LOGINLira menghentikan bicaranya. Wajahnya berubah tegang. Dimas meletakkan sendoknya perlahan. Matanya menatap tajam ke arah kelompok bangsawan itu. Sementara Kaelen tetap tenang. Dia terus mengunyah makanannya pelan, seolah kehadiran mereka tidak berarti apa-apa.
"Lihat siapa yang ada di sini," suara Geraldo memecah keheningan. Nadanya keras dan mengejek. Dia menunjuk ke arah Kaelen dengan jari kasarnya. "Rakyat jelata dari desa kumuh berani duduk di meja yang sama dengan Nona Lira dan Tuan Dimas. Apakah kau tidak tahu etika, sampah?" Selena tertawa renyah namun penuh sarkasme. Dia menatap pakaian Kaelen dengan pandangan menjijikkan, seolah melihat kotoran di jalanan. "Lira, kenapa kau mau berteman dengan makhluk seperti ini? Lihat bajunya, kotor dan bau. Dia cuma penerima sumbangan belas kasihan kerajaan. Tempatnya ada di kolong meja, bukan di atas kursi yang sama dengan kita." Lira berdiri marah, wajahnya memerah karena emosi. "Cukup! Kaelen adalah temanku! Tidak ada aturan yang melarang kami duduk bersama. Kalianlah yang kasar dan tidak tahu sopan santun!" Reynald yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Dia menatap Kaelen dengan tatapan merendahkan namun penuh ancaman. Matanya yang berwarna merah bata bersinar tajam. "Lira, jangan buang waktumu dengan orang sepertinya," ucap Reynald dengan suara berat dan berwibawa, seolah mengeluarkan perintah. "Orang ini tidak memiliki asal-usul yang jelas. Dia muncul entah dari mana. Mengaku punya sedikit bakat, lalu masuk ke sini. Dia berbahaya dan tidak pantas berada di lingkaran kita. Dan kau, anak desa..." Reynald mencondongkan tubuhnya ke depan. Menatap tepat ke manik mata Kaelen. Tekanan aura Elemen Api yang kuat meledak dari tubuhnya membuat udara di sekitar meja itu menjadi panas dan menyengat. Siswa-siswa lain yang melihat dari kejauhan menahan napas ketakutan. "Dengar baik-baik peringatanku. Di Akademi ini, aturan kami adalah aturan tertinggi. Kaum bangsawan adalah tuan, dan rakyat biasa hanyalah bawahan. Jangan pikir karena kau punya sedikit keberuntungan, kau bisa menyamakan dirimu dengan kami. Jangan pernah mendekati Lira lagi, dan lebih baik kau tahu tempatmu sebelum kau menyesal telah lahir ke dunia ini." Ancaman itu tegas dan jelas. Dimas mengepal tangannya di bawah meja, siap meledak kapan saja. Namun Kaelen akhirnya bergerak. Kaelen mengangkat wajahnya perlahan. Menatap balik mata Reynald tanpa rasa takut sedikit pun. Di dalam hati Kaelen, amarah mulai bergolak. Dia melihat di wajah Reynald, Geraldo, dan Selena. Kesombongan yang sama, kebencian yang sama, dan pandangan merendahkan yang sama persis seperti yang dimiliki para leluhur mereka ribuan tahun lalu terhadap keluarga Voss. Mereka adalah keturunan dari para pengkhianat itu. Darah musuhnya mengalir deras di tubuh mereka. Namun Kaelen hanya tersenyum tipis. Senyum yang dingin dan misterius. Dia tidak menantang secara terang-terangan saat ini, karena dia tahu waktunya belum tiba. Dia harus bersabar, seperti yang diajarkan ayahnya. "Terima kasih atas peringatannya, Tuan Reynald," jawab Kaelen pelan namun tegas. Suaranya terdengar tenang di tengah ketegangan. "Aku tahu persis di mana tempatku berada. Dan aku juga tahu bahwa tempat itu akan terus berubah. Semakin tinggi dan semakin jauh meninggalkan tempat kalian berdiri