LOGIN—¡Tavo, esa es mi hija! ¿Dónde crees que estás metiendo la mano? En el bar, mi colega Octavio se pasó de copas y confundió a mi hija con una de las edecanes. Octavio le sobaba el muslo y casi le metía la mano debajo de la falda. Lo más absurdo era que mi hija parecía estar muerta de ganas, como si disfrutara que le hiciera eso. Volteé y vi a la hija de Octavio. Sus pechos enormes casi le reventaban la blusa. Pues si así están las cosas, no me culpes por meterle mano a tu hija.
View More"Mah, ke sini dech," panggil anakku yang baru berusia 7 tahun.
"Ada apa, Dek? mamah siap-siap dulu udah kesiangan," jawabku sembari mengoleskan lipstik.
"Lihat deh, Mah. Papah buat surat-suratan kaya adek di Sekolah," lanjutnya.
"Surat-suratan?" tanyaku masih belum menghiraukannya.
"E-ma-il." Anakku membaca dengan terbata.
"Oh, mungkin Papah mengirim pekerjaannya lewat e-mail, Dek," jawabku lagi. Menyambar tas yang tersimpan di atas lemari.
Aku keluar dan tidak melihat anakku lagi, layar laptop Mas Rian masih menyala pada aplikasi e-mail yang terbuka.
Tumben laptop Mas Rian masih menyala padahal dia sudah berangkat kerja, biasanya ia tidak pernah membiarkan Bian_anak kami menggunakannya.
Aku meraihnya dan hendak mematikan laptop tersebut, tapi hati tiba-tiba merasa penasaran dengan surat yang dikatakan Bian sebelumnya.
To.
Riana_Maharani
Ria, aku senang akhirnya setelah 8 tahun kamu membalas pesan yang aku kirimkan.
Aku tidak pernah menduga diri ini seperti menemukan lembahnya kembali untuk menumpahkan rindu.
Bagaimana kabarmu sekarang?
___
Mataku melotot membaca setiap bait kata yang Mas Rian kirimkan. Tas yang sudah terselempang, aku turunkan lagi dan duduk perlahan.
Membaca balasan pesan dari wanita yang bernama Riana itu.
Dari :
Riana_Maharani
Hallo Rian, apa kabar?
Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, sedangkan kamu masih beristri dan memiliki seorang anak, bukan? Pernikahan kalian baik-baik saja kan?
To :
Riana_Maharani
Pernikahanku sangat baik Ria, Halwa adalah istri yang baik, dan Bian adalah anak yang cerdas. Tapi, entah kenapa selama 8 tahun ini hatiku kosong tanpamu dan tidak bisa kuisi dengan hadirnya Halwa dan Bian dalam kehidupanku.
Aku selalu merindukanmu, hatiku selalu menunggu kapan kita bisa berbicara dan berbagi rasa lagi.
__
Mataku melotot, enggan berkedip. Rasanya panas dan ingin menumpahkan lava kesedihan, tapi hati ini terlalu sakit, syok dan tidak bisa menerima, hingga tidak ada setetes pun keluar air mata yang seharusnya mengalir deras.
Bukankah Riana adalah cinta pertamanya Mas Rian yang pergi meninggalkannya karena menikah dengan pria lain?
Aku pernah mendengar sedikit kisah mereka dari Sindi_ adik Mas Rian.
Kuketikkan nama Riana dalam daftar pengiriman pesan, ternyata surat yang Mas Rian kirimkan bukan hanya itu, dari tahun pertama pernikahan kami ia telah mengirimkan banyak pesan, terus menerus meski tidak mendapat balasan.
Kenapa aku tidak menyadari hal ini? selama ini aku berpikir pernikahan kami baik-baik saja, meski Mas Rian terlihat cuek, kukira itu memang bawaan dari karakternya saja.
Ternyata selama ini ia tidak pernah mencintaiku dan Bian.
"Mah, kok belum berangkat," tanya Bian yang sedang sibuk dengan mobil-mobilan yang baru kemarin ayahnya belikan.
Aku merasakan cinta Mas Rian padaku dan Bian tidak pernah kurang, tapi ternyata itu bukan bentuk cinta, mungkin hanya sebatas tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah.
"Enggak sayang, nggak apa-apa." Aku segera keluar dari aplikasi e-mail dan munutup layar laptop. Lalu, berbalik pada anak usia 7 tahun itu.
"Bian sayang, mau bantu mamah nggak?" ucapku padanya meminta persetujuan.
"Apa, Mah?" tanya Bian serius.
"Jangan bilang sama Papah kalau Bian membaca suratnya," jelasku lagi.
