MasukSejak kecil, adikku, Nina Basuki, selalu jadi anak yang paling disayangi oleh keluargaku. Dia dapatkan kamar terbaik, gaun-gaun tercantik, permintaan maaf yang selalu datang lebih dulu, serta setiap kelembutan yang dimiliki kedua orang tuaku. Sementara aku, sebagai anak sulung, selalu diharapkan untuk ngalah. Lalu aku bertemu Hendri Darmawan. Pada malam saat dia melamarku, dia genggam tanganku erat-erat dan janji akan cintai aku seumur hidup. Untuk pertama kalinya, aku merasa akhirnya ada seseorang yang benar-benar pilih aku. Aku pikir, akhirnya aku temukan cinta sejati. Sampai hari ketika aku coba gaun pengantinku. Nina bilang mau temani aku pilih gaun. Namun saat aku keluar dari ruang ganti, aku lihat dia berdiri tepat di hadapan Hendri, rapikan dasinya dengan begitu akrab, seolah-olah dialah calon pengantin wanita. Aku hendak bilang, "Biar aku saja yang lakukan itu." Namun penata busana sudah lebih dulu hampiri Nina sambil tersenyum. "Pengantin wanita, silakan ke sini." Hari itu fotografer ambil sembilan puluh sembilan foto. Setiap foto hanya berisi adikku dan tunanganku. Nggak ada satu pun yang tampilkan diriku, pengantin yang sebenarnya. Ibuku yang duduk di sofa tersenyum hangat. "Nina cantik sekali waktu pakai gaun putih." Ayah mengangguk setuju. "Dia lebih terlihat kayak pengantinnya dibanding Julia." Kemudian fotografer angkat kameranya dan lirik aku dari balik lensa. "Nona, bisa geser sedikit? Kamu halangi cahayanya." Aku melangkah ke samping tanpa sepatah kata pun, lalu berdiri bersandar di dinding. Pada saat itulah aku akhirnya ngerti. Pernikahan ini nggak pernah benar-benar butuhkan aku. Dan jika cinta yang dulu Hendri janjikan ke aku bisa dengan begitu mudah diberikan ke orang lain, maka pergi adalah satu-satunya harga diri yang masih tersisa untuk aku pertahankan.
Lihat lebih banyakSebulan kemudian, aku masih sering kerja sampai larut malam. Malam bulan Oktober di Malawa terasa begitu dingin menusuk tulang. Setelah kunci kantor, aku turun tangga.Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir. Hendri berdiri di sampingnya kenakan jaket panjang, sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di jemarinya.Dia datang mendekat."Aku datang ke Malawa untuk cari kamu. Sudah tiga tahun aku cari kamu. Sejak tiba di sini, setiap malam aku berdiri di tempat ini, tunggu kalau-kalau kamu keluar dari gedung itu."Langkahku terhenti."Lama juga kamu tunggunya."Hendri tersenyum getir."Aku sudah tunggu lebih lama dari itu." Tatapannya tembus mataku. "Aku tunggu tiga tahun agar kamu kembali. Aku periksa bandara, stasiun kereta, semua kota yang aku pikir mungkin akan kamu datangi. Aku suruh banyak orang cari kamu, tapi nggak seorang pun temukan jejakmu. Aku benar-benar kira kamu sudah menghilang selamanya.""Seharusnya kamu berhenti cari aku.""Aku nggak bisa."Suaranya terdeng
Tiga tahun kemudian, aku kembali.Suatu sore, aku kembali ke Malawa dan langsung menuju kantorku yang ada di lantai dua sebuah bangunan tua di pusat kota. Dari jendelanya terlihat sebuah alun-alun kecil yang tenang. Aku tutup laptop, rapikan berkas-berkas di meja, lalu kenakan jaket sebelum bersiap pulang.Tiga tahun lalu, saat tinggalkan semuanya, aku hanya bawa sebuah koper. Aku pergi ke Malawa dan daftar kembali ke fakultas hukum. Pada semester pertama, aku tinggal di apartemen tua tanpa lift, dengan sistem pemanas yang sering rusak setiap musim dingin. Aku bungkus tubuhku dengan selimut tebal dan belajar hingga jam tiga dini hari.Waktu masuki semester kedua, aku mulai terima pekerjaan sambilan, terjemahkan dokumen, tinjau kontrak, apa pun yang bisa hasilkan uang. Lalu pada semester ketiga, ada orang yang baca memorandum hukum yang aku tulis dan tawari aku kesempatan untuk terjun ke bidang pengelolaan kekayaan pribadi.Aku terima tawaran itu. Aku peroleh lisensi profesiku. Aku berg
Hendri nggak langsung nyalakan mobil. Kedua tangannya tetap genggam setir kemudi selama beberapa detik, sementara tatapannya kosong tembus kaca depan."Kita akan cari dia," ucapnya perlahan. "Dan saat kita temukan Julia, kamu harus minta maaf."Nina berkedip nggak percaya."Apa? Aku yang urus semuanya. Aku yang rencanakan semuanya. Dia yang hilang. Kenapa justru aku yang harus minta maaf?"Hendri noleh menatapnya."Kamu bilang kamu urus semuanya dengan baik. Tapi kamu nggak tahu dia tinggal di mana. Gaun pengantinnya kamu simpan di rumahmu. Kamu nggak atur periasnya. Kamu bahkan nggak pastikan apa dia akan datang atau nggak. Coba kasih tahu aku, Nina, sebenarnya apa yang sudah kamu urus?"Suara Nina jadi lemah."Periasnya memang dijadwalkan ketemu Julia di lokasi acara. Tapi mereka bilang nggak ada pengantin wanita di sana."Hendri menatapnya lama. Baru saat itu, satu demi satu kenangan bermunculan di benaknya. Setiap kali Julia punya pendapat, Nina selalu datang bawa pendapat yang dia
Hari pernikahan telah ditetapkan pada hari Senin, tiga hari setelah gladi resik itu. Namun selama tiga hari itu nggak ada seorang pun yang hubungi Julia. Nggak ada seorang pun datang jenguk dia. Nggak ada seorang pun yang sadar kalau dia telah berhenti balas semua pesan.Hingga pagi di hari pernikahan akhirnya tiba. Pagi itu, Hendri melirik Nina yang duduk di kursi penumpang."Kakakmu tahu alamat lokasi acaranya, kan?""Tentu saja."Nina rapikan lipatan gaunnya sambil tersenyum."Memang Kakak belum pernah konfirmasi, tapi dia pasti tahu lokasinya."Hendri mengangguk pelan."Kamu memang selalu bisa urus semuanya dengan baik."Mobil mereka melaju masuki kediaman Keluarga Darmawan. Lewati para penjaga di gerbang, serta deretan mobil hitam yang penuhi jalan masuk menuju rumah utama.Hendri jalan paling depan. Nina ikuti satu langkah di belakangnya. Seorang staf segera hampiri."Tuan Hendri, apa pengantin wanita sudah tiba?"Hendri mengernyit."Seharusnya sudah."Dia segera hubungi nomor Ju


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan