FAZER LOGINAngin dari baling-baling helikopter meliuk keras di udara, menghempas kaca-kaca jendela vila hingga bergetar hebat. Cahaya sorot putih membelah kegelapan kamar, menelanjangi tubuh Aruna yang hanya dibalut gaun malam satin tipis. Kain halus itu melekat ketat di kulitnya yang berpeluh, memperlihatkan lekuk dada yang membuncit dan pinggulnya yang molek di bawah tatapan tajam dua pria yang memperebutkannya."Ikut aku sekarang, Aruna!" bentak Hardi. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Aruna lebih keras, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya."Lepaskan aku, Paman!" Aruna menepis tangan Hardi dengan sentakan penuh kejijikan. "Aku tidak akan menjadi bidakmu lagi!"Belum sempat Hardi membalas, suara tembakan beruntun memecah malam dari arah lorong luar.Duar! Duar! Duar!Pintu kamar yang sudah hancur itu terpental sepenuhnya saat satu tendangan keras mendarat di engselnya. Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari balik asap dan remang cahaya sorot.Gavin.Jas hitamnya sudah ditang
Aruna menahan napas. Tangannya mencengkeram sprei tebal di belakang punggungnya, berusaha mencari tumpuan saat guncangan panik menyerang dadanya. Di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar rembulan, pendar asap tipis dari moncong pistol pria itu terlihat begitu mengancam."Siapa kamu?" tanya Aruna, suaranya gemetar meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tenang.Pria itu melangkah masuk. Sepatu boots mewahnya beradu melintasi pecahan bingkai pintu kayu yang hancur. Ia menyalakan pemantik api perak di tangannya. Cahaya oranye yang temaram seketika menyinari separuh wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka tipis di rahang."Orang yang harusnya menyelamatkanmu dari monster bernama Gavin," sahut pria itu. Suaranya serak, dingin, dan tanpa nada keramahan."Paman Hardi?" Aruna menyipitkan mata, terbelalak melihat garis wajah yang sangat ia kenal itu. "Bagaimana bisa... bukankah Paman di penjara?"Pria itu tertawa tipis, suara tawa yang kering tanpa rasa humor. Ia mem
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja hitam masuk membawakan nampan berisi segelas air dan dua butir pil."Nona Aruna, ini obat penguat kandungan dari Tuan Gavin. Harus diminum sekarang," ujar penjaga itu singkat.Aruna menatap dua pil merah di atas nampan dengan kening berkerut. "Aku sudah minum obat tadi pagi.""Tuan meminta saya memastikan Nona meminumnya langsung di depan saya.""Kalau aku menolak?" Aruna bersedekap, menatap lurus mata pria itu."Tuan Gavin tidak memberi opsi menolak, Nona."Aruna menghela napas panjang. Ia mengambil dua pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut, lalu meneguk air hingga tandas."Sudah kan? Sekarang keluar," kata Aruna dingin.Penjaga itu menunduk kaku. "Baik. Pintu akan tetap dikunci dari luar."Begitu gerendel pintu berbunyi klak, Aruna bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa membuang waktu, ia merogoh tenggorokannya di depan wastafel hingga mual hebat memicu perutnya memuntahkan kembali seluruh isi lambungnya. Pil ya
