LOGINSa gitna ng isang malamig at maka pangyarihang mansion, pumasok si Ysabel Aragon isang babaeng hindi lang basta nanny, kundi si Vivienne Calista Montclair, na nagbago ng pagkakakilanlan upang makapasok sa mundo ng mga Whitmore. Ang tunay niyang pakay ay hindi trabaho, kundi isang lihim na misyon ang makalapit kay Aurelius Whitmore, ang kinatatakutang Don na posibleng may kinalaman sa pagkawala ng kanyang ina. Ang trahedyang iyon ang nagbago sa buong buhay niya, kaya sa likod ng bagong pangalan at bagong katauhan, matagal niyang pinagplanuhan ang bawat hakbang para makapasok sa buhay ng lalaking kinamumuhian niya. Sa mata ng lahat, isa lamang siyang simpleng nanny, pero sa likod nito ay isang babaeng puno ng galit, sakit, at matinding paghahanap ng katotohanan. Ngunit sa pagpasok niya sa mansion ng mga Whitmore, hindi niya inaasahang may batang si Isabella na unti-unting babago sa direksyon ng kanyang misyon. Sa halip na malamig at magulong kapaligiran, nakita niya ang isang inosenteng bata na dahan-dahang nagbubukas ng pinto ng tiwala at emosyon na matagal nang nakasara sa kanya. Habang mas lumalalim ang koneksyon ni Ysabel kay Isabella, mas nagiging komplikado rin ang kanyang misyon dahil unti-unti siyang nahihila sa misteryosong si Aurelius. Isang lalaking puno ng kapangyarihan, panganib, at madilim na nakaraan-na sa bawat titig ay unti-unting sumisira sa matitibay niyang depensa. Sa pagitan ng paghihiganti, lihim na pagkakakilanlan, at unti-unting pagkapit ng damdamin, nagiging mas magulo ang lahat. Hanggang saan niya kayang panindigan ang kanyang misyon kung ang puso niya mismo ang unti-unting kumakalaban dito? At sa mundong puno ng kasinungalingan at kapangyarihan... sino nga ba ang tunay na kalaban ang Don o ang sariling damdamin niya?
View More"Sialan!”
Zoe memaki saat melihat lift sedang mengantri, dengan terpaksa ia membelokkan arah larinya ke tangga. Zoe nekat meski tujuannya adalah lantai enam. Menunggu lift akan membuatnya terlambat.
Perempuan itu tidak memiliki pilihan lain, paginya tadi diisi oleh makian sang kekasih yang memintanya untuk segera membawakan barang yang dianggap sebagai jimat keberuntungannya.
Zoe berlari menaiki tangga, sementara tangannya memegangi perut. Ia ingin berhati-hati, agar janinnya tidak terganggu. Jika bisa Zoe akan memilih tidak berlari, tapi tidak mau juga membuat penampilan Max---kekasihnya sendiri gagal.
Dengan langkah terseok, Zoe menuju ruang ganti tempat Max menunggu.
“INI!” Zoe menghambur membuka pintu, dan bergegas mengacungkan kaos kaki---jimat keberuntungan milik Max-- ke udara.
Tanpa kaos kaki bau itu, Max tidak percaya diri untuk bernyanyi---merasa penampilannya akan gagal. Kepercayaan bodoh, tapi Max sangat peduli. Ia tahu Zoe akan mendukung apapun yang dibutuhkan kekasihnya saat ini.
“Astaga, Zoe! Jangan mengagetkan seperti itu. Kau akan membuat Iris takut.” Max yang sudah rapi memakai kostum menegur sementara merebut kaos kaki itu dari tangan Zoe.
“Siapa…”
Sambil menghapus berkeringat, Zoe menatap wanita amat cantik dengan rambut panjang lurus tengah duduk di kursi rias Max.
“Iris White!” Zoe memekik. Dia penyanyi yang saat ini sedang naik daun, kepopulerannya bahkan mengalahkan Max.
Iris mengangguk samar menanggapi seruan Zoe, lalu kembali menunduk memandang kertas di tangannya.
“Program Director acara tadi datang, dan menyarankan aku untuk berduet dengan Iris sebagai penghormatan terakhir untuk salah satu penyanyi legenda yang meninggal kemarin. Kami akan membawakan lagunya.” Max menjelaskan keberadaan Iris pada Zoe, yang memandang dengan kebingungan.
"Itu luar biasa!” Zoe memekik girang. Kesempatan untuk berduet dengan Iris di acara televisi nasional dengan rating melebihi dua puluh persen---dan disiarkan hampir di seluruh negara bagian Amerika, adalah pencapaian cemerlang. Pasti banyak penggemar Iris yang akan melirik Max setelah ini.
Zoe mengangkat kedua tangan, ingin memeluk Max—merayakan, tapi Max menolak dan kerutan di kening. Teguran juga agar Zoe bisa lebih tenang, tidak membuatnya malu. Meski tanpa kata, Zoe menghafal isyarat mata Max itu, karena sudah sering melihatnya.
