INICIAR SESIÓNAku tak pernah menyangka suamiku sendiri akan menjualku demi dendam yang bahkan bukan milikku. Diseret ke dalam kehidupan seorang pria kaya yang membenciku karena masa lalu keluargaku, aku dipaksa membayar harga atas kesalahan orang lain. Saat harga diriku dihancurkan sedikit demi sedikit, satu-satunya alasan aku bertahan hanyalah anakku. Hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan cinta pertamaku membuka luka lama dan kemungkinan baru. Tapi di antara dendam, pengkhianatan, dan pilihan yang tak pernah mudah… apakah aku masih punya kesempatan untuk menyelamatkan diriku sendiri?
Ver más“Dita sakit, Mas,” ucapku tertahan seraya mendekap erat putriku yang malam ini suhu tubuhnya naik lagi.
Lelaki yang sudah menikahiku enam tahun silam itu hanya melirikku, malas, sebelum perhatiannya kembali fokus pada layar ponsel di tangannya. Aku merangsek mendekat kian mengunggah kecemasan yang semakin tak bisa aku sembunyikan kala telingaku mulai mendengar rintihan lirih anakku. “Mas, kita harus segera membawa Dita ke dokter sekarang,” desakku. “Kamu jangan terlalu berlebihan, anak seumuran dia itu sudah biasa kalau panas.” Tanggapan Mas Angga yang terlalu santai seperti itu benar-benar tak bisa aku terima, sontak aku berdiri tepat di depannya. “Kamu pegang sendiri, panas Dita ini sudah nggak wajar, terlalu tinggi. Anak kita membutuhkan pertolongan secepatnya.” Bukannya ikut cemas memikirkan keadaan putri kami, suamiku itu malah membeliakkan kedua matanya, menatapku begitu nyalang. “Apa kamu pikir membawa anak ke dokter itu nggak butuh duit?” “Duit dari mana?!” Mas Angga malah berteriak kesal tepat di dekat telingaaku. Aku tersentak kaget, kian kecewa menghadapi karakternya yang keras kepala. Walau terkadang dia bisa menunjukkan kasih sayangnya pada putri semata wayang kami tapi dia tetap lebih peduli dengan kerumitan yang dibuatnya sendiri. Sejak awal dia tak pernah bisa menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami, dan sudah sejak awal hanya aku yang berjuang sendiri semata buah hatiku, satu-satunya alasanku untuk bisa bertahan hingga saat ini. “Mas, apa kamu nggak bisa mengusahakannya?” Aku mulai sedikit putus asa. Selalu saja dia tak pernah mau mengeluarkan sepeser pun bahkan ketika dalam keadaan darurat seperti ini Jika saja mama masih ada tentu aku tak perlu sampai mengemis pada sosok tak bernurani seperti Mas Angga. Dulu selalu saja aku mengandalkan pemberian mama, untuk kebutuhan rumah tangga ini, apalagi jika ada keadaan darurat seperti ini mama yang akan menjadi garda terdepan, mengulurkan bantuan padaku. Nyatanya sekarang Mas Angga malah memandangiku dengan tatapan lekat. Sorot matanya seperti menyiratkan sesuatu yang gelap yang tak pernah ingin aku tahu. Enam tahun pernikahan telah mampu membuatku mengerti jika dia selalu saja oportunis, dan akan terus menghisapku meski saat ini dia telah tahu jika seluruh kekayaan keluargaku telah habis nyaris tak tersisa. Untuk kali ini entah apa yang sedang dia rencanakan. “Aku tahu ke mana mencari bantuan agar Dita bisa segera dibawa ke dokter,” desisnya kemudian. Aku terpana bahagia, setidaknya aku masih memiliki harapan jika putriku akan segera bisa mendapatkan pertolongan. “Kalau begitu tunggu apalagi Mas, ayo kita segera mencari bantuan.” Aku mulai melangkah keluar dari kamar berniat untuk menyiapkan keperluan Dita sebelum dibawa ke rumah sakit. Tapi dengan cepat Mas Angga malah mencekal lenganku hingga langkahku segera terhenti. “Tapi sebelumnya kita harus membuat kesepakatan dulu,” tukas Mas Angga tegas. Aku termangu tak mengerti. “Kesepakatan apa Mas?” “Kamu harus melakukan semua yang aku inginkan,” desis Mas Angga dengan tatap mata yang terlihat sangat misterius. Selama ini aku merasa sudah menjalankan peran sebagai seorang istri dengan baik. Walau pernikahan ini tak pernah benar-benar aku inginkan