Dia menatapku sejenak, aku tahu anak ini cerdas. Dia pasti melihat keanehan yang aku sembunyikan.
"Mamah, baik-baik saja kan?" Ia malah bertanya daripada menjawab.
"Mamah baik sayang. Dan akan jauh lebih baik kalau Bian mau berjanji sama mamah tidak memberitahu ini pada Papah," pintaku sekali lagi.
Ia masih menatap, melihat bola mataku yang hampir berair, namun sebisa mungkin kutahan dan memperlihatkan senyum bahagia. Lalu, tidak lama anak laki-laki pintarku mengangguk.
Aku segera memeluk dan menghujaninya dengan ciuman.
"Terimakasih sayang, mamah tahu kamu akan menepati janji," bisikku di telinganya.
Sudah pukul 08.00 pagi, aku segera berangkat dan menitipkan Bian pada Bibi yang bekerja di rumah kami. Kebetulam hari ini dia libur sekolah dan beberapa hari lagi aku dan Mas Rian akan mengambil cuti kerja agar kami bisa liburan bersama.
Aku sungguh tidak melihat cacat dalam keluargaku, tapi kenapa justru Mas Rian sebaliknya.
Aku punya cafe yang sudah kukelola bahkan sebelum menikah dengan Mas Rian. Setiap hari kami menyibukkan diri dengan pekerjaan, pulang ke rumah dekat Magrib atau setelahnya jika pengunjung ramai. Selalu kuusahakan makan pagi dan makan malam bersama, lalu setelah itu istirahat, terkadang Mas Rian kembali dengan laptopnya dan aku berselancar di medsos. Itulah rutinitas setiap hari yang aku dan Mas Rian lakukan.
Lelaki yang telah menikahiku 8 tahun itu memang sangat dingin, jarang berbicara dan lebih sibuk dengan pekerjaannya. Tetapi, ia adalah suami dan ayah yang baik untukku dan Bian.
Kukira semua baik-baik saja, nyatanya? Ini seperti tamparan disaat aku merasa tidak melakukan kesalahan.
"Bunda ... Zain ingin kentang," celoteh seorang anak lalaki yang baru saja datang dengan ibunya, memasuki cafeku.
Dia terus menarik tangan ibunya dan meminta duduk.
"Iya sayang, sebentar," jawabnya lembut.
Seorang wanita dengan pakaian tertutup panjang, menjambil pipi anaknya dengan senyum.
"Apakah anak Bunda sekarang sudah bisa memaksa?" tanyanya dengan raut wajah yang coba ia seriuskan.
"Maaf," jawab anak itu menyesal, raut wajahnya mengiba.
Wanita itu kembali menjambil pipi anaknya dengan gemas, "Duduklah sayang, bunda akan memesan."
Aku terus memperhatikan mereka sampai wanita itu datang mendekat. Memesan beberapa makanan dan menyodorkan kartu ATM sebagai alat pembayaran.
Aku tersenyum menerimanya.
"Anaknya sangat tampan dan lucu Mbak," ucapku ramah.
Dia hanya tersenyum sembari melihat anaknya yang duduk manis di atas kursi.
"Silahkan PIN nya."
Struk pembayarn keluar, aku menelaah jumlah uang agar tidak terjadi kesalahan.
'Riana Maharani'
Jelas kubaca nama itu di pemilik kartu.
Deg! aku langsung mendongak, wanita itu tersenyum dengan bola mata bergerak-gerak menatap heran.
Bersambung ....