saat ini." Jawaban itu penuh makna membuat Reynald tertegun sesaat karena tidak menyangka pemuda miskin itu berani menjawab balik. "Kau berani menjawabku?!" Geraldo hendak melompat maju, namun ditahan oleh Reynald dengan isyarat tangan. "Kita lihat saja nanti," potong Reynald dingin. Matanya menyipit tajam. "Sebentar lagi akan diadakan Ujian Penyisihan Bulanan. Di sana, kekuatan sesungguhnya akan terlihat. Aku harap kau tidak jatuh terlalu menyedihkan, anak desa. Karena di hari itu, aku akan pastikan kau diusir dari akademi ini dengan cara yang paling memalukan." Setelah melontarkan ancaman terakhir itu, Reynald berbalik dan pergi diikuti rombongannya, meninggalkan suasana yang masih panas dan tegang. Lira segera memegang tangan Kaelen dengan cemas. "Kaelen, kau tidak apa-apa? Kau seharusnya tidak menantang mereka. Kelompok Mahkota Emas sangat berkuasa di sini. Mereka bisa membuat hidupmu menjadi neraka." Dimas mengangguk setuju. "Mereka tidak akan berhenti. Ujian bulan depan, mereka pasti akan berusaha mencelakaimu." Kaelen melepaskan genggaman tangan Lira perlahan, lalu berdiri tegak. Dia menatap ke arah pintu keluar tempat rombongan Reynald menghilang, sorot matanya berubah menjadi tajam dan penuh tekad yang membara. "Biarkan saja mereka," jawab Kaelen dengan suara rendah namun berisi keyakinan mutlak. "Biarkan mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan selama mereka merasa berkuasa. Ujian bulan depan, itulah panggung yang tepat. Di sana aku akan menunjukkan pada mereka siapa aku sebenarnya. Di sana, aku akan mulai meruntuhkan kesombongan mereka satu per satu." Kaelen mengepalkan tangannya. Di dalam benaknya, suara sistem bergema penuh semangat. [TUJUAN BARU DITEMUKAN: MENGALAHKAN KETURUNAN PENGKHANIANAT. HANCURKAN KESOMBONGAN MEREKA DAN TEGASKAN KEMBALI KEKUASAAN GARIS KETURUNAN VOSS.] Kalimat itu bergema keras di dalam benaknya, seolah ikut merasakan api dendam yang berkobar di dada tuannya. Kaelen merasakan aliran energi hangat berputar kencang di seluruh pembuluh darahnya, menandakan bahwa kekuatan yang tersegel dalam darahnya pun menuntut pembalasan atas penghinaan yang baru saja diterima. Lira dan Dimas saling berpandangan. Merasakan perubahan aura yang tiba-tiba dari sosok teman mereka. Di detik itu, Kaelen tidak lagi terlihat seperti pemuda lemah yang berasal dari desa terpencil. Ada wibawa, ada keagungan, dan ada kekuatan tersembunyi yang begitu besar hingga membuat udara di sekitar mereka terasa bergetar pelan. "Kau yakin, Kaelen?" tanya Dimas dengan suara rendah. Matanya menatap tajam namun penuh dukungan. "Reynald sudah mencapai tingkat Lanjutan. Begitu juga dengan Geraldo dan Selena. Mereka jauh lebih kuat dari pada Rian yang kau kalahkan dulu. Selain itu, mereka tidak akan bermain bersih. Kelompok Mahkota Emas dikenal suka menggunakan cara kotor demi mencapai tujuan." Kaelen tersenyum tipis. Senyum yang dingin namun penuh percaya diri. Dia menatap kedua temannya bergantian. "Aku tahu, Dimas. Aku tahu betul siapa mereka dan apa yang mampu mereka lakukan. Tapi justru itulah yang aku inginkan. Semakin kuat musuhnya. Semakin besar kesempatan bagiku untuk tumbuh dan menunjukkan kebenaran. Jangan khawatir, aku punya caraku sendiri untuk menghadapi mereka." Kaelen menoleh ke arah Lira yang masih tampak cemas. