LOGINTres días después de mi muerte, mi prometido Alberto recibió una llamada identificando mi cadáver. Con impaciencia, dijo,-No me importa su muerte. Avísenme cuando la entierren. La policía, impotente, llamó al segundo contacto de emergencia: mi amigo de la infancia, Luis. Él se burló con indiferencia,-¿De verdad muerta? Pero no me toca recoger el cuerpo. Entonces quémenlo. Hagan lo que quieran con las cenizas. Hasta que publicaron el acta de defunción en línea. Solo una noche, el pelo de mi prometido y mi amigo se volvió gris.
View More“Ibu tirimu memiliki utang besar, dan satu-satunya cara melunasi utang ini adalah dengan menikahi pamanku.”
Elisa tercengang, tidak mampu percaya dengan ucapan Alex, sang kekasih.
Menikah dengan paman sang kekasih untuk melunasi utang ibu tirinya?
Omong kosong macam apa ini?!
“Utang wanita itu tidak ada hubungannya denganku! Kenapa jadi aku yang menanggungnya?!” sergah Elisa. “Kenapa juga malah kamu yang repot-repot mengabarkanku mengenai hal ini?!”
Alex menggenggam tangan Elisa, berusaha menenangkannya. “Ibu tirimu menjadikanmu jaminan jikalau dia tidak bisa mengembalikan uang yang telah dia pinjam.”
“Apa katamu?” Elisa terbengong, tidak mampu memercayai hal yang baru saja dia dengar.
Kepala Alex mengangguk, ekspresi tidak berdaya terpasang di wajahnya. “Mengetahui hal ini, aku berniat untuk membantu membayarkan utang ibu tirimu. Akan tetapi …,” dia menggertakkan giginya, merasa sangat malu. “... jumlahnya terlalu besar.”
Alex cepat-cepat mengangkat kepalanya.
“Oleh karena itu, aku mencarikan jalan keluar untukmu, dan itu dengan menikahi pamanku!” ucap pria itu dengan tegas. “Sebelumnya, nenekku mengatakan bahwa dia bersedia membayar mahal kepada siapa pun yang bersedia menikahi pamanku, tapi wanita mana yang bersedia menikahi pria yang sebentar lagi akan meninggal?”
Mata Elisa menatap Alex dengan wajah marah. “Lalu, kamu kira aku rela?!” Dia menepiskan tangan Alex yang menggenggamnya. “Apa kamu sendiri rela melihat kekasihmu menikah dengan pamanmu sendiri?”
“Elisa, berpikirlah dengan kepala dingin. Ini adalah jalan keluar yang sempurna,” bujuk Alex. “Kamu cukup menemani pamanku di hari-hari terakhirnya. Setelah Paman pergi, bukan hanya hartanya bisa berakhir di tangan kita, tapi kita juga bisa menikah. Itu akhir yang lebih baik dibandingkan kamu diberikan kepada rentenir yang mungkin saja menjualmu ke pria hidung belang!”
Elisa tak bisa berkata-kata. Ide sang kekasih terlalu gila!
Akan tetapi, situasi Elisa tidak menguntungkan. Dirinya tidak punya pilihan. Ucapan Alex memang benar, menikahi paman Alex, Stevan Wijaya, memang adalah jalan keluar yang paling sempurna.
Menepis kenyataan kondisi keuangan keluarganya yang buruk, Elisa juga tidak pernah bisa menolak permintaan kekasihnya. Cintanya yang terlalu dalam membuatnya seakan bodoh bila dihadapkan dengan Alex.
Alhasil … sesuai rencana, Elisa berakhir menjadi istri sah Stevan Wijaya.
Tidak ada perayaan, tidak ada pesta, hanya penyerahan singkat dokumen dan akta pernikahan.
Semua berlalu begitu cepat, Elisa sampai merasa semua begitu tidak nyata saat dirinya pergi meninggalkan kantor catatan sipil dengan akta pernikahan miliknya.
Di dalam taksi, Elisa menatap cincin berlian di jari manisnya. Senyuman pahit terpasang di wajahnya. “Kamu memang gila, Elisa,” makinya sambil menggigit bibir.
Semakin lama dia memikirkan mengenai kenyataan dirinya sudah menikah, Elisa menjadi semakin kacau. Hal tersebut membuatnya memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya membuang wajah dan menatap ke luar jendela taksi.
