LOGINPaige I learned a long time ago that the only person I could rely on is myself. I’ve spent the last few years building up my defenses; these walls are not coming down for anyone. Not even him. Colin Blackburn. Alpha. Sinfully hot, arrogant son of a… well, you get the drift. I’ll do what I have to do and become his Luna. I’ll give him my body, but his grubby paws will not get anywhere near my heart. Colin The universe is laughing at me. It has to be. Why else would it pair me with Paige Bradshaw? She’s insufferable, pushing me at every turn. But being Alpha means I never back down from a challenge. No matter how insurmountable it may be. The thing about wolves… we’re mated for life. She’s mine whether she likes it or not. I’m fighting to save her life, but I fear the fight for her heart will be a much tougher feat…
View More“Tolong, Mas. Aku mohon sekali ini saja, bantu Ayah,” lirih seorang wanita sambil mengatupkan kedua tangan dan bersujud di depan pria bertubuh kurus.
Sudah setengah jam perempuan cantik bermata sipit itu mengemis di hadapan sang suami. Namun, pria bertubuh tinggi di hadapannya tidak luluh walau secuil kapas. “Heh, Dewi, aku bukan lembaga sosial yang memberi uang Cuma-Cuma? Bodoh amat ayahmu itu mati dan kesakitan, aku tidak peduli!” sentak pria itu sambil mengempas kaki sehingga tubuh mungil di bawahnya tersungkur ke atas lantai. Netra hitam pekat Dewi bergetar dan kedua tangan terkepal kuat di samping tubuh, setelah mendengar kalimat kejam dari bibir suami. Perlahan dia mendongak, menatap dalam wajah pria itu. “Mas Bima … dokter bilang ayahku harus dioperasi segera, kalau tidak …,” kata Dewi dengan suara nyaris tenggelam. Dua jam lalu Dewi menerima kabar dari tetangga di kampung, bahwa ayahnya dilarikan ke rumah sakit karena mendadak sesak napas. Saat itu, dia masih bisa berpikir tenang dan merencanakan menjenguk Danang—ayahnya. Hanya saja, sejam berlalu dia mendapat informasi dari pihak rumah sakit, ayahnya mengalami komplikasi akibat penyakit diabetes yang telah lama diderita. Sehingga jantung serta ginjal bermasalah. Meskipun bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta kota besar, dia tidak bisa meminjam uang ke koperasi pegawai lantaran statusnya pegawai baru kurang dari enam bulan, gajinya pun tidak memadai. Dewi yang kebingungan, pada akhirnya mengemis pertolongan pada sang suami yang dia tahu memiliki cukup uang. Setidaknya, nanti dia akan mencicil dari gajinya. Ya, meskipun menjadi istri seorang manajer, tetapi sudah tiga bulan ini Dewi kesulitan ekonomi untuk memenuhi kehidupan keluarganya di kampung. Dahulu, sebelum ayah mertua meninggal selalu menyokong kebutuhan finansial keluarga Dewi. Hal itu karena mendiang ayah mertua memiliki balas budi pada Danang yang telah menyelamatkan Bima dari derasnya arus sungai. Maka dari itu, Dewi dan Bima dijodohkan dengan harapan dapat membina rumah tangga bahagia, tetapi … tak segampang itu. Sebagai pria terhormat dan terpelajar, tentu saja Bima malu memperistri anak seorang tukang kebun. Dewi baru mengetahui sifat asli Bima setelah ayah mertua meninggal dunia. Tingkah sang suami sangat kasar, ringan tangan dan hobi mabuk-mabukan. Bahkan kekerasan verbal telah menjadi makanan gadis itu sehari-hari. “Kamu ‘kan bekerja sebagai perawat, sembuhkan saja sendiri ayahmu yang matre itu,” ejek Bima diikuti ledakan tawa menggema dalam ruangan tamu. “Cukup, Mas! Kamu boleh menghina aku, tapi tolong jangan ucapkan kata-kata kotor untuk ayahku!” sahut Dewi sambil menatap pedih kepada suaminya. Bima merunduk, lantas menjepit rahang mungil Dewi. Pria itu menatap bengis sepasang mata sipit yang membengkak dan kemerahan. Makin lama Dewi merasakan ujung kuku jari tangan Bima menusuk kulit pipinya. Rintih kesakitan yang keluar dari sela bibir tipis tidak digubris sedikit pun oleh pria itu. Dia berusaha melepaskan cengkeraman, tetapi sulit karena tenaganya kalah jauh dari sang suami. “Kenapa? Sakit, ya?” desis Bima yang diangguki Dewi. Kemudian pria itu mengempas kasar rahang mungil. Bima mengelap telapak tangan, menghilangkan kotoran karena keringat Dewi menempel pada kulitnya. Setelah itu, dia merapikan dasi dan kemeja putih sembari membalik badan, lalu berjalan menuju pintu utama. Dari tempatnya terduduk, netra sipit memperhatikan langkah sepasang kaki tertutup pantofel hitam. Dewi masih berharap Bima memberi pertolongan untuk sekali ini saja. Jujur, dia tidak sanggup jika kehilangan ayahnya, karena pria paruh baya itu adalah tumpuan hidupnya. Namun, kenyataan berbanding terbalik, sang suami justru berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Lima menit berlalu, Dewi tidak mendengar deru mesin mobil. Hanya saja, dia tidak mau