Short
Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan

Mengubah Kehangatan Menjadi Penyesalan

By:  NiaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
17Chapters
917views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari ketika Marcel Davka kembali ke Hangkang setelah membunyikan lonceng pembukaan perdagangan di Wolstrit, ambang pintu rumah Keluarga Ehren nyaris rusak karena didatangi banyak orang. Semua orang berkata bahwa Kana Ehren, putri sulung Keluarga Ehren yang manja dan angkuh, telah bertaruh pada orang yang tepat. Di kawasan kumuh, dia berhasil menemukan menantu yang luar biasa berbakat. Namun, beberapa hari terakhir ini Kana justru sangat gelisah. Penyebabnya, dia terus dihantui oleh sesosok hantu perempuan. Semua itu bermula sejak Marcel berangkat ke Amriga. Tiba-tiba, di sisinya muncul sosok hantu perempuan gila yang hanya bisa dilihat oleh Kana. Sosok itu mengaku sebagai dirinya di masa depan. Hantu perempuan itu memiliki wajah yang sama persis dengannya, tetapi penuh bekas luka. Suaranya serak, tatapannya kosong. Rambutnya kering dan kusut, dengan ujung-ujung yang tidak rata seolah pernah terbakar. Dia seperti orang gila, bahkan bicara pun tidak jelas, menangis siang dan malam tanpa henti. Sampai hari ini, pada pesta perayaan keberhasilan Marcel. Kana berdandan dengan sangat cantik dan membawa buket mawar di tangannya. Namun, tepat saat hendak mendorong pintu masuk, tangan hantu perempuan yang penuh luka itu menekan tangannya. "Jangan masuk. Kehormatan yang dia raih bukan milikmu, tokoh utama malam ini juga bukan dirimu."

View More

Chapter 1

Bab 1

Selama tiga bulan ini, untuk pertama kalinya hantu perempuan itu mengucapkan satu kalimat yang utuh.

Seperti ramalan dingin yang membekukan, kata-katanya membuat bulu kuduk Kana meremang.

Namun ....

Dia tidak percaya.

Selama tiga bulan Marcel berada di Amriga.

Setiap pagi, Marcel selalu mengucapkan selamat pagi kepadanya.

Setiap malam, mereka selalu melakukan panggilan video.

Marcel pernah berkata dengan mulutnya sendiri bahwa Kana adalah penyelamat hidupnya.

Namun, ketika Kana mendorong pintu hingga terbuka, di tengah kegelapan ruang pesta.

Dia melihat Marcel sedang memeluk seorang gadis bergaun putih di bawah sorotan lampu yang begitu terang.

Saat Marcel lengah, gadis itu diam-diam mengecup dagunya.

Dunia Kana seketika runtuh.

Dia langsung berlari ke atas panggung.

Hantu perempuan itu menghalangi jalannya, suaranya terdengar seperti sedang menangis. "Jangan memukulnya. Dia adalah orang yang paling berharga di hati Marcel. Kalau kau menamparnya, dia bakal ...."

Namun, sudah terlambat.

Tangan Kana menembus tubuh transparan hantu perempuan itu dan langsung menampar wajah gadis tersebut.

Plak!

Suara tamparan yang nyaring membuat seluruh keramaian di pesta itu terhenti.

"Masih punya muka? Nggak tahu dia sudah beristri? Nggak tahu dia adalah suami orang?"

Sunyi.

Telapak tangan Kana terasa panas.

Kana menatap Marcel tanpa berkedip, menunggu penjelasannya.

Menunggu pria itu, seperti biasanya, menarik tangannya dengan sikap dingin namun lembut, lalu bertanya apakah dia kesakitan.

Namun, kali ini tidak.

Untuk pertama kalinya, Kana melihat niat membunuh di mata Marcel.

Sepasang mata yang biasanya tenang itu seketika memerah.

Dia menunduk, membantu gadis yang terjatuh karena tamparan itu berdiri, lalu melindunginya dalam pelukannya.

"Minta maaf."

Marcel berkata dengan suara sedingin es.

"Apa katamu?" Kana hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Marcel, aku ini istrimu."

"Tadi di atas panggung kau mengatakan dia adalah orang yang paling penting dalam hidupmu. Lalu di mana tempatku? Aku juga melihat dia menciummu tadi, tapi justru aku yang kau suruh minta maaf?"

Marcel tidak membantah, juga tidak marah.

"Dia adikku, Aline Lusila."

Kana tertawa getir. "Tiga tahun menikah, sejak kapan kau punya adik perempuan? Kau pikir aku anak kecil berusia tiga tahun?"

"Nama margamu Davka, sedangkan marganya Lusila. Adik macam apa itu? Adik siapa yang memandang kakaknya dengan tatapan seperti itu? Adik mana yang mencium dagu kakaknya seperti tadi?"

Marcel tidak lagi melirik Kana.

Dia hanya membungkuk dan menggendong Aline yang gemetar sambil menangis.

Sebelum pergi, Marcel berhenti melangkah. Suaranya terdengar begitu menyeramkan.