Sambil menarik napas dalam-dalam, dia berusaha menenangkan diri selagi membayangkan bagaimana cara yang tepat untuk berhadapan dengan nenek Alex nanti, wanita yang sekarang menyandang status sebagai mertuanya.
Namun, saat Elisa sibuk memikirkan hal itu, mendadak matanya terbelalak kala melihat sosok yang familiar di pinggir jalan.
“Pak, berhenti!” teriaknya kepada sopir taksi, menyebabkan mobil berhenti tiba-tiba.
Elisa memerhatikan sosok yang berjalan di pinggir jalan sembari merangkul seorang wanita dengan mesra.
“Alex?” gumamnya, yakin yang dia lihat adalah sosok sang kekasih.
Namun, apa yang pria itu lakukan dengan begitu mesra bersama seorang gadis asing?!
Melihat Alex masuk ke sebuah restoran bersama gadis tersebut, Elisa bergegas turun dari mobil setelah membayar sang sopir. Dia melesat masuk ke restoran untuk memastikan apa dan siapa yang sebenarnya dia lihat.
Matanya yang tajam mengamati sekitar restoran.
Lalu, dia pun melihat sosok itu, sosok sang kekasih yang duduk berhadapan dengan seorang wanita selagi melihat-lihat menu makanan.
Elisa memanfaatkan momen itu untuk melewati keduanya dan menempati sebuah kursi kosong tak jauh dari mereka. Dia ingin memastikan apa hubungan keduanya!
“Pilihlah makanan apa pun yang kamu inginkan, Sayang.”
Detak jantung Elisa seolah terhenti detik itu juga. Alex memanggil wanita itu dengan sebutan ‘sayang’?
“Apa pun? Sungguh?” balas wanita yang wajahnya belum sempat Elisa lihat.
“Tentu saja. Anggap sebagai perayaan karena rencana kita menikahkan Elisa dengan Stevan sudah berhasil.”
DEG!
‘Apa dia bilang?’ Elisa menautkan alisnya.
Wanita yang bersama Alex itu terkikik geli. “Tega sekali kamu menumbalkan kekasihmu sendiri. Kamu benar-benar jahat, Alex.”
Bukannya marah, Alex justru tergelak di tempatnya. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan cemoohan itu.
Dengan acuh tak acuh, Alex justru membela dirinya dengan nada menggoda, “Aku tidak kalah jahat dibandingkan kamu dan ibumu! Menghabiskan uang yang begitu besar dan menggunakan orang lain untuk melunasinya. Sungguh tega kamu sebagai adik, Stella.”
Seketika, dunia Elisa terasa runtuh.
Stella … itu adalah nama adik tirinya!
Mendengar hal itu, Elisa langsung mengepalkan tangannya. Amarah menggebu dalam dirinya.
Jadi, ini semua jebakan? Alex beserta ibu dan adik tiri Elisa menipunya untuk menikahi Stevan?!
Tidak … bahkan utang yang disebut-sebut sebagai utang keluarga itu ternyata adalah utang ibu tirinya dan Stella?!
Dengusan terdengar dari sisi Stella. “Tidak sudi aku menganggapnya kakak. Dia hanya kakak tiri yang dibawa ayahku dari pernikahan pertamanya. Aku tidak memiliki ikatan khusus dengannya. Bahkan, ayahku sendiri menganggapnya sangat tidak berguna.”
Tangan Elisa mengepal erat. Hatinya merasa hancur berkeping-keping ketika mengetahui kenyataan mengerikan ini!
Cintanya kepada keluarga begitu besar, tapi ternyata semuanya hanya dianggap sampah. Bukan hanya itu, ayah kandungnya sendiri tahu mengenai semua hal ini dan hanya diam saja melihat dirinya dipergunakan sebagai alat pelunasan utang!
Bajingan! Alex adalah seorang bajingan! Dan adik tirinya, Stella, dia sama busuknya!
Mengenai ayah kandung dan ibu tirinya? Keduanya adalah makhluk tidak punya hati!
Elisa tidak rela! Dia benci! Namun, melabrak dua orang di belakangnya sama sekali tidak berguna. Dia harus menyusun sebuah rencana!
Menahan amarah di dada, Elisa meninggalkan restoran itu dan berpura-pura tidak mengetahui kebusukan Alex.
Dengan mata diselimuti amarah mendalam, Elisa bersumpah dalam hatinya, ‘Karena yang kalian inginkan adalah harta dan kuasa dari Keluarga, maka itulah yang akan aku rebut dari kalian!’