“Dia siapa?” Iris bertanya menunjuk Zoe.
“Ini Zoe. Managerku. Zoe Anderson.”
Max memperkenalkan sebelum Zoe bisa bicara. Jika sudah seperti itu, Zoe terpaksa tersenyum. Ia mengerti Max harus menjaga namanya. Penggemarnya kebanyakan adalah wanita. Produser Max dengan keras telah memperingatkan agar hubungan mereka tidak tersebar.
“Zoe Anderson.” Zoe mengulurkan tangan ke arah Iris.
Iris hanya mengangguk lalu berpaling pada Max yang sudah duduk di sampingnya, seolah tangan Zoe tak kasat mata.
Zoe bergegas menarik tangannya, menyibukkan diri. Zoe menyalahkan dirinya sendiri, karena mengira Iris akan mau menjabat tangannya. Penyanyi terkenal sepertinya jelas tidak akan menganggap Zoe berada dalam level yang sama.
Zoe mengambil botol minum setelah merasakan tenggorokannya kering akibat berlari. Sesekali matanya melirik ke arah Max dan Iris yang sibuk mendiskusikan bagian masing-masing dari lagu yang akan mereka bawakan.
Zoe iri dan cemburu. Bukan cemburu kepada Iris karena dekat dengan Max, tapi iri pada kesempatan yang didapat mereka berdua.
Zoe berangkat dari garis awal yang sama dengan Max. Sama-sama bermimpi untuk bisa bersinar bersama, tapi saat ini Max sudah jauh melesat, sementara Zoe masih berada di garis awal, bahkan mundur. Zoe tidak ingat kapan terakhir melatih suaranya. Menjadi manager Max sangat menyita waktu.
Tapi hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini. Produser Max berjanji, akan memberinya kesempatan untuk bernyanyi lagi. Mungkin setelah anaknya lahir nanti.
“Kalian harus bersiap!” Salah satu kru siaran masuk mengabarkan.
Dengan gesit, Zoe mengambil gitar Max yang telah dipoles olehnya sampai mengkilat, dan menyerahkannya di dekat pintu.
“Rapikan dirimu. Kau membuatku malu, Zoe.” Max berbisik dengan wajah marah, lalu keluar sambil membanting pintu di depan hidung Zoe. Ia seharusnya mengikuti Max, untuk membantu memenuhi apapun permintaannya nanti, tapi Zoe tidak membuka pintu itu.
“Aku kacau karena kau.” Zoe bergumam. Ia tidak akan berani memprotes keras.
Emosi Max akhir-akhir ini mudah sekali terpancing. Ia akan marah pada kesalahan sekecil apa pun—seperti telur yang terlalu matang atau jendela yang terbuka terlalu lebar. Bahkan Max membuang kopi yang dibuatnya hanya karena kurang manis. Zoe tidak ingin mencari masalah lagi jika mengingat itu.
Ia bahkah belum membahas soal kehamilannya pada Max. Belum menemukan waktu yang tepat diantara semua kesibukan Max. Namun, Zoe paham kalau beban menjadi terkenal juga tidak mudah. Zoe akan mencoba untuk mengerti lagi hari ini.
Zoe menghempaskan diri di sofa, memejamkan mata untuk menghilangkan penat. Ia mengelus perutnya yang terasa sedikit nyeri akibat berlari tadi.
***
"Dimana Max?”
Zoe bangun tergagap, saat seseorang mengguncang bahunya.
“Di... bernyanyi.” Zoe menjawab sementara matanya melirik jam dan membelalak. Ia tertidur dan lebih dari dua jam. Zoe melewatkan semua durasi syuting.
Pria yang membangunkannya---produser Max, kini melotot marah. Ia sedang bersama dua orang yang juga tampak tidak sabar. Salah satunya menenteng kamera layaknya wartawan.
“Kau tidak becus! Bagaimana seorang manajer kehilangan artisnya?!” bentaknya.
“Maaf, mungkin Max bersama Iris. Mereka berduet tadi.” Zoe menunjuk ke luar ruangan. Ruang ganti Iris berjarak dua ruang dari tempat Max. Zoe melihatnya tadi saat berlari.
“Oh, aku melihatnya tadi. Mereka sangat luar biasa, suara mereka cocok berpadu. Apa setelah ini mereka akan bekerja bersama?” Wartawan itu tampak tertarik.
"Nanti... jangan ditulis dulu."
Tidak ingin mendengar apapun lagi, Zoe berjalan cepat keluar sambil merapikan rambut. Mereka semua mengikutinya.
“Max? Apa kau di dalam?” Produser itu berseru dari luar pintu ruang ganti Iris. Tapi, ia langsung membuka pintu sebelum ada balasan.
“Max…”
Zoe melihat bokong telanjang Max, berlari panik mencari celananya yang tercecer, sementara Iris tampak menggapai gaun yang tergeletak di lantai.
