Short
Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin

Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin

Oleh:  RosemaryTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
7Bab
367Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Sejak kecil, adikku, Nina Basuki, selalu jadi anak yang paling disayangi oleh keluargaku. Dia dapatkan kamar terbaik, gaun-gaun tercantik, permintaan maaf yang selalu datang lebih dulu, serta setiap kelembutan yang dimiliki kedua orang tuaku. Sementara aku, sebagai anak sulung, selalu diharapkan untuk ngalah. Lalu aku bertemu Hendri Darmawan. Pada malam saat dia melamarku, dia genggam tanganku erat-erat dan janji akan cintai aku seumur hidup. Untuk pertama kalinya, aku merasa akhirnya ada seseorang yang benar-benar pilih aku. Aku pikir, akhirnya aku temukan cinta sejati. Sampai hari ketika aku coba gaun pengantinku. Nina bilang mau temani aku pilih gaun. Namun saat aku keluar dari ruang ganti, aku lihat dia berdiri tepat di hadapan Hendri, rapikan dasinya dengan begitu akrab, seolah-olah dialah calon pengantin wanita. Aku hendak bilang, "Biar aku saja yang lakukan itu." Namun penata busana sudah lebih dulu hampiri Nina sambil tersenyum. "Pengantin wanita, silakan ke sini." Hari itu fotografer ambil sembilan puluh sembilan foto. Setiap foto hanya berisi adikku dan tunanganku. Nggak ada satu pun yang tampilkan diriku, pengantin yang sebenarnya. Ibuku yang duduk di sofa tersenyum hangat. "Nina cantik sekali waktu pakai gaun putih." Ayah mengangguk setuju. "Dia lebih terlihat kayak pengantinnya dibanding Julia." Kemudian fotografer angkat kameranya dan lirik aku dari balik lensa. "Nona, bisa geser sedikit? Kamu halangi cahayanya." Aku melangkah ke samping tanpa sepatah kata pun, lalu berdiri bersandar di dinding. Pada saat itulah aku akhirnya ngerti. Pernikahan ini nggak pernah benar-benar butuhkan aku. Dan jika cinta yang dulu Hendri janjikan ke aku bisa dengan begitu mudah diberikan ke orang lain, maka pergi adalah satu-satunya harga diri yang masih tersisa untuk aku pertahankan.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Aku raih tasku dari bangku, lalu dorong pintu hingga terbuka. Bel sensor berdenting pelan, tapi nggak ada seorang pun yang panggil aku.

Aku noleh ke belakang. Nina masih berputar di depan cermin. Gaun pengantin putih yang dia pakai berkilau diterpa cahaya. Hendri berdiri di belakangnya, dengan telaten benarkan tali gaun di punggungnya.

Fotografer angkat kameranya.

"Ya, bagus. Pertahankan pose itu."

Suara kamera bunyi berkali-kali, seolah nggak ingin lewatkan satu momen pun. Aku palingkan wajah dan melangkah keluar. Begitu masuk ke dalam mobil, HP-ku bergetar.

Sebuah pesan dari Hendri muncul di layar.

[Kamu ke mana? Sebentar lagi kita mau pilih bunga. Nanti aku susul cari kamu."

Aku menatap pesan itu cukup lama. Dia memang tanya aku pergi ke mana. Namun bahkan sebelum dapatkan jawabanku, pikirannya sudah sibuk dengan urusan berikutnya.

Aku ketik singkat.

[Apa pun yang Nina pilih nggak masalah.]

Nggak lama kemudian balasannya datang.

[Oke. Biar dia saja yang putuskan.]

Aku letakkan HP di sampingku. Mobil itu begitu sunyi. Sunyi hingga suara napasku sendiri terdengar jelas. Tarikan napas demi tarikan napas. Sambil hitung sudah berapa kali aku dilupakan, berapa kali aku disingkirkan. Belum sempat benar-benar letakkan HP, notifikasi kembali berdatangan. Fotografer mulai unggah hasil pemotretan ke grup keluarga yang dibuat khusus untuk persiapan pernikahan. Aku buka salah satunya. Di dalam foto itu, cahaya jatuh begitu sempurna pada Nina dan Hendri. Mereka tampak seperti pasangan yang baru keluar dari sampul majalah pengantin.

Saat masih kecil, ketika main pura-pura nikah bersama teman-teman, aku selalu iri ke gadis yang dapat peran jadi pengantin wanita. Ketika ketemu Hendri, aku sempat berpikir akhirnya, aku akan jadi pengantin itu. Aku curahkan seluruh hati dan tenagaku untuk persiapkan pernikahan ini. Aku perhatikan setiap detail sekecil apa pun.

Seolah hanya dengan cara itu aku bisa buktikan kalau aku juga pantas jadi pusat perhatian, walau hanya sekali dalam hidup. Namun, aku nggak pernah nyangka pada akhirnya aku tetap jadi orang yang ada di luar bingkai foto.

Aku ajak Nina datang karena dia adalah orang yang paling dekat dengan aku. Lagian, sesi coba gaun pengantin adalah momen yang penting. Di dalam foto hanya boleh ada satu pengantin wanita, dan orang itu adalah aku.

Seharusnya nggak ada yang bisa salah. Namun kenyataannya semua justru berjalan di luar dugaan. Layar HP-ku terus nyala lalu redup. Nyala lagi, lalu redup kembali. Pesan demi pesan penuhi grup, aku nggak balas satu pun. Dan nggak seorang pun sadar dengan keheninganku.

Aku setir mobil pulang menuju apartemen. Di pintu kulkas masih tertempel secarik memo kecil.

[7 hari lagi menuju hari pernikahan.]