tapi aku selalu bisa berbesar hati dengan selalu berusaha menerima baik buruknya Mas Angga, sebagai suamiku. Jelas kalimatnya itu aku anggap tak relevan karena selama pernikahan nyaris aku tak pernah menentang apapun keinginannya. “Keinginan apa maksud kamu, Mas?” “Nanti kamu akan tahu sendiri, sekarang aku akan menghubungi seseorang dulu, kamu siap-siap sana.” Sebuah kelegaan langsung menghampiriku. Seri di wajahku segera kembali hingga senyuman di bibirku tanpa sadar terkembang. “Sayang, yang kuat ya, kita akan segera ke dokter,” bisikku di telinga putri semata wayangku yang sekarang hanya bisa memejamkan mata dengan bibirnya yang pucat sesekali mengeluarkan rintihan yang menyayat hati. *** Aku terus menggenggam tangan mungil itu seraya memandangi wajahnya yang damai saat tidur seperti sekarang. Panas tubuhnya telah mulai turun setelah semalam dokter memberikan pertolongan dan kini tinggal menunggu masa pemulihan meski putriku tetap harus dirawat inap di rumah sakit untuk mempermudah observasi. “Malam ini kamu harus ikut aku,” tukas Mas Angga saat dia mendadak muncul di dalam ruangan ini tanpa aku sadari. Sontak aku menoleh dan memandangnya penuh rasa ingin tahu. “Ke mana Mas?” “Bukankah sebelum membawa Dita ke rumah sakit kamu sudah berjanji padaku untuk memenuhi keinginanku?” Aku langsung mengernyit gelisah. “Lalu apa keinginan kamu, Mas?” Hati ini kian dilanda gelisah. Entah mengapa aku merasa pria yang dulu pernah mengundang decak kekaguman di hati kedua orang tuaku itu seperti sedang merencanakan sesuatu yang kelam di dalam pikirannya. Jika dulu aku pernah ditipunya dengan menguras habis harta keluargaku, sekarang entah apa yang akan dia rencanakan untukku. Jelas aku harus bersikap waspada padanya, pada sosok yang harusnya bisa menjadi pelindung untukku juga untuk anakku. “Nanti kamu akan tahu, kamu ikut aku saja nanti malam, aku sudah meminta bantuan pada Andien untuk bisa menjaga Dita di rumah sakit.” Aku terdiam kelu. Tak ada protes yang bisa aku keluarkan, kecuali hanya tunduk pada setiap titahnya, karena sudah sejak awal aku didoktrin untuk tak pernah membantah apapun perintah dari sosok yang bergelar sebagai suamiku itu. Akhirnya di malam hari Mas Angga benar-benar mengajakku. Bukan hanya memintaku berdandan secantik mungkin, dia bahkan sampai membelikan aku sepasang sepatu yang menurutku perhatian seperti itu adalah sebuah kemewahan bila mengingat sikapnya yang lebih sering acuh terhadapku. Tapi ketika akhirnya Mas Angga menghentikan sepeda motornya di halaman sebuah rumah megah, hati ini menjadi kian dipenuhi tanda tanya. Saat turun dari boncengan motornya, rasa penasaranku kian menjadi tak terbendung. “Mas, rumah siapa ini?” ***Maya POV"Hans... lepaskan aku."Aku kembali berusaha menarik pergelangan tanganku, tetapi cengkeramannya justru semakin erat."Aku nggak akan membiarkan kamu pergi menemui Fajar."Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan di dalamnya membuatku semakin marah."Kamu nggak berhak mengatur hidupku!""Aku memang belum berhak."Hans menatapku tanpa berkedip."Tapi aku hanya ingin menenangkan diriku saja."Aku langsung membeliak kesal."Maksud kamu?"Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami.Hans seolah tak peduli.Ia justru menarikku berdiri. Dia sama sekali tak menjelaskan kalimatnya tadi."Ayo pulang.""Pulang?"Aku mengernyit."Ke mana?""Ke rumah.""Aku punya rumah sendiri!""Bukan rumah itu."Hans berjalan sambil tetap menggenggam tanganku."Rumah yang kubelikan untukmu."Aku spontan menghentikan langkah."Aku nggak mau!""Kamu boleh marah.""Tapi hari ini kamu tetap ikut denganku."Aku benar-benar kehilangan kesabaran."Hans! Jangan paksa aku!"Namun semua protesku sama s