¡Pum!Luis se tapó la nariz y se echó hacia atrás, con la cabeza dándole vueltas.Antes de que pudiera reaccionar, Alberto lo agarró del cuello y le propinó varios puñetazos.Los dos hombres, como dispuestos a desatar todo el resentimiento que guardaban, intercambiaron golpes, cada uno directo a la carne, negándose a ceder.-Luis, Esperanza es mi prometida. Ella me eligió. ¡Deberías haber renunciado, en lugar de seducirla y aferrarte a ella.-Alberto, ya sabes que Espe es tu prometida, así que ¿por qué no tienes fe en ella? ¿Por qué no la tratas bien? Te has enamorado de otra persona desde que Felicia regresó. Llevo mucho tiempo queriendo darte una lección.Me retiré a un rincón y los observé pelear hasta que ambos quedaron exhaustos, uno apoyado en la pared, el otro en el marco de la puerta. Luis se limpió la sangre de la nariz, jadeando, con la cabeza echada hacia atrás para mirar a Alberto.-Dime, ¿por qué no la apreciaste?Esta pregunta era tanto para Alberto como para sí mismo.
Tras la salida de Silvia, Alberto permaneció inmóvil en esa posición.El video se había reproducido innumerables veces. Quizás los secuestradores temían que Felicia no pagara al final, así que su rostro y su voz también fueron grabados.Un destello de luz dorada entró como un rayo, iluminando la espalda de Alberto, cubriendo todo su rostro de oscuridad.De repente, una figura apareció en la entrada de la villa.Luis sostenía un informe en la mano, con el pecho agitado violentamente.Miró a Alberto, buscando confirmación: -Silvia tiene la verdad sobre la muerte de Esperanza. Alberto, Esperanza... -Muerta.La voz de Alberto sonó seca tras un largo silencio.Miró el video sin pestañear y luego sonrió con ironía:-Está realmente muerta, y Felicia sí mató a ella.-Luis, parece que todos nos equivocamos.El objeto que Luis tenía en la mano cayó al suelo. Era el informe de embarazo de Felicia que había contratado para falsificar.Lo observé avanzar paso a paso hacia Alberto, con los pies ll
Tres días después, dos hombres salieron de la puerta del centro de detención.El rostro de Alberto estaba sombrío y sus ojos estaban teñidos de violeta.Luis no estaba mucho mejor. Desahogó su frustración pateando una piedra al costado del camino y declaró fríamente,-Tenemos que encontrar a Esperanza, si no, Feli corre un grave peligro.Alberto asintió, mucho más tranquilo que Luis.-Yo iré a buscar a Esperanza y tú encuentras la manera de que Felipe salga bajo fianza.Luis lo fulminó con la mirada.-¿Cómo puedo conseguir que la pongan en libertad bajo fianza ahora? Todos dicen que la asesinó.Los ojos oscuros de Alberto no reflejaban ninguna emoción, y dijo con voz monótona,-Si está embarazada, puede solicitar la libertad bajo fianza.Luis se dio cuenta de algo de repente y se subió al coche de inmediato, dirigiéndose al hospital. Al ver el rostro inexpresivo de Alberto, sentí una oleada de miedo por primera vez.Para salvar a Felipe, incluso había recurrido a la idea de embarazarse.
El bullicio de la escena se calmó al instante con el ruido.Alberto y Luis fruncieron el ceño, protegiendo a Felicia tras ellos.Nadie notó el destello de pánico en los ojos de Felicia.Unos instantes fugaces pasaron por mi mente, pero sucedieron tan rápido que no pude registrarlos antes de ver a una mujer con un vestido negro entrar por detrás de la policía.Tenía los ojos rojos e hinchados, el rostro demacrado.Me puse de pie de un salto y me acerqué a ella, con la mano temblorosa al intentar tocarla.Pero mi mano la atravesó.La mujer levantó la mano y señaló a Felicia con voz ronca y firme.-Oficial, ella es Felicia, la verdadera asesina de Esperanza.En cuanto terminó de hablar, la atmósfera a su alrededor se congeló.Unos segundos después, estalló un alboroto:-¿De qué está hablando? ¿Esperanza está muerta? ¿Y fue Felicia quien la mató?-Esta mujer ha perdido la cabeza, ¿de qué tonterías está hablando?-Pero no he visto a Esperanza en unos días. Y hay un caso de asesinato en inte












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reviews