Aku lepaskan itu perlahan, remas itu hingga kusut, lalu buang ke tempat sampah.

...

Keesokan paginya, begitu buka HP, grup persiapan pernikahan telah dipenuhi lebih dari sembilan puluh sembilan pesan.

Nina kirim sebuah pesan suara. Aku tekan itu.

"Kak, aku sudah ganti lokasi pernikahanmu. Tempat yang lama terlalu jauh. Para tetua keluarga pasti akan kesulitan untuk datang. Aku sudah temukan tempat yang lebih bagus, tepat di sebelah kediaman Keluarga Darmawan. Keluarga Darmawan sangat hargai kemudahan. Kita nggak boleh buat mereka anggap Keluarga Basuki nggak tahu gimana caranya urus acara."

Hendri balas singkat.

[Tempat yang lama memang kurang praktis.]

Tempat lama itu adalah lokasi yang aku pilih sendiri setelah habiskan waktu dua bulan penuh. Hendri tahu, Nina juga tahu, namun mereka tetap putuskan kalau tempat itu terlalu jauh.

Nina kembali ketik.

[Kakakku memang nggak terlalu pintar urus hal-hal seperti ini. Biar aku dan Hendri saja yang urus semuanya.]

Hendri hanya balas dengan satu kata.

[Iya.]

Aku menatap satu kata itu tanpa gerak. Sementara pesan-pesan lain terus berdatangan. Nggak seorang pun sadar kalau aku belum bilang apa-apa. Barulah aku ngerti pernikahan ini memang nggak pernah sediakan ruang bagi suaraku.

Aku buka ruang obrolan pribadiku dengan Hendri. Pesan terakhir kita berasal dari hari saat coba gaun pengantin. Saat itu aku bilang kalau aku gugup.

Dia balas: [Kamu pakai apa pun pasti cantik.]

Cuma itu. Dia nggak pernah tanya kenapa aku pulang lebih dulu. Nggak pernah kirim satu pesan pun untuk pastikan apa aku baik-baik saja. Di grup semalam, dia hanya sempat tanya: [Kenapa kamu pulang duluan? Gugup?]

Nggak ada yang jawab. Lalu topik itu berlalu begitu saja. Nggak lama kemudian, Nina unggah sebuah foto. Keterangan fotonya berbunyi: [Fitting gaun selesai. Lokasi pernikahan sudah dipastikan.]

Setelah itu, pembicaraan langsung beralih ke menu hidangan, susunan tempat duduk, hingga pengaturan keamanan.

Saat itulah aku benar-benar sadar. Aku bukan hanya nggak dibutuhkan, karena seseorang yang nggak dibutuhkan setidaknya pernah dianggap ada. Sedangkan aku rasanya sejak awal sudah nggak dianggap ada.

Saat sedang bereskan barang-barang, Nina lakukan panggilan video. Aku angkat panggilan itu. Di layar, seseorang sedang rias wajahnya.

"Kak, kemarin Kakak belum sempat pilih perias. Jadi aku sudah sewa satu tim khusus untuk kamu. Sekarang mereka sedang coba hasil riasannya ke aku lebih dulu."

Aku pandang Nina melalui layar HP. Ada begitu banyak kata yang ingin aku ucapkan. Aku mau kasih tahu dia kalau aku sudah minta seorang teman untuk rias wajahku. Aku juga mau tanya apa pernah satu saja keputusan yang mereka ambil atas namaku benar-benar ditanyakan ke aku lebih dahulu? Namun, rasanya semua sia-sia. Aku pernah tanya. Aku pernah sampaikan keberatanku, aku pernah tolak. Tetapi nggak ada satu pun yang ubah keadaan. Mereka selalu bilang kalimat yang sama.

"Kamu kan kakak. Kamu harus ngalah. Seorang wanita Keluarga Basuki nggak boleh berpikiran sempit."

Saat pertama kali kejar aku, Hendri bilang dia suka sifatku yang pendiam. Saat itu aku benar-benar percaya dia cinta aku apa adanya. Namun setelah Nina kembali, dia berubah. Dia mulai bilang kalau seorang wanita seharusnya lebih terbuka, lebih tegas, lebih mampu jaga martabat keluarga.

Suatu hari, akhirnya aku nggak sanggup tahan semuanya lagi.

Aku tanya, "Bisa nggak kamu jangan terlalu dekat dengan Nina?"

Selama ini aku selalu sayang dengan adikku. Hendri seharusnya tahu aku bukan sedang cari-cari masalah. Namun dia hanya tersenyum. Tangannya usap pelan rambutku.

"Dia itu adikmu. Setelah nikah dengan aku, kamu akan jadi Nyonya Keluarga Darmawan. Seorang Nyonya Keluarga Darmawan harus punya kebesaran hati. Jangan sampai orang-orang bilang putri Keluarga Basuki nggak bisa toleransi sama adiknya sendiri."

Seorang Nyonya Keluarga Darmawan harus punya kebesaran hati. Kalimat itu rasanya seperti sebongkah batu yang menindih dadaku. Mereka lupa kalau aku cuma dua tahun lebih tua dibanding Nina. Aku juga bisa capek. Aku juga ingin ada orang yang tanya apa yang aku sukai, atau sekadar tanya apa kamu capek?

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Oranye
Oranye
Ini salah satu cerpen yg ga layak. Selalu buat cerpen yg antagonis tiba2 mati aja gtu. Sdh lah dibuat konflik yg luar biasa menindat tokoh protagonis tetiba tokoh jahatnya mati krn hal lain. Ciri2 penulis malas cari ide
2026-07-18 13:11:29
0
1
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status