Keheningan di vila itu terasa jauh lebih menyiksa daripada kemarahan Gavin semalam. Aruna terbaring kaku, menatap tetesan infus yang jatuh dengan ritme yang monoton—seperti waktu yang perlahan merenggut sisa-sisa harapannya.Ceklek.Pintu terbuka. Gavin masuk dengan pakaian yang sudah berganti, rapi dan dingin seperti biasa. Namun, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa pria itu tidak tidur sejak mereka kembali dari kantor lama Ayah. Di tangannya, ia membawa nampan berisi bubur dan segelas susu hangat."Makan," perintahnya singkat. Ia meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu duduk di tepi ranjang.Aruna memalingkan wajah ke arah jendela. "Aku tidak lapar.""Dokter bilang kamu harus makan jika ingin janin itu selamat. Atau kamu ingin aku menyuapimu dengan cara yang tidak menyenangkan?" Gavin mencengkeram dagu Aruna, memaksanya menoleh.Tatapan mereka beradu. Aruna melihat ada badai di mata Gavin—keraguan yang mulai menggerogoti keyakinannya setelah mendengar nama 'Sari' se
Suara gesekan kain dan napas berat Gavin memenuhi ruangan kantor yang pengap itu. Di atas meja kayu yang pernah menjadi saksi bisu kejayaan ayahnya, Aruna merasa dunianya benar-benar runtuh. Bukan karena rasa perih di tubuhnya, melainkan karena kenyataan bahwa setiap ciuman dan sentuhan Gavin selama ini adalah racun yang sengaja disuntikkan untuk membunuhnya perlahan."Kenapa..." Aruna terisak, suaranya nyaris hilang di balik dada bidang Gavin. "Kalau kamu membenciku, kenapa kamu membiarkan aku mencuri kunci ini? Kenapa kamu membiarkan aku datang ke sini?"Gavin menghentikan gerakannya. Ia menarik rambut Aruna perlahan, memaksa wanita itu menatap matanya yang berkilat gelap di bawah cahaya bulan. "Vila itu adalah wilayahku, Aruna. Tidak ada semut pun yang keluar tanpa seizinku. Aku sengaja membiarkan supirku lengah. Aku ingin kamu menemukan bukti ini."Aruna terbelalak. "Kamu sengaja?""Aku ingin kamu tahu kebenarannya tepat saat kamu merasa paling mencintaiku. Itu adalah puncak dari
Gavin masih sibuk dengan asistennya, memberikan instruksi tegas mengenai pengamanan pemakaman Maya esok hari. Aruna memanfaatkan momen itu untuk mendekati supir pribadi mereka, Pak Dadang, yang berdiri di samping pintu mobil yang terbuka."Pak Dadang, boleh saya minta tolong? Dompet saya sepertinya tertinggal di laci depan mobil," ucap Aruna dengan nada setenang mungkin."Oh, biar saya ambilkan, Non Aruna," jawab Pak Dadang sigap."Tidak usah, Pak. Saya sekalian mau ambil tisu di sana. Bapak tolong belikan saya air mineral di kantin rumah sakit ya? Perut saya tiba-tiba tidak enak."Pak Dadang mengangguk patuh dan segera melangkah pergi. Begitu pria itu menjauh, Aruna segera menyambar kunci mobil yang masih menggantung di lubang starter. Dengan tangan gemetar, ia menarik gantungan mawar hitam itu kuat-kuat hingga terlepas dari ringnya, lalu menyembunyikannya di dalam genggaman tangannya.Ia segera mengembalikan kunci mobil ke posisi semula tepat saat Gavin menoleh ke arahnya."Aruna? S
"Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakm
Mobil hitam mewah itu berhenti dengan sentakan kasar di basement apartemen. Gavin langsung menarik tangan Aruna keluar, langkahnya lebar-lebar dan penuh emosi. Begitu pintu lift pribadi tertutup, Gavin menyudutkan Aruna ke dinding kaca lift yang dingin."Gavin, lepas... sakit!" rintih Aruna."Sakit?
Aruna mematung. Napasnya tertahan di kerongkongan, terasa mencekik. Di atas tubuhnya, Gavin justru mempererat cengkeraman pada pinggul Aruna, sengaja menekan berat tubuhnya hingga Aruna tidak bisa bergerak di bawah selimut tipis yang berbau keringat dan gairah itu."Gavin? Kok bau parfum Kak Aruna a
Klik.Aruna menempelkan kartu akses emas itu ke pintu apartemen Gavin. Tangannya gemetar hebat, sisa ketakutan dari butik siang tadi masih menjalar di nadinya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram. Di balik mantel panjangnya, ia mengenakan gaun pengiring pengantin w