"Kana, kau boleh menghina aku, tapi kau seharusnya nggak menyentuhnya."

Air mata yang selama ini ditahan Kana akhirnya jatuh.

Menghina dia?

Bagaimana mungkin Kana tega?

Pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama saat berusia delapan belas tahun.

Pria yang begitu ingin dinikahinya saat berusia dua puluh tiga tahun, sampai dia melakukan segala cara demi menjadi istrinya.

Kana bahkan ingin menyerahkan semua hal terbaik di dunia kepadanya.

Bagaimana mungkin Marcel mengatakan bahwa Kana telah menghina dirinya?

Namun, Marcel tidak menoleh lagi. Dia hanya memerintahkan para pengawal di belakangnya dengan dingin.

"Antar nyonya pulang. Sebelum aku kembali, awasi dia."

Namun, baru saja Kana melangkah keluar dari ruang pesta, dia diseret ke sebuah gang yang gelap.

Dia murka dan berteriak kepada para pengawal.

"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!"

Pemimpin para pengawal itu menggulung lengan bajunya tanpa ekspresi. "Maaf, Nyonya. Ini perintah Tuan Marcel."

Kana bahkan belum sempat bereaksi ketika sebuah tamparan keras sudah menghantam wajahnya.

Plak!

Tamparan itu langsung membuat Kana linglung.

Denging tajam memenuhi telinganya. Separuh wajahnya seketika membengkak, mati rasa, dan memerah.

Hantu perempuan itu entah dari mana kembali muncul. Tatapannya pada Kana bahkan lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Hemat tenagamu. Jangan menangis atau berteriak lagi. Kau memberi satu tamparan pada orang yang paling berharga baginya, jadi dia bakal membalasnya seratus kali lipat ...."

Setelah mengatakan itu, dia kembali tertawa dan menangis seperti orang gila.

Sampai seratus tamparan itu selesai.

Seluruh wajah Kana sudah kehilangan rasa. Mulutnya dipenuhi rasa amis darah.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Dia merasa seolah jiwanya sedang dicabik sedikit demi sedikit.

Para pengawal membawanya kembali ke vila.

Di atas sofa impor yang telah Kana datangkan dari luar negeri dengan biaya mahal, Aline duduk meringkuk ketakutan.

Marcel yang dingin dan selalu berada di atas angin itu.

Dia sedang berlutut dengan satu kaki, mengoleskan obat pada pipi Aline yang memerah dan membengkak.

Mendengar suara, Marcel menoleh.

Tatapan dinginnya berhenti beberapa detik pada wajah Kana yang penuh darah, lalu dia kembali memusatkan perhatian untuk mengoleskan obat pada Aline.

Air mata mengalir tanpa sadar dari mata Kana.

Kana tersenyum sinis. "Marcel, aku sudah sering melihat pria yang melupakan asal-usulnya lalu berubah menjadi nggak tahu balas budi. Kalau kau berubah hati, katakan saja."

"Asalkan kau keluar dari rumah ini tanpa membawa harta apa pun, kita bisa langsung bercerai. Tapi sekarang? Hah ...."

Nada bicara Kana menjadi tajam dan penuh sindiran. "Jadi ini adik kesayanganmu, ya? Bersiaplah jadi wanita simpanan seumur hidup."

Namun, seolah tidak mendengar kata-katanya.

Marcel langsung menggendong Aline dan naik ke lantai atas.

Malam itu, Kana mengurung diri di kamarnya. Dia menangis seperti orang yang kehilangan akal.

Namun, dia tidak rela.

Sepuluh hari kemudian.

Memanfaatkan saat Marcel sedang dalam perjalanan dinas, Kana mengatur orang-orang untuk secara paksa mengusir Aline.

Hantu perempuan yang gila itu kembali menghalangi jalannya.

Wajah yang sama persis dengannya menangis dengan pilu, tetapi tidak ada setetes air mata pun yang jatuh.

"Hentikan. Aku mohon. Kana, jangan bodoh ...."

"Begitu kau mengusirnya, kau bakal dicambuk sembilan puluh sembilan kali sampai kulitmu robek dan tubuhmu penuh luka."

"Selain itu, ayah ... ayah bakal mati. Kita bakal membunuhnya ...."

Tangan Kana yang memegang telepon gemetar mendengar ramalan dingin dari hantu perempuan itu.

Beberapa saat kemudian.

Dia akhirnya berkata dengan suara serak, "Hentikan. Aku tetap bakal membayar kalian. Pergilah, jangan sentuh dia."

Namun ....

Pukul lima pagi keesokan harinya, Marcel tetap berdiri di hadapannya dengan hawa dingin yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Telapak tangannya yang besar mencengkeram dagu Kana. Dingin dan tanpa belas kasihan.

"Aku sudah memperingatkanmu. Jangan menyentuhnya. Apa kau nggak mengerti bahasa manusia?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

M--G
M--G
baru baca 1 bab..suaminya kejam bgt..ya kali ada manusia kaya' gitu..terang2an lagi
2026-07-12 21:41:16
0
0
17 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status