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Wajahnya murung karena merasa dirinyalah penyebab Kaelen mendapat masalah dengan para bangsawan itu. "Dan kau, Lira." ucap Kaelen lebih lembut. "Jangan merasa bersalah. Pertemuan dengan mereka ini tak terelakkan. Sejak aku melangkah masuk ke gerbang akademi ini, aku sudah tahu bahwa suatu saat nanti aku harus berhadapan dengan orang-orang seperti mereka. Justru, aku berterima kasih padamu. Berkat berteman denganmu dan Dimas, aku tidak harus berjalan sendirian di tempat yang asing ini." Mendengar itu, wajah Lira perlahan berubah cerah kembali. Dia mengangguk tegas, matanya yang biru berkilat penuh semangat. "Baiklah! Kalau begitu aku juga akan membantumu. Aku akan berlatih lebih keras, dan aku pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyakitimu. Elemen Airku bisa melakukan banyak hal. Bukan hanya menyembuhkan, tapi juga mengikat dan menekan musuh!" "Dan aku akan menjadi tamengmu," sahut Dimas dengan nada tenang namun tegas. "Selama aku masih berdiri, tidak ada serangan apa pun yang akan menyentuhmu atau Lira. Tanah tempat kita berpijak adalah kekuatanku. Mereka mungkin kuat, tapi mereka tidak akan mudah menembus pertahananku." Kaelen tersenyum lebar. Senyum tulus yang hangat kali ini. Rasanya berat di pundaknya sedikit berkurang. Memiliki teman yang tulus bersedia berjuang bersamanya ternyata adalah anugerah yang luar biasa, sesuatu yang tidak pernah ia miliki selama hidupnya di Kota Aras. "Terima kasih. Kalian berdua adalah teman terbaik yang pernah aku miliki," ucap Kaelen tulus. "Tapi ingat, untuk ujian bulan depan biarkan aku yang menjadi pemeran utamanya. Biarkan aku yang mencoret nama mereka satu per satu. Kalian hanya perlu menyaksikan bagaimana sampah yang mereka hina ini akan membuat mereka berlutut meminta ampun." Pertemuan singkat di kantin itu berakhir dengan tekad yang semakin membara. Sejak hari itu, kehidupan Kaelen di Akademi Sihir Kerajaan berubah total. Kelompok Mahkota Emas benar-benar menepati ancaman mereka. Ke mana pun Kaelen pergi, dia selalu mendapatkan perlakuan buruk. Para pengikut Reynald akan sengaja menabraknya. Menjatuhkan barang-barangnya. Membisikkan kata-kata hinaan, atau bahkan merusak peralatan latihannya. Namun Kaelen tetap diam. Dia menelan semua hinaan itu, menyimpannya baik-baik di dalam ingatannya sebagai bahan bakar semangatnya. Dia tahu, semakin mereka bertindak kejam dan sombong. Semakin menyakitkan kejatuhan yang akan mereka alami nanti. Di saat yang sama, Kaelen mulai berlatih dengan giat, jauh lebih keras dari pada siapa pun di akademi ini. Di siang hari, dia berpura-pura menjadi siswa rata-rata yang hanya mengikuti pelajaran dasar. Namun di malam hari, saat seluruh siswa dan pengajar sudah terlelap, Kaelen menyelinap keluar menuju Hutan Latihan di belakang akademi, tempat yang lebih berbahaya dan penuh dengan energi alam yang lebih padat. Di sanalah Kaelen melepaskan jubah kepalsuannya. Dengan bantuan Sistem Penguasaan Elemen. Kaelen bergerak di antara pepohonan gelap dengan kecepatan yang sulit dilihat mata telanjang. Dia berburu makhluk-makhluk sihir tingkat menengah. Menyerap Inti Elemen mereka satu demi satu. Setelah mengalahkan Serigala Angin, penguasaan elemen Anginnya telah mencapai tingkat Mahir. Sekarang, Kaelen mulai melatih elemen