berandai-andai lagi dan memilih menyeret kaki ke kamarnya yang berada di belakang rumah besar ini. Tiba-tiba saja, hentakkan sepatu memenuhi indera pendengaran Dewi, makin lama tambah dekat. Namun, dia urung menoleh, lalu mempercepat laju kakinya melewati lorong sempit di belakang dapur. “Berhenti, Dewi!” titah Bima, “berputarlah!” Perlahan Dewi memutar tubuhnya dan menatap wajah sangar pria itu. Dia memperhatikan dengan heran pada Bima karena memindai lekuk tubuhnya, mulai dari buah dada, pinggul sampai sepasang kaki terbungkus kaos kaki. “Lumayan,” kata pria itu manggut-manggut, lantas mengitari badan Dewi. Tanpa banyak kata, Bima melenggang meninggalkan Dewi bersama keputusasaan yang membelenggu gadis itu. Selepas suaminya pergi, Dewi menelepon beberapa teman untuk mencari pinjaman. Sayang, tak satu pun dari mereka bersedia memberikan pinjaman walau sedikit. Semua langsung menutup sambungan telepon. Sekarang Dewi dirundung pilu, dia hanya bisa melambungkan doa setinggi langit agar sebuah keajaiban datang untuk menyelamatkan nyawa Ayah tercinta. Pukul tiga siang Dewi masuk kerja shift dua. Selama menangani pasien di bangsal IGD, dia kurang fokus karena rumah sakit tempat ayahnya dirawat menanyakan kesanggupan keluarga pasien membayar biaya operasi. Alhasil Dewi meminta batas waktu entah sampai kapan, karena dirinya hanya berjanji saja. Waktu berjalan cepat, pukul sepuluh malam Dewi mendapat telepon dari Bima bahwa pria itu menunggu di koridor dekat toilet perawat. Seketika iris hitam berbinar dan relung hatinya menghangat, dia pikir panggilan suara ini adalah jawaban atas doanya, Bima bersedia memberikan pinjaman. “Mas?” panggil Dewi melihat Bima sedang berbicara bersama seorang pria berbadan tambun dengan kepala botak. Kompak dua pasang mata itu menoleh dan memperhatikan setiap lekuk tubuh Dewi, membuat gadis berperawakan mungil itu merinding dan dihinggapi sinyal waspada. Bima langsung menarik paksa lengan Dewi dan membawanya pada sudut lain. Pria itu berbisik, “Kamu butuh uang cepat, bukan? Aku punya solusinya.” Alih-alih mengiakan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya, justru Dewi diam saja. Relung hati gadis itu merasakan hal ganjil di sini. Dia takut dijual ke rumah hiburan. “Tugasmu gampang, cukup hamil dan melahirkan anak untuk pria itu,” sambung Bima sembari menunjuk pada pria tambun di dekat mereka. “Apa?! Aku tidak mau, Mas. Kamu gila!” pekik Dewi tertahan. “Itu cara termudah, lagi pula aku sudah menandatangani kontrak, dalam jangka waktu setahun kamu harus melahirkan bayi. Kalau mundur, kamu wajib mengganti tiga kali lipat, paham!” sentak Bima. Dewi menggeleng tegas, sungguh dia tidak mau mengikuti saran Bima. Lebih baik dirinya bekerja tanpa henti daripada menjual diri seperti ini. “Kamu takut tidur dengannya?” tanya Bima diangguki Dewi. Pria itu menyeringai lalu berkata dengan tegas, “Kamu hanya perlu melakukan proses bayi tabung, mudah ‘kan? Pria itu menjanjikan satu miliar untukmu. Ya, itu pun kalau mau menyelamatkan ayahmu yang penyakitan.” Seketika kelopak mata Dewi melebar dan menatap Bima tidak percaya. Untuk sejenak dia merenung sedangkan Bima terus membisikkan kalimat hasutan agar Dewi menerima perjanjian gila ini. Sebagai tenaga medis, setidaknya dia tahu mengenai program bayi tabung, bahkan rumah sakit tempatnya bekerja pun memiliki fasilitas itu. “Terima saja Dewi, di mana lagi cari uang satu miliar dalam waktu singkat?” kata Bima, “sekarang juga kamu periksa kesehatan di rumah sakit ini. Kebetulan pria itu sudah bikin janji dengan dokter kandungan.” Dewi dipaksa mengambil keputusan dalam waktu singkat. Setelah berpikir cukup masak, dia merasa tidak masalah tubuhnya menjadi tempat penitipan bayi pasangan lain selama sembilan bulan. “Baiklah,” lirih Dewi dengan berat hati. “Bagus, jangan membantah!” Bima menepuk-nepuk kasar pipi lembab perempuan itu. Kemudian Bima menyerahkan Dewi kepada pria tambun itu. Mereka berjalan menuju ruang spesialis kandungan di rumah sakit ini. “Uangnya kapan dikirim, Pak?” tanya Bima kepada pria plontos di depannya. “Karena dia masih perawan, saya minta tambahan jadi lima miliar," pintanya lagi tanpa tahu malu. “Jangankan lima miliar, sepuluh miliar aku bayar setelah memastikan perempuan ini beneran perawan dan subur, tidak memiliki gangguan apa pun di rahimnya,” kata pria itu tanpa menoleh ke belakang. Sesungguhnya Dewi ingin menjerit mendengar percakapan ini. Keperawanan yang dia jaga diperjualbelikan, bahkan setelah menikah saja Bima tidak menyentuhnya karena merasa jijik. Sebelum masuk ke poli obgyn, tubuh Dewi gemetaran karena dia takut keputusannya memengaruhi status sebagai pegawai di sini. Pria tambun di depan Dewi mengetuk pintu, hingga sahutan suara maskulin terdengar dari dalam sana. Gadis itu menunduk dalam di balik punggung lebar dan besar. Sedangkan Bima menunggu di luar ruangan. “Saya sudah mendapat perempuan yang sesuai dengan kriteria, silakan Dokter periksa,” ucap pria tambun itu membuat Dewi menghentikan napasnya seketika.I follow him through the woods, letting him guide me to whatever he has planned now. Colin walks us to a small clearing between the trees. It’s decorated with a tent and roses. Twinkling lights highlight my smile.