur, namun kewibawaan yang terpancar dari sosok sang Pemilik Modal tetap membuat atmosfer terasa begitu menekan.​Bayu mengalihkan pandangan tajamnya dari Tasya, lalu beralih menatap Silvy yang sejak tadi duduk dengan posisi tegak. "Kalian berdua boleh kembali ke ruangan kalian. Saya hanya menerima hasil kerja yang nyata mulai hari ini. Dan jangan bawa masalah pribadi dalam urusan pekerjaan!” tegas Bayu pada kedua karyawan barunya itu.Bayu sengaja mengatakan hal itu karena di balik hubungan kerja mereka, Tasya dan Silvy pernah punya masalah pribadi dengan dirinya maupun keluarganya.​Tasya bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, diikuti oleh Silvy. Begitu pintu jati besar ruang kerja Bayu tertutup di belakang mereka, Tasya seolah baru saja mendapatkan kembali pasokan oksigennya. Namun, rasa lega itu dengan cepat b

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 369

    Mobil sedan mewah milik Bayu membelah jalanan ibu kota yang mulai padat pagi itu. Sepanjang perjalanan, seulas senyuman tipis tidak pernah benar-benar luntur dari wajah sang Komisaris Utama. Ingatan tentang wajah panik Maudy yang menggemaskan dengan rambut acak-acakannya tadi pagi menjadi suntikan energi tersendiri sebelum ia memasuki medan pertempuran korporasi.​Begitu mobil berhenti di depan lobi utama perusahaannya,suasana di sekeliling Bayu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Begitu kakinya memijak lantai marmer lobi, senyuman hangatnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi kaku, dingin, dan penuh wibawa yang menjadi ciri khasnya.​"Selamat pagi, Pak Komisaris," sapa beberapa staf keamanan dan resepsionis yang langsung berdiri tegak dan menunduk hormat.​Bayu hanya mengangguk kecil tanpa menghentikan langkah tegapnya menuju lift eksekutif. Hari ini adalah hari penentuan bagi divisi pemasaran regional yang baru, dan Bayu tahu betul, bidak-bidak catur yang sengaj

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 368

    Mendengar gombalan maut pagi-pagi dari suaminya, Maudy hanya bisa mematung dengan wajah yang memerah sempurna, mirip seperti kepiting rebus. Detak jantungnya yang tadi berdegup kencang karena panik kesiangan, kini berubah ritme menjadi debaran yang jauh lebih mendebarkan di dalam dada.​"Mas Bayu…! Masih pagi, lho. Jangan mulai deh. Katanya tadi mau berangkat kerja?" Seru Maudy dengan suara pelan, tangannya yang semula mendorong dada bidang Bayu kini beralih meremas kemeja bagian dalam jas suaminya.​Bayu tidak menjawab dengan kata-kata. Seulas senyum usil justru terbit di wajah tampannya. Alih-alih melepaskan Maudy untuk bersiap-siap, lengan kokoh sang Komisaris Utama malah semakin merapat, menempelkan tubuh mereka tanpa jarak. Ia menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Maudy, membiarkan embusan napas hangatnya membuat bulu kuduk istrinya meremang.​"Memang mau berangkat kerja. Tapi melihat istriku secantik ini dengan rambut berantakan... rasanya mengajukan izin cuti s

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 5

    Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 166

    ​Rio merasa geram. Namun dia tidak punya pilihan. Dia segera memacu mobilnya menuju apartemen Lyra. Setibanya di sana, sia menemukan Lyra sudah menunggunya di balkon, menatap pemandangan kota dengan gaun sutra yang melambai ditiup angin. Tanpa basa-basi, Rio langsung berdiri di hadapannya.​"Gimana

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 158

    Suasana di dalam kamar hotel yang mewah itu seketika berubah mencekam. Kehangatan sisa-sisa kemesraan yang tadi melingkupi mereka seolah menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Bayu memegang ponselnya dengan tangan yang sedikit kaku, sementara Maudy berdiri di sampingnya dengan napas yan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 135

    Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status