lainnya. Dia bertarung melawan Makhluk Tanah. Menyerap kekuatan ketahanan dan kekerasan batuan. Dia menantang Binatang Air di sungai dalam. Mempelajari kelenturan dan daya hancur cairan. Setiap malam, kekuatannya bertambah berkali-kali lipat. Pengetahuan dari buku harian Elzar dipadukan dengan pengalaman nyata, membuat pemahamannya tentang elemen jauh melampaui para guru di akademi ini. [INFORMASI SISTEM: Elemen Tanah — Tingkat Dasar 60%] [INFORMASI SISTEM: Elemen Air — Tingkat Dasar 45%] [INFORMASI SISTEM: Tubuh pengguna sedang bertransformasi menjadi Wadah Elemen Sempurna. Ketahanan fisik meningkat drastis]Seluruh ibu kota terdiam serentak. Ribuan orang yang ada di tembok, di jalanan, di istana, dan di rumah-rumah. Semuanya berhenti melakukan apa pun yang sedang mereka lakukan. Mulut mereka terbuka sedikit karena takjub karena kagum, dan karena rasa hormat yang muncul begitu saja dari lubuk hati terdalam."I-itu... siapa?" tanya seorang prajurit dengan suara berbisik gemetar. "Apakah itu dewa yang turun ke bumi?""Tidak," jawab komandan pasukan di sebelahnya, suaranya parau karena emosi. Air mata mulai menggenang di matanya. "Lihatlah wajahnya. Aku kenal wajah itu. Itu... itu adalah Pangeran Kaelen! Itu adalah Kaelen Voss!""KAELEN?!" seru banyak orang serentak, tidak percaya. "Itu benar-benar dia? Tapi... kekuatan macam apa itu? Cahaya apa itu? Wujud macam apa itu?"Lira berdiri kaku di tempatnya. Kakinya yang sudah lemas itu seolah mendapatkan kembali seluruh kekuatannya. Matanya menatap lekat-lekat sosok yang melayang turun semakin dekat itu. Air mata bahagia mengalir deras membasahi
Cahaya emas yang dibawa oleh Kaelen saat melesat turun dari langit tidak hanya sekadar cahaya. Dia bergerak secepat kilat. Membelah angin dan ruang, namun tidak menimbulkan suara gemuruh atau ledakan apa pun. Gerakannya begitu halus, begitu mulia, dan begitu hening. Persis seperti cahaya matahari pagi yang jatuh perlahan ke permukaan bumi.Semakin jauh Kaelen bergerak ke selatan. Semakin banyak wilayah yang dia lewati. Wilayah yang dulunya mati, gersang, dan tertutup kabut hitam pekat sisa ulah Raja Bayangan. Namun keajaiban mulai terjadi di mana pun dia lewati.Saat bayangan emas itu melintas di atas daratan tandus yang tanahnya berwarna abu-abu dan keras. Seketika itu juga kabut kegelapan yang menempel bertahun-tahun itu menguap begitu saja, seolah takut dan tidak berdaya.Di belakangnya, tanah yang gersang perlahan berubah warna kembali menjadi cokelat subur. Biji-bijian yang tertidur puluhan tahun di bawah tanah seketika bertunas, tumbuh, dan mekar dalam sekejap mata. Rumput hijau
Gunung Badai.Sebuah gunung tertinggi di benua itu, puncaknya menembus lapisan atmosfer. Di sekelilingnya awan hitam tebal berputar tak henti-henti, dan dari sana, petir, bukan petir berwarna ungu atau merah milik kegelapan, melainkan petir berwarna EMAS MURNI menyambar ke bawah ribuan kali setiap detiknya. Suara gemuruhnya begitu keras hingga bumi bergetar terus-menerus. Udara di sekitar gunung itu begitu panas dan berenergi hingga makhluk hidup biasa bahkan tidak bisa mendekat dalam jarak seratus kilometer tanpa hangus menjadi abu."Ini dia," bisik Kaelen dengan sisa napasnya.Tubuh Kaelen jatuh terhempas tepat di puncak gunung itu, di atas batu hitam keras yang telah dipukul petir selama jutaan tahun.Begitu Kaelen menyentuh tanah itu, Sistem kembali berbunyi. Kali ini dengan nada yang tegas dan terakhir.[TUJUAN TERCAPAI. DETEKSI ENERGI PETIR MURNI TINGKAT TERTINGGI. SYARAT EVOLUSI TERPENUHI][PERINGATAN TERAKHIR: Segala sesuatu di dalam dirimu akan dihancurkan. Segala kotoran, se