“What is all this?”“The date I owe you.”“It’s beautiful.”“Not more so than you. But I’m glad you like it. Alex and I worked on it all afternoon.”“I’ll have to remember to thank him.”“Nah, he only helped a little, but you know if you want to thank me. I wouldn’t be mad.”“In that case, let me show you thankful I am.”He yanks the tent open. It’s filled with blankets and pillows. I crawl in and plant myself on the soft pile. Colin falls n
“My name is Elder Kai Fury, and I’m here to oversee the Luna ceremony tonight, but first, Alpha John has an announcement to make.”My hands tremble. It’s time to break the news about the merger. I don’t know what I’m expecting, but I’m not sure it’s good.“Good evening. Thank you for all being here to celebrate my daughter and her mate. Before we continue with the ceremony, I wanted to take a few minutes to tell you how proud I’ve been to be your Alpha. Truly, it’s been an honor to lead you, just as it was for my father before me and his before him. That said, there comes a time when every Alpha must retire.” John pauses. “Traditionally, the title would be taken by my son Peyton. However, he’s chosen to go down a different path. He’s on his way to fatherhood. His mother and I couldn’t be prouder of him. I mean it, Peyton. You’re going to be a wonderful father, and I respect
“Nicole! You came!” I try to get up and hug my mother-in-law, but the hairstylist pushes me back down.“Of course! I wouldn’t miss this.” Nicole stands in front of my mirror and wraps her arms around my neck. “You look beautiful.”Mom says, “Wait until you see her dress!”She hugs Nicole and then drags her off to only Goddess knows where. I down my fifth glass of champagne, trying to keep my enormous bundle of nerves at bay. I wish Ash were here with me. She would be so happy to become Luna. Goddess knows she was always in support of it, even when I wasn’t. I call for another glass of champagne. I give a mental toast to Ash wherever she is. After hours of sitting in the awful plastic chair, the stylist is done. My fiery hair is twisted and braided into a bun that sits on the top of my head. A few stray hairs have been curled around my fa
“Welcome to our home,” Margot says.“Thank you for having me. My name is Kai Fury, but just call me Kai.”He shakes everyone’s hand but lingers on Paige’s a little more than I like. I have to turn my head as he lightly kisses the back of her hand to avoid a fight.He’s an unmated male touching our unmarked mate. Kill him. Dom growls.He’s an Elder; violence won’t get us far. Margot leads everyone into the sparkling packhouse. She introduces my family to Kai, and I catch a glint of jealousy in James’ eye. So, it’s not just me, good to know. Once the tour is finished, we head to dinner. We’re eating in the private Alpha’s dining room tonight. Paige and Margot thought it best because it’s much more formal and elegant. But if we were in the dining
I awake in the morning to my mother yanking me out of bed. “Paige, you’re going to be late for your hair and makeup. Get up!”“Ugh. What if I don’t want to get my hair and makeup done?”“Then, you can explain to your father and Alpha Colin of Aurora Flame why you aren’t looking your best on your bi
“Have they suspected you?”“No. I’ve been sneaking around during the day when no one is home,” I reply, sipping my bourbon.“We can’t let Colin meet his mate. He’ll be stronger, and we can no longer overthrow him.”“That boy is the worst excuse for an Alpha I’ve ever seen. A mate won’t change that.
I spend my weekend training and sleeping. The calming energy I felt on Friday has lingered, and it was just what I needed to leave Cory behind. I feel much better as I awake on Monday morning. Double-checking myself in the mirror, the messy bun I forced my red locks in is messier than I meant, but
I have felt anxious all day. I don’t know why, but it just feels like a part of me is lost. I put the weights down and take a deep breath. I’ve been working out for hours now, but it’s not helping. The anxious feeling has been there since the invitation to Alpha John’s kids’ eighteenth birthday cel






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.