En cuanto solté esas palabras, Tavo se quedó paralizado y se volteó atónito hacia Carolina. Carolina estaba encogida a un lado, temblando de pies a cabeza. Tavo me lanzó una mirada y me reclamó:—Iván, eres un desgraciado. ¿Cómo va a ser que mi hija te haya seducido?Al ver que Tavo no me creía, no me quedó más remedio que tomar a Carolina del brazo y exigirle:—Diles que fuiste tú la que me sedujo.Carolina era apenas una muchachita y nunca se había visto en una situación así. Del susto le temblaban los labios y no pudo decir nada.Cuando el ambiente se ponía cada vez más tenso, mi hija, que había estado parada atrás todo el tiempo, no aguantó más y se quebró.Gritó y me reclamó:—¡Papá! ¿Qué pasó entre tú y Caro? ¿Es cierto o no es cierto?Al ver a mi hija al borde del colapso, no podía permitir que sufriera más. La jalé hacia mí y, con la voz más suave que pude, le dije:—Hija, eran solo bromas, no te lo tomes en serio.Mientras le hablaba, la tomé de la mano y la llevé a la fuerza
Pero apenas salí por la puerta, el ascensor ya estaba abierto. De adentro bajaron dos personas, una alta y otra baja. Un hombre y una mujer.Entrecerré los ojos y alcancé a distinguir quiénes eran. ¡Era Octavio! Y a su lado estaba su hija, Carolina. En cuanto me vio, Octavio, fuera de sí, me agarró del cuello de la camisa y se abalanzó sobre mí para golpearme.—¡Carajo, Vanito! ¡¿Qué le hiciste a mi hija?!Le aparté la mano de un manotazo y, también furioso, le respondí.—¿Y todavía tienes el descaro de venir a reclamarme? ¿No tienes idea de lo que tú mismo hiciste?Al escuchar el escándalo, mi hija Mariana también salió del departamento. Nos miró confundida y preguntó con cautela.—Tío Octavio, ¿qué hace aquí? ¿Qué están haciendo ustedes aquí?Al ver a Mariana, Octavio se dirigió a ella.—Llegas a tiempo. Ven, dime: ¿yo hice eso contigo o no?Mariana respondió que no. Octavio, como quien se sale con la suya, me miró entrecerrando los ojos.—¡Mira! Tu hija dice que no, ¿qué rumores est
Parecía que esta amistad ya no daba para más; si de verdad había sido así, yo iba a mandar a Tavo a la cárcel.Mi hija, al verme con esa cara, se apuró a preguntarme:—Pa, ¿qué te pasa? Te ves mal.La agarré de los hombros y le pregunté, angustiado:—Piensa bien, ¿sientes algo raro ahí abajo?Mariana se quedó pensando un momento y me contestó:—Siento… como si estuviera hinchada ahí abajo.—Pa, ¿por qué de pronto me preguntas eso? Esas cosas son tan íntimas.La respuesta de mi hija me dejó helado. Caí sentado en el piso. Mariana se apuró a levantarme.—Pa, ¿qué tienes? ¿Pa?Le hice una seña con la mano y le dije, con voz débil:—Hija, ese Tavo… ¡se aprovechó de que estabas borracha y te violó!Mis palabras dejaron aterrada a Mariana, que se tapó la boca.—No puede ser. El tío Octavio no es de esos. Si me siento hinchada ahí abajo, es solo porque tomé mucho y tenía ganas de ir al baño. No puede ser que haya pasado eso.Aguanté como pude el golpe y le dije todo lo que sabía de Tavo:—Ese
La última vez que fuimos al salón de masajes, Tavo me lo dijo.—Ya hay puro hoyo viejo aquí, ni una muchacha joven. Tengo ganas de encontrarme con alguna para divertirme.Seguro desde entonces ya le había echado el ojo a mi hija. Con razón aceptó tan rápido festejarle el cumpleaños a Carolina en el bar. Lo que quería era que mi hija también fuera. Tavo, al ver que lo miraba con rabia, puso cara de desconcierto y dijo:—Iván, si fuiste tú el que tocó a mi hija, ¿por qué me miras así?Tenía muchas ganas de decirlo todo. Pero lo pensé otra vez: mi hija y Carolina estaban ahí. Si lo decía todo sin rodeos, nadie iba a salir bien parado.No me quedó más que tragarme el coraje y decirle:—Nada. La fiesta se acaba aquí. Mariana y yo nos vamos a casa.Tavo me miró rabioso y, al ver que me iba, hasta se atrevió a advertirme:—Hoy es el cumpleaños de mi hija. Solo quiero que se divierta. No me obligues a ponerme pesado.Con esa frase, a mí también me hirvió la sangre. Me di vuelta y lo señalé con
Mientras hablaba, con una mano me bajó el cierre del pantalón con toda la práctica del mundo. ¡Y la metió de una! Su manita suave y delicada me apretó apenas, y sentí que me derretía por completo.Ya no me quedaba ni un pensamiento para rescatar a mi hija; solo tenía ojos para Carolina. Me agarró y
Volteé la cabeza hacia Carolina y le pregunté en voz baja:—¿Dónde quieres que te rasque?Carolina, apenada, señaló debajo del vestido y me miró con los ojos vidriosos.—¿Me puedes rascar ahí abajo? Por favor, que no me vea mi papá.Mientras lo decía, abrió las piernas. Por lo visto todavía no se da
—¡Tavo, esa es mi hija! ¿Dónde crees que estás metiendo la mano?En el bar, mi colega Octavio se pasó de copas y confundió a mi hija con una de las edecanes. Octavio le sobaba el muslo y casi le metía la mano debajo de la falda. Lo más absurdo era que mi hija parecía estar muerta de ganas, como si d
Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.