Langit di atas Benteng Kegelapan retak terbuka. Dari celah itu, bukan lagi hanya kabut hitam atau energi gelap yang memancar, melainkan tekanan keberadaan yang begitu dahsyat hingga membuat ruang di sekitarnya berkerut seperti kertas yang diremas. Sosok Raja Bayangan telah berubah total. Tubuhnya yang semula setinggi manusia biasa kini membesar menjadi raksasa setinggi seribu meter, menembus atap benteng hingga kepalanya hampir menyentuh langit kelam itu. Kulitnya berubah menjadi lapisan energi padat berwarna ungu pekat, berdenyut-denyut seolah memiliki jantung raksasa. Di punggungnya terdapat sepasang sayap raksasa yang terbuat dari ribuan kilatan petir hitam dan merah terbentang lebar, menutupi sinar bulan dan bintang membuat wilayah itu jatuh ke dalam kegelapan total.Raja Bayangan bukan lagi manusia. Bukan lagi penyihir. Bukan lagi penguasa bayangan. Dia adalah DEWA KEKACAUAN."Akhirnya!"Suara itu bergema dari seluruh tubuh raksasa itu. Bukan keluar dari mulut saja, melainkan ber
Di saat-saat paling kritis ini. Saat menghadapi ancaman terbesar musuhnya, pasukan yang tak terhitung jumlahnya, yang kuat, dan yang tidak boleh dihancurkan sepenuhnya. Kepala Kaelen tetap dingin dan jernih.Kaelen mengingat kembali ajaran dasarnya. Dia mengingat kembali hukum alam yang dia pegang teguh. Dia mengingat perbedaannya dengan Raja Bayangan.Raja Bayangan menguasai kekuatan dengan MEMAKSA dan MENCURI.Kaelen menguasai kekuatan dengan MENGERTI dan MENYATUKAN.Pasukan di depannya ini bukanlah musuh sejati. Mereka adalah korban. Mereka adalah energi yang tersesat, yang terikat, dan yang tersiksa."Kau pikir kau menjebakku, Raja Bayangan?" seru Kaelen.Suara Kaelen bergema jelas menembus hiruk-pikuk serangan yang mendekat. Cahaya pelangi di tubuhnya berubah. Dia tidak melepaskan ledakan kekuatan menghancurkan. Sebaliknya, cahaya itu menjadi lembut dan menyebar luas, namun jauh lebih padat dan lebih berwibawa dari sebelumnya."Kau pikir dengan memaksaku melawan mereka, kau akan
Langit di atas Benteng Kegelapan bukan lagi sekadar gelap. Dia telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan, sebuah kubah raksasa berwarna hitam pekat yang berputar kencang, seolah seluruh langit sedang runtuh dan menyatu menjadi satu titik pusat.Di dalam pusaran itu, petir berwarna ungu darah menyambar tak henti-henti. Disertai suara gemuruh yang begitu dahsyat hingga tanah di bawahnya retak-retak dalam jangkauan ratusan kilometer. Energi yang dilepaskan begitu besar hingga udara terasa kental, berat, dan sulit untuk dihirup, seolah seseorang sedang berjalan menembus air yang membeku.Kaelen Voss melayang diam tepat di batas terluar kubah energi itu. Tubuhnya diselimuti cahaya pelangi yang bersinar terang, beradu kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Di belakangnya ribuan kilometer daratan mati terbentang, dan di depannya gerbang utama benteng musuh menjulang tinggi, sebuah bangunan raksasa dari logam hitam dan batu purba yang tingginya menembus awan badai. Gerbang