Maya POVAku masih menatap Hans dengan penuh tanda tanya."Menunjukkan apa?"Hans tidak langsung menjawab.Pria itu justru menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu merogoh saku jas yang sejak tadi dikenakannya. Hans kemudian mulai mengeluarkan ponsel miliknya."Aku ingin kamu melihat sesuatu."Hans menggulir layar ponsel di tangannya sebelum dia menyerahkannya padaku.Aku mengernyit."Lihatlah foto ini."Aku termangu kelu saat melihat foto-foto yang terpampang di layar ponsel milik Hans.Di dalam foto itu tampak Hans sedang duduk berdampingan dengan seorang ustaz. Mereka terlihat berbincang cukup akrab di dalam sebuah masjid.Aku segera menggeser foto berikutnya.Dadaku kembali bergemuruh.Di foto itu Hans mengenakan baju koko putih dengan peci hitam.Wajahnya tampak jauh lebih teduh daripada biasanya.Aku kembali membuka lembar berikutnya.Kali ini kulihat Hans sedang menjabat tangan sang ustaz dengan mata yang tampak berkaca-kaca.Aku perlahan mengangkat wajah."Hans... ini apa?"Ha
Maya POV"Selamat pagi, sayang."Suara Hans membuat suasana mendadak membeku.Ketiga perempuan yang sejak tadi mengejekku langsung saling berpandangan. Mata mereka membulat menatap pria tinggi berwajah tampan yang kini berdiri tepat di sampingku.Hans bahkan dengan santainya mengambil satu kotak rice bowl dari atas meja."Aromanya enak sekali."Aku menatapnya tajam."Apa yang kamu lakukan di sini?"Hans hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.Sikap Hans yang terkesan dekat denganku itu langsung memancing rasa penasaran dari ketiga teman-temanku itu."Itu siapa kamu?"Aku tak menjawab hanya memberikan lirikan tipis pada Hans yang saat ini malah tersenyum lebar seraya memandangku dengan lekat terkesan terlalu intim.Nyatanya justru Hans yang membuka suara dengan menegaskan jati dirinya di hadapan mereka."Sayang, aku sudah bilang sama kamu kemarin untuk nggak usah berjualan, hari ini kan kita rencananya mau mencari cincin pernikahan."Lagi-lagi aku dibuat terkesiap dengan kalimat yang dia
Maya POV"Maya...."Aku perlahan mengangkat wajah.Air mataku masih membasahi pipi ketika kulihat Hans berdiri beberapa langkah di depanku. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan wajah yang terlihat lelah. Tatapannya penuh rasa bersalah."Aku sudah mencari kamu ke mana-mana."Aku segera berdiri lalu mengusap wajahku."Ada apa lagi?" tanyaku datar.Hans menghela napas panjang."Aku cuma ingin bicara.""Tentang apa? Kurasa sudah tak ada yang perlu dibicarakan."Aku mendesah pelan."Aku sudah menolak lamaranmu."Aku kemudian berbalik mengabaikan Hans yang masih menatapku lurus.Namun saat aku hendak melangkah pergi, Hans buru-buru berkata,"Kumohon ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu."Aku mengernyit sejenak. Rasanya terlalu aneh mendapati sosok seperti Hans yang biasanya selalu otoriter kini malah memohon."Setelah ini kalau kamu tetap menolak, aku nggak akan memaksa lagi."Aku terdiam. Perlahan aku menoleh dan memandangnya.Hans menatapku dengan penuh kesungguhan.Aku akhirnya men
Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le
Maya POV"Sebentar lagi Benny akan datang, aku sudah menelponnya."Aku menggeleng panik.Bayangan menyeramkan malam itu kian memberiku siksaan."Mas, aku benar-benar tidak akan memaafkan kamu. Sejak awal memang tak seharusnya aku menyetujui perjodohan kita dulu, harusnya saat itu aku kabur, agar ak
Angga POV“Ke mana perempuan itu pergi sialan!”Aku membanting pintu kamar hotel hingga bergetar keras. Napasku memburu saat mendapati kamar itu kosong. Selimut berantakan. Gelas minuman masih tersisa di meja. Tapi Maya tidak ada.Padahal beberapa jam lalu aku sendiri yang mengantarnya ke sini.Tan
Maya POV“Kamu…?!”Aku memegang dada yang berdebar kencang saat melihat Andien berdiri di belakangku sambil mendelik kesal.“Ya Allah Andien, aku kira siapa. Aku sampai mau pingsan,” desisku setengah kesal.Andien malah terkekeh melihat ekspresi kekagetanku.“Ngapain kamu berdiri di sini kayak mali












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.