Nanatili akong nakatingin sa taong hindi ko inaasahan na makita ko sa mansion na ito. Ang akala ko iba ang magiging plano niya, gusto ko na itong tanongin pero hindi pwede. “Why are you here, Ysabel?” tanong agad ni Aurelius. Pero hindi agad ako napatingin sa kanya dahil sa hindi pa ma process sa utak ko ang nakita ko. Naguguluhan parin kase ako, hindi ko naman aakalain na ganito ang plano ng kuya ko. As in talaga he followed me here? Sa anong dahilan? “I'm talking to you!”Agad akong napatingin kay Aurelius ng magsalita siya ulit na kina lunok ko nalang. Tiningnan ko ng masama si Kuya na parang wala lang sa kanya ang ginawa niya. “Tinulungan ko lang po si Angel nagpatulong siya sa akin,“ sagot ko. Hindi parin talaga ako maka tingin sa kanya ng maayos dahil sa nangyare sa amin. Nahihiya ako o iniisip ko na tama lang ang ginawa ko sa kanya. Nagpatuloy ako sa hatid ng mga pagkain hanggang sa matapos nga, hindi ako nag tagal sa dining dahil sinabi ni Genevieve na gising na si Isab
Nanatili akong gising sa mahabang gabi sumapit nalang ang madaling araw hindi parin ako nakatulog ang hirap kase naman. Paulit-ulit kung naaalala ang nangyare kanina sa banyo. Nakahiga lamang ako sa kama ko habang si Angel ay mahimbing ng natutulog, hindi ko alam ang gagawin ko dahil kahit ano mang gawin ko hindi parin talaga ako makatulog. Napatingin ako sa cellphone ko malapit na mag alas kwatro at gising parin ako. Napabuntong hininga ako at wala akong nagawa kundi bumangon nalang. Wala din naman dahil hindi naman ako makatulog kaya na pag pasyahan ko nalang lumabas. Hindi ko na naman naririnig ang mga tao sa labas tshaka alam kung umuwi o baka natulog na. Pag bukas ko ng kwarto ko ay tahimik sa loob ng mansion ang ilaw nalang sa may dining ang nag silbing ilaw sa baba. Dahil ang mga ibang ilaw ay naka sarado na maliban sa ilaw sa dining area. Napabuntong hininga ako mag kakape nalang muna ako hindi rin naman ako makatulog. Pagkarating ko sa kusina ay hindi ko na binuksan an
Tahimik ang kwarto matapos humiga si Isabella, ngunit hindi pa rin mawala ang tensyon na nararamdaman ko dahil sa presensya ni Aurelius. Nakaupo lang ako sa gilid ng kama habang pinapanood si Isabella na pilit pinipikit ang mga mata niya, pero halatang hindi pa talaga siya inaantok. Ramdam ko rin ang tingin ni Aurelius sa akin kahit hindi ko siya direktang tinitingnan. Para bang may binabalak siya, at iyon ang mas lalong nagpapakaba sa akin.“Daddy…” biglang tawag ni Isabella habang bahagyang bumangon.Napatingin kaming dalawa ni Aurelius sa kanya. Kumunot ang noo ko dahil akala ko matutulog na siya, pero mukhang may naiisip na naman itong kalokohan. Ngumiti siya nang bahagya at saka tumingin sa akin, parang may gustong ipahiwatig.“Can we play?” tanong niya na parang inosente lang.Nanlaki ang mga mata ko sa sinabi niya at napaturo pa ako sa sarili ko. “Ha? Ngayon? Matutulog na tayo diba?” sagot ko habang naguguluhan.Umiling siya at ngumiti nang mas malawak. “Just a little game
Hapon na nang makabalik ako sa mansion at pagpasok ko pa lang ay agad ko nang napansin ang pamilyar na maliit na katawan sa sala. Nandoon si Isabella, nakatayo at naka-pamewang pa na parang may hinihintay na kalaban, at halatang ako ang target niya. Napangisi ako sa itsura niya dahil kitang-kita ang tampo sa mukha nito kahit hindi pa siya nagsasalita. Dahan-dahan akong lumapit at pinantayan siya at pilit kung pinipigilan ang sarili kong matawa sa sobrang cute niyang magalit.“Why are you like that?” tanong ko habang nakangiti, bahagyang yumuko para pantayan siya.“Because I’m mad at you! You said you will fetch me, but you didn’t! I waited for you!” mabilis niyang sagot habang naka-cross ang arms niya. Napakurap ako sandali at saka ko naalala ang pangako ko sa kanya. Bahagya akong napangiwi dahil sa totoo lang, nakalimutan ko iyon dahil sa pagdaan ko pa sa maliit kong bahay. Napabuntong hininga ako bago ko hinawakan ang magkabilang pisngi niya at marahang pinisil.“Ay naku, sorry






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.